Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
ini akhirnya...


__ADS_3

Pengumuman ujian sudah tiba, semua pengumuman kelulusan dikirim ke rumah masing-masing siswa lewat pos, dengan tujuan agar tidak ada iring-iringan motor yang mengganggu keamanan lingkungan. Dan aku...


"Yeaaaay Lulus!" Teriak Kak Tiwi bahagia, yang lulus aku dia yang bahagia.


Sejak hari itu pertemuanku dengan Pak Huda, aku melepaskan semua beban ku. Menjalani hidupku seperti nya itu berhasil.


Aku pun melanjutkan kuliah ke kota P, kota kelahiran Papa, meninggalkan semua, melarikan diriku. Menikmati semua sendirian, bahkan Arman.


Hubungan kami tetap berjalan, sekarang sudah lima tahun aku pergi, dan itu berarti aku sudah sangat lama di kota P. Untuk menghidupi diriku dan membayar sewa rumah, aku bekerja paruh waktu, disela-sela kesibukan kuliah. Menerima pekerjaan serabutan juga ku lakukan, apa saja yang halal dan menghasilkan uang.


Setelah lulus kuliah, aku sengaja tidak memberi kabar, walaupun hanya hubungan jarak jauh aku percaya padanya, aku pulang sendiri dan sengaja datang ke rumah Arman tanpa memberitahu kan dia sebelumnya.


Aku melangkahkan kakiku tanpa ragu, dan menunggu, Arman tidak ada di rumah, tapi ada wanita itu, wanita muda yang dulu hadir di acara keluarga Arman, dia menatapku dengan gelisah begitu juga keluarga Arman, aku bertanya pada semua, tapi tidak ada yang menjelaskan apa-apa padaku.

__ADS_1


Akhirnya aku memberanikan diriku, mengatakan jika kak Arman tidak ada, dan sepertinya kehadiran ku hanya menjadi pengganggu, aku akan pergi, ketika aku berpamitan tiba-tiba ada keluarga Arman yang berkata, mengatakan sesuatu yang selama ini aku takutkan.


"Tuh kan, pergi dan datang seenaknya saja, kemana dia selama ini, setelah pergi sekian tahun tiba-tiba datang tanpa memberi kabar, kakaknya perempuan gak bener, pasti adiknya juga gak bener. Ini sudah mau malam, anak gadis mana yang berani keluar malam, kalau bukan perempuan gak bener."


Air mataku menetes tanpa kusadari, aku menengok mencari siapa yang berani bicara seperti itu tentang diriku, saat itu Arman pulang, dari masjid. Dia bingung, juga kaget, dan menarik ku, membawaku ke kamar nya tanpa memperdulikan berapa pasang mata menatap kami.


Aku masih menangis, hancur hatiku, semua perasaanku, aku pulang hanya ingin menyampaikan pada Arman, aku sudah lulus kuliah, mana janjimu untuk menikahi ku. Gadis SMA yang dulu kau berikan janji manis mu.


"Riri kapan kamu datang, kenapa tidak beri kabar dulu? Kamu sudah makan? Aku buatkan minum ya? Kamu mau menginap dulu, ini sudah menjelang malam, kamu tidak mungkin dapat bis ke rumah nenek. Kamu tidur disini saja ya." Arman kelihatan sibuk mengalihkan pikiran ku.


"Sebenarnya ada apa di sini? Apakah kepergian ku mereka pikir aku jual diri? Aku kuliah disana agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik, bisa memiliki ilmu yang lebih baik, agar aku bisa membuka usaha sendiri seperti mu, agar aku bisa menjadi seorang ibu yang baik. Tapi apa yang aku dapatkan, sebuah hinaan."


"Aku datang ingin menagih janjimu, tapi sepertinya itu tak penting lagi. Tidaklah pantas adik perempuan ****** menikah dengan seorang ahli agama ahli ibadah seperti mu." Aku melepaskan semua cincin pertunangan yang diberikan Arman, dan juga orang tua Arman.

__ADS_1


"Aku kembalikan padamu, seharusnya kamu katakan saja jika perasaanmu sudah berubah, jangan menyakiti ku seperti ini. Karena kamu dulu sudah pernah berjanji."


Ku langkahkan kakiku pergi, keluar dari rumah Arman, dengan semua hinaan yang tidak dijernihkan, semua air mata yang selama ini bisa ku tahan, berkat penguatan dari Pak Huda, teman-teman. Aku berhasil dengan kuliahku, pekerjaan sambilan ku, aku ingin memberikan kejutan untuknya untuk Arman, tapi aku yang terkejut.


Bahkan Kak Tiwi pun berhasil berubah menjadi Ibu tunggal untuk Kiki, tapi masa lalu seseorang tidak bisa dihapus begitu saja. Masa lalu terlebih itu masa lalu yang pahit, mungkin tidak bisa hilang untuk selamanya. Kakakku yang melakukan dosa, tapi aku juga merasakan akibat perbuatannya, serapat apapun hal itu ditutup tidak akan menghilangkan kenyataan nya, sekalipun sudah berubah menjadi orang yang lebih baik, lingkungan yang tidak bisa menerima perubahan tetap saja mengecap buruk masa lalu.


Aku menangis, bahkan tidak sadar kemana aku melangkahkan kakiku, hingga cahaya terang itu datang, dan sebuah teriakan memalingkan pandangan ku, dalam cahaya bintang itu, aku melihat Arman berlari ke arahku, memanggil namaku berkali-kali sepeti yang aku inginkan, tapi rasa pusing yang tiba-tiba datang, dan "Bruk" sebuah hantaman datang menabrak keras tubuhku, terlempar lah aku entah kemana, dan "brag..." Aku merasakan mati rasa di seluruh tubuhku, ada yang hangat mengalir di dahiku, apa ini sebelah tanganku masih bisa bergerak dan menyentuhnya, darah kah...


Saat suara Arman terdengar semakin mendekat, saat itu sisa air mataku masih mengalir, nenek aku ingin tidur dalam pelukanmu... Peluk Riri nek... dan aku pun tertidur dan tidak merasakan sakit lagi selamanya....


Semua yang terjadi bukan ini mau ku... Aku ingin hidup bahagia tapi Tuhan berkehendak lain.


Aku ikhlas menerima semuanya Tuhan...Aku akan bahagia bersama Mu kan Tuhan... hanya Engkau yang bisa menghapus air mataku ini peluklah aku selamanya...

__ADS_1



Horeeeeee sudah selesai, semoga jika ada yang membaca novel ini bisa mengambil manfaat, dan menjadi manusia yang lebih baik. Novelku ini masih banyak kekurangan, Terim kasih untuk semua yang sudah vote dan berkenan memberikan like, komen juga saran. Sampai juga lagiπŸ˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2