
Terimakasih untuk semua yang sudah mampir dan memberikan like juga berkomentar. Terus dukung aku ya... semoga kalian semua dilimpahkan rejeki uang yang halal, jodoh yang terbaik, ilmu yang berguna, dan kesehatan lahir dan batin. Aamiin πππππ kita lanjutkan yuk....
Di sekolah sama sekali tidak bisa fokus, untungnya hari ini, semua berjalan lancar.
"Riri, dipanggil Bu Desi ke ruang guru," Rumi tampak buru-buru menyampaikan pesan. "Serius?" "Tadi aku kan bantuin Bu Ida (guru sosiologi) ke ruang guru, eh Bu Desi ndeketin katanya suruh manggil kamu, Bu Desi mau ngobrol." Rumi berusaha menjelaskan setelah tenang.
"Makasih ya, kalau gitu aku ke ruang guru dulu." Sebelum aku berdiri, aku melihat Arya yang diam di kursinya. Sambil menepuk bahunya, "Aku tau kamu ingin bertanya sesuatu, jika boleh sepulang sekolah nanti kita ngobrol dulu ya, dan bisa gak anterin aku pulang." Arya menatapku, hanya mengangguk dan tersenyum manis.
Sesampainya di ruang guru, Bu Desi, sudah menunggu. Aku mencium tangan kanannya, dan bertanya, "Ibu memanggil saya?"
"Ya, Riri hanya kamu yang belum berikan jawaban ke Ibu, kamu akan memilih jurusan apa?" Bu Desi menatap ku, dengan tatapan seorang Ibu. Belum juga ku jawab, Bu Desi memberi ku kode untuk menarik kursi dari meja guru di sebelah mejanya. Menyuruh ku duduk dan menunggu ku memberikan jawaban.
"Bu, Riri masih bingung, ingin ke IPA tapi nilai Riri pasti gak cukup, dan Ibu juga tau Riri gak terlalu bisa di matematika dan fisika. Jika masuk ke Bahasa iya mungkin Riri bisa mengikuti tapi rasanya ada yang kurang menantang begitu Bu." Aku menundukkan kepalaku. Berharap Bu Desi akan memberikan solusi yang terbaik untuk ku.
"Riri, mau dengarkan Ibu?" tanyanya dengan suara yang lembut, kadang hati tidak percaya kalau Bu Desi yang guru matematika bisa lembut begini. Aku tidak memberikan jawaban selain menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Sebenarnya nilai kamu cukup untuk masuk IPA, memang tidak dengan nilai yang tinggi, tapi kalau Riri, merasa akan kuat menghadapi semua tugas-tugas dan bisa mengerjakan nya dengan baik, mau berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelajaran yang kurang kamu kuasai, dan Ibu akan mendukung Riri masuk IPA."
Aku memilih diam dan menunggu kelanjutannya.
"Dan Riri, hampir semua guru bahasa berharap, kamu akan masuk kelas bahasa. Mereka juga tau kemampuan mu dalam pelajaran bahasa." Yang terakhir, kelas IPS, di IPS juga ada matematika loh Ri, namanya ekonometri, tapi memang tidak serumit matematika nya IPA, dan nilai kamu jelas cukup untuk masuk IPS, kamu tetap bisa belajar bahasa, dan semakin memperdalam pelajaran sosial. Tetapi kamu harus bisa meningkatkan kemampuan dalam ekonometri. Bagaimana Ri? Kalau Riri, merasa nyaman menjalaninya, dan mendapatkan tantangan dari itu juga, berarti pilihan nya jatuh ke jurusan IPS kan?" Sekarang Bu Desi meminta kepastian dariku.
Aku sudah mendengar kan penjelasannya, aku pun sudah memikirkan hal ini berkali-kali, kakakku Tiwi juga sudah memberikan pendapatnya. "Bu, Riri mau masuk kelas IPS saja. Riri mohon dukungan, bimbingan dan doa dari Ibu." jawabku penuh keyakinan.
"Ya sudah, deal ya, Ibu harus menyerahkan berkas ini ke Wakasek kesiswaan segera. Tidak bisa diubah lagi. Gimana?" Bu Desi benar-benar meminta ketegasan atas keputusan ku.
"Ya sudah, kamu boleh kembali ke kelas, Ibu titip tolong serahkan sekalian berkas ini ke Pak Huda ya."
"Siap Bu." Aku berpamitan dan mengembalikan kursi guru yang ku tempati, juga bersalaman dengan guru-guru yang lainnya. Dan menemui Pak Huda, untuk menyerahkan berkas dari Bu Desi.
Di ruang Wakil Kepala Sekolah, "Assalamualaikum, Maaf Bapak, saya Rhiana dari kelas 2B, mohon ijin masuk untuk menyerahkan berkas dari Bu Desi wali kelas 2B." "Waalaikumsalam, masuk Rhiana." Jawaban suara dari dalam ruangan.
__ADS_1
Aku membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Wakasek. Di sana ternyata 3 wakil kepala sekolah ada semua, πtakut, gugup, kenapa ya 3 Bapak wakil kepala sekolah, buatku lebih menakutkan daripada Bapak Kepala Sekolah.π€
Aku langsung menuju meja Pak Huda dan menyerahkan berkas nya. Kemudian ijin pamit kembali ke kelas, karena bel juga sudah berbunyi.
Untungnya pintu kelas masih terbuka tandanya guru mapel terakhir belum masuk kelas. Tetapi baru sampai di depan pintu kelas, Bu Dedeh guru mapel Biologi, datang dari belakang ku, dan menyerahkan sebuah kertas. "Ri, ini tugas untuk kelas 2B, Ibu ada keperluan mendesak jadi tidak bisa mengajar kelas kalian hari ini, tolong kamu sampaikan ke teman-teman mu, dan tugas kamu yang kumpulkan ke meja Ibu juga, bisa Ri?" Pinta Bu Dedeh, sudah tak sabar menunggu jawaban dan ingin segera pergi.
"Bisa Bu, siap laksanakan!" jawabku. "Ibu tinggal ya, Ibu percaya kelas mu bisa bertanggung jawab." Aku mengangguk, mencium tangannya, "Pasti Bu, Hati-hati."
Aku masuk kelas, mengucapkan salam dan teman-teman tanpa menunggu penjelasan ku sudah bisa menduga, ketika aku langsung berjalan ke meja guru, mengisi absen guru, dan menuliskan tugas di papan tulis.
Kami pun mengerjakan tugas Biologi, dan menyelesaikan nya sesuai permintaan Bu Dedeh, tanpa berisik, agar kelas lain tidak terganggu dan guru yang lain tidak curiga kelas kami kosong.
Setelah semua buku terkumpul, aku bergegas ingin ke ruang guru, tapi Arya menghentikan ku. "Tunggu, nanti ku bantu membawa buku tugasnya. Kamu janji mau ngobrol sama aku kan? Katanya mau minta dianter pulang. Ayo sini duduk dulu, adakah yang belum kamu ceritakan padaku?"
__ADS_1
tunggu kelanjutannya ya, semoga masih suka dan mau memberikan komentar, terimakasih sudah mampirπ₯°πππ