Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
betapa tipisnya jarak sedih dan bahagia itu


__ADS_3

Sejak ada kehadiran Arman dalam hidupku, aku merasa lebih bahagia, bisa tersenyum dan menghadapi semua dengan lebih tenang.


Tapi untuk beberapa orang teman bahkan sahabat ku, mereka berkata aku seperti dua orang yang berbeda, ya karena aku tidak bisa begitu saja bercerita bahwa aku sudah bertunangan dengan seseorang.


Tak terasa, sudah akhir semester di kelas 2 ini, hubungan ku dengan Arman baik-baik saja, Arya pun masih bersama Sasha. Setelah aku bersama dengan Arman, hubungan ku dan Arya justru membaik, aku dan Arya sama-sama menyadari kesalahan kami, dan menghormati hubungan masing-masing. Tapi untuk masalah pelajaran sekolah tetap belajar bersama-sama, memang yang paling menyenangkan, kami pun membentuk kelompok belajar, yang bahkan Sasha pun ikut terlibat di dalamnya.


Hubungan Mama, aku dan anggota keluargaku yang lain juga biasa saja, tidak ada keributan atau masalah yang berarti. .


Setelah mengunjungi nenek bersama Arman, di waktu senggang kami. Nenek tampak bahagia, dan tak henti-hentinya menggodaku perihal Arman.


Beliau juga berpesan, "Masalah kakakmu bagaimana dulu, sekarang atau apa yang akan terjadi di masa depan, itu adalah pilihan hidup nya sendiri Ri!"


"Kamu sudah memiliki Arman sekarang, sudah ada tempat untuk bersandar, jangan kecewakan Arman yang sudah memilihmu.


Jangan jadi orang yang merugi karena menyia-nyia kan sekolahmu, tidak jadi orang kantoran, tidak masalah, yang penting dengan menjadi orang yang berpendidikan, hidupmu semoga lebih baik dari mereka yang tidak berilmu. Jadilah orang yang bermanfaat bagi semua dalam hal yang baik dan positif. Ya?" Nenek menjelaskan begitu panjang lebar.


Arman menjadi semakin baik, dan menyayangi ku dengan caranya, dia tidak lagi menyentuh ku sembarangan tanpa ijin. Dan dia juga yang meminta karyawan nya, untuk membuatkan aku pakaian seragam sekolah muslimah, aku berkerudung sekarang. Semua bahan seragam yang aku tidak bisa membelinya, dibelikan oleh Arman sendiri. Walaupun saat memilih, Arman meminta Mama menemaninya. Setelah berhijrah, aku merasakan banyak perubahan dalam diriku. Kini aku lebih menghargai diriku sendiri, menjadikan ku lebih positif menilai segala sesuatu nya.


Hari ini pengumuman pembagian siswa-siswi untuk kelas 3, aku berharap, aku dan sahabatku bisa sekelas lagi, tapi tidak 😅

__ADS_1


Arya lolos di IPA 3, Sasha IPA 2, Rumi di IPS 2, Lina di IPS 5, Tina satu-satunya yang masuk kelas bahasa, dan aku sendiri di kelas IPS 3.


Prestasi ku pun tidak terlalu buruk, baik sekolah dan di rumah, semua berjalan dengan cukup baik, sampai...di semester kedua tahun ketiga ku di SMA ini.


Kakak Tiwi, tiba-tiba pulang. Tidak lagi bekerja, semua mulai berubah menjadi canggung, entah kenapa. Setelah mengetahui masa lalunya aku juga tidak marah, sudah menerima semuanya, hanya saja, apa yang terjadi sangat jauh berbeda dengan apa yang aku harapkan, jika kakak pulang kembali ke rumah.


Ketika aku merasa bahagia, di masa-masa terakhir ku di kelas 3 ini, sebentar lagi, jika memang aku harus menikah terlebih dahulu setelah lulus dari SMA, tak apalah, toh aku tetap bisa kuliah. Tapi sekarang, semua rencana berubah total, sikap Mama pun berubah. Aku sadar, kakak memang berhak mendapatkan perhatian lebih, dia sedang menghadapi cobaan yang berat dalam hidupnya, mama berusaha mencarikan pekerjaan untuk nya, mengurus perceraian nya membiayai semua yang kakak minta.


Arman menjemput ku sore itu, malam Minggu ini dia ingin mengajak ku pergi, dia sudah berpamitan kepada orang tua nya, juga orang tua ku, bahkan sekarang tetangga pun sudah tau. Teman dan sahabat ku juga sudah mengetahui hubungan ku dengan nya, Aku tidak ingin menyembunyikan kebahagiaan ini lagi, tapi aku berharap banyak orang akan mendoakan kami.


"Kita mau kemana?" tanyaku pada Arman setelah selesai berpamitan pada mama. Arman tak segera menjawab. Hanya menarik tanganku, dan berjalan cepat menuju rumah nya. Ya entah kenapa, kali ini motornya diparkir di depan rumahnya.


Hatiku berdegup kencang, ada apa ini, tapi Bapak senyum-senyum terus, Ibu juga.


"Riri, Bapak Ibu, sudah setuju dengan Arman, Bapak Ibu juga sudah merestui kalian, kalau kalian nanti mau menikah secara agama dulu juga boleh, ..."


"Tunggu... Tunggu dulu Bapak, maksudnya bagaimana?"


"Maksudnya Bapak Ibu, kalau Riri tidak keberatan, setelah lulus kalian boleh menikah tapi belum mengadakan resepsi, karena Arman masih memiliki dua orang kakak laki-laki yang belum menikah." Mereka berdua menatapku dengan harapan mendapatkan jawaban yang mereka inginkan, itu yang kupikirkan.

__ADS_1


"Bapak, Ibu terimakasih sebelumnya sudah percaya sama Riri, sudah menyetujui dan merestui hubungan kami, Bapak dan Ibu tidak perlu mengkhawatirkan kami, dan saya tidak akan meminta Arman untuk melangkahi kedua kakaknya. Kami akan menunggu Waktu yang baik untuk kami," jawabku, entah ini jawaban yang baik ataupun tidak, aku berusaha menjawab pertanyaan mereka, karena aku sungguh tidak tahu, apa yang akan terjadi pada hubungan kami kelak.


Ibu tiba-tiba mendekati, dan memakaikan sebuah cincin di jari manis tangan kananku, "Riri, ini pemberian Ibu dan Bapak tanda bahwa kamu calon menantu kami, dan bahwa kamu memang pilihan kami."


Arman datang dari dalam rumah, dia langsung menggeleng-geleng kan kepala kepadaku, sebagai kode untuk tidak menolak pemberian Ibunya.


Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua Arman. Kami pun berpamitan, aku yang tidak menyadari Ibu ternyata ke dalam rumah dan kembali ke depan mengejar ku, "Riri, Arman tunggu, ini dipakai juga ya." Ibu menyerahkan sebuah kain panjang untukku.


"Terima kasih Bu, Riri sama Kak Arman pamit pergi dulu ya." Aku mencium kedua tangan mereka, dan naik ke motor bersama Arman.


Aku tidak tahu kemana Arman akan membawaku, sampai ketika melewati perbatasan kota. "Kak, kita mau kemana? Ke rumah nenek ya?" Aku bersemangat sekali.


Arman fokus mengendarai motornya, dia hanya menarik tanganku agar memeluknya. "Pegangan yang benar, di motor tidak ada sabuk pengaman, kalau gak pegangan aku turunin di jalan ya." Ledek Arman.


Rasanya sudah tidak sabar, ingin segera sampai ke rumah nenek, aku bersyukur dalam hati, Arman pasti tahu apa yang aku rasakan, tahu bahwa aku bingung harus bagaimana menghadapi semuanya. Di tengah-tengah kebahagiaan yang aku rasakan dari Arman dan keluarga nya, aku takut dengan kehadiran kakak semuanya akan berubah. 😔😔😔


"Nenek, tolong Riri....Riri harus bagaimana Nek?" Batinku dalam hati, semoga kami lekas sampai.


__ADS_1


Semoga masih ada yang bersedia membaca novel ini, dan berkenan memberikan like, vote juga komentar. Terima kasih untuk semuanya 🙏🙏🙏💖😍


__ADS_2