
Keesokannya adalah jadwal operasi Ayah Ahdan. Annisa dan suaminya beserta kedua orang anak mereka tengah duduk diruang tunggu dengan perasaan khawatir sembari bibir Annisa melafalkan doa harapan agar operasi berjalan dengan lancar. Sementara Umi sedang mengurus data-data untuk persetujuan operasi diruang operator rumah sakit.
Terlihat Arfian berjalan dengan tergopoh-gopoh menyusul keluarganya yang tengah menunggu di suatu ruang. Belum juga sampai di ruang, langkah Arfian dihentikan oleh umi yang tak sengaja bertemunya.
"Eh nak" panggil umi lembut
"Umi. Apa Abah sudah mulai di operasi?" Tanya Arfian dengan nada serius dan menatap mata umi dengan seksama.
"Sedang menunggu sekitar pukul 1 jam lagi, nak. Sementara umi masih mengurus surat-surat. Oh ya, Ahdan mana? Dari tadi gak datang-datang juga?"
"Aku juga gak tau, mi. Kalau begitu aku coba hubungi" sahut Arfian sembari merogoh sakunya untuk mengambil ponsel dan direspon anggukan Umi.
Semenit ponsel Arfian berdering namun tak ada tanda teleponnya diangkat. Ia pun mencoba kedua kalinya tetap saja tak ada respon. Akhirnya Arfian menyerah dan mematikan layar ponselnya dengan ekspresi kesal.
"Gak ada respon, umi. Sepertinya ponselnya tertinggal"
"Hmmm.. Kemana itu anak" gumam umi lembut
"Yasudah, kamu masuk saja ke ruang tunggu disana sudah ada keluarga adikmu Annisa."
Arfian mengangguk sembari berjalan menelusuri ruangan.
Menuju pukul setengah menit lagi jelang operasi Abah, Ahdan telah menyiapkan ajuan nikah siri ke pihak KUA begitupun dengan Shinta. Mereka hendak menikah secara siri yang artinya tak ada yang mengetahui pernikahan mereka selain pihak KUA dan dua orang sahabat mereka sebagai saksi.
Akad nikah pun dimulai. Giliran Ahdan yang melafazkan Qabul, suara sah lantang dari lisan para saksi sebagai tanda Shinta resmi menjadi istri Ahdan. Perasaan Abdan pun lega, sementara Shinta tersenyum sumringah. Mereka pun saling bertukar cincin pernikahan dan menandatangani surat ajuan Kepada pihak KUA tersebut.
Ahdan dan Shinta akan menginap disebuah hotel ternama.
"Sayang.. Akhirnya kamu resmi menjadi suami aku. Ingat, kamu harus setia hanya untuk aku dan... Aku berharap kamu melupakan wanita yang bukan jodoh pilihan kamu itu, ya" Ujar Shinta bermanja ria dipelukan Ahdan
Ahdan pun tersenyum sambil mengelus rambut Shinta "iya sayang"
Karena perasaan bahagia, nyaris saja menghanyutkan ingatan Ahdan bahwa hari ini adalah jadwal Abah akan di operasi dan ia berjanji akan mendonorkan darah. Senyum Ahdan pun buyar, dengan cepat ia mengecek ponselnya ternyata ada notif telepon tak dijawabnya dari Arfian. Ia berfikir mungkin Arfian menghubungi memintanya datang. Ia pun segera memakai jaketnya.
Sebelum berangkat, Ahdan hendak berpamitan lebih dahulu ke Shinta.
"Sayang.. Aku ke rumah sakit dulu. Aku hampir lupa Abah hari ini akan di operasi."
"Oh yaudah, hati-hati ya." Sahut Shinta masih dengan memegang ponselnya.
"Oh ya, kamu tunggu disini saja atau mau jalan-jalan?" Tanya Ahdan
Shinta pun beranjak dari springbed dan mendekati Ahdan yang dari tadi berdiri.
"Gimana, kalau aku jalan-jalan aja ya. Tapi aku bosan numpang transportasi umum" Jawabnya manja sambil menguraikan rambutnya ke depan.
"Oke, ini kunci mobil. Aku naik taksi aja" Ahdan menyerahkan kunci mobilnya Kepada Shinta seraya mengecup kening istri barunya itu.
Beberapa menit setelah menempuh perjalanan dari hotel, sampailah Ahdan di rumah sakit. Terlihat keluarganya berdiri mendengar dengan seksama keterangan dokter, tanpa pikir panjang Ahdan menghampiri mereka.
"Umi, bagaimana keadaan Abah? Apakah operasinya sudah selesai?" Tanya Ahdan serius
"Eh, nak. Baru tiba. Darimana saja kamu, tadi abangmu menghubungimu tapi tak ada respon" Umi pun bertanya balik membuat Ahdan bingung akan menjawab apa. Ia sengaja merahasiakan pernikahan sirinya agar tak membuat keluarga terutama umi kecewa karena perceraiannya dengan Arna belum cukup lama dan menikah dihari yang kurang mengenakkan karena Abah tercinta sedang sakit parah.
"A-aku.. aku tadi ada kesibukan dadakan, umi. Aku hampir saja lupa kalau hari ini adalah jadwal operasi Abah. Maafkan aku umi" Jawab Ahdan dengan mulut kaku
"oh gitu. Abahmu akan di operasi segera dan baru saja dibawa ke ruang operasi. Katanya kamu mau donorkan darah?"
__ADS_1
"Oh iya umi. Sebentar ya" Sahut Ahdan sopan sembari membalikkan badannya dan berlari kecil ke ruang donor darah.
Kafe mas Udin mulai sepi pengunjung setelah buka selama 18 jam. Para karyawan akan berIstirahat dari aktivitas mereka di kafe klasik mas Udin. Sebagian karyawan mas Udin pulang dengan mengendarai sepeda motor, ada yang memilih jalan kaki dan ada yang memesan jasa transportasi umum. Kecuali Arna, karena ia adalah sepupu mas Udin.
"Apa? Kurang ajar bener tuh laki. Istri hamil diceraikan, udah gitu nikah lagi. Ada otak gak dipake. Brengsek" Luapan kekesalan Elsa terdengar agak keras
Meski terdengar keras, Arna hanya berdehem sambil menatap kosong diluar jendela dalam keadaan mata yang berkaca-kaca seolah isi kepalanya belum usai dengan masalah dan duka. Sebenarnya ia ingin menceritakan awal mula kejadian dan fitnah bahwa ia tengah mengandung anak Iwan kepada sahabatnya itu, tetapi mood dan fikirannya yang kacau tidak mendukung untuk ia berbicara.
"Kamu sabar aja ya, bestie. Aku akan selalu ada buat kamu. Aku minta kamu jaga baik-baik diri kamu dan kandungan kamu. Ya" Ujar Elsa seraya memeluk dari arah belakang sambil mengelus lengan Arna. Arna hanya diam mengangguk dan masih dengan tatapan kosongnya.
Hari kedua orang-orang mulai beraktivitas seperti biasa. Kafe mas Udin sudah open sejak sejam yang lalu, pengunjung pun belum terlalu ramai yang datang. Seorang pria berjas dengan membawa buket bunga dan buah-buahan masuk dan dipersilahkan duduk oleh pelayan kafe yang tengah menyambut pengunjung. Ketika hendak menuju bar kafe, langkah pelayan tersebut dihentikan oleh panggilan kecil itu yang ternyata Sean.
"Tunggu, mas. Apa disini ada Arna?" Tanya Sean
"Oh ada, mas."
"Bisa panggil beliau kesini, bilang Sean ingin mengunjunginya." Pinta Sean
"Baik, mas. Silakan duduk dulu"
Sean pun duduk santai menunggu kedatangan Arna. Tak berselang lama Arna duduk di kursi berhadapan dengan Sean.
"Arna, bagaimana kabar kamu hari ini" tanya Sean sambil melemparkan senyum.
"Baik Alhamdulillah, mas." Sahut Arna tersenyum kecil
Sejenak Sean menghela nafas sambil menganggukkan kepalanya, tak lupa ia menyodorkan buket bunga lavender dan buah-buahan kepada Arna. Senyum Arna pun melebar dengan ekspresi riang karena ia sangat menyukai bunga lavender.
"Wah.. Ini buat aku ya, mas?" Tanya Arna
"Iya.. Kamu suka?"
"Iya sama-sama. Oh iya..." Belum sempat Sean meneruskan Arna spontan bertanya balik kepadanya
"Oh iya, mas. Aku lupa tanya kabarnya.. Bagaimana kabar mas Sean?"
"Jauh lebih baik" seru Sean dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Syukurlah. Hmm.. Kita akan membahas apa ya hari ini?"
"Oh iya, begini.."
"Mas Sean mau pesan apa? Biar aku ambil brosur menunya. Tunggu disini ya." Imbuh Arna sembari beranjak.
Lagi-lagi sesuatu yang akan diungkapkan oleh Sean terputus. Maklum hari ini Sean tampak grogi sehingga ia harus pelan-pelan dalam mengungkapkan sesuatu. Tak lama kemudian Arna kembali duduk dikursi semula bersama Sean. Dengan santainya ia menyodorkan kertas menu kepada Sean untuk memesan makanan ataupun minuman.
"Silakan dipilih, mas. Aku catat" Sahut Arna senyum
"Sebentar dulu. Aku mau katakan sesuatu ke kamu"
"Oh ya. Apa itu, mas" tanya Arna menatap Lamat mata Sean.
Sebelum meneruskan, Sean mengatur nafas dan mengondisikan posisi duduknya. Sejenak menghela nafas... Justru tatapan Arna beralih pandang ke sejoli yang tidak asing dimatanya. Mereka adalah mantan suaminya dan wanita mulut cabai itu dengan manjanya memeluk lengan Ahdan. Mereka duduk di dekat jendela kafe yang tidak jauh dari pintu keluar.
Seketika terlintas difikiran Arna ide cemerlang, ia pun mencoba menghampiri mereka yang tengah memilih menu pesanan.
"Hei mas Ahdan..." Sapa Arna lembut berusaha melancarkan ide cemerlangnya.
__ADS_1
Shinta mendongak dengan ekspresi sebal sedangkan Ahdan menoleh ke arah Arna yang berdiri tak jauh dari dibelakangnya.
"Mas, apa kabar beserta keluarga? Sudah lama kita tidak berjumpa. Sehat-sehat ya kan, mas?" Tanya Arna centil. Aksinya seperti perempuan feminim. Arna sedang bermain cantik untuk membakar api cemburu Shinta.
"Heh kamu, gak usah sok akrab sama suami orang" Ketus Shinta dengan nada tegas.
"Suami orang? Bukankah dulu dia juga suami saya" Timpal Arna santai
"Walaupun sudah jadi mantan, tapi apa salahnya silahturahim minimal tanya kabar, ya kan mas?" Sambungnya seraya mengelus pelan bahu Ahdan yang itu membuat Shinta nyaris tersulut emosi.
Spontan Shinta menggebrak meja sehingga terdengar seisi ruangan.
"Heh jangan macam-macam kamu ya" bentak Shinta lalu berdiri
"Ssshiitttt" gumam Ahdan berusaha meredakan emosi Shinta karena malu suara gebrakannya begitu keras sehingga semua mata tertuju padanya.
"Lho, aku cuma ngelus pelan. Gitu doang emosi" Timpal Arna santai sambil menyilang kedua lengannya.
"Dasar gak tau diri. Kamu itu istri yang diceraikan akibat ulah kamu.." Shinta tak mau kalah ingin menyakiti hati Arna namun dihentikan oleh bentakan Ahdan
"Udah diam"
"Apa? Sorry gak kedengeran"
"Dasar.." cemoohan Shinta dihentikan oleh Ahdan yang sudah mulai tampak kesal padanya.
"Sudah sudah. Lebih baik kita pulang" Ahdan menarik keras lengan Shinta untuk ikut keluar bersamanya.
Mas Udin menghampiri Arna setelah mereka berlalu dan heran dengan aksi adiknya itu.
"Jeng. Kok jahil gitu sama pelanggan." Bisik mas Udin ke telinga Arna
Arna pun menoleh merespon bisikan mas Udin dengan mencubit hidung mancung khas mas Udin
"Jahil dikit aja, mas" senyum Arna gemas seraya berjalan kembali ke hadapan Sean yang sedari tadi berdiri menyaksikan keributan.
"Mas, udah milih menunya?" Tanya Arna dengan ekspresi santai seakan bahagia telah mempermalukan mantan suaminya bersama musuh bebuyutan, Shinta. Tanpa memperdulikan pandangan para pengunjung yang tertuju mata kepadanya.
Belum sempat menyahutnya, Sean merogoh saku jasnya terdengar suara ponsel berdering tanda panggilan masuk, ia menoleh kanan kiri untuk fokus mendengar suara dari balik telepon.
Beberapa detik setelah menelepon, Sean kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Air putih" Sahut Sean senyum
"Air putih?" Tanya Arna kebingungan
"Iya, air putih. Uh haus nih"
"Oh baik. Tolong ambilkan segelas air putih" pinta Arna kepada waiters.
Karena tak ingin menunggu lama dengan memesan yang ada di list menu, Sean sengaja lebih memesan air putih karena ia mendadak buru-buru. Daripada rugi berkunjung ke kafe tanpa memesan, ia pun meminum air pun yang telah disiapkan lalu membayarnya dengan selembar uang dua ratus ribu.
"Aku buru-buru menjemput adik di bandara. Aku pamit dulu" ujar Sean seraya meletakkan dua lembar uang ke atas meja.
Usai Sean lenyap dari pandangan, tiba-tiba mas Udin mengambil uang tersebut. "Baru kali ini mesen air putih doang dibayar segini" celetuk mas Udin membuat Arna cengir.
Malam yang hening, disudut ruangan Arna kembali menatap kosong langit-langit sambil mengelus-elus perut.
__ADS_1
"Sayang.. baik-baik ya di dalam. Mama sayang kamu walaupun kamu korban fitnah bahwa kamu anak hasil hubungan yang salah." Bisik Arna dalam hati sambil menatap binar perutnya.
Meskipun permasalahan yang lalu telah usai namun tidak membuat Arna berhenti mencari tahu kebenaran atas tuduhan terhadapnya dan meskipun Iwan telah tiada.