Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Tes DNA


__ADS_3

Arna keluar dari gedung kantor berjalan cepat dengan derai air mata. Hatinya terasa lelah menuntun langkah kakinya akhirnya Arna duduk di kursi taman kota dengan wajah yang menggambarkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Tak lama tiba-tiba seorang pria berdiri di hadapannya yang tak lain adalah iwan, sekejap Arna memandangi datar lalu memalingkan kembali wajahnya.


"Saya minta maaf, kak" Ucap Iwan tenang


Arna pun meresponnya dengan berdiri cepat sambil menyeka air matanya yang sudah membasahi pipinya yang memerah.


"Iya, aku maafin kamu, Iwan. Tapi untuk kali ini aku minta kamu jangan pernah ketemu aku lagi" sahut Arna dengan guratan kekecewaan seraya berjalan pergi meninggalkan Iwan


Tiga hari kemudian, Arna tak lagi tinggal dirumahnya bersama Ahdan. Ia termenung di jendela ruko kamarnya, mengingat kenangan indah bersama Ahdan dan keluarga. Arna merasa kecewa pada dirinya andai saat itu ia menghindarkan diri walaupun Iwan berniat baik yakni menolongnya. Tapi hal yang ia benci cepat terjadi hingga kembali menutupi kepercayaan Ahdan. Tentang rencana mereka yang akan menghabiskan waktu berlibur di Swiss, akankah tetap dilakukan ataukah batal oleh keputusan Ahdan menceraikannya? Bisa di pastikan batal karena Ahdan sudah tersulut emosi bahkan menyimpan kebencian padanya.


"Arna.. Ada kurir pos" teriak mas Udin dari lantai bawah memanggil Arna


"Oke mas, tunggu sebentar" Sahut Arna dengan teriakan lalu keluar turun menujunya.


Arna menghampiri kurir yang menunggu di ambang pintu lalu menerima amplop dari pengirim. Arna duduk di kursi makan kafe sembari membuka isi amplop putih itu.


*SURAT PANGGILAN KE PENGADILAN AGAMA. Atas permintaan penggugat Ahdan Abdullah Bawazier*


Arna tercengang ketika membaca inti dari isi surat tersebut. Ternyata keputusan Ahdan benar-benar sampai di pengadilan agama untuk menyatakan gugatannya. Ia mengacak-acak surat tersebut hingga kusut lalu melemparnya di atas lantai dan mengusap wajahnya frustasi.


Mas Udin bingung dan mengambil acakan kertas tersebut lalu membacanya. Mas Udin memelototi matanya dengan cepat ia duduk berhadapan dengan Arna.


"Jeng, ini surat gugatan cerai dari Ahdan, suamimu. Sebenarnya ada masalah apa?" Tanya mas Udin


Sejenak Arna bungkam, ia pun menjelaskan detail kejadian beberapa pekan lalu sontak membuat mas Udin ikutan geram lalu memukul keras meja.


"Wah.. Bisa-bisanya Ahdan menelan mentah-mentah informasi sekedar foto yang tidak pasti nyatanya. Mas harus cari cara supaya gugatan itu dibatalkan" Tukas mas Udin geram. Arna hanya diam merasa tak ada lagi kata-kata yang harus ia keluarkan.


Sore hari Arna dan Ahdan sudah berada di pengadilan agama, setelah mediasi dilakukan giliran mereka duduk di kursi sidang gugatan. Sebelum palu di ketuk, tiba-tiba Abah datang diikuti umi dan mas Udin menghentikan sidang.


"Maaf pak hakim. Saya sebagai orang tua dari pihak laki-laki memohon untuk membatalkan gugatan anak saya terhadap menantu saya." Ujar Abah kepada hakim


Spontan Ahdan berdiri cepat begitupun dengan Arna.


"Abah, ada apa ini? Bukankah Abah sendiri menyerahkan keputusan ke aku maka apapun yang aku kehendaki aku akan lakukan. Tapi kenapa Abah datang meminta pembatalan keputusanku?" Tanya Ahsan


"Karena Arna tengah hamil anak kamu, Ahdan. Maka Abah turun tangan membatalkan keputusan kamu. Jangan kalian hancurkan masa depan anakmu dengan perceraian." Tegas Abah.


Arna yang berdiri mendengarnya merasa sedikit lega ternyata Abah masih menyimpan secercah kepercayaan pada dirinya. Sejenak Ahdan mengusap wajahnya,


"Aku mau tes DNA" titah Ahdan membuat mereka kecewa termasuk umi


"Ahdan, apa lagi sih kamu" Timpal umi


"Aku mau tes DNA, umi. Untuk memastikan apa benar itu anak aku." Sahut Ahdan sopan meski dengan guratan emosi. Rupanya Ahdan telah menutupi kepercayaannya dengan rasa curiga.


"Baik. Kita coba" ucap Arna percaya diri karena yakin ia mengandung darah daging Ahdan.

__ADS_1


Umi berdeham,


"Umi akan minta dokter kepercayaan umi untuk melakukan tes DNA. Tolong panggil laki-laki yang terlibat itu." Ujar umi


Mereka mengangguk setuju.


"Maaf pak hakim. Kami meminta sidang di tunda." Kata Ahdan kepada tiga hakim yang duduk di kursi sidang lalu berdiri.


"Baik, jika masalah sudah menemui titik terangnya. Kami meminta penggugat dan yang tergugat kembali datang ke sini untuk melakukan sidang lanjutan." Sahut hakim yang berada ditengah.


Mereka pun tiba di rumah sakit, beberapa menit menunggu kedatangan mas Udin yang memanggil Iwan akhirnya mereka pun tiba di ruang tunggu laboratorium. Iwan berdiri kaku dan menundukkan kepalanya.


Pertama kali yang dilakukan tes DNA adalah Arna. Dokter mencari sel darah putih Arna dengan kehati-hatian lalu memasukkannya ke dalam botol kecil. Setelah Arna keluar, pihak laboratorium pun memanggil Ahdan untuk melakukan gilirannya kemudian giliran Iwan.


Mereka pun kembali di ruang tunggu diikuti oleh dokter dan pihak laboratorium.


"Kami sudah mengambil tetesan darah putih. Kami meminta ketiga belah pihak menunggu mungkin sampai besok atau lusa sehingga kami selesai melakukan penelitian dan banding kemudian kami akan ajukan keterangan hasilnya. Kami permisi dulu" pungkas dokter direspon dengan ucapan terima kasih umi.


Usai dokter berlalu, Ahdan pun berjalan keluar tanpa melirik Arna. Mereka juga keluar setelah Ahdan lenyap dari pandangan. Kecuali Iwan, ia berdiri canggung diruang tunggu laboratorium merasa menyesal telah terlibat merenggangkan hubungan rumah tangga Arna dan Ahdan.


Lusa hari umi mendapat panggilan telepon dari dokter untuk mengumpulkan kembali ketiga pihak yang dilakukan tes DNA ke rumah sakit.


Akhirnya mereka diruang rumah sakit khususnya ruang tunggu laboratorium, semua hadir tak terkecuali mas Udin pun turut serta untuk mendampingi Arna.


Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang sambil membawa kertas keterangan. Mereka berdiri menunggu dengan kesiapan.


Menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca tak terima pernyataan dokter, ia mendekati dokter dengan rasa percaya diri.


"Dokter pasti salah. Saya mohon dok tolong teliti dengan akurat" pinta Arna gemetar


"Maaf, kami telah meneliti dan hasilnya pun akurat." Sahut dokter tenang.


"Tidak mungkin" gumam Arna frustasi


"Arna." Panggil Ahdan setengah teriak padahal jarak dirinya dan Arna tak begitu jauh.


"Dokter sudah menerangkan bahwa kamu mengandung anak Iwan, bukan anak aku. Apa lagi yang mau kamu bantah? Pembuktian apa lagi yang mau kamu lakukan untuk meyakini aku dengan kebohongan kamu?" Desis Ahdan dengan lancangnya


Abah dan umi memalingkan wajah merasa malu telah percaya dengan Arna, mereka diselimuti rasa kecewa sementara umi nyaris meneteskan air mata.


"Itu tidak mungkin, mas. Aku berani bersumpah bahwa aku mengandung anak kamu" bantah Arna tegas dengan bibir bergetar


"Dokter sudah beri keterangan jelas bahwa aku bukan ayah biologis. Tidak usah mengelak kamu dengan sumpah palsu. Aku mau kita kembali hadir di pengadilan." Bantah Ahdan tak kalah tegas kemudian memalingkan wajahnya dan berjalan meninggalkan ruangan diikuti oleh abah dan umi.


Arna berlari keluar begitupun dengan mas Udin. Iwan hanya diam lalu berjalan tenang keluar dari rumah sakit.


Arna merasa tertekan hebat, ia depresi dengan apa yang telah dialaminya barusan. Membuatnya malu, rela kehilangan kepercayaan sekaligus kasih sayang dari mertuanya. Benar-benar kejadian yang menguras air mata dan membuat depresi tak terkontrol.

__ADS_1


Arna melempar bingkai foto dirinya dan Ahdan ke atas lantai hingga pecah, frustasi dan merasa hidup tak ada lagi arah tujuan. Dengan terisak-isak Arna meraih pisau digunakan untuk mengiris buah yang terletak di atas meja. Ia mencoba bunuh diri tiba-tiba mas Udin masuk berlari menujunya, untung saja percobaan bunuh diri digagalkan oleh mas Udin.


"Mau apa kamu, Arna" ketus mas Udin mendekap erat Arna dan memegang kuat kedua tangan Arna yang tengah menggenggam pisau.


"Aku mau mati bersama anak ini, mas. Aku benci semua ini" jerit Arna terisak.


"Kamu mau bunuh anak yang tidak berdosa itu, ha?" Mas Udin mulai marah padanya dengan nada keras


Seketika Arna menjatuhkan pisau ke lantai, pasrah dan menyesal dengan percobaannya. Mas Udin membalikkan tubuh Arna ke hadapannya.


"Kamu jangan lakukan itu. Bunuh diri bukan solusi apalagi kamu mengandung anak." Ujar mas Udin berusaha menenangkan Arna


"Tapi mas, aku yakin ini anak Ahdan bukan anak Iwan. Aku malu aku depresi harus rela kehilangan kepercayaan Ahdan bahkan mertua aku. Aku belum siap menanggung malu." Isak Arna dibalas dengan pelukan tulus mas Udin


"Biar orang lain yang tidak percaya kamu, dik. Apapun itu mas percaya kamu mas sayang kamu. Jangan cepat-cepat termakan situasi, jangan putus asa sampai kebenaran membela kamu. Bersabarlah" Tutur mas Udin sembari melepas pelukannya dan menatap lamat mata Arna yang masih basah oleh tangisannya.


Arna keluar berencana menemui Iwan untuk menanyakan hal sebenarnya mengapa ia dinyatakan mengandung anak Iwan. Di pinggir jalan raya yang sepi pengendara, didapatinya Iwan tengah mendorong Vespanya. Dengan cepat Arna menghampiri dan menghentikan langkah Iwan.


"Iwan. Aku mau bicara sama kamu."


"Tolong jujur apa yang kamu lakukan terhadap aku sampai dinyatakan aku hamil anak kamu.?" Tanya Arna dengan nada emosi


Bibir Iwan terasa kaku dan ia hanya menunduk lesu


"Jangan cuma diam, Iwan. Ayo jawab aku apa yang kamu lakukan.?" Pertanyaan Arna membuat emosinya semakin membara.


"Se-sebenarnya.." suara Iwan tertekan karena mendengar suara mobil sedan melaju menuju mereka.


Dengan cepat Iwan mendorong Arna menjauh dari jalan raya, belum sempat Iwan menghindar, mobil yang melaju dengan cepat itu menabrak keras Iwan hingga membuatnya terpental. Sementara mobil itu justru pergi tak satupun menampakkan rasa iba untuk menolong.


Arna panik melihat Iwan terkapar di aspal. Arna mendekatinya sudah didapatinya Iwan mengeluarkan darah segar dari celah kepalanya dan gumpalan darah keluar dari mulutnya.


"Iwan, bertahanlah" Arna menangis diaspal meminta tolong siapapun yang lewat. Tak lama kemudian mobil berhenti tepat dihadapan mereka menolong Iwan dan membawanya ke rumah sakit.


Di rumah sakit Arna menunggu diluar ruang UGD dimana iwan sedang ditangani pihak medis. Mas Udin datang dengan ekspresi cemas


"Dik, bagaimana keadaan Iwan?"


"Kita tunggu keterangan dokter. Semoga baik-baik saja" sahut Arna


Satu jam 30 menit penanganan, para perawat keluar dengan mendorong ranjang yang membawa Iwan menuju ke suatu tempat. Diikuti dokter yang keluar paling belakang.


"Dok, pasien mau di bawa kemana?" Tanya Arna


"Akan dipindahkan ke ruang ICU" jawab dokter kemudian berlalu.


Sepertinya kondisi Iwan cukup parah, terlihat ia terbaring diruang ICU dengan dipasangi alat-alat medis termasuk ring jantung. Perasaan Arna antara kecewa, benci dan iba kali ini berakhir penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2