Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Ketemu nenek


__ADS_3

Sandra terpaksa ikut dengan Brian, dan duduk manis di kursi sebelah nya.


Sandra akhirnya setuju dengan tawaran Brian karena pria sedikit memaksa, dan di dalam hatinya Sandra juga membenarkan ucapan pria itu,


bahwa dia harus membalas semua kejahatan ibu tirinya,


Dan saat ini hanya Brian yang bisa membantunya, setidaknya dialah yang mau mengulurkan tangan untuk membantu. dan


Sandra coba mempercayainya, daripada dia terpuruk sendirian.


"Brian," panggilnya,


Keduanya sudah cukup lama terdiam, dan Sandra coba mengurai kesunyian itu.


"Hmm..." jawab pria yang kini mengemudikan mobilnya. Sedangkan motor Brian masih dia tinggal di kafe, dan dia juga sudah menghubungi Riki, menyuruhnya untuk mengambilnya disana.


"Brian," Panggilnya lagi


Gadis itu merasa canggung dan bingung apa yang harus dia katakan kepada nenek nanti jika nenek menanyakan hubungannya dengan Brian.


"Mas, panggil aku Mas, jangan Brian."


Sandra memutar bola matanya malas, "nggak mau" jawabnya ketus


"Kenapa? bukankah itu kedengarannya mesra,"


"Aku geli, jangankan menyebutkan nya, membayangkannya aja aku udah geli."


"Tidak, kamu harus panggil aku mas,"


"Nggak mau, apa sih salahnya panggil nama?"


"Salah, dan aku tidak suka."


"Terserah,"


"Bagus, karena aku tidak suka di bantah." sahutnya


***


Mobil berbelok menuju pelataran rumah sakit, dan Brian segera memarkirnya,


"Turun" ucapnya ketus


"Iya, ini juga mau turun" sahut Sandra merapikan pakaiannya, dia yang selalu tampil sempurna, harus memastikan dulu penampilan nya sebelum melakukan sesuatu.


"Cepat, satu lagi di depan nenek buka kacamata mu, nenek suka gadis yang sederhana." Ucap Brian yabh langsung berjalan meninggalkan Sandra di belakang


"Cerewet," jawab Sandra mengekori dari belakang.

__ADS_1


Lift membawa mereka menuju lantai atas, dimana sang nenek dirawat. Sebuah ruang VVIP.


Brian tanpa bicara meraih tangan Sandra dan menggandeng nya masuk ke dalam.


Sandra bisa melihat, seorang wanita tua yang tengah terbaring lemah di ranjang, dengan banyak alat bantu.


"Nenek," panggil Brian dengan senyum merekah, berbeda dengan saat bersama dengan Sandra.


"Nek," panggilnya dengan suara lembut, Dia mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya.


"Rian..." panggil nenek pelan.


"Iya, ini aku nek." sahutnya lagi dengan nada lembut. Tangannya mengusap lembut tangan wanita tua itu, dan menciumnya.


"Nek, lihatlah aku bawa apa yang nenek inginkan, aku bawa calon istriku nek,"


Nenek membuka matanya, dia menoleh, bibirnya sedikit tersenyum.


"Halo nek," ucap Sandra tersenyum


"Cantik," jawab nenek pelan.


Sandra mengulurkan tangannya dan mengusap lembut tangan wanita tua itu, nenek pun tersenyum.


"Siapa namamu nak?" tanya nenek


"Sandra nek,"


"Iya nek," sahut Sandra menunduk. nenek beranggapan jika saat ini Lala sedang malu.


"Brian bantu aku bangun," ucap nenek.


Brian pun membantu nenek untuk duduk.


"Sini nak,"


Sandra mendekat dan duduk disamping nenek sambil memegang tangannya, lagi nenek tersenyum padanya.


"Sejak kapan kamu kenal anak nakal ini?" tanyanya pada Sandra


"Belum lama nek," sahutnya malu-malu.


"Apa yang membuatmu mau menikah dengannya?"


"Ya tentu saja karena kita saling mencinta nek," sahut Brian


"Aku tidak bertanya padamu," ucap nenek pada Brian sambil melotot.


"Apa yang kau suka darinya?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Gleg....


Sandra menelan saliva nya kasar, gadis itu bingung memilih alasan.


'Mampus aku harus jawab apa?'


"Karena aku tampan nek," sahut Brian karena sang kekasih tak kunjung menjawab. Dia tahu Lala kebingungan mencari alasan yang tepat.


"Apa kau tahu siapa Brian sebenarnya?"


"Aku tau nek, dan aku bisa menerima semuanya, aku nggak tahu kenapa aku suka padanya yang aku tau aku nyaman berada di sampingnya." sahut Sandra


Nenek tersenyum, "Kau gadis yang baik, dan cantik. Nenek merestui pernikahan kalian."


"Makasih Nek," ucap Sandra tersenyum lebar.


"Aku akan segera melamar mu nak, karena Brian tidak lagi memiliki ibu."


"Tidak Nek, aku akan melamar Sandra sekarang di depan nenek."


Brian merogoh saku celananya dan mengeluarkan kotak berwarna merah, dan membukanya.


Kemudian dia berjongkok di depan Sandra.


"Sandra, di hadapan nenek aku meminta mu menjadi istriku, apakah kamu bersedia?" tanya Brian tiba-tiba.


Sandra terdiam dia bengong dan bingung. Dalam satu hari ini ada banyak sekali kejutan di dalam hidupnya.


Setelah kehilangan kekasih dan rumahnya kini dia bertemu pria aneh yang secara tiba-tiba melamar, dengan cara tak romantis pula.


"Sayang..." panggilan Brian mengalihkan perhatian nya.


Anggukan kecil sebagai tanda dia menerima lamaran itu.


"Nenek sangat bahagia," ucapnya dan mengusap lembut rambut cucunya.


Hati Sandra sangat tersentuh dengan perhatian nenek kepada Brian. Kasih sayang yang begitu nyata bisa dia lihat. Tatapan mata penuh cinta yang tak pernah dia lihat lagi setelah kepergian ibunya.


Satu jam kemudian mereka berpamitan pulang.


"Bagus," ucap Brian di dalam lift


"Apanya?"


"Akting kamu?" ejek Brian


"Hah!"


"Aku akan mengantarkan mu pulang, karena aku akan melamar mu kepada ayahmu."

__ADS_1


"Tidak perlu,"


"Kita akan kesana sekarang, kau masih punya orangtua dan aku tidak mau disebut pengecut."


__ADS_2