Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Karyawan Baru


__ADS_3

Setelah melangsungkan acara pernikahan yang terbilang mewah, Ahdan kembali ke kantornya bersama Shinta. Ketika hendak masuk ke dalam kantor lantai pertama, para penghuni kantor tertuju pandang pada mereka terutama Shinta yang berjalan bak Miss universe sambil menenteng tas branded berwarna abu-abu senada dengan blazernya.


Sebagian karyawan saling berbisik dengan ekspresi heran,


"Semenjak bos Ahdan kembali ke wanita itu, tampak lebih jutek dan dingin seperti semula"


"Iya benar, bahkan si wanita itu kurang beres kalau menurut aku" Bisik salah satunya.


Shinta balik memandang mereka yang tengah berbisik itu,


"He kalian, bisik-bisik apa ha? waktunya kerja." Ujar Shinta dengan nada angkuh seraya kembali melanjutkan langkahnya sambil memeluk lengan Ahdan. Melihat tingkah istrinya itu, Ahdan hanya menghela nafas tanpa sepatah katapun untuk menyapa para karyawannya.


Diruang rapat, para staff penting telah berada diruang. Ahdan yang memimpin rapat selain rapat koordinasi dan strategi, ia juga memperkenalkan Shinta pada mereka yang tampak antusias.


"Perkenalkan karyawan baru kita. Dia akan menggantikan posisi karyawan yang sudah di kick off sebulan yang lalu."


"Hai" Shinta menyapa sambil melambaikan tangannya


Kerja pun berlangsung selama kurang 3 jam usai rapat. Dimeja kantor milik Arna menjadi tempat kerja Shinta, namun sialnya Shinta malah asyik memoles wajahnya dengan make up yang sedikit luntur dan mengutek kukunya sementara tugasnya belum juga selesai dan samping meja masih berisi tumpukan kertas. Melihat pemandangan itu, staff satu ruang kantornya merasa jengkel dan memandang sinis.


Sekilas Shinta menoleh kearah mereka yang menatapnya sinis-sinis,


"Apa lihat-lihat?" Bentak Shinta


Dua staff tersebut hanya menghela nafas dan menggeleng kepala lantas melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Melihat tingkah laku Shinta dan aktivitasnya hanya kegabutan, timbullah pembahasan tentangnya dikalangan para karyawan. Mereka sibuk membicarakan tentang Shinta yang bagi mereka kurang beres.


Hari ketiga ngantor, pekerjaan Shinta hanya itu-itu saja belum ada kemajuan tentang tugasnya dengan arti lain pekerjaannya yang kemarin belum juga selesai. Ahdan tanpa sengaja melihat Shinta sibuk dengan ponselnya padahal jam kerja sedang berjalan, ia pun menghampirinya.


"Sayang.. Apa tugas kamu sudah selesai?"


"Belum" jawab Shinta santai dan matanya masih fokus menatap lamat layar ponselnya.


"Hmm. Selesaikan dulu, sayang. Ini sangat penting"'


"Duh, aku udah kerjain walau setengah. Aku capek apa salahnya santai dikit" Bantah Shinta


"Tapi ini penting, sayang. Bukankah kamu sudah bilang kamu akan membantu mengembangkan perusahaan aku lalu bagaimana bisa berkembang jika ada tugas yang belum selesai?" Ujar Ahdan berusaha meyakinkan Shinta


"Huff. oke" Jawab Shinta dengan ekspresi kecut.


Maghrib akan tiba, para penghuni kantor akan segera pulang untuk beristirahat dari aktivitas kantornya. Ahdan memandang Shinta rupanya tertidur di kursinya.


Ahdan mengelus-elus pelan lengan Shinta berusaha membangunkannya.


"Sayang, ayo kita pulang."


Shinta pun terbangun sambil mengusap celah matanya lalu meraih tasnya di atas meja.


"Tugas kamu sudah selesaikan?" Tanya Ahdan


"Duh tugas tugas tugas, besok aja lanjutin. Aku capek, ngantuk" ketus Shinta merasa sebal Ahdan terus menanyakan tugasnya lantas berjalan keluar. Ahsan sebenarnya menyimpan guratan emosi namun ia harus menahannya sambil mengerut keningnya.

__ADS_1


keesokannya Arna tanpa sengaja berkunjung ke kantor tempat ia bekerja dulu. Ia datang dengan maksud menemui Sean yang menjanjikannya untuk mengajaknya hang out bareng disuatu kawasan elite. Arna masuk dan duduk di kafe kantor tempat dahulu Iwan bekerja sebagai barista namun tampaknya ada sedikit perubahan seperti selesai direnovasi. Arna berpenampilan sederhana namun elegan dan rambut kuncir terurai bak masih gadis. Para karyawan memandangnya dengan tatapan takjub dan menghampirinya.


"Mbak Arna" Sapa salah seorang wanita yang satu ruang dengannya.


"Hai" Arna menoleh betapa terkejutnya hampir para penghuni kantor mengerumuninya dengan tatapan takjub, kagum dan sumringah.


Satu persatu diantara karyawati memeluk Arna


"Aku kangen banget sama mbak."


"Mbak Arna sekarang tampil elegan, gak jauh mirip seleb aja" Ledek salah satunya.


Mereka merindukan sosok Arna karena Arna terkenal periang, humble, baik hati dan ramah bahkan tak segan-segan berbagi pada rekan-rekannya sehingga ia disayangi banyak orang. Mereka pun menyanjungnya karena penampilannya tampak lebih elegan dan fresh.


Shinta kebingungan melihat kerumunan di kawasan kafe. Dengan cepat ia menghampirinya dan membelah agar memberinya jalan melihat sebab apa terjadinya kerumunan. Rupanya ada Arna ditengah-tengah mereka.


"Kamu lagi, ngapain kamu disini? sok ngartis aja"


Arna menoleh dengan santainya


"Kenapa, Iri ya?"


"Iri? ngapain juga iri sama perempuan kampungan seperti kamu. Ini kantor bekas kamu kan, barang bekas gak boleh masuk di area ini" Shinta menyilang lengannya


"He kalian bubar-bubar" titah Shinta membubarkan kerumunan.


"Kayaknya kamu ga penting disini karena bermodalkan gaya daripada kerja. Dasar gak becus" Timpal Arna


"Dasar ******" Shinta melayangkan tamparan ke pipi Arna namun berhasil ditangkis oleh Arna sehingga tamparannya melesat.


Saat Ahdan berjalan menuju arah mereka namun tidak meliriknya, seketika Shinta berpura-pura menjerit kesakitan.


"Ah sakiiit" Jerit Shinta menutupi pipi kanannya


Ahdan pun mendengar suara istrinya itu dan menghampiri mereka.


"Ada apa ini. Kamu kenapa?" Tanya Ahdan dengan perasaan setengah cemas


"Pipi aku kena tampar dia padahal aku ga tau salah aku apa-apa, sayang. hikss"


Tatapan tajam Ahdan tertuju ke Arna seakan hendak meluapkan emosinya.


"Mau apa kamu kesini, mau membuat kesialan yang kesekian kalinya, ha?" Desis Ahdan.


Cibiran Ahdan justru ditimpal oleh Sean yang sigap melindungi Arna,


"Pak, jaga suara anda dari lontaran yang keras. Dia adalah wanita tidak pantas mendapat ucapan sekeras itu. Lebih baik urus istri anda ini, sepertinya dia paling membuat kesialan." Tukas Sean bijak membuat Ahdan terdiam.


Sean menggenggam telapak tangan Arna dan membawanya keluar dari kafe.


"Kamu baik-baik saja kan, Arna?" Tanya Sean sekilas menatap Arna lalu kembali mengarah pandang ke depan karena fokus menyetir mobil.


"Baik-baik saja kok, mas." Sahut Arna tersenyum

__ADS_1


Suara ponsel Arna terdengar berdering, segera ia merogoh tasnya lalu mengecek, terrtera nama pemanggil yakni ibunya. Dengan cepat ia mengangkat teleponnya


"Halo ibu" Seru Arna tampak senang


"Halo, nak. bagaimana kabarmu?" Tanya ibu lembut dari balik telepon


"Alhamdulillah Bu, jauh lebih baik. Ibu bagaimana kabar disana, sehat-sehat kan?"


"Sehaaat... nak. Suamimu Ahdan mana, boleh ibu bicara dengannya"


Seketika Arna terdiam dan bibirnya yang semula tersenyum melebar kembali berkerut sedih. Ia sejenak berfikir apa yang harus ia jawab untuk menutupi perceraiannya. Tak lama kemudian terlintas difikirannya


"Mas Ahdan sibuk, Bu. Aku juga gak bersama mas Ahdan hari ini. Oh ya Bu, aku gak tinggal dirumah lagi karena mas Udin ingin aku menetap di rukonya katanya kasihan kalau aku tinggal sendirian. Rumah kita sementara waktu dikontrak lumayan hasilnya buat tambahan kebutuhan" tutur Arna


"Ooh gitu. hehe perhatian juga mas-mu itu, yaudah turuti saja."


"Tapi nak, bukankah kamu sudah menikah kan? Kok musti tinggal menetap di ruko Udin. Apa belum ada rumah baru untuk menetap bersama? Padahal pernikahan kalian sudah hampir setahun." Ibu Arna keheranan


Sontak Arna terkejut, Arna pun sadar bahwa ia keceplosan tapi untung saja ia tidak menyebut berpisah dengan Ahdan.


"Eh.. Ma-maksud aku itu.. Aku dan mas Ahdan sedang rencana membeli rumah. Karena mas Ahdan ada kesibukan sehingga dia jarang pulang, jadi.. Aku.. Aku mau tinggal dirumah kita sampai mas Ahdan pulang tapi mas Udin ingin aku tinggal di rukonya." Nyaris saja Arna kehabisan kata-kata untuk membuat karangan, ia terus membolak-balik gerakan bola matanya dengan bibir setengah kaku karena otaknya sedang berusaha bekerja mendapat kata-kata.


"Oh begitu, emmm. Oh iya, calon cucu ibu apa sudah nongol?"


Sekilas Arna menoleh ke arah Sean yang juga menatapnya lalu menjawab pertanyaan ibunya


"Sudah Bu, aku Hamil tiga bulan."


Mendengar hamil tiga bulan dari lisan Arna sontak membuat Sean terkejut, ia tidak menduga bahwa Arna tengah hamil.


"Alhamdulillah nak.. Akhirnya sebentar lagi bakal nimang cucu. Jaga baik-baik ya, jangan lupa nutrisi ibu dan bayinya dipenuhi." Suara ibu Arna terdengar girang


Setelah beberapa menit berbincang lewat telepon, Arna kembali menutup panggilan sembari menghela nafas panjang.


"Ternyata aku pandai ngarang cerita. Dasar Arna " lirih Arna seraya mengerut ubun-ubunnya.


Arna dan Sean berbincang di dermaga yang kawasannya ramai pengunjung bahkan sejuk oleh tiupan angin. Dermaga yang indah tentu menjadi sebuah ikon untuk para pasangan, sahabat dan keluarga berkunjung untuk menghabiskan quality time.


"Kamu hamil ya?" Ahdan mulai bertanya hal sensitif setelah berbincang tentang hal lain.


Sejenak Arna menunduk sambil menyeruput jus lantas menghela nafas pelan,


"Iya mas. Aku hamil"


"Lalu mengapa Ahdan menceraikan kamu dalam keadaan hamil. maaf jika pertanyaan saya kurang mengenakkan."


Arna pun menjelaskan detail penyebab perceraiannya membuat Sean tercengang. Ia menatap wajah Arna yang teduh, ada perasaan suka yang timbul semenjak Sean mengenalnya. Ia bisa memastikan bahwa Arna adalah wanita yang rendah hati dan periang karena sikap dan tutur katanya yang menyejukkan.


"Hari mulai malam, mas. Saatnya pulang." Sahut Arna sukses membuyarkan lamunan Sean.


"Oh iya. Yaudah, ayo kita pulang."


Mereka pun beranjak.

__ADS_1


__ADS_2