
Ahdan dan Shinta akan mengikuti acara dinner bersama keluarga kecil Ahdan. Mereka bersiap berangkat dengan penampilan yang cukup elegan. Shinta memakai pakaian yang menutup tubuhnya dan mengikat rambutnya atas perintah Ahdan karena keluarga Ahdan adalah orang yang taat beragama tak boleh melihat aurat dan harus berhadapan dengan penampilan sopan. Padahal Shinta jarang mengikat rambutnya malah selalu terlihat mengurai rambutnya yang sedikit pirang itu.
Setelah menempuh perjalanan beberapa meter, sampailah mereka di rumah mewah orang tua Ahdan. Deru mobil Ahdan berhenti tepat di depan rumah sembari disambut oleh bibi Nun dan security. Turun dari mobil, Shinta takjub dengan rumah mewah itu sambil memandang dari bawah ke atas.
"Ayo, sayang" Ahdan meraih telapak tangan Shinta berjalan berdampingan.
"Selamat datang kembali, tuan.. Nyonya" Sambut bibi Nun dengan senyum mengembang.
Sambutan bibi Nun dibalas dengan senyum Ahdan sementara Shinta acuh tak sekalipun senyum. Bibi Nun dan security mulai terheran-heran dengan sikap Shinta.
"Istri baru Tuan Ahdan itu, menurutmu gimana, Nun" Tanya security lirih seraya mendekatkan bibirnya di telinga bibi Nun.
"JUTEK" Refleks bibi Nun mengeraskan suaranya karena sedari tadi kesal senyumannya malah dibalas muka jutek Shinta, membuat security terkejut.
"Pelan-pelan dong. nanti kedengaran gimana? bisa kena damprat kita" gerutu security dengan ekspresi jengkel.
"Udah ga usah banyak bacot. Ayo masuk" Ketus bibi Nun seraya berjalan masuk meninggalkan security.
Jam menunjukkan pukul 20:30, sajian makanan dan minuman telah dihidangkan di atas meja berbentuk segi panjang. Makan malam pun berjalan dengan syahdu sesekali berbicara seadanya. Abah, umi, Annisa, Si bungsu, dan Ahdan makan dengan perlahan. Sementara Shinta makan dengan lahapnya nyaris lupa adab makan yakni pelan. Shinta memakan lebih dari satu ayam goreng dengan porsi nasi dan lauk lainnya. Ayam goreng dalam satu piring jumbo itu tersisa 2 potong.
Semua yang berada di kursi makan memandang Shinta dengan keheranan. Sementara Ahdan menahan malu seraya menyahuti Shinta,
"Sayang, kamu lapar ya? Pelan-pelan makannya biar nggak keselek" lirih Ahdan justru terdengar oleh Umi karena umi dan Ahdan duduk berhadapan.
"Gapapa kok Ahdan justru umi senang melihatnya. Shinta, kalau kamu suka jangan sungkan nambah." Kata umi lembut.
"Bi, apa ayam gorengnya masih ada?" tanya umi dengan nada setengah teriak memanggil bibi Nun yang berada di dapur.
"Ada umi, ada" sahut bibi Nun gercep
"Boleh nambah lagi buat dihidangkan?"
"Boleh-boleh. Bentar ya" bibi Nun segera mengambil ayam goreng lalu menghidangkannya di atas meja.
__ADS_1
Umi begitu senang melihat Shinta yang makan dengan lahap. Namun lain halnya dengan Annisa yang melihat Shinta dengan perasaan dan ekspresi kurang menyenangkan.
Hidangan mereka masih tersisa sedangkan Shinta menyisakan tulang-tulang ayam goreng di piringnya. Mereka menghentikan makan karena merasa telah puas. Tiba-tiba terdengar suara sendawa Shinta membuat Ahdan menahan nafas tanpa melirik Shinta yang santai kekenyangan itu. Ahdan merasa aneh dengan tingkah istri barunya itu yang tidak seperti biasa. Seringkali Shinta disajikan makanan tetapi tak habis dan makan dengan elegan bak putri mahkota kerajaan.
Hidangan sisa pun dikumpulkan oleh bibi Nun dibantu umi dan Annisa. Mereka masih stay tune di kursi makan berbincang-bincang sembari melempar senyum sesekali tertawa kecil. Seketika Shinta merasa mual nyaris memuntahkan isi lambungnya. Ia pun beranjak dari duduknya menuju toilet tanpa permisi.
Mereka makan mendongak menatap Shinta yang berlari kecil sambil menutup mulut dengan satu telapak tangannya.
"Shinta Kenapa?" tanya umi kepada Ahdan.
"Aku juga nggak tau, umi. Mungkin perut kembung jadi udah nggak tahan nampung ayam gorengnya" Celetuk Ahdan membut umi tersenyum sinis
"Hueekkk. Hueekkkkk." suara Shinta agak terdengar keras. Membuat sekeluarga itu saling beralih pandang menoleh kanan dan kiri.
Sedangkan bibi Nun memelototi matanya dan membuka lebar mulutnya seraya saling menatap dengan security ikut mendengar suara Shinta dari dalam toilet.
Tak lama kemudian Shinta keluar dari toilet dengan bibir wajah pucat tak biasanya sembari berjalan pelan menuju tempat semula.
Melihat wajah Shinta yang pucat, Ahdan berdiri seraya menuntut Shinta untuk duduk perlahan.
Umi pun beranjak menuju Shinta dan ikut mengecek suhu tubuhnya yang ternyata panas.
"Kamu demam? Apa ada rasa pusing ?" tanya umi dengan wajah kerut sedikit cemas pada menantunya itu.
"Iya, umi. pusing banget" sahut Shinta mengeruti keningnya
Shinta pun di bopong oleh Ahdan menuju kamar.
Langit-langit malam mulai memunculkan bintang-bintang yang berkedip indah. Di sudut jendela ruko bagian lantai atas, Arna termenung menatap langit dengan mata berkaca-kaca. Duka lara Arna seakan tak pudar meski sahabat, kolega dan Mas Udin telah menghibur dan ada dengannya.
"Maafkan mama, sayang. Mama lengah menjagamu. hikss" Gumam Arna yang seketika meneteskan air matanya.
Tiba-tiba suara ponsel dari atas kasur sofa Arna berdering tanda panggilan masuk. Arna segera meraihnya seraya mengusap air matanya dan mengatur nada suara menjadi seperti biasa yang tak ada kesan kesedihan. Ia pun menekan tombol angkat telepon.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, nak" Ucap ibu lembut dari balik telepon
"Wa'alaikumsalaam. Ibu" sahut Arna santun meski wajahnya sembab dan mata berkaca-kaca.
"Bagaimana kabarmu?"
"Jauh lebih baik, ibu gimana? sehat kan" Seru Arna
"Sehat dong. Akhir-akhir ini ibu merasa sehat dan bugar dari mulai tanam sampai panen padi. Hehe"
"Oh ya. Gimana perkembangan cucu ibu?" Sambung ibu Asma dengan pertanyaan yang membuat hati Arna makin teriris. Arna seakan tak lagi sanggup menahan pedih hatinya, merasa kasihan pada dirinya malah lebih kasihan pada ibunya yang mengharapkan cucu namun pupus oleh musibah yang dialaminya.
Arna menahan mulutnya yang hendak mengeluarkan suara tangisan pilu sambil ia menjauhkan ponselnya.
"Arna? kamu baik-baik saja, nak?" tanya ibu sedikit mengeraskan suara karena sedari tadi menunggu jawaban Arna.
Arna menghela nafas panjang dan kembali mengatur nada suara.
"Ibu ngga usah khawatir. Cucumu akan baik-baik saja, Bu"
"Yaudah. Dengar ya pesan ibu.. Nambah nutrisi tubuh dengan vitamin, protein dan apalah itu. Intinya konsumsi makanan bergizi, ya. Duh serasa udah ga sabar menimang cucu." Seru ibu Asma tanpa menyadari bahwa Arna sedang menahan tangisannya nyaris tak bisa membendungnya.
Untung mas Udin datang dengan cepat meraih ponsel Arna beralih menelpon ibu Asma.
Setelah berbincang singkat dengan ibu, telepon pun di akhiri. Mas Udin memeluk untuk menenangkan Arna yang tampak sesak oleh tangisannya.
"Mas tau kamu sedih karena ibu mempertanyakan anak kamu. Tapi kamu nggak perlu khawatir, mas udah ngasih tau kalau semua baik-baik saja biar hati ibumu lega. Walaupun..." Ujar mas Udin sambil mengelus rambut Arna. Seketika terjeda oleh tangisan Arna yang makin menjadi.
Perlahan Arna melepas pelukan itu dan menatap binar mad Udin
"Mas.. Aku mulai ikhlaskan bayiku. Tapi aku nggak tahu mau ngomong apa ke ibu bahwa aku sebenarnya kehilangan bayiku. Dan.. Aku Juga nggak tahu akan bilang apa ke ibu kalau aku sudah resmi bercerai dengan mas Ahdan. Kalaupun aku perjelaskan.. ibu akan ikut salah faham atau shock dengan kejadian itu. Aku nggak mau ibu kenapa-kenapa." Kata Arna pilu berbicara dengan nada tertekan.
"Kamu nggak perlu khawatir, dik. Ibumu kan tipe wanita penyayang dan tenang. Ibu pasti akan memaklumi dan mempercayai kamu. Ibu mana sih yang nggak percaya putri kandungnya sendiri?" Nasehat mas Udin meyakinkan.
__ADS_1
Arna pun diam sejenak menutupi matanya sambil menghela nafas berusaha membuat hatinya tegar.