Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
berterus terang lebih baik


__ADS_3

Jika ada yang bertanya, lalu bagaimana dengan hubungan pribadi mu sekarang? Maka jawabannya mengalir seperti air, ya seperti itu...


Aku dan Arman tetap menjalin hubungan, semakin erat kah? Jika kukatakan semua jadi tak sama, lalu kalian akan memberikanku saran kah?...


Aku ingin berharap, apapun yang terjadi Arman akan tetap memilih ku. Tapi...


Ujian Akhir semester juga Ujian Nasional Sekolah sudah selesai dilaksanakan, selama itu pula, Kak Tiwi tetap di rumah membantu menjalankan usaha Mama, dan menjaga Kiki, benar-benar menjadi seorang Ibu, dan aku bersyukur, Putra juga baik seperti biasa.


"Riri! Kesini sebentar!" Pak Huda memanggil ku. Hmmm ada apakah gerangan?


Aku pun menghampiri nya, "Iya Bapak, memanggil saya?" Ucapku setelah sampai di dekatnya.


"Bagaimana ujiannya, Riri bisa mengerjakannya dengan baik bukan? Tanya Pak Huda dengan masih sibuk dengan pekerjaan nya yang lain. Beliau pun melirikku, sembari menyelesaikan pembicaraan nya dengan murid yang lain di sebelah nya, memberikan arahan dan murid itu pun pergi.


Sekali itu aku mengingat, tumben aku tidak kenal dengan siapa Pak Huda bicara sebelum aku datang tadi. Di kelas 3 ini aku sudah malas untuk memperhatikan adik kelasku, bahkan Erdian, entah dia bagaimana, aku lebih senang duduk di perpustakaan, menghabiskan waktu istirahat, belajar dan pulang, ya rutinitas yang begitu-begitu saja.


Kak Arya? Hmmm dia pun entah dimana dan sedang berbuat apa.🤭


Menjalani hidupku seperti ini sekarang, di masa-masa akhir SMA ku sungguh sangat disayangkan. Harusnya aku berkumpul bersama dengan teman dan sahabat ku, melakukan sesuatu yang akan ku kenang di kemudian hari. Malang benar nasibku.

__ADS_1


"Puk" Pak Huda menepuk bahuku.


"Ri, sudah selesai melamun nya?" Beliau tersenyum dan aku pun ikut tersenyum malu-malu, ah malu banget sebenarnya. 🤭


"Yuk Kita bicara di ruangan Bapak, pintunya dibuka saja agar tidak ada yang berprasangka yang aneh-aneh." Ajak Pak Huda, aku pun mengangguk dan mengikuti nya, aku sama sekali tidak tahu apa yang akan kami bicarakan, tapi ingin rasanya aku menumpahkan semua beban ku jika bisa.


"Oke silahkan Riri mau curhat apa sekarang, Bapak akan mendengarkan?" Pak Huda mengagetkan ku, aku memandangi nya.


Aku ragu-ragu tapi ya butuh, aku butuh saran dari seseorang yang bijaksana.


Sebelum aku cerita, Pak Huda memperlihatkan secarik kertas dari Guru BP.


"Ini surat keterangan dari Guru BP Ri, yang mengawasi kamu, dan beliau meminta Bapak untuk berkomunikasi dengan mu, karena kamu menulis di kolom pertanyaan, siapa guru yang kamu akan ajak bicara jika ada masalah, nah ternyata nama Bapak tertulis disana. Cukup aneh, karena kebanyakan murid akan menulis nama guru perempuan, tapi sudahlah, Bapak merasa terhormat Riri percaya sama Bapak, jadi Riri ada masalah apa? Di sekolah atau di rumah, hampir semua guru juga mengatakan sejak kamu naik ke kelas 3 ada yang berubah, dan kamu jadi lebih menyendiri." Berhenti sebentar, menyeruput teh di gelas besarnya, lalu melanjutkan pembicaraannya.


"Tenang saja Bapak sudah minta pada Wakasek yang lain untuk tidak memasuki ruangan ini selama Riri belum selesai sesi konseling nya, dan itu juga kenapa pintunya di buka, agar Riri juga nyaman, oke?" Pak Huda dan guru-guru yang lainnya menyadari aku berubah, tapi tidak dengan orang rumah. Hanya Arman saja yang tau juga nenek, jika aku kecewa dengan keluarga ku.


"Bapak, sungguh Riri tidak menyangka, kalau Guru BP akan benar-benar meminta Bapak untuk sesi konseling dan saya senang sekaligus minta maaf Bapak, saya mengganggu waktu Bapak, dan saya tidak menyangka bahwa guru yang lainnya akan merasakan perubahan dalam diri saya."


Pak Huda mendengarkan dengan seksama, ya sudahlah ceritakan saja semuanya. Aku tidak menyangka, kalau Pak Huda akan mendengarkan semua cerita dan penjelasan ku. Aku sangat lega sekarang sangat lega.

__ADS_1


"Bapak sudah mendengar kan semua cerita Riri, termasuk kekhawatiran Riri, sekarang bisakah Riri membuka hati, untuk mendengarkan nasihat dan saran dari Bapak, jangan menyela apa yang akan Bapak katakan dengarkan dulu sampai selesai, baru berikan pendapat mu jika Bapak minta, bisa?" Aku mengangguk dan berganti sekarang aku lah yang mulai mendengarkan Pak Huda.


"Riri, diusiamu sekarang wajar kalau Riri punya teman laki-laki, Bapak bersyukur teman laki-laki Riri juga bisa menjaga dan menghormati Riri dengan tidak melakukan hal yang terlalu jauh dalam hubungan itu. Bapak juga bangga Riri tetap bisa menjaga prestasi Riri. Tetapi jika Riri berpikir menjauhi teman-teman adalah pilihan yang terbaik ya itu sah-sah saja, tapi jika boleh Bapak menyarankan tetaplah bermain dan bergembira bersama teman-temanmu, mereka juga punya masalah coba kamu buka hatimu untuk mereka juga Ri, mungkin kamu akan menemukan sesuatu yang tidak terduga."


Sesuai janji aku tidak berkomentar, aku masih mendengarkan dengan seksama. Dan benar Pak Huda masih melanjutkan sesi konseling kami.


"Nah yang terpenting sekarang, masalah keluarga, Riri, jodoh hidup dan mati seseorang sudah diatur oleh Allah SWT sebagai Tuhan yang kita percayai, baik dan buruknya seseorang itu masing-masing yang akan menentukan, Riri tidak bisa menyalahkan dan memusuhi kakak dan keluarga Riri, bahkan jika dia memiliki lebih banyak pilihan pasti dia tidak ingin seperti itu. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa orang tua kita tidak adil, karena yang Maha Adil itu hanya Tuhan, tidak ada satupun manusia bisa bersikap adil seadil-adilnya, hanya bisa berusaha memberikan sesuai kebutuhan orang tersebut. Jadi kita harus kembalikan dulu ke diri kita, jangan apa-apa iri tapi tidak melihat ke awal dulu. Penyebab sesuatu itu terjadi pasti ada."


"Ketika marah, kecewa dan tidak puas kita sering melakukan kesalahan baik itu besar ataupun kecil. Dan sayangnya biasanya kesalahan itu tidak disadari, yang terburuk jika kesalahan itu akhirnya jadi kebiasaan karena dibiarkan, orang yang melakukan kesalahan dianggap bersalah dan tidak mendapatkan perhatian yang tepat, imbasnya bisa semakin buruk loh Ri."


"Di lihat dari sisi itu, kita sebagai keluarga justru jadi semakin salah, berbeda jika memang itu sudah watak yang tidak bisa diperbaiki sama sekali, bahkan hal seperti itu pun seharusnya kita tidak boleh menyerah. Riri harus bersyukur tidak perlu mengalami kejadian yang buruk agar bisa mendapatkan pengalaman hidup, yang harus Riri lakukan adalah mengambil hikmah dari semuanya, apapun yang akan terjadi di kemudian hari, semua pasti akan bisa dihadapi dengan keihklasan hati. Jangan marah karena Riri pun belum tentu sekuat itu, dan Kak Tiwi, juga tidak ingin menjadi seperti ini, keluarga mana pun inginnya bisa rukun dan bahagia, berkecukupan, tapi inilah hidup, semua kembali ke bagaimana caramu bersyukur."


"Jadi bisakah Bapak minta kembalilah jadi Riri yang ceria, nikmatilah semuanya Ri, susah senang, semua adalah perjalanan hidup, memang tidak selalu berjalan seperti apa yang kita mau, yang penting jaga dan cintai dirimu sendiri terlebih dahulu, jika ada hal buruk terjadi di luar harapanmu jangan bunuh pikiran baikmu, Tuhan itu ada, kamu harus percaya itu." Pak Huda menulis sesuatu di atas kertas konseling, dan menyerahkan nya padaku.


"Tolong serahkan ini ke ruang BP, berikan ke Pak Adi ya? Kamu boleh baca isinya, pikirkan saran Bapak ya, Bapak percaya Riri bisa." Pak Huda mengantar ku keluar ruangan, Beliau pun langsung bergegas pergi karena harus mengajar di kelas. Aku pun sama bergegas pergi, aku membaca isi kertas konseling, dan tak kusadari air mataku menetes, "Siswi Riri baik-baik saja, masalah sudah teratasi, insyaallah dia akan menjadi lebih dewasa dan bijaksana, tidak ada pergaulan yang salah, semua terkendali, penanggung jawab tertanda Drs. Huda...."


Ah jangan menangis Ri, lihat orang lain pun bersedia menanggung bebanmu, aku tersenyum, menyerahkan kertas konseling ke Guru BP, dan kembali ke kelas. Hari itu aku kembali tersenyum seolah-olah semua sudah kembali normal.


__ADS_1


Terima kasih untuk yang masih setia membaca novel ini, semoga bisa bermanfaat dan jangan lupa like juga komen ya, Semangat Hiduplah dengan Baik dan menjadi Lebih Baik💪💪💪


__ADS_2