
Berselang tiga hari, Arna Kembali mendapat panggilan untuk menghadiri sidang lanjutan. Sebenarnya ia ingin mencari tahu bagaimana bisa ia mengandung anak Iwan tetapi karena Iwan masih terbaring tak berdaya diruang ICU ia pun dengan pasrah memenuhi panggilan gugatan yang diajukan oleh Ahdan.
Di hadapan ketiga hakim yang bersiap membaca ajuan gugatan, Arna duduk dengan menyimpan guratan sedih sekaligus kecewa sementara Ahdan pun duduk disampingnya berjarak hanya 6 meter dalam keadaan kecewa yang sudah menutupi rasa cinta dan percayanya pada Arna.
Usai hakim membaca panjang lebar ajuan gugatan, terdengar ketukan palu penanda bahwa mereka resmi bercerai secara hukum agama dan negara.
Arna menunduk sambil menitikkan air mata. Di benaknya ia menyelipkan banyak momen-momen indah bersama Ahdan meski sesingkat saja namun bermakna baginya bahkan rencana masa depan yang hendak mereka tata, tapi perceraian membuat semua menjadi kenangan yang hanya bisa dikenang sekaligus menghancurkan rencana masa depan mereka.
Mereka pun berdiri secara bersamaan. Setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih pada hakim, Ahdan memalingkan wajahnya dari Arna yang berada disampingnya bagai acuh tak acuh dan tak peduli lagi.
Arna kembali berkunjung ke rumah sakit tempat Iwan tengah dirawat setelah pengambilan akta cerai. Ia duduk di samping Iwan yang terbaring dengan mata yang agak lembab dan wajah sedihnya.
"Iwan, kamu lekas sembuh yah" gumam Arna berbisik ke wajah iwan yang pucat itu.
Sejenak Arna memandangi perutnya, dalam benak ia berbisik akankah ia bersedia menikah dengan Iwan sebab hasil tes DNA bahwa ia tengah mengandung darah daging Iwan. Namun di lain sisi ia belum yakin dengan keterangan itu sebab baginya tak pernah sekalipun ia bersentuhan dengan Iwan secara nekat ataupun terpaksa meskipun berkawan akrab dengan Iwan. Di lain sisi pun ia tak rela anaknya lahir tanpa seorang Ayah.
Arna menyeka air matanya yang sudah menetes di pipinya yang memerah. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu hendak masuk, Arna menolehnya ternyata mantan kakak iparnya. Arna berdiri mengerut keningnya mengekpresikan kebingungan.
"Mas Arfian?" Gumam Arna
Arfian berjalan menghampirinya dengan tenang sembari memandang iba Iwan yang tengah terbaring.
"Apakah dia sudah sadar?" Tanya Arfian sembari mengalihkan pandangannya ke Arna
"Belum, mas. Sekalipun siuman belum juga tampak" jawab Arna kalem dengan raut wajah sedih
Sejenak Arfian menghela nafas berdeham pelan,
"Saya mau mengajak kamu ngobrol barang sebentar saja. Enggak jauh kok dari sini."
Arna mengedip-kedip matanya dalam keadaan bibir kaku,
"Ba-baiklah." Sahut Arna
Arna pun mengikuti langkah Arfian yg keluar lebih dahulu mengajaknya berbincang di suatu tempat yang tentunya tidak jauh dari rumah sakit. Berselang beberapa menit kemudian, mereka berhenti di sebuah kantin rumah sakit. Mereka pun duduk di kursi kantin secara bersamaan.
"Ngomong-ngomong.. Kita belum pernah kencan berdua." Arfian menghela nafas memulai perbincangan, sementara Arna hanya menunduk tersenyum tipis.
"Oh iya, saya mengira mas Arfian sudah menikah. Dimana keluarga kecil mas?" Tanya Arna penasaran dengan Arfian yg terlihat pulang pergi tanpa membawa seorang istri dan anak padahal ia adalah kakak tertua diantara saudaranya.
"Sepuluh tahun saya dalam penjara, baru beberapa bulan lalu saya bebas. Maka selama kasus terjadi sampai harus mendekam di jeruji besi saya belum pernah merasakan yang namanya pernikahan." Jawab Arfian menatap lamat mata Arna
"Selama di sel, adik-adik saya telah mendahului saya menuju jenjang pernikahan." Sambungnya
Arna mengangguk-angguk kepalanya tanda begitu serius mendengar jawaban Arfian sembari merapatkan kedua tangannya di atas meja.
"Oh iya mas, maaf jika pertanyaan saya diluar pembahasan yg akan mas bicarakan." Arna lupa bahwa yg harus pertama kali membahas sesuatu adalah Arfian
__ADS_1
Sekejap Arfian menundukkan kepalanya sambil senyum seraya kedua telapak tangannya memegang pelan telapak tangan Arna yg bersilang. Seketika tubuh Arna serasa mengeluarkan keringat dingin dan mulutnya terasa kaku.
"Arna. Saya tahu kamu sudah resmi berpisah dari Ahdan." Tutur Arfian
Seketika Arna menarik pelan tangannya untuk melepas genggaman tangan Arfian.
"Iya, mas." Sahut Arna tenang namun merasa tidak suka dengan perlakuan Arfian walaupun selembut apapun itu.
Arfian kembali mengarahkan tangannya menarik pelan tangan Arna lalu ia pegang nyaris rapat.
"Arna, saya ingin menikahi kamu."
Mendengar penuturan kakak iparnya itu, sontak membuat Arna terkejut lalu berdiri dengan cepat.
"Maaf, mas. Masalah saya belum usai, perceraian saya dengan mas Ahdan belum berselang lama. Tolong mas jangan mencari kesempatan disaat saya dan mas Ahdan bahkan keluarga kalian masih dalam keadaan tumpukan masalah." Tegas Arna dalam keadaan menahan emosinya
Arfian terdiam sembari berdiri.
Suara ponsel Arna berdering tanda panggilan masuk. Segera Arna merogoh tasnya dan mengecek layar ponselnya, rupanya mas Udin tengah meneleponnya.
"Halo, mas" sahut Arna
"Arna kamu dimana?" Tanya mas Udin
"Aku ada di kantin rumah sakit, ada apa mas?"
Mendengar kabar baik itu, Arna tersenyum bahagia. Segera ia beranjak menuju ruang rawat inap tempat Iwan berbaring tanpa memperhatikan Arfian yg berdiri di hadapannya.
"Iwan.. akhirnya kamu sadar" senyum Arna dengan binar mata berkaca-kaca memegangi tangan Iwan yg masih lemah itu.
Perlahan-lahan Iwan mulai membuka matanya lalu tersenyum melihat Arna ada disampingnya. Tak lama kemudian dokter datang hendak memeriksa kondisi iwan.
"Alhamdulillah. Dia tampak baik-baik saja. Tapi harus banyak istirahat dulu untuk pemulihan dan mendapat penanganan lanjutan. Kalau begitu kami permisi dulu." Pungkas dokter seraya berjalan keluar.
Iwan memegang erat tangan Arna, sebenarnya ia ingin berkata sesuatu namun masih terasa lemah jika ia harus mengeluarkan suara.
"Iwan, kamu istirahat saja dulu ya. Kamu masih lemah untuk ngomong tapi Aku bersyukur kamu sadar sekarang. Lekas pulih ya" Tutur Arna peka dengan bibir kaku Iwan yang hendak berbicara setelah sadar dari tidur panjangnya karena koma. Lantas Arna menyeka air matanya.
Iwan pun menurutinya seraya memejamkan mata, sedangkan telapak tangan kanannya masih dalam keadaan memegang erat telapak tangan Arna.
Agar Iwan tenang dalam tidurnya, Arna duduk di samping ranjang Iwan dan membiarkan tangannya dalam genggaman Iwan. Seketika benak Arna bertanya-tanya mengapa Arfian hendak menikahinya setelah ia resmi bercerai dengan Ahdan itupun belum berselang lama. Apakah Arfian menyusun rencana busuk agar ia dan Ahdan berhasil pisah kemudian mengambil kesempatan dengan menikahinya?
Karena penasaran itu menghantuinya, Arna berencana mengintrogasi Arfian untuk mencari tahu fakta dari segala tuduhan bahwa ia mengandung anak Iwan.
Waktu telah menunjuki PKL. 05:15, Arna terbangun mengeruti matanya karena cahaya ruangan masih tampak menyilaukan mata. Telapak yang digenggam oleh Iwan mulai renggang, ia pun melepasnya dengan pelan. Ia mengecek jam tangannya, waktunya ia pulang sementara beberes dan akan menemui kakak iparnya, Arfian.
Sementara mas Udin terlelap di kursi sofa ruangan, Arna pun membangunkannya.
__ADS_1
"Mas, bangun mas."
Mas Udin pun terbangun dengan mengeruti mata.
"Mas, aku pulang duluan ya. Tolong jaga Iwan, aku akan kembali."
Tak lama kemudian Arna keluar dengan jalan agak terburu-buru.
Pagi hari menunjuki PKL. 08:55, Arna mencoba menghubungi nomor Arfian untuk ia ajak bertemu di suatu tempat. Akhirnya Arfian mengangkat panggilan telepon dari Arna.
"Halo. Arna" sahut Arfian
"Mas, saya mau kita bertemu sebentar." Tutur Arna dengan nada datar
"Oh oke. Dimana lokasinya?"
"Taman kota" pungkas Arna seraya mengakhiri panggilan.
Di taman kota yang asri dan indah, Arna duduk di kursi besi panjang menunggu kedatangan Arfian. Tak lama kemudian Arfian berdiri di hadapannya lalu duduk di samping Arna, namun Arna berdiri sehingga Arfian mendongkakkan kepalanya dengan ekspresi santai.
"Mas. Tolong jujur. Apakah mas melakukan sesuatu supaya saya dan mas Ahdan pisah?"
Arfian berdiri mengeruti keningnya, tampak kebingungan.
"Maksud kamu apa?" Tanya Arfian bingung
"Mas, jujurlah. Apakah mas melakukan sesuatu untuk menuduh saya hamil anak iwan bukan anak Ahdan, supaya saya dan Ahdan pisah?." Sambung Arna memperjelas pertanyaannya
"Kamu jangan asal tuduh." Arfian mulai tampak tegas namun seperti menutupi kebohongan.
"Mas jujur saja. Tenang, hanya saya yg tahu kalaupun mas jujur. Saya tidak akan membocorkan Kepada siapapun karena saya sudah resmi memegangi surat cerai dengan mas Ahdan. Jadi selesai semua, tidak ada lagi alasan saya untuk kembali ke Ahdan."
"Tidak ada apapun yang saya lakukan, Arna. Tuduhan kamu ini sudah mengada-ada." Tegas Arfian
"Tapi kenapa mas ingin menikahi saya bertepatan dengan keresmian saya bercerai dengan Ahdan? Saya bisa pastikan mas melakukan hal bodoh untuk meretakkan hubungan rumah tangga kami, Iya kan?" Ketus Arna seketika kembali meneteskan air matanya.
"Walaupun saya ingin menikahi kamu, tapi tidak ada apapun sesuatu yang saya lakukan seperti yang kamu tuduhkan." Arfian bertambah tegas dengan nada sedikit keras
Arfian mendekati Arna lantas memegang erat kedua bahu Arna..
"Saya sayang kamu, Arna. Buang pikiran negatif itu tentang saya. Saya melakukan yang terbaik untuk kamu, yaitu menikahi kamu."
Arna merasa jengkel dan menyingkirkan tangan Arfian dari bahunya lantas membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi menjauhi Arfian. Namun Arfian menariknya dengan kasar. Arfian pun memeluk erat Arna lalu menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"Maaas tolong lepaskan saya." Jerit Arna berusaha keras melepas pelukan Arfian yg terasa sangat erat itu.
Didalam mobil itu, Arfian semakin ganas tampak seperti Pria hidung belang yang hendak menyalurkan hasrat birahinya. Arna berontak keras dan menjerit minta tolong dari dalam mobil. Rupanya Arfian tak juga mendapat efek jera setelah dipenjara karena kasus bejatnya di masa lalu.
__ADS_1