
Sandra berjalan menyeret kopernya, dan memasukkan nya ke dalam mobil, lalu dia berangkat menuju apartemennya.
Sepanjang jalan dia terus saja menangisi hidupnya yang berantakan.
Gadis itu tak lagi dapat membendung airmatanya yang jatuh deras, hatinya sangat sakit dengan apa yang telah papanya lakukan.
Papanya, satu-satunya orang yang dia miliki tidak mempercayai nya dan malah membela anak tiri dan istrinya.
Dan Daren satu-satunya pria yang dia percaya, pria yang akan menjadi sandaran hidupnya juga telah mengkhianatinya.
Sekuat apapun gadis itu coba bertahan, dia tetap seorang wanita yang akan lemah dan menangis jika di sakiti.
***
Pagi ini Brian berencana untuk masuk kantor, dia sudah menggunakan pakaian rapi lengkap dengan jas
Pria itu terlihat sangat berbeda saat dia bertemu dengan Sandra kemaren,
"Pagi bos," sapa bibik tersenyum melihat Brian yang jarang berpakaian resmi.
"Bibik," ucap Brian merasa malu di goda olehnya.
"Ini den kopinya, Oh iya den Brian ganteng banget kalau seperti itu."
"Masa sih Bik,"
"Iya,"
Setelah sarapan dia berangkat ke kantor dan memulai aktivitas nya seperti biasa.
Hingga saat jam makan siang, dia pun memanggil sekretaris nya,
"Ya Pak, anda memanggil saya."
"Siapkan baju ganti ku, aku ingin bertemu dengan seseorang dan aku ingin berpenampilan biasa saja." sahutnya
"Hah, enggak salah dengar? emangnya bos mau kemana?" tanya pria yang sangat akrab dengannya itu. Riki bukan hanya sekretaris tapi sudah seperti sahabatnya.
"Berisik, siapin aja." sahutnya cepat
"Mau ketemu cewek nih, nada-nada nya. Atau jangan-jangan mau ketemu cewek jutek kemaren ya?"
"Tuh tau," jawab Brian santai.
"Bos suka sama tuh cewek?" tanya Riki lagi, karena dia memang sedikit kepo.
Brian mengangkat tangannya, dan mengambil pakaian ganti yang diambil oleh Brian di lemari yang ada di ruangan nya itu. Dan segera menggantinya di kamar.
"Sudah, ayo."
"Baik bos,"
"Kamu sudah siapain motornya?"
Lagi Riki terkejut, "Bos mau naik motor?"
"Iya, nanti kamu bawa aja mobilnya dan langsung ke rumah sakit setalah jam kantor."
"Siap,"
Jiwa kepo Riki meronta, dia begitu penasaran dengan Brian, tak biasanya Brian seperti ini.
"Bos," panggil Riki yang yang sedang berjalan keluar dari ruangannya.
Brian Tak menanggapi hanya terus berjalan sehingga Ricky juga harus sedikit berlari untuk mengerjakannya.
"Bos kenapa harus menyamar?"
"Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi gadis sombong itu, karena aku akan menawarkan sebuah bisnis dengannya."
"Bisnis? bos mau bekerja sama dengan perusahaan nya?"
"Iya, dan aku tidak mau dia tau identitas ku yang sebenarnya."
"Kenapa?" tanya Riki semakin penasaran.
"Kepo!!!" jawab Brian tersenyum lebar, membuat Riki keki dan terdiam.
__ADS_1
Brian tahu Riki pasti kesal, tapi dia tidak mungkin mengatakan alasannya.
"Jaga kantor baik-baik,"
Setelah bicara Brian melenggang masuk ke dalam lift, meninggalkan Riki yang masih manyun dan kesal. Bukannya mendapatkan jawaban, dia justru di buat semakin kepo.
Brian mengambil kunci motor dan pergi meninggalkan Riki yang masih kepo dengan kegiatan bosnya belakangan ini.
Brian sudah berada di parkiran, dan dia segera menaiki motor Danu yang tadi di pinjamkan oleh Riki.
Dengan santai pria itu melajukan motornya keluar untuk menemui Sandra.
Di dalam apartemennya, Sandra juga tengah bersiap untuk menemui pria menyebalkan yang sudah menolongnya.
Dan pria itu semakin menyebalkan saat dia dengan jelas menyebut itu hutang budi, dan gadis itu sangat tidak suka mendengar nya.
Dia akan berikan apapun asal hutang budi dianggap lunas,
Dengan mobil kesayangan nya Sandra pergi menuju kafe dimana mereka berjanji untuk bertemu.
Tiga puluh menit Sandra sudah sampai, dan dia segera memarkirkan mobilnya, lalu turun dengan gaya elegan masuk ke dalam kafe.
Gadis itu memilih tempat duduk yang letaknya di sudut, dia membuka kaca mata nya dan mengatakan jika ada yang mencarinya, dia aada disana, tak lupa dia menyebutkan namanya.
Lima menit kemudian Brian sampai pria itu berpenampilan biasa saja, kemeja lengan panjang yang di gulung di siku dengan jeans. Berjalan santai memasuki kafe. Tak lupa bertanya apakah ada seorang gadis yang menunggunya bernama Sandra.
Pelayan langsung mengantarkan dia menemui gadis itu. Brian tersenyum melihat Sandra yang menggunakan kacamata hitam padahal saat ini mereka berada di dalam ruangan.
"Maaf membuatmu menunggu,"
"Tidak masalah, duduklah."
"Sudah lama?"
"Kamu telat sepuluh menit," ucap Sandra tanpa menjawab pertanyaan Brian.
Pria muda itu terkekeh, "Kau memang wanita karier sejati, maaf agak macet tadi." ucapnya
"Kita belum kenalan, namaku Brian, dan kau?"
"Sandra, bukankah kau sudah tau namaku?" gadis itu berdecih.
"Aku-" Brian sengaja menggantung kalimatnya.
"Tak usah sungkan sebutkan saja berapa?"
Brian lagi terkekeh, 'benar-benar gadis yang angkuh, tapi aku suka, kita akan lihat sampai dimana kesombongan nya itu,'
"Kenapa kau tertawa? aku rasa pertanyaan mu tidak lucu," ketus Sandra yang begitu kesal karena Brian mentertawainya.
"Aku tidak butuh uangmu, nona. Simpan saja suatu saat kau pasti akan membutuhkannya."
"Lalu kau mau apa? Rumah, mobil?"
"Kebaikan ku tak bisa diukur dan dihargai dengan uang, aku mau kau menikah dengan ku," jawab Brian tegas.
"Hah! hahaha...." Sandra Tertawa
"Ternyata kau cukup tamak, dasar tak tau diri, siapa kau sampai berani mengatakan itu padaku?" ejek Sandra.
"Aku seorang pria dan kau seorang wanita, aku tau kau terluka karena kekasih mu selingkuh dengan adik mu, bukan?"
Sandra terkejut, dia terbelalak,
"Kenapa? kau heran mengapa aku bisa tau, hehehe....
aku tau semuanya, dan saat ini kau juga diusir dari rumah mu, bukan?"
"Siapa kau sebenarnya? dan mengapa kau memata-mataiku?"
"Siapa aku tidak penting, yang terpenting adalah kau mau menerima tawaran ku atau tidak?
Aku bisa membantumu membalaskan dendam mu kepada mereka semua, dan mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikmu,"
"Mengapa kau ingin membantuku?"
"Nenek memaksaku menikah? dan aku-"
__ADS_1
"Tidak punya pacar? hahaha...." ejek Sandra
"Bukan, aku bisa saja memilih seorang gadis, namun aku tidak mau melakukan nya, aku ingin kau yang jadi istriku."
"Mengapa harus aku? apa karena aku kaya? cantik?"
"Hehehe....kau bukan tipe ku, jadi tidak usah berbangga diri, aku memilihmu karena kau tak menyukaiku, jadi akan mudah jika kita akan berpisah nantinya."
.
"Berpisah?"
"Iya, kita akan berpisah setelah rencana kita berhasil. bagaimana?"
"Aku tidak bisa memutuskan nya sekarang aku butuh waktu untuk berpikir, aku takut kau hanya mengerjai aku dan memanfaatkan kondisiku saat ini."
"Cih,kau pikir siapa aku? aku bukan pria brengsek seperti kekasih mu itu."
"Kau sudah makan?"
"Belum?"
"Ok, kita akan makan siang bersama, setelah itu kau harus ikut denganku untuk bertemu dengan nenek."
"Nenek?"
"Iya, nenek memaksa ku menikah, dan hari ini aku harus membawa calon istriku, jadi mau tidak mau kau harus ikut."
"Aku menolak," sahut Sandra berdiri, gadis itu tak mau mengambil resiko, dia belum mengenal pria di depannya ini, bagiamana bisa dia langsung setuju menikah dan bertemu dengan keluarganya.
"Bukankah harus membalas Budi padaku? apa kau lupa itu nona,"
"Tapi bukan dengan cara menikah pria aneh, dan pemaksa seperti mu, aku bahkan tidak mengenalmu, bisa saja kau seorang buronan, psikopat atau mungkin kau sama ba*ingan nya dengan Daren.
"Hahaha, kau terlalu naif!"
"Pikirkan sekali lagi, kau bisa membalas sakit hatimu dan merebut semua milikmu yang telah mereka kuasai, apa kau tidak kasihan pada ibumu, dia pasti sedih melihat mu menderitanya sementara' merek asyik menikmati hak mu?"
Langkah Sandra terhenti, "Aku bisa membalasnya sendiri?"
"Dengan apa?" ejek Brian terkekeh pelan.
"Aku tau kau tidak punya apa-apa, Bukankah sebagian saham perusahaan mu atas nama ayahmu dan sebentar lagi akan menjadi milik adik tirimu,"
Sandra memejamkan matanya, dia salah menilai pria yang kini ada di belakangnya itu, dia bukan orang sembarangan, dan aku salah karena telah berurusan dengannya.
Beberapa saat kemudian Sandra berbalik dan menatap Brian penuh arti, "Siapa kau sebenarnya?" tanya gadis itu dengan tatapan tajam.
"Aku calon suamimu. Duduklah," ucap Brian menarik lengan Sandra hingga gadis itu kembali duduk di kursinya.
"Pelayan" panggil Brian.
Dia memesan makanan untuknya dan Sandra, gadis itu hanya ikut dan diam, pikiran Sandra berkelana, benar dia harus membalas dendam, dan harus merebut semuanya karena itu adalah harta peninggalan ibunya.
"Makanlah setelah ini kita akan menemui nenek, ingat bersikaplah yang baik dan sopan, jangan coba-coba menunjukkan sikap buruk mu di depan nya.atau kau akan tahu akibatnya."
"Kau mengancam ku?" tanya Sandra melotot
"Tidak, aku hanya waspada, Oh ya, bisakan kau membuka kacamata mu saat di depan nenek nanti."
Sandra yang tertunduk kembali menatap Brian, "Mataku sakit," ketusnya
"Aku tau, kau pasti habis menangisi kekasihmu yang brengsek itu,"
"Bukan urusanmu!"
"Hehehe, akan jadi urusanku Karena kau calon istri ku, dari sekarang aku tidak lagi mengijinkan kau menangisi nya."
"Cih, pemaksa."
Pelayan datang dan menyajikan makanan, "Sekarang habiskan makananmu," ucap Brian setelah pelayan pergi.
"Aku tidak selera,"
"Apa mau aku suapi?" tanya Brian dengan tenang.
"Tidak,"
__ADS_1
"Makan, atau aku akan menyuapi mu, Karena kau membutuhkan banyak energi untuk melawan musuh-musuh mu,"
Akhirnya Sandra memasukkan makanan kedalam mulutnya walau sebenarnya dia tidak merasa lapar.