
Arna sudah lebih dahulu datang ke kantor sebelum Ahdan tiba. Karena hari ini adalah hari rapat pertemuan yang digelar oleh atasan Ahdan yang tidak lain adalah pamannya.
Pkl. 09:00, rapat telah dilaksanakan tak terkecuali Arna turut serta didalamnya. Pertama kali rapat diadakan, atasan memperkenalkan pria yang berdiri disampingnya. Pria dengan penampilan bak atletis dan elegan, tidak lain adalah Sean. Sebenarnya atasan memperkenalkan Sean kepada staf yang tidak sempat hadir dalam pertemuan kemarin, termasuk Arna.
"Arna, perkenalkan kepada dia" Pinta atasan kepada Arna
Arna pun berdiri dan Sean maju untuk menjabat tangan dengan Arna. Ketika telapak mereka masing-masing menempel dengan saling menatap dan tak luput dengan senyuman, Ahdan memandang mereka dengan perasaan tidak suka dengan cepat ia berpura-pura merasa tenggorokannya gatal dengan mengeluarkan suara keras.
"Uhuk uhuk" Batuk Ahdan seraya mengambil gelas air minum di atas meja tepat di dekatnya.
Arna dan Sean pun melepas jabatannya kemudian kembali pada posisi masing-masing.
"Maaf" Ucap Ahdan usai mengusap bibir bekas minumnya dengan tisu.
Tak lama kemudian atasan menjelaskan posisi Sean di kantor ini.
Melihat Arna kembali duduk dengan senyum sumringah, sepertinya Ahdan mulai cemburu jika perhatian Arna akan beralih pada Sean, pria yang lebih tampan darinya.
Setelah selesai rapat, staf kembali di meja kubikelnya. Arna sibuk berkutat dengan layar komputer tiba-tiba Sean berjalan hendak menghampirinya lalu berhenti tepat di depan Arna.
"Lagi sibuk, ya?" Tanya Sean dengan raut wajah ramah
Arna pun mendongak dan menyahut "Sibuk sih, tapi dikit lagi selesai"
Sean mengecek jam tangannya, jarum jam menunjuki pkl. 12:03 ia ingin mengajak sesuatu kepada Arna
"Kalau ada kelonggaran, kamu mau saya ajak makan siang bersama. Soal biaya tenang aja, saya yang traktir"
Senyum Arna mengembang tipis dengan nada tergagap, baru kali ini ada seorang staf pria yang mengajaknya makan siang
"Makan siang aja?" Tanya Arna
"Engga makan-makan aja, ngobrol juga ada kok. Kamu minat?" Sahut Sean senyum sehingga terlihat lubang lesung di pipi kanannya.
Hati Arna bagai bunga terai yang mulai bermekaran ketika menatap wajah tampan Sean yang mengajaknya makan siang. Arna pun tergagap karena perasaan grogi yang membuatnya salah tingkah
"A-Aku gak.. Eh iya aku minat"
Mereka pun duduk berhadapan di kursi kafe. Sejenak berbincang mereka pun disuguhi gelas minuman dan makanan yang dipesannya. Kemudian kembali melanjutkan obrolan santai.
Ahdan berdiri memandang mereka dari jarak 15meter dengan muka masam seperti tidak suka melihat kehangatan mereka berbincang, tak ayal dengan senyum dan tawa. Ahdan merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Sejenak menekan nomor Arna yang tertera lalu menelfonnya.
Ponsel yang diletakkan Arna di atas meja bergetar tanda panggilan masuk. Arna terpaksa memotong obrolannya dengan Sean, beranjak berdiri dan membelakangi Sean untuk mengangkat panggilan.
"Halo, mas"
"Kamu dimana" Tanya Ahdan dari balik telepon
__ADS_1
"Aku ada lagi ngobrol dengan Sean di kafe, mas. Boleh ya?"
"Sudah berapa lama ngobrolnya?"
"Baru lima menitan kok, mas."
"Kelewatan banget waktunya. Udahin aja ngobrol gak penting itu. Ayo cepat balik" Ketus Ahdan
Arna mengerut kening, bingung "Balik kemana mas?"
"Ke ruang kantor kamu."
"Tapi.." Lirih Arna ingin menjelaskan bahwa makan siang dan obrolannya belum selesai.
"Gak ada tapi, gak usah nyegel. Ayo cepat" Ketus Ahdan mengakhiri panggilan
Arna menurunkan ponsel yang tadi ia tempel pada telinganya. Ia bingung Kenapa Ahdan tiba-tiba menyuruhnya kembali ke ruang padahal semua karyawan sudah keluar berhamburan entah berbincang, bersantai atau istirahat untuk mengusir penat yang hinggap di ruangan kerja. Kalau Arna kembali duduk di meja partisipasinya ntar ngelakuin apa? Sementara tugas-tugas sudah selesai, apakah ia duduk melamun saja atau bermain dengan kegabutan?
"Aduh" Gumam Arna lirih seraya membalikkan badannya.
Sean mendongak dengan senyum tipis di celah bibirnya
"Maaf ya, mas. Terpaksa kita akhiri obrolannya, maaf sekali. Oh iya Terima kasih banyak atas ajakan dan traktirannya. Saya permisi dulu" Tutur Arna seraya mengambil tasnya yang terletak di atas kursi lalu bergegas pergi.
Petang hari pkl. 15:33, Arna berjalan hendak keluar dari gedung kantor melalui gerbang besar itu. Tiba-tiba mobil sedan berhenti tepat di hadapannya. Lalu keluarlah si pengemudinya. Rupanya Sean, ia menghampiri Arna
"Iya, udah biasa kok" Sahut Arna senyum
"Berarti rumahnya tidak terlalu jauh dari sini?" Tanya Sean
"Bukan begitu mas, saya jalan sebentar sembari menunggu taksi"
Lagi-lagi Ahdan melihat dua orang sejoli yang sama yang lihatnya sejak di kafe tadi. Ahdan merasa semakin tidak suka melihat pemandangan itu. Segera beranjak keluar dari mobilnya seraya berjalan ke depan menghampiri mereka.
"Bagaimana kalau aku yang antar pulang?" Sean menawarkan
Perasaan Arna menjadi ragu tapi ia mengiyakan tanda setuju untuk diantar pulang oleh Sean.
"Baiklah"
Arna dan Sean pun berjalan beriringan hendak naik ke dalam mobil milik Sean. Baru hampir memasukinya, Ahdan meraih pergelangan tangan Arna sehingga langkah Arna terjeda. Sean pun menghentikan langkah kakinya padahal mobil telah berbunyi dengan lampu sein yang menyala tanda kunci pintu mobil terbuka, siap dinaiki.
"Kamu pulang bareng saya saja, sekaligus makan malam bersama" Tutur Ahdan
Arna hanya diam kebingungan, kalau tidak jadi memenuhi tawaran Sean, pastinya Sean akan kecewa. Tapi kalau menolak ajakan suaminya pastinya Ahdan akan lebih kecewa dan semakin bertambah sikap dinginnya. Mau gimana pun Ahdan tetap suaminya harus lebih diutamakan. Arna terpaksa menolak tawaran Sean secara mendadak
"Mas Sean, Maaf ya saya gak jadi memenuhi tawaran untuk diantar pulang." Ujar Arna dengan ekspresi menyesal
__ADS_1
"Biar dia bersama saya pulang, mumpung tujuannya juga sama. Terima kasih sebelumnya, Sean" Sambung Ahdan tersenyum pada Sean.
"Oh oke, siap" Sahut Sean
Arna dan Ahdan duduk berdampingan dikursi mobil paling depan sementara Ahdan sibuk menyetir.
Tumben Ahdan mengajaknya pulang bersama, semenjak menikah Arna jarang sekali menumpangi mobil Ahdan, hanya saat Arna pingsan saja menumpanginya itupun dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Sampailah mereka di sebuah restoran ternama dengan berbagai jenis sajian untuk para pelanggan.
Ahdan memilih posisi duduk paling dekat dengan kaca dan dinding agar lebih nyaman. Ahdan pun mengajak Arna di posisi yang dipilihnya. Mereka duduk berhadapan di kursi dipan dengan meja kaca hitam. Usai dihidangkan sesuai pesanannya, Arna sedikit gelas taro milk lalu memasukkan sendok nasi goreng kedalam mulutnya sendok demi sendok. Sama halnya dengan Ahdan sedikit menyedot jusnya dan langsung merogoh saku jasnya. Tak Lama kemudian Ahdan meletakkan kotak merah seukuran dompet.
"Ini buat kamu" Ahdan menyodorkan kotak itu pada Arna dengan bibir yang hampir saja terbit senyumnya.
Shinta berjalan bak seorang model fashion hendak keluar dari restoran. Tanpa sengaja pandangannya tertuju pada seorang pria yang tidak asing dimatanya, Ahdan. Ia melihat Ahdan asyik menyantap makanan dengan seorang wanita berhijab di hadapannya. Terlihat juga Ahdan menyodorkan kotak merah kemudian di buka oleh Arna, dan wow isinya kalung emas.
Apakah cinta Ahdan mulai tumbuh pada istrinya sampai harus memberinya barang mewah. Dengan cepat Shinta berupaya menghancurkan momen indah mereka.
Arna melihat guntingan kertas di samping kotak itu, tertulis angka dan huruf Abjad 10,5 jt. Arna melongo apa benar harganya semahal itu
"Mas, apa betul kalung ini sepuluh koma lima juta?" Tanya Arna menatap lamat-lamat mata Ahdan.
Ahdan hanya mengangguk kepalanya dengan santai tanpa senyum sedikitpun. Ahdan baru hampir meminum langsung sisa jusnya, Tiba-tiba tangannya diangkat oleh Shinta. Ahdan pun berdiri sementara Shinta memeluk manja lengan Ahdan seraya mengajak Ahdan pergi bersamanya
"Sayang, ayo kita pergi" Shinta menarik tangan Ahdan. Namun Ahdan dengan perasaan kesal menarik kembali tangannya dengan kasar.
"Kalau kamu mau pergi, pergi aja" Ketus Ahdan dengan nada kasar.
Shinta mulai melemah,
"Ahdan.. Kamu benar-benar sudah berubah menjadi begitu lancang sama aku. selama kita masih berdua gak pernah aku dapati sikap kamu kayak gini. Aku tau dia istri kamu, tapi kamu lupakah selama empat tahun aku selalu menemani kamu dari nnol, sementara dia baru seumur jagung hadir dalam hidup kamu sampai kamu tega kasarin aku. Kamu benar-benar gak tau balas budi" Ujar Shinta seraya berjalan menjauhi Ahdan.
Bukannya diam, Ahdan malah mengejar Shinta lalu menarik pergelangannya.
"Maafkan aku, sayang. Aku gak sengaja, sikap aku itu diluar kendali aku. Aku minta maaf" Tutur Ahdan memelas
Shinta membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan Ahdan.
"Kamu sayang aku kan dan dia tetap bukan jodoh pilihan? " Tanya Shinta
Ahdan hanya menganggukkan kepala. Shinta kembali menghampiri Arna dan menarik kotak merah berisi kalung dari pegangan Arna yang sedari tadi berdiri menyaksikan mereka dalam keadaan hati tersayat.
"Kamu pernah bilang penampilan saya formal, kan. Maka saya lebih pantas memakai kalung cantik dan mewah ini. Sedangkan kamu wanita kampungan, gak cocok dengan ini" Ketus Shinta dengan tatapan menusuk
Arna hanya terdiam dalam keadaan mulut kelu dan bibir yang kaku. Segera Arna berjalan cepat untuk keluar dari usikan wanita itu yang sudah berhasil merebut Ahdan darinya.
Arna pun telah keluar dengan sendirinya, Ahdan ingin mengejar Arna tapi ditahan oleh Shinta.
__ADS_1
"Kamu bilang kamu sayang aku, harusnya kamu biarin aja dia pergi. Lagipula dia bukan jodoh pilihan kamu." Tutur Shinta membuat Ahdan hanya menghela nafas pasrah membiarkan Arna berlalu sendirian.