Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Musibah Arna


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, hubungan Arna dan Sean semakin dekat. Kemana dan dimana pun Arna dan Sean, mereka saling mengabari bahkan waktu santai mereka diisi dengan canda dan tawa tak jarang pula berbagi cerita. Disudut ruang kamar, Arna termangu menatap kosong diluar jendela, ia terbayang oleh sosok Iwan. tak sengaja terlintas di benaknya


"Sean.. Menurut aku Sean hampir sama seperti Iwan. Apakah Sean adalah jelmaan Iwan?" Lirih Arna seraya menopang dagunya dengan telapak.


Suara getaran ponsel membuyarkan lamunan Arna, notifikasi pesan WhatsApp masuk, segera ia meraih ponselnya. Pesan masuk dari Sean


"Dear Arna.. Hari ini adalah hari ultah kamu kan, mau ngucapin happy birthday to you my best friend yang imut baik hati🎂. Moga panjang umur makin sukses.. pokoknya doa terbaik untukmu🎁 "


Arna tersenyum sumringah saat membaca pesan dari Sean,


"Thank you so much, mas Sean yang ganteng dan jahil. Amin Amin.🤲" Arna membalas pesan whatsapp Sean


"Oh ya, Minggu ini saya mau berangkat ke kampung halaman di Medan untuk sementara waktu. Maaf ya ga ngucapin secara langsung ultah kamu."


"Hmm.. gpp, mas. hati-hati ya. kalau sudah tiba disana kabari ya." Arna membalasnya dengan setengah cemberut.


"Pasti dong" tutup Sean


Setelah pesan usai, Arna meletakkan kembali ponselnya di atas meja seraya menarik nafas panjang dengan raut wajah setengah kerut dan menyumbing bibirnya.


Tanpa sadar dibelakang Arna ada mas Udin sengaja mengintipnya, seketika mas Udin mengejutkan Arna dengan suara batuknya yang ia sengajai


"Uhuk uhuk"


Arna terkejut seraya menoleh ke arah belakang,


"ih..mas udin, kalo batuk itu pelan-pelan. Atau memang sengaja batuk" ujar Arna bernada jengkel


"haha. Hemm hemm.. lagi ngechat Sean ya? So sweet" ledek mas Udin


"Jahil juga mas ini, pasti ngintip-ngintip ya? ntar kucolok mata kamu mas"


"eeh ga sopan. Bilang aja kamu malu-malu"


Arna tersenyum tersipu malu. Entah kenapa semenjak ia dekat dengan Sean hari-harinya kembali ceria seperti dirinya dulu sebelum diperistri oleh Ahdan.


"Bilang saja jeng, kamu ada rasa ya sama Sean. Mas liat kamu senyum-senyum pas ngirim balasan pesan tadi" Lagi-lagi mas Udin meledeknya


"Ngaco"


"Dih, Dadi wong wedon ojo kaku-kaku, ndak koyo kanebo garing" Celetuk mas Udin membuat Arna tertawa lepas.


Setelah mas Udin keluar lebih dulu, Arna beranjak dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi. Ia merasa nyeri pada bagian rahimnya. Ia pun turun dari lantai atas dan mengambil obat pereda nyeri dari dalam lemari es lalu meminumnya. Arna membalikkan tubuhnya sambil memegang perutnya.

__ADS_1


Mas Udin memerhatikan Arna yang memegang perut seperti menahan sakit, ia pun menghampirinya


"Jeng, kamu ga papa? Ada yang sakit?" Lirih mas Udin


"Kayaknya sih.. Rasanya nyeri, mas. Tapi ga papa"


"Lho jangan bilang ga papa, kamu lagi hamil. Coba ke klinik buat periksa"


Arna menganggukkan kepalanya, "Baik mas"


Langkah Arna seketika berhenti, rasa nyeri makin menjadi bertambah pula rasa sakit pada bagian rahimnya. Ia segera meraih kursi lalu duduk untuk meredakannya.


"Ya Allah jeng, rehat sejenak ya. Mas anter ya ke klinik." Mas Udin membantu Arna berdiri dengan pelan


Baru juga mas Udin mengenakan helmnya, tiba-tiba saja Elsa dan Lilis datang menghampiri mereka membawa kue tart dan dua kotak kado sebagai kejutan ulang tahun Arna.


"Hai Bestie.. happy birthday to you" ucap Elsa dan Lilis secara bersamaan dilanjutkan dengan lagu ultah. Para karyawan kafe berhamburan keluar ikut serta merayakan ulang tahun Arna.


Arna tersenyum riang sambil menahan rasa sakit dan nyeri, ia meniup lilin tanpa menampakkan sedikit pun raut wajah yang meringis kesakitan.


"Semoga panjang umur ya, sayang. Doa terbaik buatmu" Ucap Elsa bahagia seraya memeluk Arna.


"Kok muka kamu pucat. Kamu ga papa kan?" Tanya Elsa sedikit cemas dengan wajah Arna tiba-tiba pucat


Ahdan tak sengaja melintas di kafe mas Udin melihat kerumunan di depan kafe, seperti ada yang sedang merayakan sesuatu. Ia pun teringat bahwa ini adalah hari ulang tahun Arna. Saat menjalani biduk rumah tangga bersama Arna, Ahdan berencana memberi kejutan ulang tahun Arna namun rencana itu terkubur akibat perceraian. Ia melambatkan skala mobilnya lalu pandangannya mengarah ke Arna yang berdiri dalam keadaan wajah pucat


Tiba-tiba rasa sakit semakin bertambah membuat Arna tak dapat lagi menyembunyikannya, ia pun meringis kesakitan. Para kerumunan tampak panik termasuk mas Udin, Elsa dan Lilis. Mas Udin dengan kepanikan yang tampak serius menopang Arna yang merasa lemas.


"Aaaah sakit, mas" Jerit Arna dengan nafas tersengal. Seketika darah menembus celana Arna, Suasana semakin merasa panik jika melihat darah merembes.


Melihat Arna melemah dan nyaris terjatuh dengan cepat Ahdan menghampirinya dan membopong Arna masuk kedalam mobil, Elsa dan Lilis menyertai sedangkan mas Udin mengikuti dengan mengendarai Vespanya.


Ternyata Arna mengalami kontraksi hebat padahal belum waktunya ia melahirkan.


"Ibu mengalami keguguran, yang sabar ya bu. Semoga tuhan menggantikan dengan yang lebih baik." Dokter menerangkan bahwa ternyata Arna keguguran sembari keluar dari ruang.


Mas Udin dan dua sahabatnya itu merasa shock, begitupun dengan Arna tak bisa membendung air matanya harus rela kehilangan anak yang dikandungnya. Dengan raut wajah geram, Elsa menghampiri Ahdan yang berdiri tepat dibelakang mereka


"Heh keparat lo. Kenapa saat istri Lo keguguran baru akan lo peduliin, otak mana otak." akhirnya Elsa meluapkan kekesalannya secara langsung


"Sudah-sudah, berisik"' Udin berusaha menenangkan Elsa, Ahdan justru diam saja ia merasa pantas mendapat amukan.


"Mentang-mentang Lo pengusaha sampai istri hamil Lo ceraikan. Benar-benar dasar keparat lo" Emosi Elsa makin memanas tanpa mempedulikan mas Udin yang menahannya

__ADS_1


Shinta datang sembari berdiri didepan Ahdan,


"He berani-beraninya kamu memarahi suami saya"


"Apa ha, mau bela-belain laki-laki brengsek ini. Silakan, Lo berdua sama-sama bajingan" Timpal Elsa semakin berani.


"Kurang ajar kamu" Shinta hendak menampar Elsa justru tangan Shinta ditahan oleh Ahdan.


"Ayo kita pulang" Ahdan menarik Shinta keluar bersamanya.


Ahdan Shinta melepas kasar genggaman Ahdan,


"Kamu ngapain disini Ahdan"


"Kamu juga ngapain disini?" Timpal Ahdan


"Aku kesini mau nyusul kamu. Apa pentingnya kamu disini ha? Mau ketemu Arna, iya? Arna itu udah ga ada apa-apanya lagi sama kamu, Ahdan" Ketus Shinta terdengar keras sehingga hampir semua mata tertuju pandang pada mereka.


"Tapi aku cuma nolongin dia"


"Nolongin apa sih kamu. Biarin aja orang-orang yang nolongin dia. Aku istri kamu Ahdan, hargai aku dong"


Ahdan terdiam mengalah atas perdebatannya dengan Shinta.


Senyum ceria Arna pun pudar dan rasa semangatnya hilang karena hatinya kembali dirundung duka atas musibah yang menimpanya. Ketika melihat Ahdan didepan matanya saat ia mengalami keguguran, ingin sekali ia meluapkan kekesalannya tapi semua itu sudah diwakili oleh Elsa, sahabatnya.


"Arna, aku sudah di kampung halaman. Kamu sudah dinner belum?" Notifikasi pesan WhatsApp masuk dari Sean. Arna hanya membacanya dan tidak satupun kata ucapan membalas pesan.


Berkali-kali Sean mengirim pesan namun tak mendapat respon apapun selain di read, akhirnya Sean mencoba video call namun Arna menutupnya. Kedua kalinya Sean mencoba malah mas Udin yang mengangkatnya,


"Eh mas Udin. Maaf, apa ada Arna" tanya Sean dari balik layar


"Ada" Mas Udin memperlihatkan kondisi Arna yang berbaring miring dalam keadaan mata dan pipi yang sedikit sembab karena tangisan.


"Arna kenapa mas?"


"Keguguran, jadi mohon maaf moodnya lagi tidak stabil untuk ngomong sama kamu"


"Ya Tuhan. Tidak apa-apa mas, lain kali saja sampai Arna kembali tenang" pungkas Sean.


"Yang sabar dik, sedih boleh tapi jangan berlarut-larut. Nanti kamu sakit" Ucap mas Udin menenangkan Arna sembari memeluknya.


Air mata Arna kembali menetes, dalam hati ia merasa sangat menyesal gagal merawat dan menjaga kandungannya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2