Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
harapan dan kebahagiaan


__ADS_3

Aku memandangi cincin yang disematkan di jari manis tangan kiri ku, kemudian kembali memandangi Arman yang rebahan di karpet, tepat di sebelah tempat tidur ku sekarang.


"Serius kah, dia memberiku sebuah cincin?" batinku.


"Ri, tidurlah, tidak perlu khawatir soal besok, hanya saja seandainya kamu lelah ijin sekolah satu hari bagaimana?" Arman menatapku.


"Dan kenapa kamu terus memandangi cincinnya? Maaf aku memilih cincin itu tanpa mengajakmu, aku pikir kamu akan menyukainya." Imbuhnya lagi.


"Aku sangat menyukainya, tapi apakah tidak apa? Bagaimana jika keluarga mu keberatan, atau..." tanpa kusadari kini Arman duduk di sebelah ku. Sangat dekat terlalu dekat. Ku letakkan kedua tangan ku di dadanya, menahannya agar tidak semakin mendekat.


"Lihat, ini yang aku ingin singkirkan, bukan sikap ini yang aku mau dari dirimu, aku ingin kamu menyerahkan dirimu padaku, dengan penuh cinta dan sayang. Bukan karena nafsu dan kepuasan sesaat. Aku ingin cinta kita tumbuh semakin dalam, setiap hari Ri, aku ingin kamu jatuh cinta padaku setiap hari."


Arman berusaha menarik kedua tanganku, agar tidak menahan tubuhnya, jika benar begitu, bukankah dia akan tepat berada di atas tubuhku.


"Jujur Ri, seandainya boleh aku ingin menikah denganmu sekarang, tapi aku harus menunggu paling tidak setahun lagi bukan. Katakan bagaimana cara ku menahan setiap ingin menyentuh mu."


"Tidakkah kamu sudah lebih tenang, bukankah aku sudah menerima cincin mu, aku sudah menjadi milikmu. Setahun tidak akan lama, jika pada saat setahun itu perasaan kita semakin kuat bukankah kita akan semakin dekat. Dan aku tidak memiliki alasan lain untuk tidak menikah dengan mu." Aku sungguh tidak berani terlalu lama menatap Arman, kenapa dia seperti ingin memakan ku.


"Kamu besok ijin aja ya, kita jalan-jalan." Arman menepuk - tepuk kepala ku dan merapikan beberapa rambut yang menganggu di keningku.


Aku menggelengkan kepala ku, "tidak bisa, nanti terlalu banyak ketinggalan pelajaran akan semakin menyulitkan ku untuk mengejar materinya." Aku mengusap wajahnya. "Deg deg deg..." ah kenapa jantungku berdebar sangat keras, semoga tidak sampai terdengar olehnya, ah aku malu dan takut.


Aku berusaha mendorongnya lagi, tapi justru dia semakin mendekat, benar-benar dekat, "Ri,..maafkan aku." "Ah.... tidak Arman, kamu mau apa?" Arman mengecup bibirku berkali-kali, ******* habis, kenapa aku tidak menolaknya, kenapa aku tidak menyuruhnya pergi, perasaan hangat apa ini yang menjalar di seluruh tubuhku, aku berusaha meronta, tersadar semua ini ada batasannya, kita tidak bisa ini bahaya jika terus begini, aku tidak ingin melakukan itu...


Arman berhenti dan memperhatikan ku. "Sekarang kamu tahu, sulit bagi ku untuk menahan semua nya, semakin kuat keinginan ku untuk menjagamu, semakin ingin aku memilikimu seutuhnya." Dia menempelkan keningnya ke keningku. Kami terdiam dalam posisi seperti itu untuk waktu yang cukup lama.


Hingga akhirnya, aku mengecup bibirnya perlahan, Arman membuka matanya, mundur perlahan-lahan. "Maafkan aku Ri, aku akan menikahi mu, akan bertanggung jawab atas semuanya."


Aku bangun duduk didepan nya, membelai rambut nya, "Iya, aku percaya kamu tidak akan meninggalkan aku, dan hanya mengambil keuntungan atas hubungan kita. Aku mau tidur, tapi kamu harus menjagaku terlebih dulu."

__ADS_1


Arman mengangguk, mengecup keningku dan kembali turun ke karpet. Tak lama mataku begitu beratnya, tidur dulu saja..."Hoaaaam..."


Entah pukul berapa Arman tidur, tapi sekarang pukul 03.30, aku terbangun dan tidak ada Arman diatas karpet, dimana dia pikirku.


Ah sudahlah, aku bangun dan mencuci muka, menyikat gigi, dan ke dapur mulai memasak.


Tiba-tiba Arman membuka pintu dan memasukkan motor nya ke dapur.


"Kamu pulang?" tanyaku padanya.


"Iya, gara-gara tuan putri tetap mau ke sekolah hari ini." Arman menutup pintu kembali, setelah selesai memarkirkan motornya di dapur kami.


Ya, walaupun tidak begitu besar, tapi satu buah motor terparkir di dalam dapur itu masih muat dan aku masih bisa bebas kesana-kemari.


Arman duduk di kursi meja makan, "Jam segini mau masak?"


"Iya, nih aku buatkan teh, (aku meletakkan segelas teh hangat) dan yang ini untuk ku (aku meletakkan secangkir kopi susu dihadapan ku)"


"Gak boleh, kamu minum teh aja biar tambah manis," aku menikmati kembali kopi susu yang ku buat dengan racikan sendiri.


Arman hanya bisa pasang muka cemberut, tapi tidak untuk waktu yang lama, kami sudah bercanda dan tertawa lagi.


"Ibunya kak Arman, gak marah kakak pulang cuma ambil motor?"


"Hmm, tidak ada orang rumah yang bisa melarang aku melakukan apapun yang ku mau, apalagi menghalangi ku Ri." Tatapannya serius sekali.


Aku sudah selesai memasak nasi, membuat sedikit sayur dan menggoreng telur sebagai lauknya. Membuat camilan untuk Arman dan aku tentunya.☺️


"Kamu sempat ya bikin kue begini?" tanya Arman yang bingung melihat bolu keju yang aku ambil dari panci kukusan nasi.

__ADS_1


"Terus nasinya dimana?" Arman penasaran.


Aku menunjuk ke arah magic com yang sudah diposisi Warmer.


"Berasa lagi sahur ya Ri, kalau kita nikah enak kali ya, berdua makan sahur." Arman menikmati bolu yang ku buat.


"Kamu belajar dari siapa bikin kue-kue seperti ini? tanyanya.


Aku tersenyum.


"Kok senyum sih? Pasti dari Mama kamu ya, enak loh Ri, walaupun cuma bolu rumahan, tapi ini beneran enak. Kamu juga gak ribet bikinnya ya, udah sering bikin?" Mulutnya penuh dengan bolu.


"Minum dulu nih, nanti tersedak, kalau kamu suka habiskan saja. Aneh kamu tuh, buat orang rumah sebenarnya masakan atau kue yang ku buat katanya gak enak. Makanya aku gak percaya kalau kamu bilang, bolu buatan ku rasanya enak. Aku belajar sendiri, semua nya aku pelajari sendiri. Jujur, aku selama ini tidak tinggal dengan mama kak. Tapi dengan nenek di kota C. Dia yang mengajarkan aku untuk jadi wanita yang tahu akan kewajibannya."


Arman mengernyitkan dahi nya.


"Kapan-kapan kita kunjungi nenek ya, mau? Berdua aja, naik motor kamu ini. Jangan bahas lagi soal keadaan di rumah ya, aku selama ini belajar di sekolah agar tidak jadi orang bodoh, Mama sebenarnya lebih sayang sama kakak, ya mungkin Mama sayang sama semua anaknya, tapi dari yang aku lihat, mama menaruh harapan besar pada kakak. Jadi sekarang setelah kakak mengecewakan Mama dan papa, mungkin jadi pukulan yang keras, karena itu mereka semua jadi berubah."


Arman tiba-tiba memelukku, menghapus air mata ku, ah aku bahkan tak sadar, jika air mata ini menetes.


"Sudahlah sudah, jika sudah tiba waktunya, aku akan menikah denganmu, dan membawamu pergi, lalu kita tinggal berdua saja, membangun semuanya bersama, dan menikmati susah senang nya hidup bersama. Dan ya, aku ingin mengunjungi nenekmu. Besok hari Minggu ya. Oh ya Ri, kamu harus mengurangi kegiatan ekstrakurikuler sekolah mu. Kamu terlihat kurang istirahat."


Aku mengangguk, suara adzan subuh sudah terdengar, "Yuk sholat." Aku menarik tangannya, mengajak nya ke tempat wudhu.


"Sejak kamu bersamaku, kamu sudah jarang adzan, terus yang adzan siapa?"


"Keponakan ku, yang suaranya hampir terdengar sama." Ucap Arman sambil nyengir 😅


"Hmmm...bisa aja ya kamu..."

__ADS_1


Seandainya semua akan berlanjut seindah bayangan dan harapan kami ini. Tuhan ijinkanlah kami menikmati kebahagiaan meraih mimpi-mimpi kami, aamiin...


__ADS_2