Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Rumah Baru


__ADS_3

Tengah malam pkl. 23:45, berpesta telah usai. Ahdan membuka pintu kamar dan didapatinya sepatu hak tinggi bercecer di lantai lantas memandang Arna tertidur pulas dengan posisi miring. Tampak kakinya yang mulus tersingkap, tidur masih dengan hijab yang membalut. Hati Ahdan luluh melihat wanita yang tidak dicintainya tertidur dengan nyenyaknya. Ia pun menghampirinya, nampak pipi dan hidung Arna berwarna merah jambu, mungkin sehabis mengeluarkan air mata. Ahdan menarik pelan selimut hingga menutupi tubuh Arna sebatas bahunya lalu ia memungut sepasang sepatu dan meletakkan di atas meja. Setelah mengenakan kaos oblong, Ahdan beranjak keluar biar Arna yang tidur di kasur dengan nyaman.


Dini hari Arna membuka gagap matanya, ia merasa hangat pada tubuhnya ternyata sudah ditutupi oleh selimut. Siapa yang memakaikannya selimut? Ahdan juga tak terlihat di sebelahnya. Tanpa pikir panjang ia pun bergegas bangun membantu bibi nun menyiapkan sarapan.


Arna turun dari tangga dalam keadaan kepala menunduk fokus menarikkan resleting jaketnya dengan rambut diikat kuncir kuda. Tanpa sengaja bertabrakan dengan Ahdan, pandangan mereka pun bertemu. Arna menatap binar sementara Ahdan masih dengan ekspresi juteknya.


"Mas Ahdan, semalam tidur dimana?" Tanya Arna polos


"Mau tau aja" Jawab Ahdan datar seraya memalingkan bola matanya


"Ngambek ya, senyum dong"


Ahdan hanya mengambil nafas panjang dengan mata seperti merasa bosan


"Oh iya, aku minta maaf soal semalam" Ucap Arna dengan tingkah polosnya


"Gak usah diingetin, bikin pusing" Ujar Ahdan sambil mengelus keningnya seraya menaiki tangga.


"Cuma minta maaf doang ngerasanya diingetin" Gumam Arna cemberut setelah Ahdan berlalu


Setelah hidangan diletakkan di atas meja makan yang disiapkan oleh Arna dan bibi nun, abah, umi dan farhan si bungsu sudah duduk di kursi masing-masing siap menyantapnya tak terkecuali Arna pun duduk di kursi berdampingan dengan Ahdan. Ketika mereka bersiap sarapan, Ahdan belum juga muncul dari kamarnya


"Arna, Ahdan dimana?" Tanya umi


"Ada di kamarnya, umi" Jawab Arna sopan


"Kok belum muncul, lagi ngapain dia? Apa masih tidur?"


"Udah bangun kok umi, aku juga gak tau lamanya di kamar lagi ngapain. Aku panggil dulu, ya" Ujar Arna beranjak dari kursinya seraya berjalan menuju kamar


Arna membuka lebar pintu kamar, nampak dua koper terletak di atas ranjang tiba-tiba Ahdan muncul dari ruang ganti menaikkan resleting jaketnya.


"Mas, koper-koper ini seperti udah keisi pakaian. Mau dibawa kemana?" Tanya Arna dengan raut penasaran sembari menghampiri ranjang.


"Pindah rumah" Sahut Ahdan datar


"Kamu mau pindah rumah?" Arna semakin serius menatap Ahdan


"Kita berdua. Abah sudah beli rumah buat kita. Ayo kemas barang-barang kamu" Sahut Ahdan masih dengan ekspresi datarnya


"Oh syukurlah. Iya aku kemasin, kamu pergi sarapan ya!" Seru Arna seraya berjalan menuju ruang ganti untuk mengemasi pakaiannya. Namun langkahnya terjeda karena Ahdan menarik pergelangannya


"Emang kamu sudah makan duluan?" Tanya Ahdan


"Belum" Sahut Arna dengan mata berbinar


"Makan dulu, ayo" Ajak Ahdan seraya menarik tangan Arna


Mereka pun keluar berjalan beriringan sementara Arna sumringah, walau bukan jodoh pilihan tapi masih diperhatikan walaupun yang ia dapat dari Ahdan hanya muka juteknya.


Usai sarapan, Arna sudah dengan balutan hijabnya. Umi, abah dan bibi nun mengantar mereka sebatas tangga rumah. Ahdan dan security memasukkan koper-koper ke dalam bakasi mobil Alphard milik Ahdan. Arna pun berpamitan kepada mertua dan bibi nun


"Umi, aku pamit dulu ya. Terima kasih banyak sudah menjadi ibu mertua yang baik" Ujar Arna lembut. Umi menarik Arna ke pelukannya, terasa hangat dan terpancar ketulusan pada sosok umi yang sudah menjadi ibu mertuanya.


"Sama-sama, nak. Umi bakalan kangen kamu" Sahut umi lembut seraya melepas pelukannya


Setelah berpamitan dengan abah, giliran Arna menghampiri bibi nun yang berdiri murung

__ADS_1


"Hikss mbak, kalau gak ada disini sepi deh gak ada temen ngoceh bareng" Bibi nun cemberut


Arna tersenyum "nanti kesini lagi kok" Ujar Arna memeluk hangat bibi nun


Sepasang suami istri itu pun bersiap menaiki mobil, tiba-tiba suara teduh dari arah belakang memanggil mereka, Arna menoleh sedangkan Ahdan melongok


"Selamat menikmati rumah baru bersama. Semoga bahagia selalu" Ucap umi lembut melambaikan tangannya.


Arna dan Ahdan membalas dengan senyuman tak berselang lama mereka pun menaiki mobil.


Usai menempuh perjalanan selama 40 menitan, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah tingkat dua minimalis namun elegan. Dikelilingi taman-taman asri dan kolam ikan. Arna takjub memandang keindahan kondisi luar rumah barunya bersama Ahdan, baru melihatnya sudah membuat suasana hati menjadi adem.


Ahdan bergegas masuk dengan kedua tangan menyeret dua koper.


"Mas, bakasinya bukain dong. Aku mau ambil koper dan tasku" teriak Arna memanggil Ahdan yang berdiri di ambang pintu lalu menoleh ke Arna.


"Siapa suruh kelamaan." ketus Ahdan kembali menuju mobil untuk membuka bakasinya.


Arna merapikan semua isi koper ke dalam lemari kamar yang sudah tersedia. Kemudian mengecek kondisi dapur; Rupanya sudah dilengkapi dengan perabotannya dan air kran mengalir lancar. Ia pun memeriksa lemari es, astaga kosong dari bahan makanan. Ia mencoba membuka lemari dinding mungkin ada sedikit bahan pokok, sama saja kosong.


"Duh semua kosong" Gumam Arna memegang kedua ubun-ubunnya seraya keluar mencari keberadaan Ahdan diluar rumah. Didapatinya Ahdan sedang santai memberi makan ikan-ikan koi, segera ia menghampirinya dengan langkah buru-buru.


"Mas.. Bahan makanan gak ada di dapur. Semua kosong mulai dari beras, sayuran, penyedap rasa, cemilan juga gak ada" Arna memelas manja sambil menghitung-hitung jari jemarinya


"Emang kamu mau makan lagi? Tinggal pesen aja di gofood" Sahut Ahdan tanpa melirik Arna dan masih dengan keasyikannya memberi makan ikan-ikan.


"Makan masakan sendiri lebih enak dan sehat, mas. Ayo dong temenin aku belanja, buat sehari-hari. Masak rumah baru gak ada bahan pokoknya." Tutur Arna


Ahdan menoleh mulai lagi mengeluarkan tatapan sinis lalu beranjak berdiri


"Yaudah. Buruan" ketus Ahdan seraya berjalan sehingga membelakangi Arna.


"Sayang?" Seru wanita itu yang ternyata Shinta


"Ssssttt." Ahdan memberi isyarat kepada Shinta untuk tidak mengeraskan suaranya. Dan membawa Shinta ke tempat yang tidak terjangkau oleh pandangan Arna.


"Kamu ngapain disini?" Tanya Ahdan


"Kamu lagi belanja, ya? Aku juga lagi belanja. Temenin aku yuk, habis itu kita pergi" Ujar Shinta memeluk lengan Ahdan. Ahdan pun melepas pelan genggaman Shinta.


"Aku lagi sibuk temenin dia belanja, tolong ya jangan ganggu dulu ya, sayang"


"Cie, kamu kayak udah perhatian banget sama dia. Ke aku kamu tampak berubah. Apa jangan-jangan kamu sudah berpaling gara-gara dia. Kamu lupa janji kamu Ahdan" Ketus Shinta menyilangkan kedua tangannya


"Bukan begitu, aku memang perhatian sebatas penuhi keperluannya gak lebih. Kalau gak, aku akan ditegur keras oleh orang tuaku kalau sampai mereka memeriksa kondisi rumah yg kosong bahan makanan." Jelas Ahdan


"Oke, biarin aja dia disitu. Ayo kita pergi" Shinta menarik tangan Ahdan namun Ahdan masih bertahan pada posisinya.


"Mau kemana?" Tanya Ahdan


"Kamu lupa? Kalau ada aku kamu akan ajak kemanapun yg aku suka. Kalau benar kamu gak berpaling harusnya kamu buktikan dengan pergi bareng aku." Ujar Shinta cemberut


Ahdan hanya menghela nafas sekejab memejamkan matanya,


"Oke, aku ngomong dulu sama dia. Sebentar ya, tunggu disini" Sahut Ahdan sembari berbalik kembali ke Arna yang masih sibuk memilih sayur-sayuran.


"Arna" panggil Ahdan

__ADS_1


"Iya, mas" Arna menoleh menyahut panggilannya


"Aku pergi dulu ada kepentingan dadakan, kalau kamu pulang naik taksi aja, ya." Ucap Ahdan santai tidak lagi dengan ekspresi juteknya.


"Hari minggu gini masih ada kepentingan? Biasanya akhir pekan hari cuti" Tanya Arna dengan ekspresi kebingungan.


"Iya cuti tapi juga hari untuk mempersiapkan diri. Udah gak usah basa-basi, aku pergi dulu" Ujar Ahdan seraya berjalan kemudian kembali lenyap dari pandangan Arna.


Arna terdiam bingung, Lagi-lagi harus pulang dengan kang taksi. Sementara Shinta mengajak Ahdan ke toko sesuatu dahulu sebelum mereka keluar dari minimarket.


Troley penuh dengan bahan keperluan dapur dan sehari-hari, satu persatu Arna mengeluarkannya untuk dicek masing-masing harga kepada kasirnya. Total belanjaan mencapai 2,5 juta. Semua telah diisi penuh kedalam 7 kantong plastik, Arna mengeluh keberatan membawa sebanyak itu. Ia meminta bantuan ke tukang parkir untuk mengangkatnya masuk ke dalam taksi yang mumpung sedang memarkir diluar. Usai memasukkan semua kantong plastik yang dibantu oleh tukang parkir, Arna membalas budi si tukang dengan memberinya dua lembar uang seratus ribu.


Ketujuh kantong plastik itu pun berceceran di atas meja makan. Sejenak Arna menyenderkan punggungnya di kursi makan, terasa capek yang sebentar lagi kembali normal. Arna meletakkan beberapa bahan ke tempatnya, tiba-tiba ponselnya yang ada di dalam tas ranselnya berbunyi tanda panggilan masuk, segera Arna menghampirinya dan mengangkat telepon.


"Halo, nak gimana kabarnya" Suara teduh dari balik telepon ternyata ibunya


"Halo bu Alhamdulillah baik banget bu, ibu gimana kabarnya?" Sahut Arna girang


"Alhamdulillah, nak. Kamu disitu ada dengan suami ya?"


"Sendiri bu, mas Ahdan lagi ada kepentingan diluar. Oh ya, aku dan Mas Ahdan sudah pindah kerumah baru."


"Syukurlah, nak. Oh iya ibu mau kasih tau, sore ini ibu akan pulang kampung. Kembali bekerja di medan sawah."


Wajah yang tadi girang menjadi murung, hati Arna merasa keberatan jika harus jauh dari ibunya. Arna diam tak menyahut apa-apa,


"Nak.. Kamu gapapa?"


"Iya bu, gapapa. Kenapa harus pulang kampung bu?"


"Pemasukan ibu minim, nak. Ibu juga Kangen kampung halaman"


"Kenapa gak bilang, bu. Biar aku antar uang ke ibu" Tanpa sadar air mata Arna meleleh merasa kasihan pada ibunya.


"Kamu sudah menikah, ibu gak mau ngerepotin kamu, nak. Pakai aja uangnya untuk masa depan rumah tangga kamu."


Arna menyeka air matanya,


"Naik apa ibu perginya?"


"Kereta, mas udin yang antar ke stasiun. Maaf ya belum sempat berkunjung kerumah mertua kamu dan rumah baru kamu. Makanya ibu pamit telepon aja, gapapa ya?"


"Gapapa bu, Hati-hati ya."


Usai berbincang hal lainnya, panggilan pun berakhir. Arna sangat merasa keberatan jika ibunya pulang kampung dan menyesal terlambat mengantarkan uang.


Arna sudah menyiapkan makan malam termasuk makanan kesukaan Ahdan, waktu menunjuki pkl. 19:30, Ahdan belum juga pulang. Arna menunggu kepulangan Ahdan dengan duduk diruang tamu sambil membaca majalah-majalah pemilik rumah itu. Waktu semakin jauh dari jam tersebut, Ahdan belum juga nampak batang hidungnya. Arna menutup makanan dengan tudung saji dan duduk di kursi makan. Tak lama kemudian suara deru mobil Alphard Ahdan terdengar memarkir di garasi. Hati Arna girang dan segera menyambutnya di depan.


Ahdan pun menaiki tangga dalam keadaan memijat-mijat leher bagian belakangnya, seperti terasa pegal.


"Mas, makan malam dulu. Aku udah siapin makanan kesukaan kamu!" Seru Arna dengan wajah cerianya.


"Oke" jawab Ahdan singkat


Makan malam mereka lakukan dengan tenang, tak berselang lama perut mereka kenyang oleh makanan. Ahdan berjalan menuju kamar dengan menaiki tangga, sementara Arna membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke westafel untuk ia eksekusi besok. Ia pun ikut menuju kamar, Ahdan sudah tertidur dengan posisi miring untuk mengusir rasa penatnya sepulang dari keluar.


Arna menghampiri hoodie dan celana panjang Ahdan yang tergeletak di kursi dipan untuk ia masukkan kedalam keranjang pakaian kotor.

__ADS_1


Baru hendak memasukkannya, Arna merasa seperti ada sesuatu yang masih tersimpan di kantong hoodie Ahdan, segera ia merogoh dan mengeluarkannya. Arna tersentak, hatinya bak tersengat kalajengking. Kembali ia melelehkan air mata dengan bulu kuduk yang naik. Ternyata isinya sekotak alat kontrasepsi yang sudah berkurang sebagiannya, kenapa Ahdan tega melakukannya pada orang lain.


"Tega kamu, mas" Gumam Arna dengan lirih jerit tangisnya memegang erat hoodie dan celana Ahdan, ia lantas terduduk di pojok tembok sekejap memejamkan matanya hingga keluar tetesan bening dari celah matanya.


__ADS_2