
"Brian..." panggil Sandra pelan, gadis itu menelan ludahnya kasar, rasanya makanan itu sangat lezat dan dia ingin sekali melahapnya.
"Mau?" ulang pria itu namun tak menggeser piringnya agar mendekat, dia hanya bicara dan melahap nasi goreng yang sudah hampir tinggal setengah saja.
Sandra merasa di kacangin, sebenarnya dia juga gengsi, tapi perutnya tidak mau berkompromi. Dengan membuang rasa malunya, Sandra menarik piring yang Brian dan melahap nasi.gorwng tersebut, bahkan dia menggunakan sendok yang Brian gunakan.
Brian yang ingin menahannya, hanya bisa tersenyum, lagi gadis angkuh ini kalah.
Merasa masakan Brian enak, Sandra menarik piringnya dan memakannya sendiri.
"Kembalikan itu milik ku?" ucap Brian
"Tidak, aku lapar."
"Kau bisa memesan makanan, kembalikan?"
"Tidak mau, kau harus mengalah dengan calon istri mu," ucap Sandra yang kembali menyuapkan makanan di mulutnya.
"Cih, apa kau lupa, jika kita.."
"Aku tau," potong Sandra
" Namun tidak ada di dalam perjanjian jika aku tidak boleh makan masakan mu." cibirnya
"Apa kau sadar sendok yang kau gunakan bekas bibirku?" sontak Sandra terdiam, dia yang kelaparan sampai melupakan semua itu.
Tapi masa bodoh, hanya sendok, tidak apa-apa, tidak membuktikan apapun.
__ADS_1
"Tidak masalah, hanya sendok"
"Tapi itu bekas bibirku, itu artinya kau berciuman dengan ku, karena ada liurku disana."
Sandra sontak membuang sendok itu, dan dia bergidik ngeri. "Aku tidak mau, kau..
kau sengaja menjebakku?" ucapnya kesal.
"Hello Nona, aku tidak menjebak mu, bukan kah kau yang datang dan merebut makanan ku," ejeknya
Sandra terdiam dan membenarkan ucapan Brian di dalam hatinya, namun dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
",Kau pasti sengaja ingin menjebak ku?"
"Tidak!" bantah Brian
"Tapi aku takut?"
"Pria itu tidak mungkin datang lagi, tenanglah "
Brian berdiri, dia ingin melangkah dan Sandra menahan tangannya. "Maaf,"
"Tidak apa, aku tidak marah."
Perlahan dia melepaskan pegangan tangan Sandra yang memegang lengannya.
"Aku...takut," ucapnya lagi.
__ADS_1
Brian mengangkat tangannya dan mengusap kepala Sandra, "Dia tidak mungkin datang lagi, tidurlah yang nyenyak. Aku harus pulang, tidak baik seorang pria berduaan dengan seorang wanita, karena yang ketiga adalah setan.
Hati Sandra menghangat mendapatkan perlakuan manis Brian, dia pun mengangguk.
Sandra mengantarkan Brian ke depan pintu dan kemudian menutup pintunya setelah pria itu keluar.
'Kenapa jantung ku berdebar gini ya, perasaan tidak ada apa-apa,' bisiknya pelan.
Sandra bisa merasakan kehangatan sentuhan itu masuk ke dalam hatinya.
***
Di tempat lain, seseorang sedang mengobati pria yang kini terbaring lemah, siapa lagi kalau bukan Daren, pria yang coba melecehkan Sandra.
"Kenapa bisa begini?" tanya seorang gadis yang masih mengobati luka Daren dengan serius.
"Maksudnya?" tanya Daren sambil meringis, sesekali dia meringis menahan sakit.
"Ya, gimana kejadiannya? kenapa kau lari?" tanya nenek
"Aku hanya memberikannya pelajaran, selama ini aku sudah cukup menahan diri. Aku ingin memberikan tanda kepemilikan ku padanya, setidaknya kedekatan kami tidak akan sia_sia, aku bisa menikmati tubuh indahnya." tutur Regan yang mendapatkan pukulan ringan di tangan kanannya yang juga sakit. Pria itu mengaduh kesakitan,
"Dasar nakal!"
"Aku tidak nakal, aku nakal sama kamu aja," ucap nya menggoda dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Sekarang aku nggak bisa, sayang, " lenguh Daren yang mulai memejamkan matanya.karena tangan sekretaris nya itu sudah merapat dan mengelus pusakanya.
__ADS_1
"Ayo,," Ucap Daren memotong kalimat sang kekasih,