Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Baj*ngan


__ADS_3

"Hiks....hiks... hiks....aku kalah," ucap Sandra menangis di dalam mobil.


"Nih, hapus air matamu," Brian menyodorkan sapu tangannya. Sandra mengambilnya dan mengusapkannya ke pipi dan hidungnya.


"Berhentilah menangis, untuk apa lagi kau menangisi keluarga dan kekasihmu yang brengsek itu."


"Hiks...hiks...tapi aku beneran sedih."


"Aku tau, tapi mulai saat ini, tanamkan dalam dirimu jika kau juga berhak bahagia, dan mereka harus membayar setiap tetes air mata yang telah jatuh di pipimu."


"Aku...aku..."


Brian menarik Sandra ke dalam pelukannya, "Aku tau perasaan mereka, menangislah sepuas mu." ucapnya lembut.


Sandra tak menolak, memang saat ini yang dia butuhkan adalah sandaran. Seseorang yang mau mendengar semua keluh kesah nya dan memberikan bahunya. Beberapa saat mereka masih dalam posisi yang sama, dan tanpa sadar Sandra memeluk erat Brian.


"Hiks...hiks....mereka jahat...mereka jahat, apa salahku? hiks......Hiks....


Beberapa kali Brian juga mengusap lembut kepala dan rambutnya.


Gadis itu merasa hangat dan nyaman. Pelukan Brian yang lembut, sikapnya yang perhatian telah memberikan energi positif sehingga dia merasa sangat tenang.


Sandra yang menangis tanpa sadar mengusapkan ingusnya ke kemeja yang saat ini Brian pakai.


"Makasih." ucapnya


"Is...kenapa kau jorok sekali." omel Brian kesal karena kemejanya menjadi kotor.


"Kau memarahiku?" ucap Sandra dengan wajah sedih


"Bu...bukan seperti itu, aku hanya..."


"Kau jahat, aku kan tidak sengaja, kenapa kau marah, hiks....hiks...."


"Ish....sudah lah diam, ya sudah kali ini aku maafkan" sahut Brian.


Brian lalu melajukan mobilnya kembali dan mereka pun pulang.


Mobil Brian telah parkir di basemen apartemen Sandra.

__ADS_1


"Kamu bisa sendiri kan?"


"Iya, makasih untuk hari ini."


"Jangan terlalu cepat mengatakan terima kasih, karena bisa jadi kau akan menyesal nanti setelah mengucapkan nya."


"Maksud nya?"


"Ingat dengan perjanjian kita, besok aku jemput untuk membeli gaun pengantin dan semua keperluan pernikahan."


"Tidak, aku tidak minta apapun, aku serahkan semuanya padamu."


"Tidak bisa, ini pernikahan kita berdua, jadi kau juga harus andil dan dalamnya,"


"Tapi aku sibuk."


"Sibuk? bukankah perusahaan mu juga sudah di ambil alih oleh ayahmu?"


"Tidak sepenuhnya, dan aku akan merebutnya kembali."


"Kau ikuti saja perintahku, besok kita membeli perlengkapan pernikahan, dan setelah itu kita ke rumah nenek."


"Terserah padamu." sahut Sandra yang sudah capek dan malas berdebat.


"Iya aku tau."


"Bagus, sekarang turun."


"Huh! dasar menyebabkan."


Setelah nya Brian kembali melajukan mobilnya dan pulang. Sandra masuk ke dalam gedung.


Di lampu merah, Brian berhenti dan kaget mendapati ponsel Sandra yang masih tergeletak di dalam mobilnya.


"Dasar ceroboh," ucapnya


Kemudian pria itu memutar balik arah, dan kembali ke gedung itu, untuk mengembalikan ponsel Sandra.


Sementara di dalam gedung, Sandra berjalan menuju kamarnya. Tangannya meraih kunci dan membuka pintu, alangkah terkejutnya dia karena pintunya tidak terkunci.

__ADS_1


Sandra masuk dan menutup pintu,


"Akhirnya kau pulang juga sayang,"


Suara itu mengangetkan dirinya, suara yang sangat dia kenal, suara pria brengsek yang paling dia benci.


"Kau...bagaimana kau bisa disini?" tanya Sandra tergagap


"Itu hal yang mudah sayang," ucap Daren melangkah maju.


"Pergi kau dari sini."


Daren terkekeh, "Aku akan pergi tapi setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan."


Daren terus melangkah maju, Sandra berlari ke pintu, namun kalah cepat karena Daren sudah berada di sana dan menguncinya.


"Pergi, apa yang kau mau... pergi!" jerit Sandra mulai panik


"Tenanglah sayang, aku akan membuatmu bahagia. Aku akan memberikan kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan, seperti yang kau lihat saat aku bersama Dinda."


"Bajingan, brengsek aku tidak Sudi, kau lelaki paling brengsek yang pernah aku temui."


"Ayolah tidak usah jual mahal, bukankah kau juga melakukannya itu dengannya?"


Ucap Daren yang melangkah maju dan akhirnya mampu menarik tangan Sandra dan kini memeluknya paksa.


"Lepas, aku tidak Sudi, kau bajingan..."


Daren berusaha memeluk Sandra dan menciumnya, namun gadis itu terus berontak hingga dia menamparnya


Plaaaak.... Sandra terjatuh ke bawah.


Dengan cepat dan penuh emosi, Daren menyeret Sandra ke kamar.


Sandra masih berusaha melepaskanmu diri, dia melawan dengan menendang dan berlari menuju pintu, tangannya cepat berusaha meraih gagang pintu.


Baru saja dia menempelkan tangannya, dari sudah berhasil menariknya dan memaksa untuk memeluk serta menciumnya.


Disaat yang sama Brian sampai dan mendorong pintunya.

__ADS_1


Braaak.....


Bersambung


__ADS_2