
Hampir 2 Minggu pasca operasi Abah, Ahdan mulai memberanikan diri memperkenalkan Shinta kepada keluarganya meskipun masih merahasiakan bahwa ia telah menikah sewaktu Abah akan di operasi. Mereka pun hendak masuk ke ruang inap elite disebuah rumah sakit umum.
"Assalamu'alaikum" ucap Ahdan menyapa hangat keluarganya yang berada diruang inap menemani Abah.
"Wa'alaikum salam.." jawab umi sambil menyuapi Abah tanpa melirik Ahdan karena sudah tahu bahwa itu adalah suara Ahdan namun tidak menyadari bahwa Ahdan masuk bersama seorang wanita yang belum dikenalnya.
Rupanya didalam hanya ada umi yang menemani Abah, abangnya dan kakaknya Annisa beserta keluarga kecilnya entah kemana. Saat mereka tepat dihadapan umi dan disamping Abah yang duduk menyandar itu, umi dan Abah sedikit terkejut dengan kedatangan Ahdan dengan membawa seorang wanita. Shinta mengulurkan telapak tangannya untuk menyalami Umi lalu ke arah Abah namun Abah tak merespon uluran tangan Shinta dengan raut wajah datar, Shinta pun kembali menarik tangannya sambil senyum kecil.
"Umi.. Abah.. perkenalkan, namanya Shinta" Lirih Ahdan memperkenalkan Shinta pada kedua orang tuanya.
Umi merespon hanya dengan senyum dan anggukan kepala, sementara Abah masih dengan wajah datarnya.
"Dengan maksud apa kamu membawa wanita ini, Ahdan" tanya Abah
"Abah umi, aku ingin menikahinya sesegera mungkin. Mohon restu Abah dan umi" sahut Ahdan
Mendengar keterangan Ahdan, umi sedikit tercengang dan bertanya,
"Kamu yakin, nak?"
"Aku yakin umi. Dia adalah wanita yang baik buat aku dan kalian"
Sejenak umi melirik penampilan Shinta dari ujung kaki hingga kepala. Umi sedikit meragukan Shinta yang disebut perempuan baik namun penampilannya membuat umi kurang yakin. Umi pun beranjak dari duduknya lalu meletakkan mangkuk bubur di atas meja supramakbed (ranjang pasien).
"Umi ingin bicara sama kamu sebentar, ayo" ajak umi lembut mengajak Ahdan berbicara dengannya empat mata di luar ruang inap dan tanpa sepatah kata Ahdan pun mengikuti langkah umi.
"Ahdan, apakah kamu sudah mempertimbangkan keputusan kamu sehingga kamu yakin akan menikahinya?" Tanya umi menatap Lamat mata Ahdan
"Aku yakin, umi. Terus terang aku sudah lama mengenalnya sehingga aku mantap memilihnya untuk kunikahi dan itu bisa aku pastikan membawa kebahagiaan untukku, umi, Abah dan keluarga. Sudikah umi merestui?"
Sejenak umi menghela nafas, ia luluh dengan ungkapan anak kesayangannya yang begitu halus nadanya ketika berbicara maupun berdiskusi dengannya. Walau agak berat akhirnya umi menjawab dengan bijak sebagai isyarat merestui hubungan mereka.
"Jika itu membuatmu bahagia, nak. Umi restui"
Ahdan pun menampakkan raut bahagianya seraya memeluk umi.
Ahdan dan umi kembali memasuki ruang inap Abah. Terlihat Shinta sedang menyuapi Abah yang itu membuat umi luluh dan rasa ragunya pun perlahan hilang.
Abah menampakkan senyum tipisnya sambil mengunyah bubur yang disuapi oleh Shinta.
"Ahdan, jika kamu mantap menikahnya. Bagaimana kalau kita mengadakan pertemuan kedua belah pihak untuk mengenal lebih dekat lagi?" Saran Abah membuat hati Shinta tak enak.
"Tapi om, saya disini hanya sebagai pendatang dan telah resmi menjadi warga daerah. Sebagai pendatang saya tak punya keluarga siapapun disini kecuali diri saya sendiri." Ujar Shinta
Umi dan Abah mengangguk paham.
"Kalau begitu, cukup perkenalan dari Ahdan tentang kamu membuat saya dan ibunya merestui hubungan kalian."
Arfian mendengar dengan seksama pembicaraan mereka dari balik pintu luar ruangan.
__ADS_1
"Perempuan brengsek itu rupanya akan menikah dengan Ahdan. apa jangan-jangan.. Inilah jawabannya" gumam Arfian menyumbing senyumnya.
Malam hari jalanan tampak mulai sepi, Arna hendak memeriksa keadaan janinnya disebuah klinik. Ia berhenti di halte sambil matanya fokus mengecek handphone tengah memesan taksi. Tak lama kemudian datang seorang pria berjaket bomber.
"Hai, Arna" sapa pria itu seperti sudah mengenalnya.
Arna pun menoleh ke asal suara yang menyapanya. Betapa terkejutnya Arna ternyata Arfian berada disampingnya berjarak sekitar 5 meter. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Arna berjalan agak cepat keluar dari halte untuk menghindari Arfian.
"Arna tunggu" Arfian mengejarnya seraya menarik lengan Arna. Arna menoleh lalu menarik keras kembali lengannya dengan raut wajah kesal dan sedikit merasa takut.
"Mau kamu apa?" Tanya Arna dengan sikap dinginnya
"Sudah lama tidak melihatmu. Apa kabar, sayang?" Arfian mulai menampakkan kegenitannya seraya melayangkan telapak tangannya hendak memegang pipi lembut Arna, justru disingkirkan dengan cepat.
"Tolong jangan macam-macam sama saya, mas. Biarkan saya pergi." Tegas Arna sembari melanjutkan langkahnya
"Tunggu. Jika kamu berkenan kita ke kafe, ada yang ingin aku bicarakan mungkin ini sangat penting untuk kamu ketahui." Arfian kembali menarik lengan Arna lalu melepasnya perlahan sehingga langkah Arna pun kembali berhenti.
Sejenak Arna berfikir mempertimbangkan ajakan Arfian. "Baik."
Dengan sikap dinginnya Arna pun kembali berjalan cepat pergi meninggalkan Arfian.
Setengah 1 jam setelah memeriksa kandungnya, Arna menumpangi taksi menuju kafe tempat dimana Arna dan Arfian hendak bertemu. Tampak Arfian keluar dari mobil sepertinya ia baru tiba kemudian disusul oleh Arna turun dari taksi. Arna berjalan agak cepat menghampirinya
"Silakan masuk" Arfian mempersilahkan Arna namun Arna tak meresponnya bahkan tanpa meliriknya dan menampakkan senyum sedikitpun.
Mereka duduk berhadapan berjarak 2meter, Arna menaruh tasnya di depan untuk menghindari tangan genit Arfian barulah ia menyandarkan kedua tangannya diatas meja.
"Apa kamu sudah tahu bahwa Ahdan sudah menikah lagi"
"Hmm saya sudah sangat mengetahuinya jauh-jauh hari. Hanya ini yang kamu sampaikan? Baik, sudah cukup saya permisi"
"Tunggu. Kamu ini, saya belum juga melanjutkan." Ketus Arfian sedikit jengkel
"Baik. Saya hanya minta mas to the point jika ada yang ingin disampaikan."
"Saya yakin kalau kamu mengandung anak Ahdan dan itu fakta."
Keterangan Arfian cukup membuat Arna terkejut, ada sedikit perasaan lega karena masih ada yang mempercayainya bahwa ia benar-benar mengandung anak Ahdan.
"Iya itu benar. Kenapa hanya mas Arfian yang yakin bahwa saya benar-benar mengandung darah daging Ahdan? Sedangkan keluarga yang lain masih meragukan ini."
"Saya sangat yakin, Arna. Hasil tes DNA Ahdan dan Iwan tertukar. Botol medis tempat menyimpan DNA iwan dipindahkan ke botol milik Ahdan sehingga... Dokter menerangkan bahwa milik Ahdan negatif." Jawab Arfian
Arna terkejut mendengarnya, namun ia masih kurang yakin
"Dari mana mas tau itu? Bukan sekedar karangan kan? atau jangan-jangan mas pelaku pemindahannya"' Arna menuding untuk mencoba memastikan
"He kamu ini, sembarangan. Dengar dulu jangan asal nyerocos."' Timpal Arfian jengkel
__ADS_1
"Hmm baik, mas. Tolong to the point" Arna tak kalah jengkel pada Arfian yang hanya menjelaskan setengah-setengah
"Ada seorang wanita pelakunya. Tapi saya tidak mengetahui namanya yang saya tahu dia perempuan yang cukup feminim." Jelas Arfian elegan
Arna melebarkan tatapannya dan sejenak menghela nafas
"Jika itu benar, aku harus menemui mas Ahdan. Bisa bantu aku mas dalam mengungkapkannya kalau benar itu faktanya." Kata Arna menatap serius
"Sepertinya sudah terlambat, Arna. Ahdan sudah akan menikah dan itu telah direstui Abah dan umi. Apakah kamu tega membatalkan rencana pernikahan yang sudah didasari restu orang tua?"
Arna pun terdiam pasrah, betul kata Arfian bahwa ia sudah terlambat dan tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri.
"Bagaimana.. Kalau saya saja yang akan menggantikan posisi Ahdan sebagai suami kamu. Saya siap bertanggung jawab untukmu dan anak yang kamu kandung."
Arna kembali dengan sikap dinginnya merasa Arfian mencari-cari kesempatan. Arna beranjak dari duduknya sambil mengenakan tasnya.
"Maaf, saya tidak berfikir kesana. Terima kasih atas penyampaiannya." Tegas Arna seraya berlalu meninggalkan Arfian
Seketika Arfian menggebrak pelan meja, rencananya justru gagal mengambil kesempatan menikahi Arna. Ia sengaja tidak menyebut perempuan yang dimaksud dalam penyampaiannya adalah wanita yang saat ini bersama Ahdan meski ia belum mengetahui siapa nama wanita itu. Jika saja Arfian menyebutnya sebagai calon istri Ahdan tentu saja Arna akan bertindak cepat untuk mengungkapkannya pada Ahdan.
Di hotel yang mewah Ahdan dan Shinta memesan kamar di lantai 5 hotel. Mereka tengah bermesraan sambil berbincang bahagia.
"Akhirnya kita mendapat restu. Apakah nanti akan diadakan pesta besar-besaran?" Tanya Shinta bermanja dibahu Ahdan.
"Pasti dong, sayang. Selepas itu kita tinggal dirumah orang tua aku sementara waktu. Aku ingin kembangkan perusahaan terlebih dahulu dan jika omzet meningkat kita akan membeli rumah dikawasan elite." Ujar Ahdan mengelus rambut Shinta
"Bagaimana kalau aku ikut serta dalam perusahaan kamu? Aku kan sudah janji akan membantu, bisa kan sayang?"
"Oke. Kita ke kantor setelah acara selesai, aku akan memperkenalkan kamu. Semoga berhasil"
Acara resepsi pernikahan Ahdan dan Shinta tak kalah mewah dari pernikahan sebelumnya. Para tamu undangan semua adalah orang-orang kaya terpandang dan ibu-ibu sosialita yang tentunya istri dari konglomerat dan pengusaha kaya raya.
Tampak wajah bahagia Ahdan dan raut riang dari wajah Shinta yang tengah disapa oleh sahabat-sahabat mereka masing-masing.
Annisa berada diujung para tamu berdiri berdampingan dengan umi.
"Apakah umi merasa bahagia atas pernikahan kedua Ahdan?" Tanya Shinta setengah berbisik
"Jika Ahdan bahagia umi pun turut bahagia." Umi menghela nafas
"Tapi aku tidak, umi. Aku merasa berbeda karakter wanita itu jika dibandingkan dengan Arna." Kata Shinta
"Umi pun sempat berfikir seperti itu. Tapi kita ditekankan untuk berprasangka baik, nak. do'akan saja adikmu agar bahagia bersama pasangan barunya." Pungkas umi dengan nada yang menyejukkan.
Akhirnya Arna mendapat jawaban atas fitnah terhadapnya, namun ia tidak tahu dengan cara apa untuk menepis fitnah itu. Jika ia berhadapan langsung untuk mengungkapkannya dikhawatirkan membuat hubungan mereka retak jika nanti informasi yang ia sampaikan tidak fair karena tidak ada bukti yang menyertai malah hanya perkataan dari mulut Arfian saja dan itu tidak cukup menjadi sebuah bukti.
"Apakah benar informasi itu, Arna?" tanya mas Udin
"Aku juga kurang yakin, mas. Tapi aku juga berfikir ada yang sengaja menukarnya supaya hubungan aku dan mas Ahdan retak"
__ADS_1
"Kalau begitu, kita tunggu saja yang sebenarnya. Kamu jangan gegabah sampai bukti jelas adanya." Saran mas Udin direspon dengan anggukan.