Bukan Ini Mau Ku

Bukan Ini Mau Ku
aku menerima mu


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu, mendapatkan quote dari om Tukul, cemberut mendatangkan musibah, tersenyum mendatangkan berkah. Semoga masih ada yang mampir baca novelku, semoga ada yang mau vote, semoga berkenan memberikan komentar yang mendukung, semoga kita saling mendoakan yang terbaik aamiin.


Kita lanjutkan langsung setelah pulang dari kota C saja ya?


^_^


~~ "Assalamualaikum... Maaah" Kok gak ada yang bukain pintu ya? Hmmm, Mama kemanakah? "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mama... Maaah!"


(Tiga hari yang lalu, aku akhirnya ikut dalam acara kebudayaan di kota C, kami totalnya 15 orang yang fixed berangkat. Di sana kami bergabung dengan siswa-siswi SMA dan SMK dari berbagai daerah yang diundang oleh Dinas Pariwisata Kota C. Acara nya lumayan menyenangkan, dan kami mendapatkan banyak pengetahuan, mengenai rencana pengembangan Pariwisata Kota C).


Aku lelah sekali, aku duduk selonjor di depan pintu, kakiku pegal. "Mama kemana ya?"


Lupa pula minta Arman untuk menjemput. Kalau dijemput kan gak capek jalan kaki. šŸ˜” Nasib gak boleh bawa HP. Tapi pun, Kak Arman kan gak punya HP🤭, dia seneng nya face to face, bukan wa wa an. Aku menutup mata, lelah sangat... Entah berapa lama ku terlelap...


"Muach," sebuah kecupan mendarat di kening ku. "Kenapa gak ke rumah? Kan bisa istirahat di rumah kalau capek." Arman berjongkok di hadapan ku, penuh perhatian.


"Gak ah, takut, Kak Arman, tahu Mama kemana? Kok rumah sepi banget ya?" tanyaku.


Arman mengeluarkan kunci dari saku celananya, membuka pintu, dan membantu ku berdiri, juga membawakan tas ku.


Aku masih bingung, kenapa kunci rumah bisa ada di tangan Arman, tapi sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Cusss...Aku meluncur ke kamar mandi.


Aku pun selesai mandi dan bersih-bersih, tapi lupa, aku beneran lupa, ada...


"Ri... Kamu mandi?" Arman sudah berdiri di belakang ku yang baru keluar dari kamar mandi. Untungnya handuk ini lebar, dan tanpa menjawab, aku berusaha melarikan diri dari nya.


"Aaaaaaaah lupa ada kamu! Minggiiiiiir!" Aku berlari cepat, sambil memegang handukku kuat-kuat.


"Kok lari sih Ri! Aku bukan hantu! Hihihi!" Terdengar jelas dia mentertawakan aku.


"Kamu diam saja di situ! Awas ya kalau macem-macem." Aku berteriak dari dalam kamar.


"Ya iya, aku gak akan mendekat, aku buatkan teh hangat mau gak?" Arman bertanya.


Aku diam saja, sambil cepat-cepat berpakaian, dan membiarkan rambut ku digulung handuk. Aku menyalakan tv duduk di karpet favorit ku, bersandar ke kasurnya Putra. "Ah rindunya dengan tv!" Desahku sambil memeluk boneka beruang besar kesayangan ku.

__ADS_1


Hari sudah hampir magrib, aku menutup jendela-jendela dan menyalakan lampu, menutup pintu depan, dan kembali duduk di tempat semula.


Arman datang dan menarik boneka beruang dipelukan ku.


"Kamu gak boleh peluk 🐻 ini lagi, bikin cemburu aja, kalau butuh pelukan sini aku yang meluk." Arman merentangkan kedua tangannya, ingin memeluk ku.


Aku cepat-cepat mengambil sebuah bantal besar, dari atas kasur Putra, dan mengarahkan tepat ke depan Arman.


"Enak aja, peluk bantal ini aja nih!"


Aku melihat ke kanan dan kiri, kok gak ada ya, batinku.


"Katanya kamu buatkan aku teh, mana tehnya?" Arman beranjak dan menuju dapur, kembali tidak hanya membawakan seteko teh dan dua buah gelas, tapi juga semangkuk mie rebus lengkap dengan telur rebus kesukaanku.


"Waaah asyik nih," aku mengambil sendok, sudah tak sabar ingin mencicipi mie rebus buatan Arman. Tiba-tiba Arman memegangi tangan ku, "Tunggu, berdoa juga belum, aku sengaja menaruhnya di dapur agar tidak terlalu panas, saat kamu makan."


"Tapi kok bikinnya cuma satu mangkok saja, terus Kak Arman makan apa? Dan sebentar, dari tadi kamu aku tanya, Mamaku kemana kok gak dijawab-jawab sih?" Sekarang balik aku, yang menahan kedua tangannya.


Arman terlihat bingung, "Ibumu pergi ke rumah nenek, katanya ingin menenangkan diri. Kiki dan Putra juga diajak, besok Putra tapi masuk sekolah, ijinnya hanya tiga hari."


"Ibumu kelihatan gelisah, sejak kamu pergi, mungkin setelah kita membicarakan soal kakak, dan masalah pertunangan kita Ri."


"Makan mie nya berdua ya?" pintaku pada Arman. Dia mengangguk. Tak lama terdengar suara adzan Maghrib.


"Ri, aku ke masjid dulu. Terus kamu tunggu di rumah sendirian, nanti aku ke sini lagi setelah sholat Isya, aku juga harus ijin Pak RT takutnya ada yang curiga kita berduaan di rumahmu, nanti di gerebeg lagi!" Arman sudah berjalan ke pintu depan, tanpa menunggu tanggapan ku.


"Eeh... Tunggu... Kamu mau menginap disini? Tapi tapi tapi...!"


"Selama Ibumu pergi, aku yang jagain rumah dan tidur disini sendirian Ri, tinggal semalam ini saja, besok kan Ibu sudah pulang, kenapa? Takut? Aku sayang kamu Ri, jadi aku tahu batasan ku, aku disini buat jagain kamu, bukan mau ngapa-ngapain kamu." Arman meyakinkan ku.


Aku menarik tangannya, kalau begitu kakak mau gak, sholat Magrib nya berjamaah sama Riri. Arman terkejut tapi tersenyum bahagia, mencium keningku, "Ya udah ayo wudhu, tapi habis sholat Kakak pulang dulu, harus lapor. Apa mau digerebeg? Aku siap kalau harus nikah sekarang." Ledek Arman.


"Nikahnya besok, kalau aku udah lulus kuliah," jawabku dan pergi ke tempat berwudhu.


Arman tersenyum. Kami pun sholat bersama, dan kemudian pulang, aku berpikir sendiri, kenapa ya ini pertama kali, aku menjalin hubungan dengan seorang laki-laki, dia bahkan lebih dewasa dari ku, tapi kenapa aku merasa sangat nyaman dan aman. Kenapa aku tidak khawatir jika dia menginap di rumah, apakah tidak apa-apa.

__ADS_1


Aku merapikan tempat tidur Putra untuk Arman, sambil menunggu nya, aku membuat segelas kopi, membuat cemilan, dan membuat laporan kegiatan, "Seandainya besok boleh libur, capek sekali badanku. Aduuuh pegal nya..."


Tiba-tiba Arman memijat bahuku,


"Eh kamu, kok udah masuk aja, kok gak kedengaran suaranya..."


"Kok kok kok, emangnya mau main bulutangkis? Katanya pegel, udah diem dipijitin."


Aku menikmati pijatan Tangan Arman. Sambil menyelesaikan tugas-tugasku.


"Sudah selesai Kak, makasih ya sudah mijitin Riri." Aku melanjutkan merapikan semua buku-buku dan tugas untuk besok.


"Ri, besok kamu gak istirahat?"


"Sudah mau ujian akhir semester, aku ingin bisa mendapatkan nilai yang maksimal."


"Tapi penyakit mu," Arman terhenti, dia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


Aku tersenyum, "Kak Arman diberi tahu Mama ya kalau Riri ada penyakit. Kalau besok memang gak kuat, Riri pasti istirahat, janji."


"Kak Arman tidur disini ya, di kasur nya Putra, kemarin juga tidur disini kan?" Aku melihat nya pura-pura tidak mendengarkan.


"Kamu saja yang tidur di kasurnya Putra, aku tidur disini. (Arman menepuk-nepuk karpet) Sudah Sholat Isya Ri?"


"Belum," jawabku malu.


"Yuk kita berjamaah lagi." Ajak Arman.


Selesai sholat, Arman memintaku tidak melepas mukena yang kupakai.


"Ri, maukah kamu mendampingiku, bersamaku dalam suka dan duka, aku akan menunggu sampai tiba waktunya kita bisa menikah. Jadi Apakah kamu mau menerimaku?" Arman memandangi ku.


"Iya aku menerima mu." jawaban yang akhirnya keluar dari mulutku.


Tiba-tiba, Arman menyematkan cincin di jari manis ku.

__ADS_1


"Sudah malam Ri, kamu tidur duluan, aku jagain."


Malam itu sepertinya, tidurku nyenyak sekali.


__ADS_2