
Setelah kepergian Brian, Sandra masuk kedalam.kamarnya, dia telah mengunci semua pintu dan jendela seperti yang di.ucapkan oleh Brian tadi.
Walau dia membenarkan ucapan Brian yang mengatakan jika pria itu tidak mungkin datang lagi, tetap aja dia harus waspada.
Gadis itu sulit memejamkan matanya, dia sedikit takut dan syok. Tiap kali dia memejamkan mata, bayangan Daren yang ingin menodainya muncul dan memberikan rasa takut yang membuatnya ber keringat dingin.
Beda dengan Sandra, Brian pulang kerumahnya dan istirahat dengan nyenyak.
Dengan alasan tadi, dia bisa membuat Sandra mematuhi setiap perkataan nya dan akan memuluskan semua rencananya.
Brian akan bisa mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya, dia juga tertarik membantu Sandra merebut semua harta yang seharusnya gadis itu miliki.
"Sandra, gadis yang malang, aku lebih beruntung darinya karena memiliki nenek yang baik, dan menyayangi ku, ya walau aku juga tak jauh beda dengan nya, aku juga membenci papa."
****
Pagi sekali, Brian sudah berdiri di depan apartemen Sandra dengan menenteng kantong plastik berisi sarapan.
Dua kali menekan bel, Pintu pun terbuka, namun bukan seperti yang dia bayangkan.
Brian membayangkan jika Sandra menyambut nya dengan berpakaian rapi, wajah cantik dan wangi, namun sebaliknya,
Gadis itu berdiri dengan rambut acak-acakan, mata berkantung hitam dan wajah sayu.
Belum Brian bicara, Sandra sudah memeluknya.
Brian terdiam beberapa saat, "kau mengotori jasku," ucap Brian sengit.
Sandra langsung menarik tubuhnya dan menunduk, gadis itu sungguh merasa malu. "Maaf, tapi aku takut dan tidak bisa tidur semalaman,"
Brian menerobos masuk dan langsung menuju dapur. Mengambil piring dan sendok lalu membuka bungkusan ditangannya
"Apa yang kau pikir kan? kau takut dia kembali?"
"Iya," jawab Sandra pelan
"Bodoh!" ejek nya
"Kau!!" Sandra menggeram kesal, tangannya siap memukul lengan Brian, namun terhenti karena Brian menatapnya tajam.
__ADS_1
"Sudah aku bilang, jangan buang airmata mu itu untuknya, dasar cewek bucin!"
"Aku tidak bucin, tarik kembali kata-katamu itu."
"Lantas apa?" lagi Brian mendebat.
"Aku..aku hanya takut dia kembali dan-"
"Itu tidak mungkin terjadi," sahut Brian santai dan mulai menyiapkan bubur ayam kedalam mulutnya.
"Mandi, aku tunggu disini dalam lima belas menit, awas jika kamu terlambat."
"Mau kemana?" tanya Sandra tak terima
"Kau tak perlu banyak tanya, ikuti saja perintahku, paham!"
"Tapi..."
"Sudah satu menit, cepat!" ucap Brian dengan nada sedikit naik.
Sandra akhirnya menurut dan masuk ke dalam kamar, saat ini dia tidak punya pilihan selain mempercayai Brian karena hanya Brian yang bisa dia andalkan sekarang.
Brian kembali tersenyum, dia teringat betapa sombong nya gadis itu saat pertama kali mereka bertemu di bandara.
Dunia memang sempit, buktinya saat ini Sandra bersamanya, gadis itu harus mematuhi dirinya,
Lima belas menit kemudian Sandra turun dengan pakaian rapi, gadis itu duduk di sebelah Brian dan membuka makanannya.
"Ganti!"
"Hah!" Sandra terkejut
"Ganti pakaian mu,"
"No!" jawab Sandra cepat
'Enak saja, dia sudah banyak mengaturku, dan ini, pakaian juga diatur, No, aku kan Sandra si fashionable," ucapnya dalam hati.
Sandra mulai membuka penutup makanan dan mengambil sendok, Al masih membiarkan nya dan menatap nya datar.
__ADS_1
Sandra menggunakan gaun tanpa lengan berwarna hitam, ketat dan terlihat seksi di tubuhnya yang sintal dan padat.
Saat dia duduk, bagian bawah roknya yang memang hanya beberapa senti dibawah bokongnya naik dan dengan jelas memperlihatkan pahanya.
Brian menggeram kesal, "gadis bodoh, bagaimana orang tidak memandang nya lapar dan ingin melahap nya, sedangkan dia berpenampilan seksi dan menggoda." ucap Brian di dalam hati
"Aku tidak mau nenek menilai buruk calon istri ku, dia wanita kuno yang penuh peraturan, nenek menjunjung tinggi harkat, martabat dan sopan santun. Dia paling benci dengan wanita yang tidak bisa menjaga diri dan kehormatan nya." ucap Brian
"Nenek mu kuno, kau benar. Ini modis dan model terbaru, asal kau tau harganya juga sangat mahal" sahut Sandra tak mau kalah.
Brian geram, dia berdiri dan langsung menarik tangan Sandra kuat, hingga gadis itu terbangun dari duduk nya dan berdiri didepan Brian.
Pria muda itu langsung memeluk pinggang Sandra dan merapatkan tubuhnya, hingga mereka berada di posisi yang sangat intim.
Sandra melotot, dia tidak menduga jika Brian akan berbuat seperti itu.
"Lepaskan!"
"Jika aku tidak mau," ejek Brian
"Bukan kah ini yang kau mau," ucap Brian yang mulai mengikis jarak diantara mereka.
Sandra gelagapan, dia coba mendorong dada Brian dengan sekuat tenaga nya, namun sia-sia, karena tidak sedikitpun tubuh itu bergerak mundur malah tambah maju ke depan.
Sandra bisa mencium aroma Woody dari tubuh Brian dan hangat napasnya yang telah menampar halus pipinya.
"Kau sendiri yang memancing orang untuk berbuat lebih padamu, pakaian mu ini membuat siapapun yang melihatnya akan tergoda dan berpikiran nakal," ucap Brian tepat di telinganya.
"Atau kau sengaja ingin menggodaku?" bisik Brian lagi
"Tidak, maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu, aku hanya-"
"Tapi penampilan mu mengatakan iya!" potong Brian
"Dan aku sudah tergoda," Brian mendaratkan bibirnya di pipi Sandra, dingin itu yang dia rasakan
Gadis itu meneteskan airmata, dia menangis, kini dia menyesal. Namun dia tidak menyerah. Brian tidak boleh menjamahnya, dia akan bertahan dengan semua kekuatan yang dia miliki.
Brian kembali mendekat dan menatap nakal bibir Sandra, gadis itu menggigil ketakutan dan menggeleng kan kepalanya, "Aku akan menurutimu, aku akan mengganti pakaianku, tapi tolong lepaskan aku, aku mohon." ucapnya memelas diselingi derai airmata.
__ADS_1
Brian bisa melihat kesungguhan di mata gadis itu dan dia jadi tidak tega, Brian pun melepaskan pelukannya, Sandra langsung berlari menuju kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam.