
Arna bangun lebih awal, usai menyiapkan hidangan ia lalu beranjak mandi untuk berangkat ke kantor sebelum Ahdan bangun. Namun ekspresi wajah dan gerak-gerik Arna tak seperti biasanya sekarang tampak lebih masam tersebab mengingat alat yang semalam ia temui dari saku Hoodie Ahdan.
Beberapa menit kemudian Arna pun sudah rapi dengan seragam kantornya. Ketika hendak membuka pintu, langkahnya berhenti karena lupa membawa tas, ia pun membalikkan badannya segera kembali ke kamar dengan harus menaiki tangga. Sampainya dilantai dua hampir saja Arna bertabrakan dengan Ahdan yang baru bangun dengan rambut acak dan penampilan kucel. Arna hanya menatap datar tak lama langsung membelakangi Ahdan dan memasuki kamar.
Ahdan bingung dengan Arna pagi ini tak seperti biasanya yang paling terdepan menyapa dengan senyum dan tingkah lucunya. Namun sekarang kenapa bisa dengan mudahnya ngalah-ngalahin sikap dinginnya?
Ahdan menghampiri meja makan lalu membuka tudung saji berbentuk persegi panjang itu. Ia melihat sajian sudah disediakan namun masih tampak bingung karena ada makanan baru yang belum pernah ia jumpai dan cicipi sebelumnya.
Ahdan mendengar suara langkah kaki, pastinya Arna turun dari tangga dan memang benar Arna turun dengan tangan menenteng tas tapi malah fokus memandang arah depan tanpa berpamitan dengannya.
"Arna" Panggil Ahdan setengah teriak
Arna pun menoleh dengan ekspresi wajah seperti merasa sangat bosan.
"Kamu masakin apa ini" Tanya Ahdan sambil mengangkat piring makanan yang membuatnya penasaran seraya mencium aromanya.
Arna menghela nafas sambil melangkah sekali menghadapi Ahdan.
"Gongseng keong" jawab Arna datar
Ahdan terkejut seketika menggigil cepat lalu meletakkan kembali di atas meja.
"Kamu apa-apaan sih. Keong ini bisa bikin gatal-gatal. Kamu mikir apa gak sih?" ketus Ahdan membentak
"Hmm.." Arna melangkahkan pelan kakinya kemudian berdiri tepat di hadapan Ahdan berjarak 3 meter.
"Kamu juga gatal kok, mas. Sama-sama kegatelan harus saling menghargai. Makan aja itu, aku gak tahu pasti rasanya enak atau gimana. Pokoknya aromanya sudah bikin kamu tergoda, kan mas" Sahut Arna santai seraya berbalik, belum sampai melangkahkan kaki seketika tangannya ditarik oleh Ahdan.
"Maksud kamu apaan sih? Kamu mau pancing emosiku, iya?" Bentak Ahdan dengan nada keras
"Maaf mas, ini kan cuma perkara keong kamu marah-marah gak jelas." Sahut Arna masih dengan santainya
"Kamu yang gak jelas, gak usah konyol kamu. Apa maksudmu sesama kegatalan saling menghargai. Kamu ejek aku, iya?"
Arna menghela nafas lalu mengukir senyum tipis seraya menatap lamat-lamat mata yang sudah tampak memerah karena tersulut emosi.
"Iya aku ejek, karena aku merasa jijik dengan ulah kamu, mas. Kamu gatel ke wanita lain padahal ada aku istri kamu disini bersedia menunggu apapun yang kamu ingin atau kamu butuhkan." Jawab Arna berusaha menahan tetesan air matanya karena hatinya yg perih seperti memberi isyarat bahwa air mata akan kembali menetes.
"Maksud kamu aku jijik?" Tanya Ahdan bingung perlahan meredakan emosinya.
"Kamu lihat aja Hoodie kamu itu, mumpung sakunya masih berisi benda yang kamu bawa pulang semalam" Sahut Arna dengan ekspresi datar seraya menunjuki keranjang pakaian. Tak lama kemudian menghampiri pintu dan membukanya.
"Maaf Aku pamit dulu, ya."
Melihat Arna yang sudah keluar lenyap dari pandangannya, Ahdan mengambil nafas segera menghampiri keranjang yang ditunjuki Arna tadi dengan langkah cepat.
Ia mengacak-acak seluruh pakaian lalu menemukan Hoodie yang ia kenakan semalam, memang benar isinya masih ada. Ahdan merogohnya dengan cepat, ia pun tercengang kaget ketika membukanya. Kenapa bisa ada alat kontrasepsi didalam hoodienya? Padahal Ahdan tak melakukan hal menjijikkan pada wanita lain termasuk Shinta kekasihnya itu.
Namun Ahdan mengingat kembali awalnya kemana dan dengan siapa saja ia pergi, akhirnya terlintas diingatannya saat di minimarket ia menemani Shinta berbelanja hanya berselang 2menit sebelum keluar. Shinta menghampiri kasir dan membisikkan sesuatu ditelinga kasir yang mungkin permintaan Shinta, kasir pun menyodorkan sesuatu ke arah Shinta namun Ahdan tak sempat melihatnya karena sudah lebih dahulu dimasukkan ke dalam tas oleh Shinta.
Kecurigaan Ahdan mulai mencuat pasti Shinta pelakunya. Kegeraman Ahdan pun kembali mendarah daging ia tidak boleh membiarkan Shinta berjalan hidup dengan enaknya dalam keadaan menebarkan fitnah bagai menebarkan wabah penyakit. Segera Ahdan berganti pakaian tak lama kemudian ia mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang. Ahdan hendak menelepon Shinta untuk menanyakan posisi Shinta sekarang dimana dalam keadaan menyetir
"Shin, kamu dimana" Nadanya terdengar agak kasar tak lagi lembut
"Aku masih di villa kok, sayang? kamu mau datang ya?" Sahut Shinta manja
Tak menyisakan sepatah katapun Ahdan mengakhiri panggilan dan mengalihkan kecepatan sedang menjadi diatas rata-rata.
Mobil Alphard Ahdan menerobos masuk pagar villa yang sudah terbuka lebar dengan cepat Ahdan keluar dan berjalan menuju kamar villa tempat Shinta berada. Didalam kamar yang berbentuk balok itu Shinta sedang asyik berdandan di depan cermin meja riasnya, seketika Ahdan membuka keras pintu dan menghampirinya
__ADS_1
"Eh sayang, kamu baru tiba ya!" Seru Shinta sambil meletakkan lipstik kembali ke meja
Ahdan berjalan menujunya dengan langkah secepatnya tak lama kemudian melempar jarak dekat kotak alat kontrasepsi di atas meja rias milik Shinta dengan mimik wajah geram.
"Aku minta kamu ngaku, apa benar kamu yang taruh kotak itu kedalam Hoodie aku?" Tanya Ahdan dengan nada agak kasar
Shinta hanya terdiam dengan bibir kaku sekejap kemudian Shinta menyahut dan meraih lengan Ahdan
"Sayang.."
"Ayo jujur" Kekasaran Ahdan mulai tampak jelas dan menyingkirkan tangan Shinta yang hendak meraih2 lengannya.
"Kok kamu kasar sih sama aku" Ketus Shinta
"Kasar gak kasar aku cuma mau minta kamu jujur apa benar kamu yang taruh itu. Ayo jujur"
"Iya aku taruh itu" Shinta pun mulai jujur membuat Ahdan mengusap kasar wajahnya frustasi
"Keterlaluan, apa maksud kamu naruh itu? Kamu mau jebak aku, iya?" Bentak Ahdan
"Iya, memang aku mau jebak. Apakah benda ini berhasil didapati istri kamu? Baguslah kalau berhasil karena niat aku mau jebak kamu karena aku cemburu, Ahdan." Jelas Shinta menatap tajam ke arah mata Ahdan
"Cemburu enggak gitu caranya, kalau bukan Arna bisa-bisa aku mampus jika yang mendapatinya adalah orang tuaku. Aku juga gak mau ribut dengan Arna" Emosi Ahdan bagai menebarkan asapnya membuat suasana semakin keruh.
"Sorry, aku lakuin itu aku berharap Arna akan menjauhi kamu. Karena aku cemburu kamu sudah semakin perhatian dengan dia, itu tidak menutup kemungkinan kamu akan cinta dan perlahan-lahan berpaling dari aku" Terang Shinta
Ahdan menghela nafas kasar sambil mengelus keningnya.
"Jebakan kamu itu gak benar seolah kamu mau fitnah aku, lama kelamaan nama baikku akan tercoreng dimata keluarga, perusahaan dan dimana pun berharga bagi aku. Kalau sampai yang mendapatinya adalah keluargaku atau sampai ditelinga mereka mau kamu jelaskan bagaimana pun mereka tak akan toleransi malah lebih cepat menghukum. Sama seperti kejadian kesalahfahaman yang tiada kenal kata bertanya dahulu akhirnya aku terpaksa menikahi Arna." Sahut Ahdan dengan cetusnya.
"Oke, aku..." Shinta berusaha memadamkan amarah Ahdan dengan meraih lengan Ahdan justru Ahdan kembali menyingkirkan
Shinta terkejut kesal merasa tak terima dimintai putus oleh Ahdan
"Ahdan.." Shinta menarik kasar tangan Ahdan agar kembali menghadapnya
"Aku sudah akui aku sudah jujur aku sudah minta maaf, kamu malah minta putus hanya karena caraku itu salah. Ahdan, jangan gara-gara satu kesalahan aku kamu lupa selama 4 tahun aku selalu temani kamu dekat maupun jauh, saat kamu butuh atau aku yang datang saat suka maupun duka kamu. Aku gak terima putus saat aku masih sayang sama kamu dan belum adanya kompromi diantara kita." Jelas Shinta dengan mata yang tampak berkaca-kaca
Ahdan merasa menyesal telah mengambil keputusan sepihak, ia sekejap menutupi kedua matanya dengan satu telapak.
"Maafkan aku. Kita gak putus kok aku hanya tersulut emosi gak suka dengan jebakan kamu." Ucap Ahdan dengan nada tenang mulai reda dari emosinya.
"Gitu dong, lain kali jangan ambil keputusan sepihak dalam keadaan emosi. Itu gegabah namanya, sayang" Shinta mendekati Ahdan dan memeluknya.
"Kamu boleh tinggal dan bersama dia kapanpun dan di manapun, tapi kamu juga harus ingat aku. Kamu ngasih makan minum pakaian ke dia itu udah cukup, gak harus dengan memberi perhiasan atau barang-barang mahal ke dia. Itu sebabnya aku merasa kamu udah lebih perhatian dan cinta sama dia dibanding aku." Tutur Shinta menatap Ahdan dengan tangan masih melingkari perut Ahdan.
"Baik, maaf" Sahut Ahdan tenang.
Di kantor yang ramai penghuninya, Arna berjalan menyusuri sudut-sudut ruangan tak satupun menyapa para karyawan yang berada didepan matanya. Arna justru berjalan fokus memandang ke depan, para karyawan yang mengamatinya merasa heran dan bingung dengan sikap tak biasa oleh Arna padahal saat memasuki kantor atau berpapasan dengan mereka Arna paling menjadi orang nomor satu menyapa.
"Lihat itu Arna, udah sombong ya sekarang" Bisik wanita kepada teman-temannya setelah Arna berlalu.
"Sssssttt.. Gak baik ngomong gitu" Timpal salah satu diantara mereka.
"Bukan sombong sih menurut aku, lebih kepada mungkin udah ketularan sikap dinginnya bos Ahdan" Sambung salah satunya memberi penilaian tentang Arna.
"Iya sih. Tapi belum tentu ah, itu baru persepsi kamu" Sahut temannya.
Usai berbincang hal-hal tentang Arna, mereka pun bubar beranjak ke ruangan masing-masing.
__ADS_1
Terlihat Arna tengah sibuk dengan layar komputer dimeja partisinya. Tampak serius dan bersemangat mengerjakan tugas-tugas seperti sudah melupakan tentang penemuannya tadi malam. Ya seharusnya begitu berusaha semangat agar bisa melupakannya walaupun sebenarnya hati ditumpuk berbagai perasaan sedih, kecewa, jengkel yang telah bersatu padu sehingga sulit di deskripsikan dengan kata-kata.
Tiba-tiba Sean berdiri di depan meja kubikelnya dengan tampang yang atletis tak jarang dengan senyum ketenangan. Ia pun menyapa ramah
"Halo, boleh duduk disini?"
Arna pun menyambut sapaannya dengan berdiri dan senyum yang mulai terukir lebar.
"Boleh-boleh, silakan"
Mereka pun duduk di kursi masing-masing secara bersamaan kemudian saling menatap dan saling melempar senyum.
"Numpuk banget tugasnya, ya" tanya Sean kalem
"Oh gak juga sih" Sahut Arna
Mereka berbincang banyak hal tak ayal canda dan tawa pun mereka bagikan. Ahdan berdiri di ambang pintu kaca melihat pemandangan yang tidak menyenangkan hatinya, melihat Arna lagi-lagi berduaan dengan Sean. Dengan cepat ia pun masuk menghampiri mereka.
Ketika Ahdan berdiri tepat di dekat mereka, Arna dan Sean mendongkak tak lama kemudian Sean berdiri. Arna pun ikut berdiri dengan pelan tampak wajah tak lagi senyum
"Arna, saya permisi dulu." Kata Sean kepada Arna lalu beralih ke Ahdan
"Permisi pak" Ucap Sean sembari berjalan beranjak keluar dari ruangannya.
Setelah Sean lenyap dari pandangan mereka, Ahdan meraih pergelangan tangan Arna dan membawanya ke ruang kantor milik Ahdan. Sesampainya di rumah hanya mereka yang bertatap dalam empat mata,
"Kamu ngapain bersama dia lagi? Urusan kita belum selesai jangan kesana-kemari bersama laki-laki lain walaupun hanya dengan Sean." Ketus Ahdan menatap tajam Arna
"Baik aku minta maaf" Sahut Arna
"lihat aku dengan senyum bukan dengan ekspresi begitu. Cukup aku yang dingin kamu jangan" Ahdan pun mulai blak-blakan
Arna pun tersenyum tipis sekejap menghela nafas,
"Baik, aku senyum."
Mereka pun saling bertatapan, Ahdan merasa belum puas dengan senyum tipis Arna.
"Ayo tanya aku seperti biasanya kamu bertanya ketika berhadapan dengan aku"
"Aku harus tanya apa, mas? perasaan aku gak punya pertanyaan untuk aku tanyakan. Apa salahnya aku diam saja?" Sahut Arna dengan santainya
"Soal b-benda itu. Benda.. Kotak dalam Hoodie aku itu." ujar Ahdan dengan nada tertekan karena menyimpan malu.
"Oh ya alat itu, ya. Gimana, apa lancar banget ngelakuinnya?" Tanya Arna seolah bermain cantik masih dengan kata-kata ambigu untuk meledek Ahdan.
Ahdan malah merasa kesal dan mengusap wajahnya.
"Jangan cuma asal ngomong doang, kamu bisa kan bertanya ini maksudnya kenapa dan mengapa." ketus Ahdan
"Aku tanya kayak gimana lagi sih, mas. Aku kan bukan jodoh pilihan kamu jadi aku gak punya hak untuk bertanya prihal rahasia kamu. Intinya aku legowo dengan apapun yang lakukan diluaran sana. Tugas aku dirumah hanya siapin makanan buat kamu, nyuci baju kamu, itu aja." Jawab Arna
"Kamu salah faham tentang benda itu."
Arna malah memalingkan wajahnya dan berbalik hendak keluar, justru Ahdan meraih kedua lengannya agar tetap berhadapan dengan Ahdan.
"Lihat aku, terus terang aku cinta kamu, Arna" Tutur Ahdan menatap lamat mata Arna dengan kedua telapak memegang kedua lengan Arna.
Arna menatap terpaku dan merasa luluh dengan ungkapan cinta dari Ahdan, ungkapan yang tak pernah ia dengar dari suaminya itu sebelumnya.
__ADS_1