
"Riri, entah sejak kapan aku jatuh cinta padamu, mungkin sejak kamu memberikan senyuman pertama padaku, yang tidak kamu sadari, saat sedang menyapu halaman, atau saat aku bermain ke rumah kakakku dan bertemu denganmu disana, sedang bercanda bersama keponakanku, ternyata kamu membantunya mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Atau di saat kamu datang ke rumahku menemui orang tuaku, membawa kue bolu buatanmu, sekedar untuk mencicipi katamu waktu itu, tidak kah kamu sadari aku selalu ada disana Ri?" Aku terkejut mendengarnya.
"Aku tidak akan meninggalkan mu, sekalipun orang tua ku dan keluarga tidak merestui, karena sebenarnya Bapak dan Ibuku lah yang menyukaimu terlebih dahulu sebelum diriku. Mantanku sudah menikah Ri, jadi tidak mungkin dia mengganggu hubungan kita, dan aku tidak akan melirik wanita lain ketika aku sudah memutuskan untuk menjadikan mu wanitaku. Ri, semua kekurangan mu, akan kulengkapi, dan semua kelebihan mu akan melengkapi ku. Aku akan menjadi satu denganmu. Aku sungguh-sungguh Ri." Arman benar-benar serius, matanya begitu berkaca-kaca, saat mengungkapkan semuanya. Aku menarik tanganku dan berdiri. Arman berusaha menahan.
Aku pun mendekatkan mulutku ke telinganya, "Lepaskan dulu tanganku, nanti masakanku gosong Arman." Aku segera menarik tanganku. "Maaf aku lupa," katanya, dia tertunduk pipinya memerah. Aku menyelesaikan memasak, merapikan dapur, menata meja makan, dan membuang sisa-sisa sayuran yang tidak terpakai.
Arman masih terduduk di lantai, meminum teh nya, memakan cemilan. Aku duduk di depannya. Memandangnya, aku mengangkat wajahnya, dia melihatku dengan putus asa, mungkin dia berpikir aku akan menggantung kan perasaannya. "Jika besok kamu ikut denganku ke rumah, aku akan menjagamu Ri, tidak akan kubiarkan keluarga ku siapapun mengganggu mu." Arman berusaha meyakinkan ku lagi.
Aku tersenyum, "Baiklah aku akan datang bersamamu besok," ucapku tegas, "dan...Aku juga....(Arman menatapku serius)aku... akan mencoba untuk menjadi pasangan yang baik untukmu," ucapku berbisik.
"Apa Ri, gak kedengaran. Coba ucapkan lagi kalimat yang terakhir tadi," desaknya.
__ADS_1
"Gak ah, udah diucapin ya udah," ingin rasanya aku melarikan diri dari hadapannya.
"Kamu terima aku kan? Kamu mau jadi pacar aku kan? Bukan-bukan, kamu mau kan jadi wanitaku?" cecarnya. Aku mengangguk, Arman tiba-tiba memelukku.
"Kak, jangan." Dia buru-buru melepaskan pelukannya. "Maaf-maaf Ri, Riri...ini hari yang paling membahagiakan untuk ku. Aku tidak bermaksud apa-apa. Terimakasih Ri..., kalau begitu aku pamit dulu ya," Arman mengambil gelas teh dan piring cemilan dilantai, meletakkan semuanya diatas meja makan.
"Besok aku jemput ya?" tanyanya, dan aku mengangguk, "Besok pagi, emm aku antar kamu sekolah juga ya?" aku mengangguk lagi, "Pulangnya aku jemput juga ya?" aku mengangguk sekali lagi, "Iya Kak Arman. Tapi aku yang sekarang cuma pacarmu bukan wanitamu," ucapku sebelum Arman meninggalkan dapur ku. Tiba-tiba, dia berbalik dan "muach" sebuah kecupan mendarat tepat di bibir ku.😲 "Ah Kak Arman! Kamu!!!!"
Arman kamu! Benar-benar ya...Itu...itu ciuman pertamaku....Ahhhh..Mama dengar gak ya...duuuh malu aku....
Ketika terdengar suara mama, bangun dari tidur siangnya, "Ri, sudah matang semua masakannya?" tanyanya, "Sudah mah," jawabku singkat. Mama keluar dari kamarnya dan berjalan ke dapur, "Kakakmu, Kiki dan Putra, belum pulang?"
__ADS_1
"Belum mah," aku bergegas mengambil handuk, "Kamu kenapa Ri, kok pipinya merah gitu." Mama memperhatikan ku. "Gak apa-apa, mah, kepanasan deket kompor tadi, Ri mandi dulu ya mah." Aku langsung menuju kamar mandi. Mama hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Eh tamunya sudah pulang?" tanyanya lagi. "Sudaaah Mah!" Teriakku dari kamar mandi. 😌 Mama tersenyum, sepertinya, entahlah aku lumayan lama di kamar mandi, menyentuh bibirku, dan ah sudahlah mandiiiii jangan ngintip yaaaa.
Selesai mandi, menyelesaikan tugas dikamar, mama masuk ke kamarku. "Gimana tadi sama Arman, kamu mau datang ke rumahnya?" tanya mama sambil duduk di kasur ku. Aku membalikkan tubuhku, melihat wajah mama, "Iya mah, tapi sebenarnya Riri takut mah. Takut disana akan ada orang yang tidak suka sama Riri." "Tapi Arman akan menjagamu, dia kan tadi pamit juga sama mama." Mama menenangkan ku. "Lalu bagaimana di sekolah?" Sekarang mama menunggu jawaban, sambil membuka-buka buku tulis ku, yang sebagian masih ada tergeletak di atas kasur. "Mah, jangan marah ya, Riri memilih untuk masuk jurusan IPS mah. Tapi janji kalau ada rejeki buat kuliah, Riri mau kuliah ke jurusan bahasa." Aku berusaha meyakinkan mama.
Mama terdiam, tak lama kemudian tersenyum. "Sudah mama bilang, Papa dan Mama memang anak IPA, tapi bukan berarti anak-anak mama juga harus masuk IPA. Mama percaya Riri ambil keputusan itu, pasti sudah memikirkan semuanya ya kan?" Aku mengangguk membenarkan. "Terus Arman calon mantu mama ya?" What? Mama jangan-jangan tau yang tadi lagi. Aku mengangguk tapi sambil membungkukkan tubuhku. "Mah, Kak Arman ngajakin Riri pacaran, boleh gak?" tanyaku pelan. "Boleh Ri, karena Arman baik dan bertanggung jawab."
ucapan mama sejuk bener deh. "Ya udah mama ke belakang dulu ya," mama pergi meninggalkan kamar ku.
~^_^~~
Lanjut besok lagi ya. terimakasih sudah berkunjung dan meninggalkan jejak untukku, jangan lupa like dan komen ya, semangat semuanya "Fighting!"😇🥰🥰💖💖💖💖💖
__ADS_1