Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Penasaran


__ADS_3

Brugh ...


"Ada apa Pak" ucap seorang pria yang berada di belakang pak sopir, di sebuah taksi.


"Se..sepertinya kita menabrak seseorang Mas. Bagaimana ini?" ucapnya gemetaran


"Hah, menabrak orang," sahut Brian, pria itu berjingkat dan bergerak turun, " turun, dan lihat pak,"


"Tapi mas!"


"Nanti saya bantu, Pak."


Pria itu turun dengan cepat, bergerak keluar dan melihat ke depan, apa yang sesungguhnya terjadi dan bagaimana keadaan korban.


Mau tak mau sopir taksi itu juga bergerak turun mengikuti langkahnya.


"Bantu, pak. Buka pintunya," kembali dia berteriak


Dengan gesit, pria itu mengangkat korban yang sudah tergeletak pingsan, dan masuk ke dalam mobil, tanpa dia pikirkan jika bajunya saat ini terkena darah yang mengalir di kaki korban.


"I.. iya mas," Sopir taksi dengan gerak cepat membuka pintu dan membiarkan Brian masuk lalu dia segera mengemudikan mobilnya cepat menuju rumah sakit terdekat.


"Gi..gimana kondisinya mas?" tanya sang supir takut-takut. Bagaimana dia tidak takut seandainya korban tersebut meninggal akan berabe dan panjang urusannya.


"Entahlah yang pasti dia masih hidup,"


"Kenapa nggak kita tinggal aja tadi mas, kalau gini kan jadinya ribet nanti urusannya," ucap sopir taksi dengan wajah frustasi.


'Jangankan untuk membayar biaya rumah sakit, untuk setoran dan biaya makan istri dan anakku di rumah saja aku belum mendapatkan uang', batinnya.


"Bapak nggak usah khawatir, aku yang akan membayar biaya rumah sakitnya, bapak tenang saja."


"Mas yakin!"


"Buruan Pak." interupsi Brian yang kesal sang sopir dengan supir taksi yang ketakutan.


****


Akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit, para perawat langsung membantu menangani pasien, dan memberikan pertolongan pertama.


"Gimana mas, saya boleh pergi?" tanya sopir takut-takut.


"Eh iya pak, tunggu sebentar." ucap Brian dia membuka dompetnya dan mengambil sejumlah uang kemudian memberikannya kepada sopir taksi tersebut, "Terima kasih Pak," ucapnya


"Nggak salah mas? ini kebanyakan,"


Brian tersenyum, "nggak Pak, itu rezeki untuk bapak, terima saja dan terima kasih sudah mau membantu saya membawa korban ke sini," ucapnya dengan tulus.


Qajah supir taksi itu berkaca-kaca, tadinya dia berpikir Brian akan memaksanya untuk membayar biaya rumah sakit tersebut.


Tapi justru pria itu memberikannya uang dalam jumlah yang banyak bahkan pria itu bertanggung jawab untuk membiayai pasien yang saat ini berada di dalam.


"Terimakasih mas, semoga Allah membalas segala kebaikan mas,"


"Amin, terima kasih pak."

__ADS_1


Pria setengah baya itu berbalik dan segera pergi dari sana, wajahnya sumringah, hatinya sangat bahagia, "Mimpi apa aku semalam mendapatkan rejeki nomplok seperti ini," ucapnya dan menciumi uang yang di berikan oleh Brian. Kemudian dia memasukkan nya ke dalam kantong, pria itu akan segera pulang ke rumahnya mengingat hari sudah sangat malam. Dan dia yakin istri anaknya pasti sudah gelisah menunggunya di rumah.


Sandra yang sudah di tangani segera di bawa keruang perawatan, untungnya tak ada luka berat, seperti patah tulang atau yang lainnya, gadis itu hanya terkejut dan terjatuh.


Brian memasuki ruang perawatan setelah tadi menemui dokter, dia belum menanyakan identitas gadis itu. Dokter hanya mengatakan jika kondisi fisiknya baik-baik saja. Namun tidak dengan kondisi psikis nya, gadis itu sempatkan histeris karena dirinya masih hidup.


Suara pintu terbuka, menarik perhatian Sandra untuk melihat ke arah pintu.


Gadis itu berdecak kesal melihat pria yang telah menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit itu, namun dia belum menyadari jika pria itu Brian.


'Mengapa pria itu tidak menabraknya saja dan membiarkannya mati mengapa harus menyelamatkannya sehingga dia masih hidup dan menyaksikan orang-orang menyakiti dirinya.'


"Bagaimana keadaan mu?"


"Mengapa kau menyelamatkan ku?" ucap gadis itu menoleh dan melihat pria yang kini sedang berdiri di sebelahnya, pria yang telah menyelamatkan kan dirinya dari maut.


Seketika mata gadis itu membola melihat siapa yang berdiri di depannya itu, samar namun dia masih bisa mengenali pria itu, pria yang sempat menarik perhatian nya.


Brian tak kalah kaget, walau kondisinya yang sedang sakit, dan wajahnya yang pucat, namun Brian bisa mengenali gadis angkuh dan terlalu percayalah diri itu, gadis yang memarahinya di bandara yang saat ini terbaring di ranjang rumah sakit dan sebuah fakta bahwa dia lah yang telah menyematkan nya.


Brian terkekeh, "Dunia memang sangat sempit, tapi aku penasaran mengapa gadis angkuh dan sombong sepertimu, mau bunuh diri? apa kau terlalu frustasi karena kecantikan mu, nona?" ejeknya.


"Mengapa kau menolongku? mengapa tak kau biarkan saja aku mati!" ucap Sandra tanpa menoleh, Gadis itu tidak ingin Brian melihat air matanya yang menetes.


"Wow, mengejutkan gadis cantik, supermodel mau bunuh diri? hahahaha...akan jadi berita besar nantinya," ejek Brian lagi.


"Terserah kau mau mentertawakan ku, sekarang pergi dari sini." usir Sandra.


sejenak Gadis itu menoleh dengan tatapan sengit lalu kembali membuang mukanya ke arah lain.


"Baik, aku akan pergi, tapi ingat jangan melakukan hal bodoh yang akan merugikan dirimu sendiri, aku tidak tahu permasalahan apa yang kau hadapi. Tapi caramu menyelesaikan masalah sungguh menunjukkan bahwa kau sebenarnya adalah yang sangat bodoh. " Brian berdiri dan berbalik,


Langkah Brian terhenti, "Jangan katakan pada siapapun jika aku ada disini, termasuk keluargaku."


Pria itu terkejut, dahinya berkerut dengan mata memicing, 'Ada apa sebenarnya, aku jadi penasaran, apa yang menimpa hadis ini,' batinnya.


"Tidak akan, aku tak punya waktu untuk itu," setelah bicara Brian melangkah keluar, di dalam kamar Sandra hanya menangis tersedu.


Brian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, "Aku mau informasi tentang seorang CEO muda bernama Sandra, dan aku mau semua informasi itu besok pagi,"


"Baik pak." jawab seseorang di seberang.


Setelah memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku, Brian tersemyum.


"Sangat menarik," gumannya pelan. Kemudian pria itu menuju kantin, perutnya meronta untuk segera diisi.


**


Waktu berlalu dengan begitu cepat dan tanpa terasa pagi pun menjelang.


Ririn setengah berlari di koridor rumah sakit mencari kamar Sandra, terlihat jelas kekhawatiran dan kepanikan di wajahnya.


Dia baru saja mendapat berita bahwa Sandra mengalami kecelakaan itupun dari berita di sebuah surat kabar yang menyatakan jika Sandra di rumah sakit, lengkap dengan fotonya yang digendong oleh seorang pria namun sayangnya wajah pria itu tidak terlihat karena posisinya ada di belakang.


"Bagaimana kabar nona?" tanya Ririn begitu dia memasuki ruangan Sandra.

__ADS_1


Selain asisten Ririn juga sahabat Sandra, Karena hanya kepada Ririn lah Sandra mau membagi segala keluh kesahnya, dan dia sudah menganggap Sandra seperti sahabatnya sendiri dan keluarganya sendiri.


"Apa ada luka yang serius? kenapa kau tak menelpon ku?" Ririn memberondong Sandra dengan berbagai macam pertanyaan.


Sandra menoleh namun dia kembali menatap lurus ke depan tak berniat menjawab pertanyaan Ririn.


Padahal gadis di sampingnya itu sudah setengah mati khawatir dan panik, dia bahkan membuka selimut yang menutupi tubuh Sandra dan memeriksa satu persatu bagian tubuh nya, apakah ada yang patah atau terluka.


"Apaan sih Rin!" kesal Sandra


"Gue itu khawatir tau!" ucap Ririn dengan keras. "Alhamdulillah sepertinya kamu baik-baik saja aku jadi merasa lega," gadis itu menarik kursi yang ada di sampingnya dan duduk. Kini dia duduk tepat di samping bos sekaligus teman dekatnya ini.


"Lo kenapa?" kali ini Ririn bicara dengan nada lembut, Sandra tidak menjawab apalagi menoleh,


"San, aku ini teman mu lho, kamu kenapa? cerita sana aku," bujuk gadis manis berambut blonde itu


kemudian dia bangun di bantu oleh Ririn.


Ririn merapikan bantal di belakangnya agar si bos cantik bisa duduk dengan nyaman.


"Gue mau mati aja." ucap Sandra tiba-tiba, dengan mata berkaca-kaca, suaranya terdengar lirih dan sedih. Sangat sedih, hingga siapa yang melihat pasti akan merasa iba.


"Hah!!!" kedua mata Ririn terbelalak hampir keluar dari tempatnya.


"kamu nggak sedang bercanda kan San?" tanya Ririn meyakinkan dirinya atas apa yang baru saja dia dengar.


Gelengan lemah Sandra membuat sang sahabat semakin melongo tak percaya.


Wajah Sandra berubah semakin mendung, dan tanpa di komando cairan bening turun dan tak terbendung, dia menangis namun belum juga mau bersuara.


"Daren mengkhianati ku Rin," ucap Sandra setelah terdiam beberapa saat.


"Cih, sudah kuduga." sahut Ririn tak percaya


"Apa maksudmu?" tanya Amira terkejut, hal apa yang telah dia


"Entahlah, tapi sejak awal aku memang sudah tidak suka dengan hubungan kalian."


Sandra kembali menatap kosong, tak lagi tertarik dengan obrolannya dengan Ririn. Dan juga tak berniat tahu apa alasan sahabatnya itu tidak menyukai kekasihnya.


Hatinya kembali terasa sakit, jantungnya berdetak kencang, bukan karena sedang jatuh cinta, akan tetapi kembali mengingat perselingkuhan antara Dinda dengan kekasihnya, ditambah lagi dengan ucapan Husna, ibu nya.


Kalimat demi kalimat yang dia dengar kemarin kembali berputar, refleks tubuh gadis itu ketakutan dan menggigil.


"Kenapa nasibku begini Rin?"


"Maksudnya?" tanya Ririn sambil berkacak pinggang yang masih belum paham apa yang Sandra ucapkan.


"Kenapa mereka jahat, hiks...hiks.... " gadis itu kembali teringat akan percakapan ibunya dengan saudari iparnya di toilet umum tadi.


"Jadi kamu mau bunuh diri karena ngerasa di khianati,?" pelan Sandra mengangguk.


"Terus kamu maunya gimana? nurut dan patuh ma mereka? membiarkan mereka menjadi-jadi, dan menikmati seluruh harta kekayaan mu?"


Ririen menatap tak percaya pada Sahabatnya itu. Dia baru saja menyadari jika Sandra saat ingin sedang stres.

__ADS_1


"Awalnya aku ingin kembali ke rumah, aku ingin-" Sandra menggantung kalimatnya tak berniat melanjutkan nya, rasa itu datang kembalikan, rasa sesak dan sakit yang Luarbiasa, yang membuatnya tak mampu membuka mulutnya.


Hiks....hiks....hiks....hanya tangisannya saja yang terdengar begitu memilukan, Ririn maju dan memeluk sahabatnya


__ADS_2