
Arna melepas pelan pegangan Ahdan pada kedua lengannya.
"Kamu salah faham tentang itu" Kata Ahdan memohon pengertian Arna.
"Kalaupun aku salah faham, kamu boleh jelaskan tapi jangan setengah-setengah langsung aja to the point, mas" Sahut Arna
Ahdan justru menghela nafas kebingungan harus mengatur ide apa untuk menjelaskannya tanpa memberitahu bahwa itu hanyalah jebakan Shinta.
"Tapi isinya sudah kebuka bahkan sebagiannya berkurang kan, mas. Yaudah aku gak mau tau tentang rahasia kamu itu asal kamu bahagia, mas." Tutur Arna sembari membalikkan badannya namun lagi-lagi Ahdan mencegah.
"Tolong fahami aku, aku.. Aku akan jelaskan" Ahdan memelas dengan nada tertekan
Arna tampak merasa kesal,
"Iya aku fahami, mas. Kamu kesana pasti dengan pacar kamu, kan? Ngelakuin itu dengan pacar kamu aja gak lebih, kan? Udah itu aku fahami. Kalau gak benar yaudah kamu langsung saja jelaskan. Kamu cuma diam saja" Pungkas Arna jengkel
"Kamu jangan sembarangan ngomong. Begini A-Aku mau.." Ketus Ahdan seketika terjeda karena seorang pria paruh baya memasuki kantor Ahdan.
Pria itu rupanya Abah sekaligus mertua Arna, ia pun berjalan menghampiri mereka dengan wajah jutek khasnya.
"Kalian..? Lagi ngapain. Tadi Abah dengar suara kalian agak keras. Ada apa?" Tanya Abah
"Eh Abah. Kami.. Oh lagi ngobrol-ngobrol aja gitu" Cengir Ahdan sambil menarik tubuh Arna sehingga mendekat disampingnya dan memeluk punggung Arna dengan satu tangannya. Mereka pun berdiri tegak secara dekat berdampingan berhadapan dengan Abah.
Arna keheranan kaku dan segera ia memasang senyum lebarnya dan mengangguk-angguk.
"Lagi ngobrol apa kok sampai pakai suara keras padahal hanya kalian berdua didalam sini" Abah masih tampak bingung dan penasaran
"Lagi ngobrol-ngobrol saja pokoknya. Ngobrol sesama suami istri, ngobrol tanda cinta gitu, Abah. Sesekali pakai suara keras supaya jelas kedengaran" Lagi-lagi Ahdan mempermainkan omongannya ke Abah sambil telapaknya mengelus-elus lengan Arna. Arna hanya tersenyum simpul dalam keadaan bulu kuduk berdiri.
Seketika Abah tersenyum menunduk tak lama kembali menatap mereka dengan senyum tipis,
"Bagus kalau kalian sudah saling cinta. Apapun itu tetap jaga martabat kalian." Imbuh Abah dengan perasaan senang
"Baik Abah" Sahut Ahdan
"Ngomong-ngomong.. Abah kesini mau jumpa Aku? Atau berkunjung untuk hal lain?" Tanya Ahdan penasaran kenapa Abah tiba-tiba berkunjung dikantornya.
"Abah ada prospek kerja dengan pamanmu, kami sudah merencanakannya hari-hari lalu sejak kalian sudah berada dirumah baru. Kamu ada simpan dokumen legalitas itu?" imbuh Abah
"Oh iya ada, sebentar" Sahut Ahdan dan melepas tangannya yang sedari tadi memeluk punggung Arna lalu berjalan menuju rak-rak penting untuk mengambil dokumen legalitas yang diminta oleh Abah.
Tak lama kemudian Ahdan kembali dengan membawa dokumen yang tersusun rapi. Setelah memberinya kepada Abah, Abah pun beranjak keluar. Tinggallah mereka berdua didalamnya, Ahdan ingin melanjutkan keinginannya yang selalu ditutupi oleh gengsi dan malunya.
"Dengar aku dulu. A-aku mau kita.." Lagi-lagi ungkapan Ahdan terputus oleh ketukan pintu dari seseorang yang ingin masuk.
"Masuk" Sahut Ahdan jengkel.
"Permisi Pak, Bu" Salah satu karyawan pria masuk dengan diikuti oleh pria paruh baya berkulit putih, ternyata Pak Chow tetangga mas Udin.
"Bapak ini mencari Bu Arna. Saya permisi dulu" jelas karyawan tersebut seraya berbalik keluar.
Arna menghampiri pak Chow sehingga mereka pun berhadapan.
"Ada apa Paman? Ada yang bisa dibantu?" Tanya Arna sopan dengan senyum khasnya.
"Paman datang kesini mau kabari kamu.. Mas-mu Udin kecelakaan." Sahut Paman agak keras karena perasaan cemas.
Arna kaget melebarkan matanya dan mulut terbuka.
"Jadi Mas Udin dimana Sekarang, Paman?" Tanya Arna menatap serius
"Ada di rumah sakit, ayo kita pergi. Mumpung Taksi yang Paman tumpangi tadi masih menunggu. Ayo" Ajak Paman seraya berjalan keluar
Arna pun mengikuti langkah Paman Chow tanpa memperhatikan Ahdan dibelakangnya. Ahdan hanya berdiri memandang mereka yang keluar merasa sebal.
Paman Chow berjalan menyusuri ruangan rumah sakit menuju ruang UGD tempat mas Udin ditangani oleh pihak medis, Arna pun mengikuti langkah Paman Chow dengan tergopoh-gopoh. Mereka pun berhenti diruang tunggu tidak langsung masuk karena dokter dan perawat masih didalamnya. Dokter dan perawat pun keluar menyapa mereka dengan senyum kemudian berlalu. Arna dan Paman Chow masuk, dilihatnya Mas Udin terbaring di ranjang stretcher dengan posisi semipronasi serta leher dalam keadaan dipasangi neck collar dan telapak kaki kiri dibaluti perban.
Dengan cepat Arna menghampirinya disertai ekspresi dan perasaan cemas.
"Mas... Ya Allah.." Cemas Arna menyentuh pelan kaki mas Udin.
__ADS_1
"Jeng" Sahut mas Udin masih dengan senyum seperti biasanya walau suara agak lirih dan posisi masih terasa sulit bergerak.
Paman Chow memberi satu kursi kepada Arna satunya untuk dirinya. Arna dan Paman Chow duduk berhadapan ke posisi wajah mas Udin.
"Mas, kalau boleh tau kenapa bisa separah ini?" Tanya Arna masih dengan cemasnya
"Jenenge urip kui mesti akeh cobaan, jeng" Jawab mas Udin santai
"Iyo mas.. Maksudku itu kecelakaannya karena apa? Kecelakaan tunggal atau gimana?"
"Laka tunggal, meh nabrak wong wedok" Ledek Paman Chow malah dia yang menjawabnya. Paman Chow memang keturunan Tionghoa namun fasih berbahasa Jawa karena telah lama hidup dilingkungan orang-orang Jawa yang bahasanya sudah membudaya.
"Ah pake kasih tau segala" Mas Udin merasa jengkel
"Panjenengan tadi kecelakaan masih senyum-senyum pas yang nolongin si wong wedok itu. Kayak Tresno" Sambung Paman Chow meledek
Mas Udin tersipu malu, Arna pun ikut tersenyum mendengarnya. Memang sudah hal lumrah kalau seseorang ketahuan jatuh cinta maka disekelilingnya akan tersenyum ikut merasa bahagia tak jarang dengan guyonan.
"Jeng.. Piye kabare?" Tanya mas Udin Kepada Arna.
"Alhamdulillah baik, mas. Bagaimana dengan kafe-mu?"
"Alhamdulillah enek kemajuan" Sahut mas Udin
"Aku pulang dulu ya, mas. Bentar sore atau malam kesini lagi sekalian bawa oleh-oleh" Tutur Arna halus.
"Tapi jangan sendirian, kalau bisa dengan suamimu, dik" Sahut mas Udin
Arna tersenyum tipis,
"Baik mas." Sahut Arna usai berpamitan ia pun keluar meninggalkan mas Udin dan Paman Chow di dalamnya.
Setelah menyelesaikan keperluan lainnya, Arna sudah tiba di rumah dengan menumpangi taksi yang dipesannya melalui via online. Arna masuk setelah menutup kembali pagar, terlihat mobil Ahdan sudah memarkir di garasi. Ia berjalan agak lambat menuju rumah, terlintas dibenaknya kalau nanti berhadapan dengan Ahdan apa yang harus ia lakukan? langsung tidur sajakah, tapi rasanya masih segar belum mengantuk. Atau tetap cuek saja, ah nanti akan diminta Ahdan buka suara untuk bertanya padahal ia tak punya pertanyaan karena sadar dirinya bukan jodoh pilihan.
Ia langsung masuk tanpa mengucap salam, tak terlihat Ahdan diruang tamu, ruang nonton, dapur dan ruang lainnya. Ia berfikir mungkin Ahdan tidur siang atau bersantai di halaman belakang. Entahlah, segera Arna menaiki tangga.
Arna baru saja berhenti diambang pintu yang terbuka kecil, ia mendengar jelas Ahdan sedang menelepon seseorang.
"Kotak itu sudah aku bawa ke sana kan..." Sambungnya
Yang terdengar hanya suara Ahdan, sedangkan yang ditelepon tak terdengar jelas yang pastinya Arna menduga itu adalah kekasih Ahdan. Ketika mendengar Kotak yang disebut Ahdan, Arna lagi-lagi merasa tidak enak hatinya terasa bagai tersiram air es, ngilu sekaligus sesak. Namun tak mendengar jelas bahwa Ahdan menyuruh Shinta yang ia telepon untuk membuang kotak itu karena volume suara Ahdan seketika diperkecilnya sehingga Arna menyimpulkan secara setengah-setengah.
Arna masuk pelan tanpa menyentilkan suara karena tak ingin memotong sambungan telepon mereka. Ahdan menoleh terkejut dan menutup panggilan.
"Arna kamu sudah pulang" Sambut Ahdan kelihatannya tampak ramah
"Iya" Sahut Arna singkat tanpa melirik Ahdan
Ahdan mendekat ke Arna,
"Bagaimana perkembangan mas Udin?" Tanya Ahdan
"Lumayan" Singkat Arna membuat Ahdan tak puas
"Arna.." Ahdan membalikkan tubuh Arna sehingga berhadapan dengannya
Arna justru melepas pelan pegangan Ahdan dengan perasaan bosan
"Aku mau ganti baju dulu, mas." ujar Arna seraya berjalan keruang ganti.
Keluar dari ruang ganti, Arna sudah memakai pakaian rumahan dan rambut diikat bagai kuncir kuda, kelihatannya cantik. Arna tidak memerhatikan Ahdan yang menunggu di kursi sofa malah hendak membuka pintu. Ahdan berdiri cepat menghampirinya dan menutup kembali pintu yang dibuka oleh Arna.
"Aku nunggu kamu tadi. Kok malah keluar"
"Emang kenapa aku keluar? Aku mau siapin makan siang buat kamu" Sahut Arna
"Aku sudah makan. Ayo kita ngobrol dulu" Ahdan menarik pelan tangan Arna untuk ia ajak duduk di ranjang kasur yang empuk itu, Arna pun mengikutinya dengan ekspresi bosan. Sebenarnya ia tidak bosan tetapi hatinyalah yang bosan karena merasa tak nyaman dengan pria yang baru saja bermalam dengan wanita lain tanpa ada keterangan sah alias belum menikah.
Mereka pun duduk berdampingan sesekali berhadapan dan saling menatap. Ahdan menatap serius sementara Arna tidak.
"A-Aku tadi kan sudah bilang sama kamu, aku cinta kamu." Tutur Ahdan dalam keadaan pipi memerah karena malu.
__ADS_1
"Kamu bilang cinta karena terpaksa, kan? Sebagai alasan untuk menutupi rahasia kamu itu" Timpal Arna
"Bukan, itu hanya jebakan. Itu buat fitnah aku supaya hubungan aku dan kamu renggang." Terang Ahdan
Mendengarnya Arna masih belum percaya, ia merasa tak perlu banyak mendengar keterangan Ahdan, ia pun berdiri cepat dan berjalan baru dua langkah namun tetap saja ditarik oleh Ahdan sehingga membuatnya nyaris tersungkur nyaris terjatuh dengan cepat Ahdan menopangnya hingga wajah mereka berdekatan dengan saling bertatapan.
Jantung Arna seketika berdetak dan bulu kuduk merinding. Sementara Ahdan membungkuk menopang Arna yang hampir terjatuh menatap lentik mata Arna yang berbinar. Sepertinya benih-benih cinta mulai tumbuh bermekar dihatinya teruntuk wanita yang dinikahi paksa olehnya.
"Aku serius mencintaimu, Arna" ucap Ahdan lembut.
Jantung Arna semakin berdetak kencang. Segera ia berdiri tegak sehingga Ahdan melepas topangannya.
"Kalau kamu sudah makan, biar aku yang makan sendiri" Kata Arna sembari berjalan keluar.
Hari sudah petang, langit-langit yang tadi biru dengan sinar matahari mulai tampak warna jingga kemerahan. Arna mempersiapkan diri untuk kembali menjenguk mas Udin. Ia teringat pinta mas Udin kepadanya untuk mengajak Ahdan pergi bersama. Namun Arna seperti lupa cara memasang mimik manja dan cara membujuk si pria dingin itu.
Arna masih terpaku bingung di ujung tembok, tiba-tiba Ahdan mengimbangi posisi berdiri disampingnya mengenakan celana panjang tactical dan kaos hijau lengan panjang.
"Sudah siap?"' Tanya Ahdan
"Mau kemana?" Arna balik bertanya
"Mau ikut kamu"
"Tadi kamu telepon pacar kamu, apa kamu gak kesana aja?"
Lagi-lagi perasaan Ahdan menjadi jengkel dan berhadapan tepat di depan Arna.
"Tolong jangan tambah urusan, aku pusing aku capek ribut. Kalau aku mau ikut kamu berarti aku mau kamu." Ujar Ahdan menggerutu
"Yaudah. Aku mau ke rumah sakit jenguk mas Udin." Sahut Arna datar
"Ayo"
Mereka pun pergi bersama. Setelah membeli oleh-oleh khusus untuk pasien, Arna berjalan terdepan menuju ruang rawat tempat dimana mas Udin sudah dipindahkan sementara Ahdan mengikutinya dari belakang. Arna mengetuk pintu dan masuk, terlihat mas Udin tengah berbaring matanya menatap ke depannya ternyata menonton televisi bersama Paman Chow.
"Mas.." Sapa Arna menghampirinya
"Jeng, bojomu ngendi?" Tanya mas Udin
Ahdan pun masuk perlahan dan mendekati mereka.
"Halo mas" Sapa Ahdan
"Halo"
Arna meletakkan kantong plastik berisi roti, buah dan botol air mineral di atas meja lemari.
"Maaf mas. Kenapa bisa separah ini?" Tanya Ahdan berusaha hati-hati agar pertanyaannya tak menyinggung perasaan mas Udin
"Ah mas, kelihatannya memang parah tapi gak parah-parah amat. Cuman kaki luka terkilir, leher keseleo" Sahut Mas Udin dengan nada humornya
"Nek Rasane atimu, piye?" Timpal Paman Chow
"Ambyar" Jawab mas Udin
Arna dan Ahdan tertawa kecil mendengar guyonan mereka yang terbilang sangat menghibur.
"Dik, apa calon ponakanku sudah ada?" Tanya mas Udin membuat Arna terkejut malu sekejap menatap Ahdan berdiri disampingnya, begitupun dengan Ahdan.
Bibir Arna kaku dalam keadaan isi kepala kebingungan apa yang harus ia jawab, malah Ahdan yang berani buka suara.
"Masih proses" Jawab Ahdan jelas
Arna kaget memelototi matanya, tampak ia merasa malu kenapa Ahdan sudah semakin blak-blakan.
Tiba-tiba pintu terbuka ternyata iwan masuk membawa kantong plastik hitam yang mungkin berisi sesuatu. Seisi ruangan menoleh, Iwan berjalan pelan karena tak sadar kalau diruang sudah ada Arna bersama Ahdan. Perasaan Ahdan menjadi tidak enak dan jengkel dengan orang yang tidak disukainya itu ikut menjenguk mas Udin.
"Permisi. Mas, ini bubur ayam buatan bibiku" Kata Iwan kalem sambil membuka kantong plastik.
"Wah, terima kasih. Kesukaanku itu mah" Sahut mas Udin girang.
__ADS_1
Iwan meletakkan kotak bubur ke atas meja lemari yang sama seperti Arna meletakkan oleh-oleh yang dibawanya. Tak sengaja sikut Iwan menyenggol botol air mineral sehingga terjatuh, seluruh ruang terkejut segera Arna mengambilnya begitupun dengan Iwan sehingga mereka berjongkok bersamaan. Cemburu Ahdan pun semakin membara, ia semakin merasa jengkel.