Bukan Jodoh Pilihan

Bukan Jodoh Pilihan
Mulut Cabe


__ADS_3

Ahdan sudah bangun dari tidur panjangnya, namun Arna sudah tidak terlihat dikasur. Sepertinya Arna bangun lebih awal mungkin sedang di dapur. Ahdan beranjak memasuki kamar mandi khusus kamar, usainya Ahdan segera mengenakan seragam kantor lalu bergegas keluar.


Hari ini adalah hari pertemuan Ahdan bersama atasannya beserta tamu-tamu penting di kantor. Maka Ahdan lebih awal ke kantor sebelum mereka datang. Ahdan melangkahkan kakinya berjalan agak cepat di atas tangga sambil mengkondisikan dasinya. Ia melongok-longok merasa rumah sepi dan sunyi hanya terdengar suara air kran mengalir di wastafel. Dengan segera Ahdan menuju dapur dan di dapatinya bibi nun sedang mencuci perlengkapan makan yang kotor.


"Bi, apa orang rumah sudah duluan pergi kerja?" Tanya Ahdan


"Sudah tuan, sekitar sejam lalu" Sahut bibi sambil menge-lap tangannya yang basah.


"Arna dimana?"


"Oh iya, tadi Arna nitip izin pergi bersama abangnya sebentar saja, katanya."


"Oh iya, saya buru-buru dulu" Tutur Ahdan sambil berbalik kembali keluar.


"Eh tunggu, tuan. Ada masakan spesial buat tuan dari Arna, itu di meja" Bibi nun menghentikan langkah Ahdan memberitahu sambil menunjuk ke arah meja yang di tutupi tudung saji.


Sejenak Ahdan mengecek jam tangannya,


"Wah saya buru-buru, bi. Waktu hampir habis. Simpan saja buat makan kalian. Nanti masak yang baru sepulang saya dari kantor." Imbuhnya


"Baik tuan. Hati-hati ya" Sahut bibi nun kembali melanjutkan cuciannya.


Sejam setengah menit Arna sudah kembali dirumah menenteng kantong plastik hitam menuju dapur.


"Halo bibi" Sapaan Arna sambil tersenyum dan meletakkan dua kantong plastik hitam di atas meja dekat dengan tudung saji.


"Eh mbak, baru pulang" Sahut Bibi nun girang yang baru saja muncul dari ruang laundry lalu duduk di kursi meja tersebut.


"Ini bi, oleh-oleh dari keluarga di kuningan yang baru berkunjung dirumah ibu." Kata Arna sambil mengeluarkan isi kantong plastik.


Meja pun tercecer beberapa bungkusan berbagai jenis keripik; ada rempeyek, singkong krispi balado dan abon ikan. Bibi nun mengambil sebungkus rempeyek sembari membukanya.


"Wah banyak banget, kelihatannya udah bikin ngiler." Seloroh bibi nun seraya memasukkan rempeyek kedalam mulutnya.


Arna tersenyum sambil meraih tudung saji untuk dibukanya. Dilihatnya sajian untuk Ahdan masih utuh tanpa sedikitpun ada yang kurang.


"Bi, apa mas Ahdan belum makan atau gak mau makan? Atau gak sempat buka buka tudung?" Cerocos Arna


"Udah bibi beritahu masakan spesial mbak. Tapi kata tuan buru-buru soalnya waktu hampir habis. Dan katanya, kita makan aja nanti kalau tuan pulang masakin buat dia yg baru" Bibi nun memberitahu dalam keadaan mulut berisi rempeyek lalu mengunyahnya.


"Mending aku bawa aja ke kantor mas Ahdan, kasian perut kosong gitu dibawa ke kantor" Seloroh Arna seraya berjalan menuju lemari kaca. Tak lama kemudian Arna kembali dengan menenteng rantang logam berwarna maroon lalu meletakkan di atas meja. Setelah sajian dimasukkan kedalam tiga mangkuk rantang, Arna kemudian menyusunnya kembali dan menentengnya.


"Aku berangkat dulu ya, bi" Ucap Arna bergegas keluar tak lupa mengambil tas selempangnya yang ia taruh diatas kursi dapur.


"Iya mbak, Hati-hati ya" Sahut bibi seraya berdiri


Arna tiba di kantor setelah menempuh perjalanan 30 menit. Segera Arna menuju lift yang pastinya meluncur ke ruang kantor Ahdan. Arna pun mengetuk pintu agak keras, terdengar sahutan Ahdan


"Silakan masuk"


Arna membuka pintu kemudian kembali menutupnya langsung menghampiri Ahdan. Terlihat Ahdan sibuk dengan layar laptopnya lalu mendongak menatap Arna yang berdiri dihadapannya.


"Ada perlu apa?" Tanya Ahdan santai masih dengan raut wajah dingin


"Aku bawa makanan buat kamu. Bibi bilang mas gak sempat memakannya karena buru-buru." Sahut Arna seraya meletakkan rantang tiga susun itu ke atas meja kerja Ahdan.


"Iya memang betul, tapi saya bilang buat kalian makan aja. Nanti pulang baru masakin yang baru. Daripada capek-capek kesini" Ketus Ahdan mengerut keningnya


"Iya aku tau, tapi aku ngotot mau kesini bawain makanan buat kamu sarapan. Gak baik masuk kerja dalam keadaan perut kosong, ntar keroncongan terus sakit, gimana?" Ujar Arna membuka satu persatu mangkuk rantang.

__ADS_1


Ahdan hanya mengusap wajahnya dengan satu telapak.


"Oke, thanks. Kamu masakin apa?"


"sayur Asem bayam, tempe dan ikan goreng. Sudah lengkap dengan nasi hangat dan balado"


Baru saja Ahdan meraih mangkuk nasi tiba-tiba suara pintu terbuka dari seorang wanita yang tidak asing dimata mereka, shinta. Penampilannya persis seperti tari balerina dengan rambut lurus tergerai sebatas punggung berwarna hitam bercampur pirang.


"Halo sayang" Shinta berjalan agak lengak-lengok menghampiri mereka


Shinta mendekati Ahdan dan menempelkan kedua pipinya di pipi Ahdan secara bergantian.


"Apa kabar hari ini, sayang?" Tanya shinta dengan tingkah centilnya.


"Baik, baik banget" Sahut Ahdan tersenyum lebar


Shinta menyumbing bibirnya ketika menengok Arna, Arna hanya mengerut karena merasa sebal kalau bertemu wanita centil ini.


"Hei kamu, istri Ahdan ya?"


Arna tersenyum paksa dan menganggukkan kepalanya.


"Haha, jangan bangga dulu. Kamu itu bukan jodoh pilihan Ahdan" Shinta tertawa cekikikan


"Aku adalah kekasih Ahdan, yang namanya kekasih pastinya paling disayang oleh Ahdan dan yang diharapkan menjadi jodoh pilihan. Bukan kamu" Sindirnya cukup membuat Arna tersinggung.


"Sayang, aku bawa makanan spesial buat kamu. Harganya lumayan mahal tapi rasa gak mengecewakan" Seloroh shinta sambil membuka kotak makanan dari restoran ternama


Arna merasa tidak enak berdiri lama jika dihadapkan dengan wanita mulut cabai ini, pedesnya bukan main.


"Mas, aku keluar dulu. Aku titip makanan itu ya" Tutur Arna


"Tungguu, itu apaan? Coba lihat" Shinta meraih ketiga mangkuk rantang lalu memasang mimik seperti merasa jijik.


"Ya Ampun. Kamu ini gimana sih, bawa-bawa makanan kampungan kayak gini. He asal kamu tau, Ahdan itu orang kaya dan berkelas, jadi.. Makanan juga harus yang berkelas dan berkualitas. Bukan asal suguhin makanan kampungan, gak enak. Duh kamu jadi istri gak becus" Cerewet Shinta menyumbing bibir miring dengan tatapan menusuk


Arna hampir tak bisa membendung emosinya. Sejenak menghela nafas kasar hendak membantah sindiran shinta.


"Kampungan gak selalu berarti gak enak. Walau kampungan tapi baik untuk kesehatan sebab.. Mengandung vitamin, asam folat, zat besi dan protein, ini baru disebut berkualitas. Masa sih penampilan anda yang berformal ini asal ngomong aja gak tau berkualitas itu seperti apa." Sindiran Arna yang halus namun cukup menusuk hati Shinta.


Shinta hanya melongo kesal.


"Beraninya kamu" Desis shinta menghampiri Arna berniat menampar keras pipi Arna. Namun dihentikan oleh Ahdan yang sedari tadi hanya diam menyimak dalam keadaan pusing mendengar suara cerewetnya shinta.


"Stop" Ketus Ahdan


"Arna, kamu keluar aja dan bawa kembali rantang ini. Mungkin buat kamu makan." Pinta Ahdan


Shinta bereaksi girang, "Gitu dong sayang. Pastinya kamu mau makan yang aku bawain. Rasanya lezat banget."


"Hei tunggu apa lagi, buruan beresin barang kampungan ini terus keluar. Ayo buruan gak pake lama" Shinta bertambah cerewetnya dengan nada suara seperti kaleng rombeng


Arna benar-benar merasa sebal, segera ia menutup kembali mangkuk rantang dan menyusunnya kembali. Seraya bergegas keluar.


"Aku suapin ya, sayang" Shinta melayangkan suapannya hingga mendarat masuk ke mulut Ahdan.


Baru sampai di ambang pintu, Arna mendengar geli suara centil wanita mulut cabe itu. Ingin sekali rasanya menyindir lebih kasar lagi biar mulutnya kapok.


Arna berjalan menyusuri sudut ruangan kantor dengan raut wajah cemberut. Kenapa Ahdan menyuruhnya membawa keluar makanan ini tanpa sedikitpun ia nikmati, apakah Ahdan tidak suka masakannya yang disebut kampungan? Padahal dirumah kadang menyajikan tempe goreng dan semur, Ahdan pun makan dengan lahapnya. Hmm wajar jika Ahdan menolak pemberian Arna disaat kekasihnya datang. Arna dan Shinta ibarat dua objek yang masuk dalam persaingan ketat, tentunya bukan jodoh pilihan yang kalah saing.

__ADS_1


Arna berjalan dengan menunduk hanya fokus memandang langkah kakinya. Sementara seorang pria berjalan di depannya dengan tangan kanan memegang gelas plastik berisi jus jeruk dan matanya menatap lamat layar ponselnya yang ia pegang dengan tangan kirinya.


Mereka pun mendekat seketika bertabrakan. Baju dan hijab Arna menjadi basah terkena tumpahan jus pria itu.


"Astaga, maaf mbak maaf. Saya nggak sengaja." Kata pria itu lemas karena panik


"Iya, gapapa kok Mas" Sahut Arna senyum sambil menge-lap bajunya yang basah dengan tangan kosong


Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana lalu merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan selembar tisu dan memberikan kepada Arna. Arna pun meraihnya


"Terima kasih"


"Sekali lagi saya minta maaf" Ucap pria itu


"Iya mas, gapapa"


Pria itu mengulurkan telapak tangannya,


"Nama saya Sean"


Arna pun membalas ulurannya


"Arna" Sahut Arna senyum


Arna belum pernah melihat pria ini namanya juga terdengar asing di antara nama-nama karyawan yang ia kenali. Tampangnya masih lebih tampan dari Ahdan dan terlihat sangat ramah. Apakah pendatang baru atau sekedar bertamu? Namun Arna tak punya waktu basa-basi ia harus segera pulang sebelum kembali bertemu dengan wanita mulut cabe itu apalagi jika berduaan mesra dengan Ahdan, tentunya akan membakar cemburu Arna.


"Saya permisi dulu, ya" Kata Arna


"Oh iya, sampai ketemu lagi" Sahut pria itu yang tidak asing lagi nama dan orangnya, Sean.


Di dalam rumah yang luas itu, hanya ada Arna dan bibi nun didalamnya


Sementara Abah dan umi menginap di sebuah hotel mewah untuk menghadiri acara meeting bersama sahabat dan koleganya. Sedangkan Annisa bersama anak perempuannya sudah kembali ke rumahnya di jogja.


Ahdan belum juga pulang padahal jam sudah hampir memasuki waktu istirahat malam. Arna menunggu kepulangan Ahdan di ruang keluarga sambil menonton tv. Rasa kantuk telah menderanya sekejap ia memejamkan mata. Arna sempat berfikir mungkin Ahdan masih asyik kencan dengan kekasihnya. Ah biarin aja asal jangan sampai ngelakuin hal macem-macem.


Ahdan masuk dengan langkah gontai sambil menggosok leher bagian belakangnya. Terlihat juga Ahdan menenteng kantong plastik hijau berisi sesuatu. Kantongnya transparan bisa dilihat bentuk isinya yaitu sebuah kotak persegi panjang berukuran sedang.


Ahdan mendengar suara televisi dinyalakan. Segera ia menghampirinya. Ahdan menatap Arna tertidur di kursi sofa, kepalanya sudah miring pada sandarannya seperti sudah tertidur pulas. Ia meletakkan kantongan itu di atas meja dengan keras sehingga terdengar oleh Arna. Arna membuka matanya lalu mendongak memandang Ahdan berdiri di depannya.


"Mas, baru pulang ya" Tanya Arna seraya berdiri


"Kamu ngapain tidur disitu?" Ahdan bertanya balik sembari menanggalkan jas kantornya.


"Tungguin kamu mas, sudah malam belum pulang-pulang juga" Sahut Arna


Ahdan mengambil nafas dan memutar bola matanya lalu menatap kembali ke Arna.


"Saya lagi banyak urusan, pastinya pulang malam-malam. Gak usah repot-repot nungguin" Ujar Ahdan seraya melepas dasinya


"Itu hadiah buat kamu" Sambung Ahdan sambil menunjuk kantong plastik berisi kotak dengan isyarat mata.


Senyum Arna mengembang karena bahagia mendengar Ahdan memberinya hadiah. Arna pun mengambilnya lalu menanggalkan kantong plastik kemudian membuka kotaknya. Ketika melihat isinya senyum Arna yang tadi terbit menjadi redup. Rupanya isi kotak itu adalah sepatu hak tinggi berwarna maroon mengkilap dengan tinggi 6cm. Arna sangat tidak menyukai sepatu hak tinggi, padahal dulu ia menyukainya namun lama-lama benci dengan yang namanya hak tinggi itu.


Karena awal Arna memakainya saat pertama kali masuk kantor, sepatu itulah biang kesialan. Ketika Arna turun dari tangga kantor tiba-tiba kakinya terpeleset karena hak tingginya patah, begitu Arna terpeleset untung saja Arna menahan diri agar tidak terjatuh dengan kedua tangannya memegang pembatas tangan. Tapi sialnya minuman es cendol yang ia pegang menjadi lepas akhirnya terjun tumpah mengenai kepala Ahdan.


Karena jas kantor Ahdan yang sudah kotor dan basah itu Arna dihukum dengan mencucinya diluar kantor dengan dikelilingi karyawan yang tertawa melihatnya karena wajahnya dilukis menggunakan spidol seperti kapten bajak laut lengkap dengan kumisnya.


Kalau saja Arna memakai sepatu itu, kesialan bukan lagi berimbas ke Ahdan tetapi orang lain. Entah drama apa lagi yang diperbuat oleh sepatu hak tinggi ini.

__ADS_1


__ADS_2