
Iwan bangkit sambil mengangkat botol air mineral begitupun dengan Arna.
"Maaf saya tidak sengaja" ujar Iwan sopan
Arna mengangguk tersenyum "Tidak apa-apa"
Sementara Ahdan memerhatikan mereka merasa tidak enak jika harus bertatap muka dengan pria yang kini ia benci. Ia pun sekejap menghela nafas lalu senyum,
"Saya dan Arna permisi dulu mas" Ucap Ahdan kalem kepada mas Udin seraya menggenggam pergelangan tangan Arna.
"Lah baru saja tiba, mau kemana?" Tanya mas Udin heran
"Quality time mas. Soalnya hari-hari kami jarang ngedate bersama karena pekerja padat." Tutur Ahdan
"Oh begitu, baguslah sempet-sempetin.. karena hidup cuma sekali, hehe." Celetuk mas Udin
Ahdan tersenyum, "kalau begitu kami permisi dulu. Semoga lekas sembuh, mas"
"Amiin.."
Usai berpamitan Ahdan menarik pelan tangan Arna hingga keluar beriringan. Ketika sampai di ruang tunggu spontan Arna menghentikan langkah ajakan Ahdan
"Kita baru saja disini, mas. Ada hal yg mau aku tanya dan bicarakan ke mas Udin." Ujar Arna mengerutkan keningnya.
"Yang penting kita sudah kesini. Apa kamu gak mau habiskan quality time bersama aku?"
Arna menatap lamat mata Ahdan seketika mengikur kembali senyum tipisnya.
"Ayo" tak berselang lama mereka bertatapan Ahdan langsung kembali menarik halus tangan Arna.
Hati Arna masih diselimuti perasaan campur aduk, antara percaya atau atau tidak. Karena merasa heran kenapa saat ia membeberkan kotak alat kontrasepsi itu kepada Ahdan, Ahdan yang tadinya dingin menjadi lebih perhatian. Apakah ungkapan cinta dan quality time hanya sekedar meredakan dugaan Arna bahwa Ahdan habis melakukan hal itu dengan wanita lain?
Waktu sudah memasuki malam hari akhirnya mereka berhenti di lokasi tujuan yakni Lippo Plaza. Setelah mengajak Arna jalan-jalan menyusuri sudut-sudut Lippo Plaza dan membeli sesuatu yang disukai Arna, kembali mereka keluar dan pergi beralih ke suatu tempat.
Villa, Arna berekspersi bingung kenapa masuk ke villa dan berhenti disana.
"Aku kira kita akan pulang. Aku rasa sudah cukup di Lippo Plaza tadi, mas. Tapi kok berhenti disini? Kamu ada meet up dengan seseorang, ya?"
Ahdan menghadap ke arah Arna sambil tersenyum,
"Enggak. Aku mau kita bermalam disini. Bukankah sepasang suami istri akan lebih terkesan dengan momen-momen indah di villa yang pemandangannya begitu menakjubkan?"
Mendengarnya hati Arna pun bagai bunga bermekaran namun ia masih memasang mimik santai dan senyum tipis. Mereka pun keluar bersamaan lalu berjalan secara berdampingan masuk. Setelah menerima kartu nomor dan kunci kamar kosong yang akan mereka tempati, Ahdan dan Arna menyempatkan refreshing di lantai paling atas villa dimana pemandangan indah nampak beserta keramaian para pengunjung.
Usai makan bersama diselingi bincang hangat. Mereka pun mulai senggang, rasa kantuk hampir menyelimuti isi kepalanya. Mereka berjalan menuju kamar yang nomornya sudah tertera di kartu. Sampailah mereka di pintu nomor 012 Ahdan pun membukanya.
"Ayo kita masuk" ajak Ahdan santai
Bukannya mengikuti Ahdan masuk, Arna hanya terdiam di ambang pintu.
"Rumah kita bagaimana, mas? Kalau ditinggalkan nanti kenapa-kenapa terus aku telat bersih-bersih dan berangkat ke kantor. Lagipula kita kesini tidak membawa baju ganti untuk berangkat besok" keluh Arna
Ahdan menghela nafas seraya menghampiri Arna lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Arna,
"Bisa diatur." Sahut Ahdan senyum.
Spontan Ahdan dengan gagahnya membopong Arna dan membawanya masuk.
Pagi PKL. 05:45 Arna lebih dahulu bangun mempersiapkan diri untuk pulang namun Ahdan masih terlelap oleh tidurnya dengan posisi tengkurap dan kepala dekat menghadap posisi tidur Arna.
Lebih baik Arna membiarkan Ahdan tidur sampai ia bangun, karena merasa tidak tega jika harus membangunkan Ahdan yang nampak sangat kelelahan. Arna menulis di sepucuk kertas,
*Aku pulang duluan ya, mas. Karena aku tidak tega membangunkan kamu. Hari ini aku padat tugas. Supaya cepat pulang aku harus menyelesaikan lebih awal. Aku sudah titipkan sarapan dari pelayan villa ini buat kamu. Selamat menikmati. Satu lagi pulang pergi hati-hati ya, jangan ngebut kayak semalam. Goodbye ^^*
Arna pun meletakkan kertas yang telah ia tulis itu ke atas meja lalu menindih setengah di bawah nampan berisi makanan dan gelas air murni.
__ADS_1
Sekitar kurang lebih 10 menit kemudian Ahdan terbangun sejenak menggeliat. Ia memandang ke kanan dan kiri tak melihat Arna di dalamnya. Ia beranjak dari kasurnya mencari keberadaan Arna mulai dari kamar mandi, pojok ruangan sampai diluar namun tak ia temui.
"Sayang.." panggil Ahdan memastikan apakah Arna ada didalam atau tidak.
Pandangan Ahdan yang memutar seketika berhenti ke arah secarik kertas yang di tindih oleh nampan di atas meja, tak lama ia pun menghampirinya dan meraih kertas tersebut. Setelah membacanya Ahdan sumringah lalu mengambil nampan tersebut dan membawanya untuk ia santap.
Siang PKL. 12:03 matahari sudah sangat membara menebarkan suhu panasnya. Akhirnya Arna telah menyelesaikan tugasnya. Setelah mendatanya ia pun keluar, baru sampai di lantai bawah kantor tiba-tiba berpapasan dengan Sean. Tak segan Sean pun menyapa,
"Hai, Arna" Sapa Sean senyum menghentikan langkahnya
"Hai" Sahut Arna tersenyum simpul.
Arna merasa tidak nyaman jika akan terus bertemu Sean. Jika saja pertemuan mendadak mereka sehingga Ahdan mendapatinya maka akan bertambah perkara berujung keributan. Lebih baik Arna langsung pergi dengan cara halus agar tidak mengecewakan Sean.
"Oh maaf, mas. Saya buru-buru keluar dulu karena ada keperluan yang harus saya bawa pulang. Saya permisi dulu"' Tutur Arna seraya kembali berlalu meninggalkan Sean yang mungkin ingin mengajaknya berbincang.
Setiba di rumah, Arna menenteng satu kantong plastik besar full bahan-bahan dan meletakkannya di atas meja makan. Usai mengganti pakaian kantor menjadi pakaian rumahan, ia bersemangat membuat sesuatu. Ahdan menengoknya sibuk mengaduk campuran tepung dan telur dengan mixer dengan posisi membelakanginya, ia pun menghampirinya diam-diam.
Dengan cepat Ahdan menggenggam sejumput tepung seraya mengolesinya di wajah Arna. Sontak membuat Arna terkejut.
"Aduh, Mas.." cemberut Arna
Ahdan hanya tertawa, Arna membalasnya dengan melempari tepung ke wajah Ahdan giliran ia pun yang kegirangan. Mereka bermain tepung sambil saling kejar mengejar, sepertinya mereka sudah hanyut dengan keasyikan bermain tepung.
Dapur berantakan bak kapal pecah nyaris penuh dengan tepung yang berserakan dimana-mana. Sementara kepala hingga baju mereka pun memutih oleh sejumput tepung. Ahdan membantu mengaduk adonan toping krim sementara Arna mengangkat kue yang sudah matang dari dalam oven lalu meletakkannya di atas meja.
Arna menghiasinya seindah mungkin dengan toping, akhirnya jadilah kue tart untuk persiapan kejutan anniversary Abah dan umi, sang mertuanya.
"Akhirnya.. sudah jadi. Indah kan, mas" Ujar Arna mengangkat kue tersebut dengan girangnya.
"Iya, emm sepertinya enak. Pengen coba ah" Ahdan ingin memotongnya namun disingkirkan oleh Arna.
"Gak boleh"
"Pelit banget, bagi dong"
Ahdan sejenak memutar bola matanya memandang kosong langit-langit dinding akhirnya ia ingat memang benar bahwa ini adalah tanggal pernikahan orang tuanya. Seketika Ahdan menepuk dahinya dengan telapak kanan.
"Oh iya aku lupa. Kok kamu bisa tahu ini tanggal anniversary umi dan Abah.?" Tanya Ahdan
"Pagi tadi Annisa telepon aku, dia juga meminta aku membuat kejutan" Sahut Arna santai
Malam hari telah diselimuti langit yang menghitam dihiasi kelip bintang-bintang. Arna dan Ahdan tampil dengan busana senada, mereka bersiap berangkat ke kediaman umi dan Abah untuk merayakan kejutan ulang tahun pernikahan mereka.
Ketibaan mereka disambut bibi nun yang langsung mendekati Arna lalu memeluknya.
"Mbak.. welkom. Akhirnya rinduku terbayarkan juga" ujar bibi nun kegirangan
Arna membalas pelukan hangatnya
"Syukurlah bi.." Sahut Arna lembut.
Bibi nun mengajak Arna dan Ahdan memasuki rumah hingga menuju ke taman belakang, rupanya sudah ada Annisa dan keluarga kecilnya beserta pria yang tidak asing adalah Arfian. Tampak mereka tengah memasang lampu-lampu dan mengatur kursi di meja yang sudah ada piring, gelas, lilin, dan vas bunga.
Terdengar suara mobil, pasti Abah dan umi sudah pulang. Bibi nun dan security bersegera menghampiri mereka sambil membawa dua carik kain tebal guna menutup mata mereka.
Bibi nun membuka pintu dan menyambut hangat mereka.
"Abah.. umi.. Sudah pulang" sapa bibi nun senyum
Bibi kemudian mengambil jas yang dipagangi Abah dan almamater dokter umi, lalu security menghampiri mereka dan menutup mata dari Abah lalu giliran ke umi.
"Ada apa ini?" Tanya Abah tenang dengan senyum tipisnya
"Ada sesuatu spesial" sahut security
__ADS_1
Bibi dan security menuntun langkah Abah dan umi yang gontai menuju taman belakang. Saat penutup mata dibuka sontak mereka yang ada di taman bersorak sambil diiringi suara biola yang dimainkan oleh pemusiknya yang diundang Annisa.
"Happy anniversary my best parents" Ucap Annisa.
Arna datang menghampirinya dengan membawa kue tart buatannya sudah lengkap dengan lilin bertuliskan *Happy anniversary 34*
Usai meniup lilin, mereka keluarga besar bersiap dinner di satu meja persegi panjang. Abah duduk di kursi tanpa pendamping sebagai kepala keluarga, sementara umi duduk ditengah Arna dan Annisa. Umi melihat kue tart di meja masih utuh dengan lilinnya, umi lalu meraih ke dekatnya
"Rasanya umi ingin mencicipi kue ini" kata umi sambil mencabut satu persatu lilin yang tertancap di atas kue
Arna dengan cepat mengambil pisau dan memotongnya lalu menaruhnya di piring kecil,
"Aku suapin umi, ya" Arna menyuapi umi dengan lembutnya
"Enak sekali" sahut umi dalam keadaan mengunyah potongan kue.
"Abah juga mau" Sambung Abah
Arna pun sejengkal mendekati Abah,
"Aku boleh suap?" Tanya Arna kalem
"Boleh dong" Sahut Abah seraya membuka lebar mulutnya.
Ahdan merasa teduh dengan pemandangan itu, melihat Arna akrab dan menyayangi keluarga terutama orang tuanya. Momen indah yang telah ia tata bersama Arna membuatnya nyaman dengan kehadiran Arna, wanita yang dulu ia anggap bukan jodoh pilihan. Ahdan merasa ingin bertahan dalam satu biduk rumah tangga bersama Arna dan berencana menata masa depan dengannya. Namun bagaimana dengan Shinta yang menuntut ia harus membalas Budi Shinta selama 4 tahun lamanya dengan harus bertahan sampai Shinta siap untuk dinikahi olehnya. Apakah ia harus memutuskan hubungan dengan Shinta ataukah bertahan dengan keduanya?
Keesokan harinya Ahdan berencana ke lokasi keberadaan Shinta yakni di sebuah gedung permodelan. Akhirnya Ahdan menemui Shinta yang sedang bergaya di depan kamera. Seusainya Shinta kegirangan dikunjungi oleh Ahdan, dengan cepat ia menghampiri Ahdan lalu memeluknya. Ahdan justru melepas pelan pelukan itu,
"Sayang.. kamu mau ajak aku pergi, ya?" Tanya Shinta
Sejenak Ahdan menggelengkan kepalanya,
"Bukan. Aku datang mau ngomong sesuatu"
"Sesuatu apa itu, sayang?"
"Aku mau kita putus" Ungkap Ahdan membantu Shinta yang tadinya tersenyum manja menjadi masam
"Kamu yakin mau putusin aku?"
Tak menjawab dengan kata-kata Ahdan hanya mengangguk.
"Kamu kenapa sih? Apa lagi kesalahan yang aku perbuat?"
"Aku mau menjadi suami seutuhnya tanpa menyembunyikan hubungan lain selain istri aku" Terang Ahdan
"Ahdan, aku wanita pertama. Dia hanya orang ketiga dalam hubungan kita. Kamu lupakah janji kamu untuk bertahan dengan aku sampai aku siap untuk kamu nikahi. Bisa-bisanya kamu mau menjadi suami seutuhnya buat dia yang bukan jodoh pilihan kamu." Tukas Shinta
"Kapan kamu akan siap? Sejak dulu aku mengajak kamu ke jenjang pernikahan kamu selalu tunda. Biarpun dia bukan jodoh pilihan tapi tidak menutup kemungkinan aku akan cinta"
"Kamu tau kan Ahdan aku sibuk dengan karir aku." Bantah Shinta
"Aku tau. Kalau begitu silakan kamu lanjutkan karir kamu. Cukup sampai disini hubungan kita." Pungkas Ahdan seraya memalingkan wajahnya beranjak pergi meninggalkan Shinta.
"Kamu jahat Ahdan kamu ingkar janji" teriak Shinta, Ahdan mendengarnya namun tidak memperdulikan.
Hari ini adalah akhir pekan, hari berlibur dari pekerjaan. Ahdan kembali kerumah dan mendapati Arna sedang memotong daging di dapur. Ahdan mendekatinya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arna.
"Kamu masak apa?" Tanya Ahdan
"Aku mau masak semur ayam, mas." Sahut Arna tanpa melirik Ahdan dibelakangnya
"Wah enak pastinya. Boleh bagiin aku kan"
"Iya dong boleh, masa iya aku sendiri yang makan. Entar kembung" celetuk Arna seraya berbalik menghadap Ahdan sambil memberi tanda perut kembung.
__ADS_1
Ahdan tersenyum. jiwa keagresifan Ahdan seakan telah lenyap setelah benar-benar jatuh hati pada sosok Arna, wanita periang dan netral itu. Ahdan benar-benar akan menjadi suami seutuhnya yang cintanya hanya untuk Arna, sebagaimana keharmonisan hubungan Abah yang mencintai umi seutuhnya tanpa syarat sehingga bertahan selama 34 tahun lamanya.