
Sepulang Sean dari kampungnya di Medan, ia menyempatkan waktu menemui Arna dengan maksud menghiburnya.
"Sabar ya, Arna. Tuhan akan berikan ganti suatu saat nanti" Tutur Sean lembut
Arna hanya termangu lesu menatap kosong taman-taman kota yang tidak begitu ramai pengunjung karena waktu masih pagi.
"Mas, bagaimana dengan kantor kamu? Apa hari ini kamu masih ambil cuti?" Tanya Arna dengan suara teduh dan mata yang berkaca-kaca.
"Hari ini saya kembali kerja. Saya sempatkan waktu menemui kamu barang sebentar saja. Oh iya kalau begitu saya berangkat ke kantor. Kalau kamu, saya antar pulang?"
"Biar saya pulang sendiri, mas. Ga perlu khawatir"
"Baik, saya permisi dulu" Sean pun beranjak dan berjalan menuju dimana mobilnya sedang di parkir
"Mas, kalau bisa sering-sering berkunjung ya" kata Arna setengah teriak, Sean menoleh dan menyahut dengan senyum yang mengambang
"Siap Bos"
Pernikahan Ahdan dan Shinta berjalan 6 bulan begitupun dengan pekerjaan Shinta di kantor perusahaan milik paman Ahdan. Namun pekerjaan Shinta tak ada kemajuan, ia suka bolos bahkan ada pula yang tak masuk kerja tanpa alasan yang tak lazim.
Mereka juga telah memiliki rumah baru di sebuah kompleks kawasan elite. Dalam perjalanan rumah tangga mereka, Shinta seringkali meminta jatah belanja untuk membeli barang-barang yang kurang diperlukan oleh Ahdan malah lebih ke keinginan Shinta saja. Shinta pun menjadi wanita sosialita yang pulangnya hampir larut malam karena sibuk berkumpul bersama teman-temannya. Walau sudah menjadi sosialita, ia masih aktif di pekerjaan lamanya yakni sebagai model.
Jarum jam menunjukkan pukul 23:00, waktu yang sudah sangat larut malam. Ahdan yang menunggu Shinta hampir 5 jam di sofa ruang tamu sambil mengerjakan tugas di laptopnya. Tiba-tiba saja rasa kantuk menyerangnya namun Shinta belum juga pulang. Beberapa menit kemudian Shinta akhirnya sampai di rumah diantar oleh mobil sedan yang dikemudi oleh seorang pria berkacamata hitam dan topi koboi berwarna abu-abu gelap. Shinta masuk kedalam dengan berjalan jinjit agar Ahdan tak mendengarnya. Ia melihat Ahdan menyenderkan punggungnya di sofa dengan mata terpejam, sepertinya tertidur pulas. Sejenak Shinta menarik nafas merasa lega. Ahdan pun membuka matanya tergagap lantas beranjak dari sofa.
"Kamu darimana sih, ini sudah larut malam"
"Yahh maaf, sayang. Namanya juga sibuk wajar kalau pulangnya malam-malam" Sahut Shinta berlagak polos.
"Hmm. Pulang sama siapa?"
"Teman aku. Aku ke kamar dulu ya, capek banget" Ujar Shinta sembari berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
Mentari pagi mulai menyinari alam, sinar mentari menembus jendela walau masih tertutup oleh gorden berwarna latte kamar Ahdan dan Shinta. Ahdan pun membuka kedua matanya dengan raut wajah kerut, ia melihat Shinta masih tertidur pulas. Ahdan melirik jam dinding ternyata sudah pukul 06:58. Ia pun beranjak lalu ke kamar mandi. Setelah Memakai seragam kantornya Ahdan membangunkan Shinta,
"Sayang, ayo bangun. Waktunya sarapan lalu berangkat" tutur Ahdan sambil menggenakan jam tangannya
Shinta lantas bangun dengan mengigau. Ia pun turun dari tangga dengan penampilan yang cukup modis,
"Yuk berangkat" Ajak Shinta sembari berjalan menuju pintu. Sementara Ahdan duduk di sofa mengetik-ketik keyboard laptopnya merasa heran mengapa harus buru-buru
"Berangkat sekarang?"
"Iya"
"Tapi kita belum sarapan, sayang. Aku juga belum disiapin teh hangat. Kamu bisa buatin?" Seloroh Ahdan
"Duh, repot ya jadi kamu. Makan minum diluar aja apa susahnya. Aku udah dandan cantik gini kamu nyuruh buatin, bisa luntur make up aku." Ketus Shinta cemberut lalu membuka pintu dan keluar lebih dulu.
Ahdan menghela nafas sembari mengerut keningnya. Seketika saja ia teringat Arna, biasanya sebelum ia bangun Arna lebih dahulu bangun mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari menyuci, mengepel, sampai menyiapkan sarapan dan teh hangat kesukaannya. Jam telah menunjukkan pukul 07:53, Ahdan pun berangkat dengan mengemudi mobil pribadinya sementara Shinta tak jadi pergi bersamanya karena ia memesan taksi,
"Sayang, aku berangkat sendiri ya. Soalnya aku mau meeting sama teman aku sebentar saja. Bye" Ujar Shinta yang telah memasuki taksi lantas berlalu meninggalkan Ahdan.
"omzet perusahaan saya semakin menurun. Kerjaan kalian semua apa ha. Saya menggaji kalian tetapi kalian membuat perusahaan saya seperti ini." Paman Ahdan sang pemilik perusahaan itu memarahi karyawan yang hadir dalam ruang kantornya
"Kamu Ahdan, apa hak kamu memecat karyawan? kamu memecat Arna secara serampangan. Satu lagi kenapa sebagian karyawan memilih resign tanpa alasan yang benar?" Sambungnya dengan nada cukup keras dan menatap tajam Ahdan yang sedari tadi tertunduk lesu.
"Jawab saya, Ahdan" Amarah paman Ahdan semakin menjadi
Ahdan pun memandangi pamannya dengan bibir kaku
"Maafkan saya, pak. Saya siap bertanggung jawab atas semua ini."
Interogasi dan kritikan dari paman Ahdan cukup membuatnya nyaris tak dapat berkata-kata lagi. Karena ia yang memecat Arna tanpa sepengetahuan pamannya bahkan beberapa karyawati memilih resign karena tidak tahan dengan Shinta yang seolah menguasai mereka.
__ADS_1
Shinta masuk ke dalam kantor Ahdan dengan menenteng paper bag, sementara Ahdan tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya di layar komputer.
"Sayang, aku datang" ucap Shinta seraya meletakkan 2 paper bag di atas meja kantor milik Ahdan.
"Kamu bawa apaan" Tanya Ahdan dengan wajah kecut
"Aku beliin kamu jam tangan dan jas mewah. Kamu pasti suka" Jawab Shinta sembari mengeluarkan isi dalam paper bag
Ahdan justru mengerut keningnya merasa pusing dengan sikap Shinta yang hampir setiap pekannya berbelanja sesuatu yang kurang diperlukan.
"Sayang, aku suka banget. Suka, tapi aku lebih suka kamu selesaikan dahulu tugas-tugas kamu. Tolong bantu aku bertanggung jawab atas perusahaan ini" ketus Ahdan
"Kamu gimana sih. Aku baru aja datang kamu nyuruh buat selesaikan. Aku itu mau kamu romantis kek. Kamu kayak ga bisa hargai pemberian aku" Cemberut Shinta membuat Ahdan menyimpan rasa jengkel.
"Aku hargai. Tapi ini bukan waktunya bersenang-senang, Tolong bantu Aku untuk mengembangkan kembali perusahaan ini. Jika kembali stabil terserah kamu akan bersenang-senang kemana dan dimana pun kamu mau" ketus Ahdan membuat Shinta hanya diam dengan ekspresi kecutnya.
Ditengah perjalanan pulang, Ahdan menyetir mobilnya sementara Shinta duduk disamping menggesek-gesek ponselnya. Tiba-tiba ponsel Ahdan berdering menandakan telepon masuk dari umi, segera ia memasang headphone ke telinga kanannya.
"Halo umi" Seru Ahdan
"halo nak, sedang dengan siapa?" Tanya umi dari balik telepon
"Bersama Shinta, umi. Kami dalam perjalan pulang."
"Ohya, apa masih ada kesibukan setelah pulang?"
"Engga kok umi, waktunya istirahat"
"Bagaimana kalau kalian ikut serta dalam acara makan malam bersama, mau ya?"
"Wah mau banget umi, dengan senang hati. bawaannya rindu sudah lama tidak mengadakan acara makan malam. Oke, kalian tunggu disitu kami akan kesana sesegera mungkin." Seru Ahdan tampak bahagia
__ADS_1
"Alhamdulillah. baik nak"
Telepon berakhir.