Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
Nenek penyejuk hati


__ADS_3

salam para pembaca dan pengguna mangatoon, semoga ada yang masih bertahan untuk membaca novelku ini, maaf jika kurang greget, masih belajar nih. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca🤲☺️. Lanjutkan yuk...


Hari sudah hampir siang ke ketika kami sampai di rumah nenek. Aku sudah tidak sabar, baru saja Arman mematikan motor dan memarkirkannya, aku buru-buru lari dan masuk ke dalam rumah.



"Nenek...Nenek... Neeek! Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" Teriakku sambil mencari-cari nenek ke setiap sudut ruangan di dalam rumah itu.



"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, tidak usah berteriak begitu Ri, nenek sudah tahu kamu mau datang," nenek keluar dari dapur, membawa semangkuk sayur ayam pindang kesukaanku.



"Siapa yang beritahu nenek kalau Riri mau datang?" Aku memandang wajah nenek serius, sambil mengambil alih mangkuk yang di bawa nya.



"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Nek," Arman masuk dan mencium tangan kanan Nenek.



Setelah meletakkan mangkuk sayur di meja makan. Aku memeluk nenek erat-erat, " Nek... Riri tinggal disini saja ya sama nenek, seperti dulu." Tanpa sadar, air mata ini menetes dan membasahi bahu Nenek.



"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk nak Arman, dan Riri duduk dulu. Nenek mau cerita."



Aku duduk di sebelah Nenek, jika ingat dulu aku pernah sangat merasa kecewa, ketika Mama lebih memilih untuk meninggalkan aku di rumah nenek. Bahkan tanpa pernah menjenguk. Hampir menangis setiap merindukan kasih sayang Mama, merasa iri pada kakak dan adikku. Tapi dari hari ke hari, dan sampai tiba hari ini, aku akhirnya sangat merasa bersyukur, beruntungnya aku selama ini tinggal bersama nenek. Mendapatkan bimbingan dan pendampingan dari Nenek, sementara cucu yang lain tidak. Aku merasa hatiku jauh lebih terikat erat dengan Nenek.



"Riri, dan Arman, ini hanya sebuah cerita masa lalu, bukan untuk membuka aib, tapi ambillah pelajaran dari nya dan buang jauh keburukan nya." Nenek mengawali ceritanya.



Aku meninggalkan Nenek berdua dengan Arman, untuk membuat minuman di dapur.



"Maaf Nek, sebelumnya, Arman minta maaf sudah bawa Riri kesini, tanpa beri kabar. Riri terlihat gelisah Nek, sejak Kak Tiwi pulang. Riri memang kelihatannya biasa saja, sikapnya, sekolahnya dijalani seperti biasa, tapi ada rasa yang berbeda Nek." Papar Arman pada nenek, mengambil kesempatan mumpung Riri tidak di sana.



"Nenek tahu Arman sayang sama Riri, nenek juga sama," nenek langsung terdiam, saat aku kembali dari dapur.

__ADS_1



"Silakan diminum Kak, dan ini untuk Nenek teh manis kesukaan Nenek." Aku menyajikan teh yang ku buat, lalu duduk kembali di samping nenek.



"Riri begini saja, (nenek berhenti sejenak, menyeruput sedikit teh, lalu melanjutkan ceritanya), Apa yang sebenarnya kamu takutkan dengan kepulangan Tiwi?"



"Kok Nenek jadi bertanya, bukan berkisah?" Aku bingung.



Arman menyela, "Riri jujur saja dengan perasaan mu, aku membawamu kesini karena ingin kamu kembali ceria, tidak berpura-pura bahagia. Mungkin kamu tidak bisa mencurahkan perasaan mu ke Mama, kalau kamu ingin berdua saja dengan nenek, aku akan keluar." Arman mulai beranjak, tapi aku bergegas mencegahnya.



"Nenek, Kak Arman, jujur Riri senang Kak Tiwi pulang, tapi jelas ada yang berbeda,ada yang tidak benar. Riri takut, kalau Kak Tiwi akan kembali seperti dulu, Ri dengar dari Mama, kakak memilih untuk benar-benar berpisah dengan papa nya Kiki, sementara dia sendiri tidak bisa mengurus anak dengan baik, kalau Riri kelak kuliah, terus yang bantu mama siapa? Dan Nek, Ri takut iya sekarang Kak Arman tidak keberatan dengan keadaan Riri dan keluarga Riri, tapi Riri malu jika ingat kelakuan kakak. Bukan Riri merasa yang paling benar dan paling baik. Tapi...Ri takut Nek, semakin Ri, berdoa dan berharap justru yang terjadi yang sebaliknya."



Setelah mengatakan semuanya, aku terdiam, aku menangis.



"Nenek, Arman sungguh-sungguh ingin serius dengan Riri, Orang tua Arman juga sudah setuju. Kami sudah melamar pribadi ke Riri dan Mama." Arman memperlihatkan cincin yang berada di jari manis kedua tangan ku.




"Lalu Riri harus bagaimana Nek?"



"Bersikaplah biasa saja, jangan dendam, karena hati seseorang tidak mudah diputar balikkan, hanya Tuhan yang bisa merubah Kak Tiwi, akan jadi baik atau buruk. Dan kenapa masalah Tiwi, akan mempengaruhi hubungan mu dengan Arman?" Nenek menatap ku penuh kasih.



"Maaf kak Arman, Riri khawatir perasaan mu akan berubah jika ada sesuatu dari diri ini yang akan berubah seiring berjalannya dengan waktu, dari yang Riri tahu kebanyakan orang memilih pasangan hidup itu juga dari bibit bobot dan bebet nya."



"Nek, Riri beneran takut, tapi semua ini karena Riri juga sayang sama kakak dan keluarga Riri , ingin deh keluarga ini seperti keluarga yang lain bahagia dan rukun, semua berkecukupan dan saling menyayangi."


__ADS_1


"Ri apa yang terlihat indah di luar belum tentu indah di dalamnya. Setiap keluarga punya masalah sendiri-sendiri. Yang penting kamu sekolah yang bener dan jadi kebanggaan nenek, dan jika Arman memilihmu berarti dia sudah siap dengan semua resiko dan kekurangan mu." Nenek memeluk dan mengecup keningku.



"Ayo makan dulu, nenek sudah masak kesukaan Riri, jadi semoga Arman juga suka."


Nenek mengajak kami makan bersama.



Setelah makan, kami ke kebun jeruk milik Nenek, beruntungnya kami ada beberapa buah yang bisa di panen, "Asyiiik bisa nyobain jeruk yang segar matang di pohon nih!" Aku berterima penuh semangat, setelah mendapati sebuah pohon jeruk, yang hampir semua buahnya sudah siap panen.



Aku memikirkan semua saran nenek, dan aku juga tidak enak dengan Arman, akhirnya dia tahu bahwa masih ada keraguan dalam hatiku, sungguh aku takut hatinya akan berubah, jika aku kuliah berarti kami akan berguna tapi jarak jauh. Bisakah dia dipercaya? Jangan-jangan aku nya yang tidak bisa dipercaya. Ah sudahlah jalani saja dulu semua yang di depan mata, daripada terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi. Berdoa yang baik-baik saja deh.



Nenek sebenarnya meminta kami menginap, tapi sepertinya lebih baik kami pulang. Itu yang aku pikirkan.



"Riri mau pulang atau menginap disini?" Tanya Nenek.



"Besok libur kan, kita menginap disini saja dulu ya?" Sekarang Arman yang tidak ingin pulang.



"Baiklah, Riri juga masih kangen sama Nenek.


Beneran tidak apa-apa kah kita tidak pulang?"


Aku memandang Arman.



Arman hanya menganggukkan kepalanya.



Malam itu kami pun menginap di rumah Nenek, aku bisa tidur bersama Nenek seperti dulu. Arman tidur di kamar tamu. Hatiku paling tidak sudah lebih tenang, aku harus percaya pada Arman dan aku sendiri tentunya, yang penting juga fokus pada sekolahku.



Semoga hari esok akan menjadi lebih baik.

__ADS_1


Kadang hidup tidak selalu seiring sejalan dengan apa yang kita inginkan. Apapun yang terjadi semoga itu jadi penguatan untuk hidup kita.


Terimakasih yang masih bersedia membaca novelku ini, semoga bisa segera tamat, jangan lupa like komen dan vote ya? terima kasih🙏🙏💖💖💖


__ADS_2