Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
diusir dari rumah


__ADS_3

"San, itu siapa? dan mengapa dia ngancam Lo?"


"Dia itu pria yang gue temui di bandara kemarin lo masih ingat kan pria yang nabrak gue dan sialnya udah dua kali gue ketemu dia setelah itu yang kedua dia yang nolong kedua dari kecelakaan dan siangnya lagi dia bohongin gue dia bilang gue nabrak orang."


"Terus yang dia maksud dengan rahasia itu apa emangnya lo punya rahasia yang gue nggak tahu?" tanya Ririn penasaran.


"Ya enggak lah, gue juga nggak ngerti. Udah ayo, ngapain kita dengerin ucapannya, dia itu cuma bisa ngancam, gue nggak takut."


"Ya udah ayo, " Sandra dan Ririn masuk ke dalam mobil kemudian Ririn melajukannya pelan menuju jalan raya dan bersiap pulang ke rumah Sandra Baru beberapa meter mereka berjalan ponsel Sandra berdering tertulis jelas nama ayahnya di sana dengan malas dia pun mengangkatnya


"Yaa halo Pa," ucapnya.


"Dimana kamu?"


"Aku di jalan Pa,"


"Kamu sudah lihat berita bukan, siapa pria brengsek yang bersama mu itu, dan mengapa kau ke rumah sakit?"


"Aku bisa jelasin Pa,"


"Apa yang mau kamu jelaskan? adik mu bilang kamu ngebut dan mabuk-mabukan hingga menabrak dan-"


Tut... panggilan terputus karena Sandra sengaja memutuskannya dia malas mendengar ocehan ayahnya yang menyalahkan dirinya bahkan Papa kandungnya sendiri tidak mempercayainya dan lebih mempercayai Dinda.


Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya keras nampak jelas matanya berkaca-kaca menahan air mata yang setiap detik bisa jatuh dan berderai.


"Lo kenapa?"


Sandra tidak menjawab, namun lelehan bening di pipinya menjawab pertanyaan sahabatnya itu, jelas itu airmata kesedihannya.


"Telpon dari bokap?" tanya Ririn dan Sandra hanya mengangguk pelan.


"Dinda sudah memutar balikkan fakta dan dia bilang gue ngebut sambil mabuk lalu nabrak orang,"


"Dan bokap Lo percaya?"


"Seperti biasanya" sahut Sandra tersenyum tipis. Senyum yang penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


"jadi Lo mau kemana? balik ke rumah atau mau ke apartemen Lo?"


"Gua mau balik ke rumah,"


"Bagus, Lo harus melawan mereka, ingat Lo enggak sendirian gue siap sedia kapan pun Lo butuhkan."


"Thanks ya," Sandra tersemyum.


Tak butuh waktu lama, mereka telah tiba di kediaman Sandra, gadis itu menatap lurus kedalam rumah yang sangat besar dan mewah, lengkap dengan segala peralatan nya.


"Mau gue temenin," Sandra menggeleng, "udah biasa dan gue bisa mengatasi ini semua."


"Beneran enggak apa-apa?"


"Bener,"


Ririn segera berlalu setelah gadis itu berjalan masuk kedalam rumah nya yang lumayan besar dan mewah.


Klek suara pintu yang dibuka oleh Sandra, pelan gadis itu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Darimana saja kamu?" sambutan sang ayah yang ternyata sudah menunggunya dan duduk di sofa.


Plaaaak


sebuah tamparan melayang dan langsung mengenai wajahnya. Hingga gadis itu melangkah mundur beberapa centimeter ke belakang dan terhuyung.


Sandra mengusap pelan pipinya yang kini memerah, bekas tamparan itu terasa cukup sakit dan perih, namun tak sesakit hatinya,


"Dasar anak tak tau diri, mau jadi apa kamu hah! mau jadi pela**r?" bentak ayahnya.


Sandra diam, dan masih mengusap pipinya, namun kalimat selanjutnya membuta dia murka, "Dinda bilang, dia melihatku keluar dari hotel bersama seorang pria, "Apa segitu hausnya dirimu hingga harus menjadi-"


"Stop! aku tidak melakukan apapun, justru dia yang telah dengan tidak tau malu tidur dengan calon kakak iparnya sendiri," sahut Sandra geram.


"Lalu ini apa?" ucap Ayahnya membuang lembaran photo saat dirinya di gendong oleh Brian memasuki mobil,


"Jangan memutar balikkan fakta, Papa sudah tahu semuanya, dan apa kau tahu, Daren, dia masih mau menerima mu, padahal dia tahu kelakuan busuk mu itu."

__ADS_1


"Daren, cih manusia brengsek itu,"


"Jaga ucapan mu, Sandra!" bentak Papanya.


"Aku tidak Sudi menikah dengan bajingan itu,"


"Kau jangan gila, bagaimana dengan rencana dan persiapan pernikahan kalian?"


"Papa nikahkan saja, anak kesayangan Papa itu dengannya, dia pasti bersedia."


"Tidak, aku tidak mau, Pa," sahut Dinda berpura-pura menolak.


"Cih, kau pikir aku tidak tau rencana busuk mu itu, aku tidak bodoh karena aku telah mendengar semuanya.' ucapnya dalam hati.


"Jika kau tidak mau, kau harus pergi dari rumah ini!"


"Baik, aku akan pergi," ucap gadis itu kemudian berjalan ke kamarnya.


"Jangan bawa apapun,"


"Tidak, aku hanya akan mengambil photo ibuku,"


Dibelakang ibunya dinda tersenyum lebar, doanya terkabul dan rencana nya berhasil, mereka berhasil mengusir Sandra juga mendapatkan Daren


Sejak kecil Dinda tidak menyukai kakaknya, dia selalu menginginkan apa yang di miliki oleh Sandra.


"Pa, jangan begitu? kasian Sandra Pa?" ucap Nela berpura pura membela Sandra.


"Sandra, jangan pergi," dia berusaha mengejar Sandra naik ke atas menuju kamarnya.


Sandra tak mendengarkan ucapan ibu tirinya, dia terus berjalan masuk dan mengambil beberapa baju dan yang paling utama, photo dirinya di waktu kecil bersama ibunya.


Hanya itu harta peninggalan ibunya yang paling berharga.


"Gimana? aku menang bukan? aku berhasil membuatmu keluar dari rumah ini." ejek Nela


"Kau boleh tertawa sekarang, tapi aku akan membalas mu, asal kau tahu, 50 % saham perusahaan itu milik ibuku dan aku adalah pewaris sahnya."

__ADS_1


"Kau?"


"Dengar wanita ******, kau dan anakmu pasti akan mendapatkan balasan dariku." ucapnya setelah itu dia keluar dari kamarnya diikuti oleh Nela yang berpura-pura menangis.


__ADS_2