Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Ancaman Brian


__ADS_3

"Kau tidak boleh seperti ini san? Kamu harus bertahan, kamu harus kuat, ingat masih banyak orang-orang yang menyayangimu, ada aku yang akan selalu ada di sampingmu." ucap Ririn menguatkan.


"Rasanya sakit Rin, sakit...sakit banget" ucap Sandra memukul dadanya, setelah Ririn mengurai pelukan mereka.


"Aku tahu, tapi kamu harus kuat, kamu harus buktikan jika kamu mampu dan kami bisa, lupakan bajingan itu."


"Di jahat Rin, jahat..!" Sandra kembali terisak.


"Apa kekurangan ku Rin? kenapa dia tega, dan kenapa harus Dinda? kenapa mereka berdua tega, hiks...hiks..."


Ririn kembali memeluk sahabatnya dan coba menenangkan nya, "Mereka semua orang jahat dan Lo beruntung karena tahu kejahatan nya sebelum Lo resmi jadi istri Daren."


"Iya, tapi gue cinta sama dia," ucap gadis itu lagi di sela tangisannya.


"Sandra dengar gue, lelaki seperti Daren itu nggak perlu lu tangisi. Harusnya lu bersyukur lu tahu belang dia sekarang sebelum lo resmi menjadi istrinya,


coba bayangin kalau lu udah jadi istrinya dan dia bermesra-mesraan dengan Dinda di depan lo. Apalagi setelah dia menguasai semua harta lo."


"Sekarang saatnya Lo bangkit, Lo balas semua perbuatan mereka ke elo, dan lo buktikan jika lo bisa hidup tanpa Daren, lo bisa bahagia tanpa pria brengsek itu.


Bila perlu lu bawa kekasih baru lo yang lebih dari dia dan tunjukkan padanya bahwa lo udah move on dari lelaki b*jingan seperti dia."


"Ita tapi caranya gimana?"


"Gue akan bantuin lo, yang penting sekarang lo harus sembuh, lo harus lupain sakit hati, lo hapus air mata lo, dan kembali menjadi Sandra yang dulu, Sandra yang ceria, Sandra yang tegas dan jadi idola semua orang."


Sandra pun mengangguk pelan di dalam pelukan sahabatnya. Gadis itu merasa lega sangat lega akhirnya dia bisa mengeluarkan segala isi hatinya.


Semua yang diucapkan oleh Ririn itu benar, dia harus move on, dia harus melupakan Daren dan membalas perbuatan Dinda dan juga Daren padanya.


"Mereka berdua harus menerima balasan atas apa yang telah mereka lakukan selama ini kepada ku," tegasnya di dalam hati.


"Gimana? Lo mampu kan?"


"Iya, akan aku usahakan."


"Ingat Rin, apa yang elo lakukan selama ini ke Daren, itu udah lebih dari cukup.


Dia itu memang sengaja memperdaya elo dengan kata cinta murahannya itu.


Daren bukan apa-apa jika bukan karena Lo, dia itu cuma operator miskin yang hidup di jalanan. Lo ingat, berapa banyak Lo berkorban, apartemen mewah, mobil dan juga jabatan di kantor."


"Tapi kan?"


"Sekarang Lo buktikan, dan Lo buat dia menyesal karena sudah membodohi Lo, mengkhianati Lo,"


Sandra kembali teringat pada masa lalu gimana saat pertama dia bertemu Daren Bagaimana pertemuan Mereka kemudian cinta itu bermula kesabaran Daren menghadapinya hingga dia luluh dan akhirnya dia benar-benar bisa mengubah darah dari yang orang biasa menjadi seorang enterpreneur muda yang tampan dan sukses.


"Apa yang di ucapkan Ririn semuanya benar, aku harus melupakan Daren dan aku akan membuktikan, jika aku bisa hidup tanpa dia."


Nah gitu donk," sambut Ririn bahagia


"Rin, Lo beresin semuanya dan kita pulang,"


"Baik Bu,"


"Nggak slaah dengar, tadi Lo main gue elo aja, sekarang ibu,"


"Tadi kan gue sahabat Lo, sekarang gue bawahan Lo, jadi wajar manggilnya beda,"


"Ya udah terserah, buruan aku udah nggak tahan lama-lama disini."


"Ok bu bos."


***


Di sebuah rumah seorang pria baru saja menyelesaikan sarapan paginya ya walau sarapan pagi yang kesiangan karena Jam sudah menunjukkan pukul 09.30 pagi dan pria itu baru bangun tidur.


"Den, ini surat kabar dan kopinya,"


"Makasih Bik," Brian segera meraih surat kabar dan mulai membacanya matanya terbelalak saat melihat pemberitaan tentang dirinya dan juga Sandra di surat kabar tersebut,

__ADS_1


walaupun mereka tidak menyebutkan identitasnya dan wajahnya juga tertutup namun jelas diberitakan bahwa seorang pria menggendong Sandra masuk ke dalam rumah sakit dengan segala dugaan-dugaan dan opini mereka.


Yang intinya semakin memperkeruh suasana, dan membuat pemberitaan yang cukup heboh.


Brian kembali teringat akan ucapan Sandra yang bertanya, mengapa dia menyelamatkannya?


' Gadis itu ingin mati, apa sebenarnya masalah yang tengah menimpa dirinya? bukankah dia begitu percaya diri di pertemuan pertama kami?' ucapnya dalam hati


Brian kembali teringat Bagaimana aku dan sombongnya seorang santra saat pertama kali mereka bertemu. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik ke belakang.


Pria itu kemudian meraih ponselnya dan mencoba menghubungi orang suruhannya.


"Bagaimana?" tanya Brian saat ponselnya tersambung.


"Susah pak, dan saya sudah mengirimkan datanya melalui email,"


"Ok, terima kasih,"


"Baik pak,"


"Satu lagi, awasi terus pemberitaan tentang gadis itu, aku tidak mau jika sampai ada yang mengenali jika pria itu adalah aku, mengerti."


"Baik pak,"


Setelah itu panggilan pun terputus Bryan meletakkan kembali ponselnya dan menyesap kopi hitam di depannya.


Dia membuka laptop yang dia letakkan di atas meja, memang pagi ini dia berencana ingin memeriksa laporan yang masuk, dan langsung membuka email yang dikirimkan oleh Ricky bawahannya


bibirnya tertarik ke belakang setelah membaca tentang data diri Sandra. namun senyum itu memudar seiring pria itu mengerutkan kedua alisnya matanya memicing setelah membaca lembaran kedua dari laporan Ricky.


"Pantas dia mau bunuh diri, kasian sekali nasib nya, adik dan juga kekasihnya tidak menghianatinya tapi Bukankah dia gadis bodoh hanya gara-gara putus cinta saja dia ingin bunuh diri perempuan memang tidak memiliki akal hal kepada seperti itu membuat dia hampir menghilangkan nyawa yang berharga dasar wanita bodoh bucin," omel Brian.


Pria itu kembali menutup laptopnya tanpa memeriksa beberapa email yang masuk.


Dia kembali menyesap kopinya untuk yang kedua kali dan melupakan tentang Sandra,


triiing.....


Ponselnya berdering dan tertulis jelas nama perawat yang bertugas merawat neneknya di rumah sakit. Brian terkejut dan cepat mengangkatnya.


" Maaf Pak, Ibu mencari anda, katanya ada hal yang penting."


" Aku masih di rumah, masih baru bangun tidur, katakan pada nenek jika aku akan ke rumah sakit nanti siang untuk menjenguknya.


" Tapi Pak, sepertinya ini sangat penting, lagi pula kondisi nenek Anda tidak baik-baik saja,"


"Apa maksudmu?" ucap Brian setengah berteriak, membuat bibi yang berada di dapur ikut terkejut.


" Maaf Pak, tapi jantungnya semakin melemah dan dia terus saja memanggil anda."


"Baik, aku akan kesana dalam sepuluh menit."


Brian mengambil kunci motor dan segera mengeluarkan motornya dari garasi, lalu melajukannya dengan sangat kencang tak lagi dipedulikannya panggilan dan teguran dari bibi yang heran dengan sikapnya yang terlihat aneh.


"Den Brian kenapa ya?" guman bibik pelan


Brian melajukan motornya dengan kencang, bahkan sangat kencang hingga beberapa kali dia hampir menabrak pengendara lain di jalan.


Namun dia tak peduli, pria itu terus saja melaju dengan kecepatan penuh, hingga akhir nya dia tiba tepat waktu seperti yang dia ucapkan dalam waktu hanya kurang dari 10 menit.


pria itu setengah berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan sang nenek dan membukanya dengan keras hingga menciptakan suara yang sangat kuat.


"Nenek," ucapnya dengan berteriak.


Langkahnya terhenti tepat di samping tempat tidur neneknya dan melihat wanita yang paling dia cintai itu terbaring lemas dengan selang infus di tangannya, dan juga alat bantu pernapasan serta peralatan medis lainnya.


"Nenek"


"Rian," ucap sang nenek dengan suara yang begitu lemah.


"Aku disini nek,"

__ADS_1


"Rian, mungkin ini saatnya aku pergi,"


"Jangan bicara seperti itu nek, kau pasti sembuh, dan aku akan membawa mu berobat keluar negeri,"


"Tidak, aku tidak mau, aku tahu usiaku tidak akan lama lagi, aku cuma punyabsatu permintaan,"


"Apa itu nek?"


"Menikah lah sebelum aku meninggal, agar arwahku bisa tenang."


"Tidak nek, nenek pasti sembuh,"


"Rian, ini permintaan terakhir ku,"


"Nek!!!"


"Kau mau mengabulkannya bukan?"


"Aku akan menikah, tapi nenek harus sembuh dulu, aku janji nek,"


"Aku sudah tua nak, dan aku tidak mau ngkin sembuh lagi, berjanjilah Rian."


"Iya aku janji nek,"


"bawa kesini calon istrimu dan menikahlah nak,"


"Baik, aku akan membawa calon istriku nek, tapi nenek harus janji untuk segera sembuh,"


"Nenek tunggu janjimu,"


"Suster mana obatku?" panggil nenek pada perawat yang menjaganya, setelah nya nebek minum obat dan tertidur.


Brian sendiri duduk termenung beberapa saat, "menikah? istri?" ucapnya berkali-kali.


Melihat nenek sudah terlelap Brian berjalan keluar kamar menuju kantin, perutnya sudah meronta sejak pagi tadi.


Terlupa karena mendengar ucapan sang nenek yang memintanya membawa kekasihnya besok.


***


Brian duduk menyesap kopinya setelah selesai makan siang. Pria itu terus terbayang dengan ucapan nenek yang paling dia cintai, beberapa kali dia menarik napas dalam dan berat, coba mengeluarkan segala beban yang ada di pundaknya.


"Eh itu bukannya si gadis bodoh itu," ucapnya sambil meicing kan matanya.


"Aku samperin aja, sekalian menggodanya. Sungguh kasihan sekali dia, sudah jatuh tertimpa tangga, gadis yang malang," ucap Brian.


Dia terus berjalan mendekati Sandra, baru Bebe langkah pria itu terserah menemikan ide luarbiasa.


"Hei Lo, tunggu!" panggil Brian ke arah Sandra yang berjalan bersama dengan Ririn.


Gadis cantik itu menoleh, dan memutar bola matanya malas setelah melihat siapa yang memanggil namanya, bahkan saat ini pria itu sedang berjalan kearahnya.


"Ada apa lagi?" tanya Sandra ketus, Ririn yang berada di sampingnya pun sedikit terkejut.


Tak hanya terkejut gadis itu juga terpesona dengan Brian yang tampan, walau berpakaian biasa saja, sebuah kaos oblong di padu celana jeans.


"Lo punya utang nyawa sama gue dan gue mau menagihnya sekarang?"


"Apa? hutang nyawa, Hello apa gue nggak salah dengar? kapan gue punya hutang nyawa sama Lo?"


"Gue udah nyelamatin Lo dua kali, apa lo


lupa!"


"Oh itu, Lo minta bayaran berapa?"tanya Sandra dengan sombong nya


"Gue enggak butuh uang Lo, besok jam satu siang, temui gue di kafe Gawe dan jangan sampe Lo enggak datang, karena jika sampai Lo enggak data gue punya kejutan buat li, dan gue yakin Lo pasti nyesel seumur hidup."


"Lo ngancam gue, ingat gue nggak takut, dan gue enggak akan datang,"


"Terserah Lo masih punya waktu buat berpikir, tapi ingat ancaman gue enggak mauny-main"

__ADS_1


Setelah bicara Brian berbalik masih dengan tersemyum licik, sedangkan Sandra terdiam, rahasia apa yang di miliki pria itu, rasanya dia tidak punya rahasia apapun.


"Apa yang direncanakannya Brian?


__ADS_2