Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Penipu


__ADS_3

Sandra langsung berlari begitu pintu lift terbuka, tak lagi dihiraukannya tatapan aneh dari orang-orang yang melihatnya, dia terus saja berlari sambil mengusap air matanya.


Sandra sungguh tak menyangka akan seperti ini, kejutan yang akan disiapkan untuk sang kekasih malah berganti menjadi kejutan untuk dirinya sendiri. Kejutan yang menyakitkan, dan pahit, sangat pahit hingga dadanya terasa begitu sesak, Sandra tak menyangka bisa melihat kekasihnya sendiri berselingkuh dengan adik tiri nya.


Siapa yang bisa menduga, selama ini Daren yang dia kenal adalah pria yang sangat baik, sebagai seorang kekasih Daren adalah orang yang paling setia paling baik dan paling pengertian. Dia adalah orang yang tidak pernah mengeluh, dengan segala kesibukan yang dilakukan oleh Sandra. Tidak pernah menuntut dan marah ketika Sandra menolaknya untuk berbuat lebih.


Dan yang dia tahu selama ini adik tirinya tidak pernah berbincang atau bertegur sapa dengan kekasihnya, lalu kapan mereka mulai berselingkuh!'


Langkahnya berhenti tepat di depan mobilnya, kemudian dia masuk dan melajukan kencang, entah ke mana tujuannya Sandra sendiri tidak tahu yang pasti saat ini ia ingin pergi sejauh-jauhnya, dia ingin berlari sekencang-kencangnya dan menumpahkan segala kesedihan kepahitan yang ada di dalam hatinya.


Sandra terus saja ngebut di jalan, bahkan gadis itu hampir saja menabrak beberapa orang pengendara sepeda motor, dan melanggar lampu merah.


Brugh.... chiiiiit! suara rem mobilnya yang berlaga dengan Aspal, Dan Brugh.... Mobilnya menghantam tepi jalan.


Sandra langsung keluar, untung saja dirinya tidak apa-apa, hanya luka di kening dan tangannya, namun tidak dia rasakan, lebih sakit hatinya saat ini.


"Punya mata nggak Lo!" ucap Sandra pada pengendara ojek dan penumpangnya yang yang terjatuh.


"Maaf, tapi mbak yang ngebut." jawab si penumpang.


"Enak aja, jelas-jelas Lo yang jalannya nggak benar, tuh lihat mobil gue rusak gara-gara motor butut Lo itu."


"Tapi mbak, kan mbak yang salah,"


Brugh....tubuh Sandra oleng, dia merasakan pusing yang luar biasa dan hampir jatuh ke bawah,buntung saja ada yang menampungnya, hingga Sandra jatuh pingsan di pangkuan nya.


"Gimana ini?" tanya seorang ibu yang ikut melihat, bingung karena Sandra tiba-tiba pingsan.


"Ada apa ini?" tanya Brian pada kang ojek yang saat ini ada bersama nya.


"Kecelakaan mas,"


Brian yang penasaran turun, dan terkejut melihat gadis sombong itu tergeletak dibawah, "Kenapa ini mbak?"


"Kecelakaan mas, tuh mobilnya."


"Bawa ke rumah sakit aja, ayo!" ucap Brian yang langsung mengambil alih gadis itu. "Panggilkan taksi," ucapnya


"Kok nggak ambulance mas!" tanya salah seorang yang ada disana.


"Kelamaan, keburu mati nih cewek." sahut nya


Brian menggendong Sandra dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Sandra tidak apa-apa hanya syok karena tiba-tiba menabrak orang, dan kondisi psikisnya yang tertekan diikuti fisiknya juga lemah.


Brian sudah menyelesaikannya administrasi keuangan dan kembali melihat gadis cerewet yang baru saja dia kenal. Dalam satu hari, dia sudah bertemu dua kali dengan gadis ini.


"Ehm.. aku dimana?" tanya Sandra begitu dia siuman.


"Lo, ada di rumah sakit."


"Rumah sakit?"


"Iya, dan lo udah nabrak orang hingga orangnya mati. T-e-w-a-s, ' ucapnya sengaja menakuti gadis itu.

__ADS_1


"Hua...nggak mungkin, itu nggak mungkin Lo bohong kan!" ucap Sandra histeris.


"Terserah kalau nggak percaya."


"Tunggu! kamu mau kemana ?"


"Pulang, kan lo udah sadar."


"Tunggu!" panggilnya lagi saat Brian beranjak pergi.


"Gue takut,"


"Cih, itu urusan Lo, dan lo harus tanggung jawab, kalau nggak arwahnya tidak akan tenang dan akan terus mengikuti mu."


"Aku bukan pembunuh!" jerit Sandra histeris sedih, dia kembali menangis ambil menutup mukanya, kali ini dia terlihat sangat menyedihkan karena selain patah hati dia juga takut di penjara.


Seperti jatuh dari tangga, ketiban cat, kena hukuman lagi..


Brian tak peduli, dia terus melangkah untuk mendekati pintu dan keluar, tak perduli bagaimana keadaan pasiennya.


"Gadis aneh!" ucapnya.


Sementara di dalam ruangan Sandra histeris sendirian,


'Apa benar aku yang telah membunuhnya! tidak mungkin? tidak mungkin!" ucapnya menggeleng kepala.


"tapi kenapa dia bilang begitu dan aku juga bisa ada di rumah sakit, "


Sandra masih larut dengan pemikiran nya saat Ririn datang, "Ririn" ucapnya memeluk sang asisten.


"Bagaimana dengan keluarga korban? apa...apa mereka menuntut ku?" tanya Sandra ragu


"Korban? menuntut? Maksudnya apa Bu!" tanya Ririn bingung


"Korban yang telah tewas tertabrak, gimana keadaan keluarga nya."


"Tewas! tertabrak?" ulang Ririn


"Iya, apa kamu belum menyelesaikan masalahnya, dan jangan lupa berikan santunan kepada keluarga mereka, dan katakan jangan menuntut ku, aku takut Rin, aku takut...."


"Ibu kenapa Bu? ibu nggak kenapa-kenapa kan? "


"Aku takut Rin?"


,"Enggak ada yang tewas, ibu kenapa?"


"Maksudmu?"


"Iya, korbannya kang ojek dan aku sudah menyelesaikan semuanya, nggak ada yang meninggal ibu,"


"Benarkah? jadi.... aku bukan pembunuh?"


Ririen menggeleng, "Dia menipu ku!"""

__ADS_1


"Siapa Bu? orang mana?"


"Bukan siapa-siapa, sudah ayo kita pulang." Sandra bangkit dan berjalan pulang, Ririn telah membereskannya semuanya.


'Sial dia membohongi ku, awas jika aku bertemu lagi dengannya,' batin Sandra


**


Hingga malam hari Sandra belum mau kembali ke rumah nya, karena sebenarnya dia sangat malas untuk pulang, karena dia yakin pasti adiknya sudah melaporkan semuanya kepada mamanya dan seperti biasa dia selalu memutar balikkan fakta.


Namun untuk kembali ke apartemen nya dia juga merasa enggan. Daren pasti kesana mencarinya. Pria muda itu pasti ingin menjelaskan semuanya, dan dia enggan untuk bertemu dengan Daren. Rasanya dia begitu muak dan jijik melihat wajah itu, setelah lelaki itu ketahuan selingkuh, dia telah menggoreskan luka terdalam di dalam hidupnya.


Mengenang itu semua membuat rasa sakit itu bertambah, sakit sekali dan rasanya begitu dalam menusuk, hingga untuk bernafas pun rasanya cukup berat.


Sungguh Daren begitu tega padanya, dia adalah yang begitu Sandra cintai. Bahkan Sandra telah bermimpi untuk melanjutkan hubungan ini kejenjang yang serius yaitu menikah.


Mimpinya hancur berkeping-keping, Karena pria yang selama ini terlihat begitu tulus mencintai nya dan menjaganya, telah membohongi nya.


Sebuah kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan. Andai waktu bisa di putar kembali, ingin rasanya Sandra kembali ke masa lalu, dan menolak cinta yang ditawarkan oleh Daren.


Tanpa bisa di bendung lagi, airmata itu menetes, semakin deras seiring dengan bahunya yang turun naik menahan isakan, sekuat apapun dia menahan rasa sesak dah sakit itu terus mendera menyisakan kesakitan yang luar biasa.


"Daren...kenapa kau begitu tega padaku? kenapa harus Dinda??" ratap Sandra


Saat ini gadis muda itu sedang duduk di taman kota. Keramaian dan lalu lalang orang yang lewat tidak sedikitpun mengganggu dirinya yang asyik menangis sambil melamun, Sandra terus merenungi nasibnya yang malang.


Rasanya kemalangan dan kesedihan selalu saja menghampiri hidupnya, dulu ibunya pergi diusianya yang masih kecil delapan tahun. Sebulan kemudian ayahnya datang membawa ibu tirinya mama Nela dengan anak yang usianya tak jauh beda darinya bernama Dinda.


Sejak saat itu kehidupannya menjadi seperti di neraka, ibu tirinya tak pernah bersikap baik, dan selalu menyalahkan dirinya atas semua hal yang terjadi walau sebenarnya itu kesalahan Dinda.


Sandra sudah terbiasa dengan itu semua, tapi ini sungguh sangat menyakitkan, Dinda sanggup merebut calon suaminya.


Dua jam duduk termenung, Sandra pun bangkit, dia sudah menghapus air matanya. Sandra menguatkan dirinya sendiri,


'Aku harus kuat dan aku pasti bisa melewati semua ini, aku akan pergi jauh dari mereka semua,' tekadnya.


Sandra bangkit dan bersiap untuk pulang, namun kemalangan masih tetap menghampiri nya, ban mobilnya kempes, dan sialnya di tidak membawa ban serep. Sandra membanting pintu mobil dan mencegat sebuah taksi.


Enggan menghubungi sopir kantor, karena pasti di jam segini dia akan istirahat.


Setengah jam kemudian dia tiba di depan rumahnya, tak berniat membunyikan bel gadis itu masuk secara perlahan.


Langkahnya menuju kamar terhenti saat sayup-sayup dia mendengar obrolan seseorang yang belum dia lihat wajahnya, yang membuatnya terkejut mereka menyebut-nyebut namanya.


Tanpa sadar tangan gadis itu terkepal setelah mendengar apa yang mereka bicarakan.


Lagi hatinya berdenyut sakit mendengar kebenaran itu. Sebuah rahasia kembali terungkap, dan dia hanya bisa menangis dan mengepalkan tangan serta menekan emosi dan hatinya sekuat tenaga agar tak berteriak atau mendatangi mereka. Padahal sebenarnya dadanya sudah sangat sesak, bergemuruh dan dia siap meledak.


Sungguh hari yang sangat sial, gadis itu kembali berlari keluar dan menutup mulutnya serta menggigit kuat bibirnya agar tak bersuara.


"Kalian tega, sungguh tega, apa salahku pada kalian semua, kenapa kalian begini?


Dia berlari sekencang-kencangnya menuju jalan raya, terus berlari tanpa tahu tujuan yang pasti dia ingin melupakan semuanya.

__ADS_1


Dan Brugh... Sandra terjatuh!"


__ADS_2