Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Air Mata Arna


__ADS_3

Setelah agak jauh dari restoran, Arna berjalan di gontai di tepi jalan. Wajahnya seperti melukiskan perasaannya, kecewa sekaligus sedih namun tak ada sedikitpun raut wajah kebencian seperti Shinta, wanita yang kerap kali hadir meleburkan momen indah Arna dan Ahdan.


Arna bisa saja lebih pedas perkataan dan perbuatannya untuk menyentil tingkah angkuh dan centil Shinta, namun Kata-kata *Bukan jodoh pilihan* seringkali menyadari Arna bahwa ia memang bukan jodoh pilihan Ahdan maka ia tak berdaya apa-apa. Jika saja Arna menyentil keras Shinta justru Ahdan akan membela Shinta.


Jalanan sepi hanya ada lampu-lampu dibeberapa tiang menyinari perjalanannya. Batin Arna benar-benar lelah, jika batin lelah maka tubuh pun merasa letih dan nyaris tak ada gairah untuk menjalani hidup. Usai melewati jalan sepi Arna duduk di kursi terminal, suasana ramai dengan suara bising kendaraan dan pejalan kaki terkadang menganggu indra pendengaran. Namun Arna hanya termangku seakan buta dan tuli akan suasana ramai disekelilingnya.


Seketika air mata Arna menetes dari celah matanya bagai gerimis menitikkan embunnya di kaca jendela. Setegar-tegarnya wanita, ia masih menyimpan secerca rasa sakit dan tulang yang rapuh terkadang membutuhkan penawar dan sang penopang. Jika hatinya diselimuti perasaan kecewa dan luka yang teramat sangat, maka air mata-lah yang menjelaskan. Arna kecewa pada Ahdan yang hanya peduli pada perasaan satu wanita yang itu belum menjadi siapa-siapanya. Sedangkan tanpa peduli bagaimana perasaan Arna yang sudah menjadi istrinya dan telah hidup serumah bersamanya sampai batas waktu yang tak ditentukan.


Tiba-tiba telapak tangan dari arah samping memberi selembar tisu hampir dekat dengan wajah Arna. Ia pun menengok siapa pemiliknya, dan rupanya iwan berdiri tepat di sampingnya. Lalu iwan pun duduk di satu kursi dengan Arna. Arna hanya diam dengan tangisnya tanpa mau menerima tisu yang disodorkan untuknya dari iwan.


"Kak, ada masalah apa? Ini tisunya" Tanya iwan dengan nada lembut khasnya sambil memberi tisu lebih dekat pada Arna.


Arna diam sejenak seraya menyahut "Gapapa kok" Sahut Arna sambil menyeka sedikit air matanya.


Tanpa basa-basi, iwan mengusap sendiri air mata Arna yang masih tersisa di pipi lembutnya. Arna menatap iwan dengan mata berkaca-kaca, ia dapat merasakan cinta yang tulus pada diri iwan. Oh Tuhan mengapa Engkau tidak hadirkan iwan sebagai lelaki pertama, bukan hadir atas dasar perjodohan namun sebagai Pangeran yang dinanti oleh Sang Putri jelata yang dicintainya.


Air mata Arna semakin bertambah, seketika ia memeluk iwan dan menyandarkan ubunnya di dada iwan, Arna pun tersedu dipelukan iwan dengan raut kesedihan yang teramat. Sejenak iwan merenggangkan kedua tangannya tak lama kemudian iwan membalas pelukan Arna dengan dekapan erat. Benar-benar iwan pria yang tulus setelah mendiang Ayah Arna.


Ahdan sedari tadi mencari keberadaan Arna, akhirnya ia temui rupanya Arna di terminal berpelukan dengan seorang pria. Emosi Ahdan seakan membara, dengan segera ia turun dari mobilnya dan berjalan cepat menuju terminal. Pelukan iwan pada Arna tiba-tiba lepas, lagi-lagi Ahdan menarik kasar kain baju iwan, seketika melayangkan pukulan keras di celah wajah iwan. Lalu kembali menarik dan memukul untuk kedua kalinya. Iwan menutup pipinya yang menjadi sasaran pukulan Ahdan, seperti merasa sangat kesakitan.


"Kamu ngapain peluk istri saya?" Tanya Ahdan dengan raut emosinya


"Atau mungkin kamu memeluk istri saya untuk kamu sebar dengan foto-foto. Iya?" Tukas Ahdan dengan tatapan tajam sembari mengacungkan telunjuk seperti menodong senjata tajam pada iwan.


"Mas, kamu apa-apaan sih?" Ketus Arna masih dengan mata berkaca-kaca.


"Diam kamu. Ayo kita pulang" Ahdan menimpalinya dengan keras seraya mengenggam erat pergelangan tangan Arna lalu menariknya menuju mobil Ahdan yang tengah memarkir tidak jauh dari terminal.


Mobil Alphard mulai melaju, Arna melihat dari balik kaca jendela mobil merasa kasihan pada iwan yang masih berdiri dan juga memandang mobil yang akan lenyap dari pandangannya.


Sampai dirumah, Ahdan terus menarik tangan Arna menuju kamar mereka. Setelah masuk, Ahdan melepas kasar tarikannya sehingga Arna merasa kesakitan seperti terjepit pada tulang pergelangannya.


"Berapa kali kamu berduaan dengan laki-laki lain?. Setelah bertemu dengan Sean kamu dengan enaknya berpelukan bersama iwan. Apa kamu gak tau malu ingin selingkuhi aku ha?" Suara keras Ahdan dengan tatapan jauh lebih menusuk


Tuduhan Ahdan sudah terlampau lancang, Arna mengatur nafas dan membuka suara


"Kamu tuduh aku selingkuh dengan mereka. Lalu bagaimana dengan kamu mas, kamu dengan lihai pergi kemanapun bersama kekasih kamu disaat aku ada dihadapan kalian tanpa fikir perasaan aku. Kamu pergi bersama Shinta hanya untuk kencan, aku gak ada protes apapun, aku diam aku pasrah karena aku tau aku bukan jodoh pilihan kamu, mas. Tapi kenapa kamu tuduh aku selingkuh dan emosi ketika aku butuh penopang sebentar saja untuk pundak aku yang sudah hampir rapuh, mas. Rapuh karena hati aku lelah, sudah tidak bisa membendung air mata ketika kamu lebih condong ke Shinta. Meskipun aku juga kecewa, gak ada satupun tuduhan aku bahwa kamu selingkuh" Tegas Arna dengan air mata yang mulai bercucuran


Ahdan diam tak berkutik berdiri tegak dengan raut wajah datar. Arna dengan tangisannya berjalan menuju kamar mandi masih dengan menenteng tas.


Pagi hari Arna di taman belakang rumah yang asri nan sejuk itu dilengkapi kolam renang jernih airnya seluas 15m dan lebar 10m. Arna melatih kakinya agar terbiasa bersahabat dengan sepatu super tinggi disebut high heels itu. Meski berjalan linglung, Arna tetap mengusahakan agar tak berlanjut kesialan.

__ADS_1


Arna melatih seperti kisah Putri jelata yang akan dipersunting oleh Putra Mahkota sang raja kuno. Tentunya sang putri harus mahir mengenakan sepatu hak tinggi agar terpancar kecantikan dan keanggunan keluarga raja.


Bibi nun muncul membawa nampan berisi dua gelas jus dan satu piring kue. Ia melihat Arna lunglai melatih kakinya dengan sepatu hak tinggi, bibi tersenyum. Arna sudah sangat terlihat cantik dan anggun, bagaimana jika Arna mengenakan sepatu tinggi itu, maka penampilannya jauh lebih dari anggun. Bibi nun memanggil Arna setengah teriak,


"Mbak kita nyantai dulu yuk, sambil minum"


Arna menoleh, dengan girang ia melepas sepatu tingginya agar berjalan lebih cepat. Mereka pun duduk, Arna langsung meminum jus yang diletakkan di meja tengah mereka.


"Mbak latihan pakai sepatu itu kayak putri kerajaan kuno." seloroh bibi nun


Arna cengir sembari menatap lamat bibi nun,


"Tapi harus kan, bi. Aku latihan biar mahir mengenakan sepatu super tinggi ini supaya tampil anggun didepan suami dan orang-orang. Lagipula mas Ahdan ingin aku kenakan sepatu pemberiannya."


"Wow, pemberian tuan muda. Beruntung lho mbak"


Arna memonyongkan sedikit bawah bibirnya,


"Padahal aku benci yang namanya high heels" Ujar Arna cemberut


"Kenapa mbak, padahal cantik dan anggun lho"


Waktu telah memasuki malam akhir pekan, taman belakang telah dihiasi bunga-bunga, kursi-meja para tamu, meja catering dan lampu-lampu hias. Lengkap dengan panggung musik.


Para tamu penting sudah berada di tempat dengan tampilan elegan dan blink-blink mewah. Abah dan umi sedang berbincang dengan sahabat dan koleganya masing-masing di posisi yang berbeda, tampilan mereka juga tak kalah elegan. Ahdan sudah berdiri gagah hendak memasuki kerumunan para tamu, sementara Arna dibelakang masih dengan jalan lunglai karena ternyata masih belum ahli mengenakan high heels. Padahal penampilan Arna sudah sangat elegan dengan dress lebar dan hijab senada.


Usai asyik mendengar senandung musik, pengumuman launching bisnis baru akan disuarakan oleh Abah di atas panggung musik. Disaat para tamu berfokus mendengar pengumuman, ada satu tamu pria yang tampangnya berumur sekitar lebih 30 tahun memandang Arna. Arna pun tanpa sengaja ikut menatap pria itu, matanya bagai serigala buas. Seketika pria itu menyentilkan senyumannya pada Arna, Arna hanya tersenyum tipis.


Pengumuman pun usai, para tamu dipersilahkan dengan senang hati untuk menyantap hidangan catering. Arna merasa sendirian di kerumunan, andai bibi nun ikut serta berpesta, ia dan bibi akan berbincang. Sementara Ahdan sibuk ngobrol bersama tamu-tamu pria. Lebih baik ia mengambil segelas minuman untuk membasahi tenggorokannya yang sudah mengering.


Arna berjalan masih dengan langkah gontai, Tiba-tiba ia hampir terjatuh tanpa sengaja menginjak gaun panjang yang melampaui tanah seorang wanita dengan dandanan menor dan berambut pirang. Tanpa sadar injakan Arna telah membuat gaun itu menjadi robek. Arna melongo panik


"Astagaaa heh kamu, buta apa gak sih? Kalau gak jalannya pake mata" Suara keras wanita pemilik gaun itu membuat mata para tamu beralih padanya. Terlebih lagi Ahdan ia mencari tau darimana asal suara itu, terlihat Arna tengah dimaki-maki seorang wanita dengan segera Ahdan menghampirinya.


"Maaf, saya gak sengaja" Tutur Arna dengan ekspresi menyesal


"Maaf maaf. Gaun saya sudah terlanjur robek gara-gara kamu. Kata maaf gak cukup buat ganti rugi" Ketus wanita itu membuat suasana semakin memanas


Ahdan sudah berada dihadapan mereka dengan raut bertanya-tanya


"Maaf, ada apa ini?" Tanya Ahdan pada wanita yang memaki Arna

__ADS_1


"Lihat ini gaun saya robek gara-gara dia sengaja nginjak. Kalian harus ganti rugi"


Arna membantah tudingan tidak benar itu bahwa ia menginjak dengan senjaga.


"Gak mas, aku gak.." Suara Arna terputus oleh timpalan Ahdan


"Diam" Timpal Ahdan dengan gigi tertutup rapat


"Baik saya akan ganti, sekali lagi maaf" Ujar Ahdan pada wanita itu sambil memegang kuat pergelangan Arna sehingga terasa kram ditangan Arna. Ahdan pun kembali menarik Arna untuk membawanya ke ruang kosong.


"Kesialan apa lagi yang kamu perbuat, harus berapa kali kamu mempermalukan aku? Sejak sebelum ada kamu di kehidupanku, aku tidak pernah alami kejadian sialan ini. Cukup kali ini kamu mempermalukan aku, jangan sampai kesialan yang kamu bawa berimbas kepada keluargaku. Paham kamu!" Ketus Ahdan masih dengan nada emosinya lantas memalingkan wajahnya seraya pergi kembali ditempat acara.


Arna menyenderkan punggungnya di dinding. Dadanya terasa sesak dan mulut kelu berusaha menahan tetesan air mata. Arna berjalan masuk ke toilet dan membuka kran westafel. Terdengar suara pintu dibuka lalu ditutup, Arna menoleh pelan ternyata pria tadi hendak menghampirinya dengan tatapan jauh lebih buas. Arna kaget dan bulu kuduknya berdiri.


"Hai sayang, kamu kenapa? Butuh pelukan? Ayo sini saya peluk" Pria itu terus menghampiri pelan Arna dengan senyum buasnya.


Arna justru mundur ketakutan


"Tolong jangan macam-macam sama saya"


Pria itu semakin mempercepat langkahnya hingga mendekati Arna, nyaris saja Arna dilecehkan tiba-tiba pintu dibuka lebar oleh seorang wanita. Pria itu spontan menukar posisi dengan Arna sambil menarik kedua tangan Arna lalu menghempasnya.


"Mau ngapain kamu?" Tanya pria itu seolah korban


"Ada apa ini pa?" Tanya wanita itu yang ternyata istrinya


"Ini mah, dia buka-buka kancing baju Papa sembarangan" Tukas pria itu. Bakal serigala berbulu domba


Arna tercengang dengan fitnah busuk pria ini


"Jangan asal fitnah anda"


"Fitnah apaan, lihat ini kancing baju saya kamu buka sembarangan" timpal pria buas ini


"Oohh dasar kamu perempuan murahan" Wanita itu mendekati dan melayangkan tamparan di wajah Arna


Mereka pun keluar beriringan, pria itu menoleh ringan tersenyum sinis, bahagia rekayasanya berhasil menutupi kebejatannya.


Arna keluar berlari menuju kamarnya. Ia duduk diranjang sambil melempar sepatu di atas lantai. Arna menangis histeris dengan nafas tersengal sambil menengadahkan wajahnya ke langit-langit. Dunia orang kaya terasa sempit baginya, tidak sepadan dengan harapannya untuk bahagia.


"Bu.. Aku kangen ibu, aku pengen pulaaang" Jerit tangis Arna dalam kesendiriannya, merindukan sosok ibu tempat ia kembali, tempat ia menemui pelipur lara.

__ADS_1


__ADS_2