
Arna dan Ahdan telah menjalin hubungan dalam mahligai rumah tangga selama lebih tiga bulan. Sebutan *Bukan jodoh pilihan* yang kerap kali disentilkan terhadap Arna oleh Ahdan sudah tak lagi terdengar setelah Ahdan benar-benar jatuh hati hingga membuatnya memupuk rasa cinta bersama Arna.
Saham perusahaan properti milik Paman Ahdan telah mencapai omzet yang semakin meningkat berkat kerjasama para karyawan, staff, manager, sekretaris dan atasannya. Penampilan Ahdan sekarang jauh lebih elegan dan cool dengan gaya rambut barunya yakni cepak. Tak hanya itu, Ahdan mulai menebar energi positif dilingkungan sekitarnya dengan jauh lebih ramah dibanding bulan-bulan sebelumnya yang cenderung jutek dan dingin.
Arna dan Ahdan tiba di kantor dengan saling bergandengan tangan memasuki gedung kantor yang berdiri megah itu. Para penghuni kantor merasa bahagia dan teduh dengan pasangan suami istri yang semakin romantis setelah dulu santer dikabarkan menikah paksa alias dijodohkan namun belum ada bocoran bahwa mereka dijodohkan karena kejadian saat mereka di dalam satu kamar, karena Abah dan keluarga besar tak ingin privasi itu diketahui oleh publik hingga menyebabkan tercorengnya nama baik keluarga.
"Lihat itu bos Ahdan dan Arna sudah makin romantis" Ujar karyawati berbisik ke salah satu temannya yang baru saja memandang kedatangan sepasang suami istri itu.
"Iya. Awalnya bukan jodoh pilihan pada akhirnya benih-benih cinta mulai tumbuh" sahut temannya
Suasana perkantoran menjadi hening dikarenakan para karyawan sibuk di meja partisinya masing-masing. Termasuk Arna, staff HRD sibuk mengetik-ketik keyboard komputernya. Sementara Ahdan tengah menyusun perencanaan prospek kerja diruang rapat bersama orang-orang penting di sebuah perusahaan.
Dua jam kemudian, Ahdan hendak menemui Arna dengan mimik kebahagiaan. Didapatinya Arna tengah asyik berbincang dengan rekan satu ruang kantornya. Ahdan berdiri diambang pintu dengan senyum dan kedua tangannya menyembunyikan telapak dibelakangnya. Tak sengaja Arna menoleh,
"Mas" Ujar senyum seraya berdiri menghampiri Ahdan yang masih berdiri itu.
"Mas, kamu senyum-senyum. Tangan kamu kenapa diumpetin?"
Ahdan pun mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan yakni berupa selembar kuota penerbangan.
"Aku dapat hadiah. Tiket ke Swiss" Sahut Ahdan bahagia
Arna bahagia seperti mendapat kejutan spesial, ia pun meraih lalu memandangi tiket tersebut.
"Liburan tahun baru ini aku mau nambah momen quality time bersama kamu di Swiss. Bukankah itu momen yang jauh lebih indah?" Tutur Ahdan
"Iya mas. Aku sudah tidak sabar" haru Arna kegirangan.
Keesokannya Arna mengalami mual-mual hingga muntah terpaksa ia keluarkan. Ia merasa tak seperti biasanya, apakah kesehatannya menurun ? Dengan cepat Arna mengetes kadar darahnya ternyata masih normal seperti hari-hari sebelumnya.
"Darah normal, pola makan teratur, istirahat cukup. Terus kenapa aku tiba-tiba pusing, mual sampai muntah? Aneh" gumam Arna berbicara pada dirinya. Ia merasa mungkin lambungnya bermasalah.
Ahdan baru saja bangun dari tidurnya dengan kerut mata. Arna tak ingin memberi tahu bahwa ia baru saja mengalami pusing dan muntah, selain tak ingin diminta cuti kerja ia juga tak suka mengeluhkan apa yang ia alami bahkan kepada ibunya sendiri.
Mereka duduk berhadapan di kursi makan siap menyantap hidangan yang sudah diletakkan di atas meja.
Ahdan tampak lahap memakannya sementara Arna baru dua suap tiba-tiba ia mengeluarkan suara seperti sedang tersedak sehingga terdengar oleh Ahdan.
"Kamu kenapa? Minum dulu" Ahdan menyodorkannya segelas air putih, Arna pun meminumnya.
"A-Aku tersedak, mas" Cengir Arna. Sebenarnya ia bukan tersedak tetapi sedang menahan rasa mual yang membuatnya merasa tidak selera untuk melanjutkan makan.
"Pelan-pelan makan, sayang" ucap Ahdan lembut sembari melanjutkan lahapannya.
Tak berselang lama, mereka bergegas berangkat ke kantor bersama. Di ruang kantornya Arna merasa tidak nyaman dengan tubuhnya apalagi suasana ruang membuatnya tidak tahan dengan bau AC yang menyebarkan suhu sejuknya. Padahal sebelumnya ia nyaman sekali dengan suhu sejuk AC ketika udara mulai menebar suhu panas. Terlintas di benaknya lebih baik memeriksa kondisi kesehatannya langsung ke dokter. Ia pun beranjak pergi.
Tak satupun taksi tampak di jalanan, ia mencoba memesan taksi online namun harus menunggu beberapa saat untuk kedatangan taksi. Terpaksa ia menempuh perjalanan di trotoar untuk beberapa meter sampai taksi tiba menemuinya. Beberapa meter jauhnya dari gedung kantor, tak sengaja iwan melihat Arna berjalan yang tiba-tiba lemah lunglai. Arna tampak merasa pusing, dengan cepat Iwan menghentikan Vespanya dan berlari menuju Arna yang hampir saja jatuh pingsan. Dengan sigap Iwan menopangnya,
"Kak, tidak apa-apa kan?" Tanya Iwan cemas
"Aku pusing, Iwan" sahut Arna lirih
__ADS_1
Seketika taksi berhenti di samping mereka, si sopir membuka jendela taksinya,
"Bu Arna ini kan?" Sopir itu memastikan apakah Arna adalah wanita yang ia kenal sebagai pelanggan yang sering memesan jasanya.
"Iya Pak" justru iwan yang menjawabnya. Tak lama kemudian iwan mengangkat tubuh Arna membopongnya masuk ke dalam taksi.
Setelah taksi berlalu membawa penumpang yang diikut sertai oleh Iwan, tanpa sadar ada seseorang bersembunyi di balik trotoar dan mengabadikan foto kedalam galeri handphonenya saat Arna di topang sampai dibopong oleh Iwan.
Taksi pun berhenti di depan rumah Arna, Arna yang didalam taksi merasa lemas sehingga sulit untuk berjalan keluar sendiri. Iwan kembali membopongnya keluar sampai menuju masuk ke dalam rumah. Lagi-lagi seseorang yang tadi mengintip mengikuti mereka kembali memotretnya.
Iwan membaringkan Arna di atas ranjang di dalam kamar Arna dan Ahdan.
"Apa kakak sedang sakit?" Tanya Iwan kalem
"Tiba-tiba saja tepar padahal pagi tadi masih bugar" sahut Arna lirih menahan rasa pusing.
Ahdan di kantornya sibuk mendata dokumen di meja kerjanya. Terdengar ponselnya berdering tanda notifikasi WhatsAppnya memberi isyarat pesan baru telah masuk. Ia cek ponselnya memang benar pesan masuk dari nomor tak di kenal. Isinya berupa foto-foto Arna di bopong oleh seorang pria dari trotoar hingga hendak masuk kedalam rumahnya ditambah dengan pesan teks *saya dengar istri bapak akan berhubungan dengan pria itu*
Sontak membuat Ahdan berdiri cepat dengan ekspresi yang mulai menampakkan kegeramannya.
"Keterlaluan kamu, Arna" gumam Ahdan seraya keluar
Arna sejenak memejamkan matanya untuk meredakan rasa pusing yang dialaminya saat ini apalagi tubuhnya terasa letih. Iwan merogoh saku jaketnya untuk mengeluarkan ponsel, namun sakunya tak berisi apa-apa. Ia rogoh satu persatu saku dari jaket hingga celana tak juga ia dapati. Terpaksa ia menanggalkan sementara jaketnya untuk memastikan kembali keberadaan ponsel yang seingatnya ia masukkan ke dalam saku jaket. Tak juga ia temui mungkin tertinggal di jok Vespanya.
Pandangan iwan beralih ke wajah Arna yang tertidur itu, Iwan mendekatinya dan mencoba mengusap wajah Arna yang bening dan lembut. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dengan suara keras bagai di dobrak oleh komplotan, ternyata Ahdan membukanya tercengang dengan keberadaan Iwan berdua dengan Arna di dalam kamar mereka. Sontak mengejutkan iwan dan Arna pun bangun perlahan.
Dengan Ahdan menghampiri Iwan lalu melayangkan pukulan keras ke wajah iwan, tak puas dengan pukulan baru-baru saja lagi-lagi Ahdan memukul sekeras-kerasnya dengan wajah yang tampak emosi mulai mendarah daging. Arna panik bangkit berusaha mencegah pukulan Ahdan.
"Sudah berapa kali saya bilang, jangan pernah dekati istri saya barang sekejap saja." Ketus Ahdan menatap tajam Iwan yang tengah menutup sebelah pipinya seperti menahan rasa sakit akibat pukulan keras Ahdan.
"Mas, ka-" ucapan Arna ditekan oleh Ahdan
"Diam kamu. Aku kan suami kamu, apa lagi yang kurang dari aku sampai kamu Lagi-lagi bertemu laki-laki ini."
"Mas, dia tadi menolong aku" Arna berusaha menjelaskan namun Ahdan memotongnya dengan nada emosi yang tak lagi bisa ia kendalikan.
"Memangnya kamu kenapa harus dia tolong? Pasti ini alasan kamu untuk menutupi bahwa kamu dan dia berhubungan. Ha" sambung Ahdan mulai lancang
Mendengarnya dada Arna mulai sesak, ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak terima dengan tudingan Ahdan
"Kamu bicara sembarang, mas"
"Bukannya aku bicara sembarangan. Buktinya kalian berdua disini dalam satu kamar. Lihat jaket itu bagaimana bisa lepas disini padahal diluar dia masih memakai jaketnya" ujar Ahdan sambil memperlihatkan foto-foto mereka
Arna tercengang tak menyadari bahwa mereka akan dipotret.
"Iya itu benar mas. Tapi tidak dengan dugaan kamu bahwa kami berhubungan." Bantah Arna dalam keadaan menahan rasa pusingnya yang belum reda
"Bohong kamu. Sudah berapa kali aku temui kalian leluasa bertemu, berpelukan hingga berdua dalam kamar. Bagaimana tidak aku menduga bahwa kalian berhubungan." Ketus Ahdan dengan nada emosinya yang semakin membara.
"Itu tidak benar" bantah Iwan namun dihentikan oleh Ahdan dan melanjutkan pukulannya yang ketiga kalinya sehingga keluar darah segar dari bibir Iwan.
__ADS_1
"Keluar kamu dari sini. Cepat" desis Ahdan meminta Iwan keluar dari kamar mereka. Tak berkata-kata Iwan bergegas keluar tak lupa membawa jaketnya yang ia letakkan di atas ranjang kasur.
"Mas, bisa gak kamu bicara dengan kepala dingin. Kamu hanya salah faham. Dia tolong aku karena ak-" tuturan Arna lagi-lagi ditekan
"Salah faham salah faham selalu kamu ucapkan ketika aku dapati kalian berdua. Perbuatan kamu merusak harga diri aku sebagai suami. Bahkan membiarkan kehormatan kamu sendiri hanya untuk laki-laki lain." Ujaran Ahdan membuat Arna kembali meneteskan air mata.
"Maafkan aku, mas. Tapi itu tidak benar" ucap Arna dengan bibir bergetar.
"Cukup. Mulai sekarang rumah tangga kita bubar"
"Ma-maksud kamu apa, mas?"
"Aku mau kita cerai." Pungkas Ahdan seraya keluar dengan perasaan kecewa mulai tumbuh rasa benci seperti awal ia tak mencintai bukan jodoh pilihannya.
Arna tersentak lemas terduduk di lantai, merasa sangat tertekan hebat bagai menahan sakitnya pecahan kaca yang menancap di hatinya. Butiran bening menetes deras dari celah matanya. Arna tak menyangka kejadian yang ia benci kembali terjadi lagi mengusik ketenangan dan kebahagiaannya bersama Ahdan.
Keesokannya tak lagi seperti hari-hari biasa Arna ceria begitupun dengan Ahdan tak lagi diselimuti perasaan bahagia. Arna kembali murung sementara Ahdan kembali dengan karakter dinginnya. Semenjak keributan kemarin Ahdan tak berada dirumah justru ia bermalam di kediaman orang tuanya.
Arna hendak berangkat ke kantor namun rasa mual tak luput menggerogoti isi perutnya. Ia berusaha tampil biasa saja sekalipun tersenyum paksa agar orang-orang tak tahu bahwa ia sedang memendam masalah, sebab Arna tahu tidak semua orang percaya bahwa hal kemarin hanyalah kesalahfahaman malah justru akan menyebarkannya dari satu telinga ke telinga lain padahal itu hanyalah isu belaka.
Arna tiba di kantor, tiba-tiba ia di hampiri rekan satu ruangnya menyerahkan sebuah amplop berisi kertas penting.
"Bu, ini surat pernyataan dari bos Ahdan" kata rekannya tak lama kemudian berlalu.
Tanpa pikir panjang Arna membuka lalu membacanya. Bertambah lagi kesesakannya setelah membaca sepenggal inti dari kertas tersebut yaitu surat pernyataan pemecatan terhadap dirinya sebagai Staff HRD di perusahaan itu. Segera Arna menemui Ahdan yang mungkin di dalam ruang kantornya.
Ahdan duduk tampak dengan wajah masamnya. Arna dengan langkah cepat mendekati meja kerja Ahdan lalu melempar pelan surat pernyataan tersebut.
"Mas, tolong jangan kaitkan masalah kemarin dengan pekerjaan aku di perusahaan ini." Ujar Arna berusaha tenang
Ahdan berdiri dan menatapnya datar,
"Memangnya kenapa? Kamu tahu aku adalah manager aku berhak memutuskan untuk memecat siapa yang menurutku tak pantas di jadikan staf disini" Tutur Ahdan terdengar angkuh.
"Kalau kamu benci aku, lebih baik kamu bersikap dingin atau judes ke aku seperti saat-saat sebelum kita menikah tanpa harus memecat hanya alasan masalah kemarin yang tak ada kaitannya dengan perusahaan." Tegas Arna
"Bukan urusan kamu. Kalau aku nyatakan pecat yah aku pecat. Menurutku wanita seperti kamu mudah mencari pekerjaan lain" sambung Ahdan dengan keangkuhannya.
Arna hanya mendengar pasrah lalu keluar dari ruang kantor Ahdan, sangat merasa kecewa dengan keputusan Ahdan yang sama sekali tidak masuk akal.
Dibalik pintu luar Sean mendengar dengan seksama, usai Arna keluar tak lama Sean masuk ke dalam kantor milik Ahdan.
"Permisi" sapa Sean
"Maaf, saya dengar bahwa anda akan memecat Arna. Apa betul begitu?" Tanya Sean memastikan
"Apa urusannya dengan anda?" Ahdan bertanya balik
"Saya rasa itu bukan keputusan yang benar. Pekerjaan Arna cukup terbilang gesit dan disiplin. Apa masalahnya dia harus dipecat? Saya tidak setuju" sambung Sean memberi komentar tentang keputusan Ahdan
"Itu bukan urusan anda. Pemecatan sudah saya nyatakan dan saya sahkan. Tolong jangan ikut campur dengan keputusan saya. Lebih baik anda fokus dengan tugas anda di meja sekretaris." Bantah Ahdan membuat Sean kehabisan kata-kata.
__ADS_1
Arna semakin tertekan dengan situasi yang tak dapat memberi jalan menemui solusi. Dari kejadian salah faham, pernyataan cerai hingga pemecatan yang dialamatkan kepada dirinya membuatnya bingung tak menentu. Tapi Arna tak putus asa mencari jalan keluar yaitu berupa speak up dengan mertuanya sekiranya mereka mau menjadi penengah dan mencegah keputusan Ahdan untuk menceraikannya.