
Sandra berlari kearah pintu setelah mendengar ada seseorang yang menggedornya dari luar.
Dan tangannya cepat menekan knop pintu dan braaak...
Pintu terbuka, Brian bisa melihat Daren yang tengah memeluk calon istrinya dengan paksa.
Brian maju dan langsung menghajar Daren tanpa bicara apapun.
Pria itu bangkit tak terima, wajahnya memerah penuh amarah, Brian lagi-lagi merusak kesenangannya.
"Baj*Ngan!" ucap Daren
Tan menjawab Brian maju dan kembali menghajar Daren hingga prianitu tersungkur ke bawah. Daren tak mau kalah, dia membalas hingga terjadi perkelahian.
Namun Brian bukan tandingan bagi Daren, Beberapa kali tendangan pria itu sudah tersungkur ke bawah.
"Pergi dari sini sebelum aku panggilkan polisi, dan namamu akan menjadi berita utama di surat kabar besok."
Mendengar ucapan Brian, Daren berusaha bangkit sambil memegangi perut nya yang terasa sakit. Dia juga mengusap bibirnya yang berdarah dengan tatapan membunuh kearah Brian.
"Aku tidak akan melupakan penghinaan ini dan aku pasti akan membalas mu," ucap ya sebelum pergi.
Sandra menangis, dia meringkuk di sudut ruangan, baju bagian atasnya sudah robek akibat ulang tangan Daren.
Brian mendekat dan menyentuh pundaknya, gadis itu terkejut dan mengangkat kepalanya.
Melihat pria itu adalah Brian, dia berdiri dan langsung memeluk pria itu, gadis itu menangis di dalam pelukan Brian.
"Sudah, jangan menangis, dia sudah pergi." ucap Brian menenangkan
Sandra masih menangis tanpa bicara apapun. Dan Brian membiarkannya, dia tau gadis itu begitu syok dan ketakutan.
Beberapa menit kemudian, Sandra sudah lebih tenang, dia bisa menguasai dirinya. Gadis itu melepaskan pelukan, "Terima kasih." ucapnya dengan suara bergetar.
"Harusnya kamu berterima kasih dengan ini," Daren menunjukkan ponsel Sandra yang terjatuh di dalam mobilnya.
"Jika bukan karena benda ini aku tidak akan kembali dan mungkin aku tidak bisa menyelamatkan mu."
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih." ucap Sandra
"Apa pelukan ku begitu hangat?"
Sandra tersadar, "Eh maaf" ucapnya
"Tidak masalah, aku tidak marah. Hanya saja aku takut kau jatuh cinta pada ku,"
"Tidak, itu tidak mungkin."
"Baguslah, karena itu memang tidak boleh terjadi. Atau kau akan menyesal nantinya." ucap Brian
Sandra bangkit, "Aku akan mengganti pakaianku dulu."
"Dimana dapurnya?" tanya Brian
"Ada di belakang, dari sini belok kiri."
"Ok," ucapnya berdiri
"Aku? mau buat minum. Karena tuan rumah tidak memberikan aku minum, jangankan memberi menawari saja tidak." sahutnya lagi yang terus berjalan ke dapur.
Sandra berjalan menuju kamarnya, dia mandi dan segera mengganti pakaiannya.
Sejenak dia tertegun di depan kaca melihat wajahnya.
Kilatan itu kembali, saat Daren ingin menodainya, tubuhnya kembali bergidik. Dia ketakutan.
Andai aja ponselnya tidak tertinggal di mobil Brian, pasti pria itu tidak akan kembali, dan mungkin dirinya sudah....
akh... membayangkannya saja membuat cairan itu kembali lolos membasahi pipinya.
Sigap Sandra menghapusnya, bukankah dia sudah berjanji pada Brian untuk tidak menangisi pria itu lagi.
Setelah merapikan penampilan nya, Sandra berjalan keluar kamar.
Di depan pintu dia tertegun, karena mencium aroma yang sangat lezat yang berasal dari arah dapurnya.
__ADS_1
"Apa dia masak?"
"Brian bisa masak?" tanya Sandra di dalam hatinya
Tanpa bicara Sandra sudah berdiri di dapur, dan bersandar. Gadis itu memandangi Brian yang tampak asyik dengan kompor dan alat tempur lainnya. Jari jemari by begitu lihai membolak-balik menu masakan, dan membuat perut Sandra keroncongan.
Sandra berjalan mendeka., "Kamu masak apa?" tanyanya begitu dia dekat dengan Brian.
"Maaf, aku lapar. Dan aku membuat makanan?"
"Apakah ada untuk ku?" tanya Sandra lagi
"Apa kau mau?"
Gadis itu mengangguk, sejujurnya dia juga sangat lapar.
"Aku tidak menemukan banyak bahan makanan, makanya aku hanya memasak ini." ucap Brian menyuguhkan nasi goreng diatas meja.
"Ini untukku?"
"Tentu saja tidak, aku tidak tau jika kau juga mau, aku memasak ini untuk diriku sendiri. Tapi aku berbaik hati, kita bisa membaginya."
"Benarkah?"
"Iya dengan satu syarat, kau mau makan sepiring berdua dengan ku?"
"Hah!"
Di dalam hatinya Brian tau Sandra tak mungkin mau melakukannya, dia begitu gengsi. Selama ini gadis itu selalu sombong. Dan dia ingin mengerjainya sedikit saja.
"Kalau tidak mau tidak apa-apa, aku akan menghabiskan sendiri, toh ini juga punyaku " ucap Brian menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Gleg... Sandra menelan ludah. Cacing di dalam perutnya berontak minta diisi.
Brian sengaja makan dengan lahap, membuat air liur Sandra hampir saja menetes melihatnya.
Apakah Sandra akan menyerah dan minta nasi goreng Brian?
__ADS_1