Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Keputusan Ahdan


__ADS_3

Keesokannya nama Arna tak lagi tercacat sebagai Staff di perusahaan yang pernah ia tempati untuk bekerja. Arna datang sekedar mengemasi barang-barangnya yang tersimpan di ruang kantornya. Dengan mimik wajah dan perasaan sedih Arna menyusun satu persatu kertas-kertas dan portofolio. Rekan satu ruangnya ikut merasakan sedih dan iba terhadap Arna. Usai berpamitan pada rekan-rekannya, ia pun bergegas keluar sambil membopong tumpukan kertas.


"Kasihan Bu Arna. Sebenarnya aku bingung sekaligus penasaran apa sebab Arna dipecat suaminya sendiri padahal Arna sudah lebih rajin dan disiplin daripada kita." Tutur salah satu rekan wanita


"Iya kita sependapat. Bos Ahdan juga sudah kembali ke tabiat juteknya. Mungkin saja rumah tangga mereka ada konflik." Sahut salah satunya.


Tak hanya rekan satu ruangnya, hampir seluruh penghuni kantor merasa iba terhadap Arna bahkan mereka bertanya-tanya sebabnya mengapa bos Ahdan memecat istrinya sendiri, Arna.


Petang harinya Arna bertekad ke kediaman mertuanya untuk membantah tudingan Ahdan dan berharap mereka mau menjadi penengah. Sesampainya di rumah mertuanya, belum sempat ia mengetuk pintu sudah terdengar jelas suara Ahdan berada di dalamnya seperti tengah berdiskusi dengan keluarganya. Arna mencoba mendengar dengan seksama apa topik pembahasan mereka dari balik pintu.


"Kamu yakin akan menceraikan Arna?" Terdengar suara Abah bertanya mungkin kepada Ahdan


"Aku yakin, Abah"


"Jika itu keputusan yang benar, lakukan saja apa yang kamu kehendaki." ujar Abah membuat Arna meneteskan air mata tak menyangka Abah menyerahkan keputusan Ahdan tanpa meminta Ahdan teliti terlebih dahulu bahwa keputusan Ahdan hanyalah sepihak.


Merasa sakit hati sekaligus sesak, Arna sudah tak sanggup mendengar lanjutan pembahasan mereka. Kenyataannya tak sesuai yang ia harapkan, dengan perasaan kecewa diselingi tetesan air mata Arna pergi meninggalkan kediaman keluarga barunya itu.


"Umi tidak setuju kamu ceraikan Arna. Umi yakin kamu salah faham dengan kejadian itu" ujar umi


"Tidak umi. Aku tidak salah faham justru aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Bantah Ahdan halus


"Tidak. Aku tidak percaya, aku juga tidak setuju kamu ceraikan Arna. Bisa tidak kamu cari solusi atau cari kebenarannya bukan gegabah menceraikan, itu bukan keputusan yang benar, Ahdan." Timpal Annisa sepakat dengan ketidaksetujuan umi terhadap keputusan Ahdan


"Kamu cuma taunya berkomentar. Selebihnya aku yang memutuskan karena aku yang melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." Ahdan melawan timpalan Annisa seraya beranjak pergi meninggalkan mereka yang duduk dikursi sofa ruang keluarga.


Abah hanya diam membisu antara percaya atau tidak tapi Abah masih menyimpan rasa sayang dan iba terhadap menantunya itu. Karena Ahdan sudah berstatus suami dan sudah memiliki istri artinya Ahdan sudah dibebaskan memberi keputusan apa saja yang menurutnya berhak atas segala sesuatu hal karena Ahdan adalah pemimpin bagi istrinya, maka Abah tak ada hak untuk turut campur kecuali menjadi penengah selebihnya keputusan diserahkan kepada Ahdan.


Di rumah mereka yang baru tiga bulan dihuni, Arna terpaksa harus meninggalkannya. Arna mengemasi seluruh pakaiannya beserta barang-barangnya ke dalam tas dan koper dengan menangis tersedu. Ketika hendak keluar, pandangannya mengarah ke bingkai foto yakni fotonya bersama Ahdan dan bersama mertua dan iparnya. Terlihat romantis dan rukun. Isi kepalanya seakan beradu dengan perasaannya, antara bertahan dengan memohon karena sayang pada mereka ataukah pasrah untuk berpisah sebab kekecewaan dengan persetujuan Abah terhadap keputusan Ahdan. Pasti saja seluruh isi rumah turut menyetujuinya.


Sementara Ahdan mencoba amnesia oleh masalah yang menumpuk di isi kepalanya dengan pergi ke klub malam. Ia duduk di kursi bar hendak memesan botol air alkohol. Ia seduh ke dalam gelas mini dengan penuh lalu meminumnya dengan cepat hingga habis. Masih belum puas ia pun meminum untuk kedua kalinya. Tiba-tiba kedua pundaknya disentuh lembut oleh dua telapak tangan seseorang yang berada di belakangnya.


"Aku tau kamu butuh aku, Ahdan" suara yang tak asing lagi yaitu Shinta berdiri dibelakang Ahdan.


Ahdan menoleh lalu mendongkak, memang benar itu adalah Shinta. Ahdan justru acuh tak acuh dan melanjutkan minumnya.


"Aku rasa kamu tidak butuh aku lagi. Oke, semoga masalah kamu cepat terselesaikan." Ucap Shinta dengan santai seraya berbalik.


Langkah Shinta dihentikan oleh tarikan Ahdan kemudian dipeluk erat oleh Ahdan.


"Maafkan aku sudah meninggalkan kamu." Ucap Ahdan masih dengan memeluk Shinta


Shinta tersenyum girang sembari membalas pelukan Ahdan,


"Aku maafin kamu kok, sayang. Aku masih setia untuk kamu walaupun kamu putuskan hubungan dengan aku." Sahut Shinta


Mereka pun melepas pelukan secara bersamaan namun Ahdan melingkari kedua tangannya di pinggang Shinta, sedangkan Shinta menyenderkan kedua lengannya di dada hingga bahu Ahdan.


"Jadi.. apa kamu mau kita balikan?" Tanya Ahdan lembut


"Aku mau, sayang. Tapi lebih Indah jika kita menjalin hubungan pernikahan." Sahut Shinta


"Maksud kamu.. Kamu sudah siap untuk menikah?"


Shinta menjawabnya dengan anggukan kepala.


Di malam hari yang menebarkan suhu udara dingin diselingi suara bising kendaraan kota, Arna berjalan di atas trotoar sambil menyeret kopernya. Wajahnya tak satupun terlihat seperti karakternya yang ceria dan murah senyum, malah menggambarkan mimik wajah sedih. Semalaman ia tak dapat tidur walau mencoba memejamkan mata. Memang benar masalah yang menumpuk isi kepala membuat sulit untuk tidur.


Akhirnya Arna sampai di kafe/ruko mas Udin setelah berjalan kaki sejauh kurang lebih 100 meter dari terminal bus.


Mas Udin tengah menge-lap meja-meja kafenya yang kosong. Pandangannya tertuju ke ambang pintu, sekejap mengedipkan mata agar tidak salah lihat. Setelah melihat jelas Ia kaget Arna berdiri di ambang pintu kafenya, segera mas Udin menghampiri Arna.


"Jeng, malam-malam kesini. Dengan siapa? Suamimu mana? Lho bawa koper mau kemana?" Cerocos mas Udin

__ADS_1


"Aku izin bermalam disini barang sebentar saja, mas. Boleh ya?" Sahut Arna halus


"Boleh, bermalam lama juga boleh. Ayo duduk dulu" ajak mas Udin


Mereka pun duduk di kursi makan kafe secara berhadapan.


"Dari tadi mas lihat kamu murung terus bawa koper pula. Bukannya kamu pernah bilang nyaman sekali tinggal serumah dengan suamimu di rumah kalian. sebenarnya ada apa kalau mas boleh tau?"


Arna menghela nafas dalam-dalam seperti terasa sesak di dadanya.


"A-aku.." tiba-tiba rasa mual kembali mendera isi perut membuat Arna tak sempat mengutarakannya.


Dengan cepat Arna berlari menuju toilet untuk mengeluarkan isi lambungnya, terasa nyeri disertai pusing.


Mas Udin masih dengan perasaan bertanya-tanya seraya meraih koper dan tas milik Arna untuk ia letakkan di kamar kosong di atas lantai 3 ruko. Lalu kembali ke bawah untuk menemui Arna yang masih di toilet. Tak lama kemudian Arna keluar dengan langkah lunglai sambil menyentuh ubun-ubunnya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Tanya mas Udin cemas


"Ya mas. Aku butuh istirahat dulu, mas. Kepalaku pusing" sahut Arna lirih


"Oh iya, dik. Koper dan tasmu sudah mas taruh di kamar lantai tiga. Tidur yang nyaman ya, dik. Jangan lupa pakai selimut. Atau mas antar ke atas?"


"Biar aku sendiri kesitu mas"


"Tapi hati-hati naik tangganya".


Sebenarnya mas Udin ingin membopong Arna naik ke atas karena melihat tubuh Arna letih apalagi jalannya lunglai nyaris membuatnya jatuh.


Beberapa menit kemudian Sean datang ke kafe. Ia masuk lalu di hampiri mas Udin.


"Mas, maaf kafe sudah tutup" Ujar mas Udin ramah


"Oh iya. Sebenarnya saya datang kesini mau memastikan keberadaan Arna. Saya dapat informasi bahwa kafe ini milik sepupu Arna. Apa benar?" Sahut Sean kalem


"Iya benar, saya sepupu Arna. Mas kesini mau temui Arna?" Jawab mas Udin


"Arna ada di dalam...." Ucapan mas Udin ditekan oleh suara keramik pecah jatuh di bawah lantai yang terdengar tepat di lantai tiga.


Sean pun ikut mendengarnya membuatnya dan mas Udin panik. Segera mereka pergi ke lantai tiga tempat asal suara gelas jatuh itu. Mas Udin paling terdepan membuka pintu kamar yang ditempati Arna, terlihat Arna tergeletak tak sadarkan diri di lantai sontak membuat Sean dan mas Udin panik. Dengan cepat Sean mengangkat tubuh Arna dengan sigap ia membopongnya keluar.


"Kita bawa ke rumah sakit saja, mas" saran mas Udin dibalas dengan anggukan kepala Sean.


Baru hendak memasuki mobil milik Sean, terlihat Elsa sahabat Arna memanggil mas Udin dengan langkah tergopoh-gopoh.


"Mas, kata Arna sudah disini. Aku boleh masuk ya!" Seru Elsa


"Lho, Arna di dalam mobil itu mau di bawa ke rumah sakit." Jawab mas Udin


"Ha? Arna kenapa mas?" Tanya Elsa tiba-tiba ikutan cemas


"Kalau mau tau, ikut saja. Ayo buruan" ajak mas Udin seraya berjalan masuk ke dalam mobil diikuti oleh Elsa.


Sebenarnya kedatangan Elsa adalah janjian bertemu Arna di ruko mas Udin. Ya mungkin untuk melepas rindu sebagai sesama sahabat.


Arna terbaring lesu di atas ranjang ruang UGD masih belum sadarkan diri. Dokter masuk kedalamnya diiringi dengan perawat, Sean izin keluar untuk mengangkat telepon dari seseorang.


Setelah dokter memeriksa dan memberi keterangan kondisi Arna, mas Udin dan Elsa senyum bahagia.


"Kami akan memberi obat dan suplemen. Dia masih belum sadar tandanya pusing dan kelelahan. Kami permisi dulu" pungkas dokter senyum seraya keluar bersama perawat tadi.


Tak berselang lama memejamkan mata, Arna pun mulai membuka matanya tanda sadar dari pingsannya. Masih dengan kerut mata karena masih terasa sedikit pening di kepalanya Arna perlahan bangkit bersandar.. Elsa dan mas udin mendekatinya dengan senyum,


"Kamu sudah sadar, dik" ucap mas Udin

__ADS_1


"Kamu hamil beb" sambung Elsa dengan mata melebar saking bahagianya


Arna pun melebarkan mata dan melobangi mulutnya, terasa kaku dibibirnya.


"Benarkah?" Tanya Arna memastikan


"Iya, dik. Kata dokter kamu hamil" jawab mas Udin


Arna merasa lega dengan kabar bahagia bahwa ia tengah mengandung buah hatinya. Berharap kabar itu dapat membatalkan keputusan Ahdan yang nekat menceraikannya.


Elsa memeluknya kegirangan,


"Bentar lagi aku punya ponakan. Hikss" histeris Elsa.


"Ehh itu mah ponakan saya. Kalau mau punya cari tuh jodohmu" ledek mas Udin


"Iiih amit-amit" elsa menyumbing bibirnya


Tak lama kemudian Sean masuk


"Arna, kamu sudah sadar" ucap Sean ramah. Arna mengangguk senyum.


"Oh iya, saya permisi dulu ada hal penting. Arna, semoga lekas sembuh" pamit Sean sembari pergi keluar dari ruangan.


Usai berbincang banyak hal dengan Elsa, Arna dan mas Udin kembali pulang Ke ruko dengan menumpangi taksi. Di dalam taksi yang sedang membawa mereka, Arna memandangi luar taksi dengan senyum. Mas Udin ikut senyum menengoknya,


"Tadi murung sekarang senyum lagi setelah dapat kabar itu, ya. Pasti bahagia sekali" ujar mas Udin


Arna menoleh dan menatap mas Udin dengan senyum yang mulai melebar.


Di dalam kamar Arna merebahkan tubuhnya di atas ranjang kasur, memandang kosong langit-langit masih dengan senyum yang tak luntur seraya mengelus-elus perutnya.


Arna memiringkan tubuhnya sembari membuka ponsel lalu menatap foto Ahdan yang tampan dan gagah.


"Maafkan aku, mas. Aku rindu kamu. Semoga kita kembali bersama lagi." Gumam Arna tak lama ia memejamkan matanya. Rasanya berhasil membuang satu persatu tumpukan masalah yang menjadi beban fikiran berkat kabar bahagia bahwa ia tengah hamil.


Sepekan setelah kejadian itu, Arna berupaya menemui Ahdan di kantornya dengan membawa surat keterangan dokter atas nama dirinya yang tertera teks positif hamil.


Sebelum masuk Arna mengatur nafas. Di dalam kantor memang benar Ahdan berada, Arna menghampirinya dengan pelan serta diselimuti harapan.


"Mas.." sapa Arna lembut


Ahdan menoleh santai dengan wajah datar.


"Aku.. Aku hamil, mas" Tutur Arna lembut


Ahdan hanya merespon dengan mengangguk-angguk santai seperti biasa saja.


"Selamat. Aku ucapkan selamat semoga bahagia bersama iwan." Sahut Ahdan


"Apa lagi maksud kamu, mas?"


"Aku bilang selamat buat kamu telah hamil anak Iwan. apa lagi?" Tukas Ahdan


Arna menggelengkan kepalanya kembali diselimuti rasa kecewa,


"Benar-benar sudah melampaui batas omongan kamu, mas. Tak ada hentinya kamu tuduh aku." Ketus Arna


"Aku yakin ini anak kita, mas. Darah daging kamu." Sambung Arna tegas


"Tapi aku gak yakin. Padahal kenyataannya kamu berduaan dengan Iwan dalam satu kamar yang itu tidak menutup kemungkinan kalian berhubungan. Bagaimana bisa aku yakini bahwa itu darah daging aku." Bantah Ahdan tak kalah menyakitkan


Karena Arna tak ingin bertambah keributan sehingga sampai ditelinga penghuni kantor, ia mengalah tak dapat lagi meyakinkan Ahdan yang wataknya keras itu.

__ADS_1


"Baik. Tapi jika terbukti bahwa ini adalah anak kamu, aku akan menuntut tanggung jawab kamu, mas." Tegas Arna dengan mata berkaca-kaca beranjak keluar.


Mendengar ucapan Ahdan yang selalu menyudutkannya seakan-akan mengotori harga dirinya dengan seperti menilai bahwa ia adalah wanita murahan yang kehormatannya dinikmati lelaki lain selain suaminya. Tapi itu hanya tudingan yang tidak benar, Arna berusaha menguati perasaannya agar tak termakan situasi yang membuatnya kembali tepar. Walaupun ia dituduh tetapi baginya dan Tuhan bahwa ia bersih dari tuduhan itu.


__ADS_2