
Tidak bisa memberi nasehat apa-apa soal hidup, hanya bisa bilang jika kamu merasa susah dan semua menyebalkan, di luar sana sebetulnya banyak yang lebih susah, tapi gak usah kamu, aku pun tetap saja masih merasa hidup kadang tak adil, tapi tak ada pilihan selain tetap menjalaninya...
"Arman sudah pulang Ri?" Tanya mama, tanpa bergerak dari posisinya yang tiduran sambil nonton TV.
"Sudah mah, emmm Mah... Ri mau tanya sesuatu boleh enggak? Tapi, Mama jangan marah ya?" Aku duduk disampingnya, memikirkan bagaimana caranya bertanya, tapi tidak menyinggung perasaan nya.
"Mah, Kak Tiwi sudah berangkat kerja lagi, ya?" Aku memandang wajah mama, semoga mama tidak bereaksi yang tidak-tidak😇
"Ri, sejauh mana kamu kenal kakakmu itu? Apa ada rahasia yang dia katakan pada mu, tapi gak mau bilang ke mama, atau mungkin dia memang melarang kamu melakukannya." Sekarang balik mama, yang bangun dari tidur nya, dan memandangi ku, dengan tatapan serius.
"Ya pasti ada lah mah, tapi soal apa dulu." Aku berusaha mencairkan suasana. "Jujur Mah, Ri cuma penasaran, masa hanya karena masalah kemarin, mama jadi marah besar, terus Kak Tiwi langsung pergi gak pamit gitu."
Mama terdiam, dan menangis. "Ri, kita bicara di kamar mama." Mama beranjak ke kamar, Aku memberi kode pada putra agar dia menemani Kiki.
Mama sudah duduk di kasurnya, masih sambil menangis. "Sebenarnya ada apa sih mah?" Aku sungguh tidak tahu apa yang mama rahasiakan dariku.
__ADS_1
"Ri, sebenarnya sejak SMA kakakmu, sudah banyak membuat masalah. Dia terbawa arus yang salah, dan masuk ke dalam pergaulan bebas, parahnya itu terjadi ketika dia duduk di kelas 3, semester akhir. Mama sama papa sangat terpukul waktu itu. Untungnya pihak sekolah, masih memberi kesempatan untuk nya, agar bisa menyelesaikan ujian akhir tepat waktu dan bisa lulus, karena memang kakak mu bukanlah siswi yang bodoh, dia pun tetap mendapatkan nilai yang cukup memuaskan." Mama terdiam kemudian cukup lama.
"Tapi! "Kenapa Ri, Kenapa? Kenapa dia tidak bisa memilih teman yang baik, dan sekarang kenapa tidak berubah juga!" Mama setengah berteriak mengucapkannya. Semua yang ditahan dan dirahasiakan oleh nya selama ini, akhirnya aku jadi tahu. Mama masih memeluk bantal, dan membasahi nya dengan air mata.
Pantas saja, Kakak tidak pernah betah di rumah, dia sejak awal memang sudah punya kebiasaan yang buruk menurut ku. Tapi aku merasa, bukan kapasitas ku untuk menasehati nya. Aku hanya sekedar mengingatkannya saja, jika dia memiliki seorang putra, dan anaknya butuh perhatian seorang Ibu. Aku kadang merasa diperlakukan tidak adil, tapi daripada ikut campur, dan semakin salah, aku lebih memilih diam. Ternyata beban mama seberat itu.
Ketika mulai tenang, mama bercerita kembali.
"Kakakmu benar-benar tidak ingin kembali bersatu dengan papanya Kiki, kemarin itu mereka bertemu, makanya pulangnya jadi kemalaman. Dulu ibunya bikin Mama stress, sekarang, bukannya mama gak mau ngurus cucu, tapi kakakmu itu sengaja, dia merasa senang bebas di luar rumah, yang penting kerja bisa kirim uang, tapi anaknya kan butuh ibunya. Mama kecewa Ri, Mama juga pernah diposisi kalian, menjadi anak kakek dan nenek." Mama berhenti sejenak, menarik nafas dalam, dan melanjutkan ceritanya.
"Sekarang adik-adik mama sudah berhasil dan sukses, tapi tidak ada yang ingat mama dan papa, mama papa ajarkan ilmu pengetahuan dan agama pada kakakmu, kakakmu pun mengecewakan kami. Bukan ini mau kami Ri..." Mama tertunduk dalam memeluk bantalnya. Aku hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya.
Aku meninggalkan mama sendirian di kamar, dan membuatkan mama segelas teh hangat. Saat aku kembali ke kamar, mama sudah lebih tenang.
"Minum dulu mah," aku memberikan gelas yang ku bawa pada mama.
Mama yang biasanya tegar dan lemah lembut, hari ini menunjukkan sisinya yang lain. Semua masalah yang dipendamnya kini sudah terucap.
__ADS_1
"Mah, Ri, gak bisa menjanjikan apapun pada mama, bahkan tidak berani menjanjikan apa-apa. Ri takut justru akan mengecewakan Mama jika kelak tidak bisa menepatinya. Tapi Ri akan berusaha tidak menyusahkan mama. Ri akan bekerja keras mah." Aku menggenggam tangan mama. Mengecup keningnya. Semoga ini cukup untuk menguatkannya.
"Riri, mama bukan minta balasan jasa atas apa yang sudah kami lakukan, kami hanya minta, tolong hargailah apa yang sudah kami lakukan untuk kalian semua, jerih payah kami, pengorbanan mama dan papa untuk adik-adik mama, orangtua mama, anak-anak mama."
"Mama tidak minta Riri harus begini begitu, apa yang sudah Riri lakukan untuk mama selama ini, sudah bikin Mama beruntung masih ada Riri, yang bisa bantu mama."
"Mama hanya titip saja Ri, sekarang kamu sudah kelas 2, belajar yang baik, bukan buat mama, tapi buat masa depan Riri sendiri, jangan tiru apa yang buruk dari keluarga mu ini, ambillah yang positif nya. Waktu tidak akan bisa dikembalikan Ri, semua orang tau menyesal selalu datang belakangan. Jika kamu pacaran jangan melakukan hal yang tidak sepantasnya. Jangan hanya untuk kesenangan sesaat, hancur masa depan ya."
Mama sudah bisa tersenyum sekarang. Aku memeluknya.
"Ri akan berusaha yang terbaik sesuai kemampuan Riri mah. Mama jangan nangis lagi ya, semoga Kakak dapat hidayah dan sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya, akan semua kesalahannya, selama kita masih bisa ya kita bantu menjaga anaknya mah. Riri sayang mama, sudah malam, mama istirahat ya." Aku mengecup kening mama sekali lagi.
Dan benar saja Kiki juga Putra, sudah tertidur pulas di depan tv yang kini terbalik menjadi penonton mereka. Aku memindahkan Kiki ke tempat tidur Mama. Sementara untuk Putra, tempat tidurnya, sengaja kami letakkan di sudut ruangan keluarga ini juga, biar tetap bisa dekat dengan kamar mama. Mematikan tv dan lampu, memeriksa semua pintu dan jendela terkunci, aku pun lalu kembali ke kamar.
"Ku pikir semua sudah bahagia, ternyata hidup tidak seperti yang kita lihat dari luar, semua senyuman bisa saja penuh dengan kepalsuan, ketegaran yang terlalu dipaksakan pun akan menyakitkan, tidak bisa menyalahkan siapa dan siapa, karena pilihan yang terbaik menurut kita, belum tentu pilihan yang terbaik menurut orang lain, juga belum tentu sesuai dengan pilihan dan ketentuan Tuhan."
Ku tutup buku diaryku, merebahkan tubuhku di kasur lembutku. Tuhan jadikanlah esok lebih baik untuk semua orang, aamiin.....
__ADS_1