
Sandra hanya diam dan duduk manis di mobil yang Brian bawa. Mobil sport keluaran terbaru.
Pria itu sepertinya tidak lagi menutupi jati dirinya di depan Sandra, setelah kemaren dia sempat menunjukkan siapa dia sebenarnya di depan kedua orangtua gadis itu.
Namun sepertinya hal itu tidak membuat Sandra terpesona, terpukau atau pun bersikap manis, gadis itu tetap menunjukkan wajah tidak sukanya pada Brian.
Brian sesekali melirik gadis yang duduk membuang muka itu, ada rasa bersalah di dalam diri Brian dan dia berkeinginan untuk meminta maaf, namun sebagai seorang pria, tentu saja dia merasa gengsi, akhirnya Brian membatalkan niatnya itu dan malah membiarkan gadis itu melamun.
"Kita sudah sampai, jadi buang wajah jelek mu itu, tersenyum dan bersikap baiklah di depan nenek." ucapnya yang membuat Sandra langsung menoleh.
Gadis itu siap melayangkan protes, namun terdiam setelah mendengar kalimat lanjutan Brian, "Kau berhutang banyak padaku dah kita sudah sepakat sebelumnya. Jadi jangan coba macam-macam. Atau kau akan tau akibatnya, karena aku tidak suka main-main."
Sandra turun dari mobil dengan sedikit mendongkol, dia berjalan menjauh namun baru dua langkah ponselnya berbunyi.
"Bu, ibu dimana? gawat Bu?" terdengar suara Ririn yang panik dari arah seberang.
"Tenang Rin, katakan ada apa?" tanya Sandra yang coba bersikap tenang, namun sebenarnya di dalam hatinya dia juga merasa was-was.
"Bu, tadi bapak kesini dan mengatakan jika beliau tidak telah mengambil alih perusahaan ini, apa itu betul Bu?"
"Hah!" Ucap Sandra kaget.
"Apa yang beliau lakukan di ruangan ku?" tanya Sandra geram, amarah sudah mulai menguasai dirinya.
"Bapak bilang, mulai besok bapak akan mengantar disini, dan semua urusan diambil alih bapak, Bu "
'Udah Rin, enggak usah panik, tenang ya?" ucapnya mencoba menghibur Ririen.
"Gimana bisa tenang itu perusahaan Mama dan aku, aku adalah satu-satunya orang yang di harapan Mama meneruskan perusahaan ini, tapi ini.... hiks....hiks, gadis itu menangis lagi.
Brian mendekat dan mengambil ponselnya, sejak tadi pria itu gatal ingin segera bertindak.
"Halo, sebentar lagi orang utusan
dari kantor saya akan datang, dan
__ADS_1
akan membereskan semuanya," setelah itu Tut! Brian mematikan sambungan telpon mereka. Dan mengembalikan ponsel itu ke tangan Sandra.
Brian kemudian melenggang pergi begitu saja, tanpa mengatakan apapun, membuat sang gadis semakin jengkel dan kesal.
"Tunggu, apa yang baru saja kamu katakan? apa tujuan dan -"
"Bukankah sudah kau dengar, aku sudah menyelesaikan semua masalahmu, sekarang waktunya kau melakukan tugasnya, ingat akting mu harus bagus, total jangan sampai nenek mencurigai kita."
"Tapi-"
"Shuttt! urusan perusahaan serahkan saja padaku,"
Setelah itu Brian melenggang pergi tak dihiraukan nya panggilan Sandra,
Karena diabaikan mau tak mau Sandra ikut, masih dengan perasaan kesal dan mendongkol di dalam hatinya.
Brian berhenti di depan pintu kamar neneknya, dan tanpa bicara dia menggandeng tangan Sandra, membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Nenek..." panggilnya dengan senyum manis di bibirnya.
Pasangan yang sangat serasi, cantik dan tampan, puji nenek di dalam hatinya.
"Apa kabar nek?" Sandra mendekat dan mencium tangan nenek,
"Baik," jawab nenek tersenyum ramah, dan memeluk Sandra.
Nenek menyukai sikap dan perilaku Sandra ini, baik dan tulus batinnya.
"Nek, udah siap?"
"Sudah,"
"Ayo," ajak Brian
Mereka pulang bersama, nenek mengajak Sandra ke rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, nenek mengajak Sandra untuk makan bersama.
Bibik kaget melihat nenek datang bersama seorang wanita muda yang cantik, dan tambah terkejut saat nenek mengatakan jika wanita itu adalah calon menantunya.
Senyum di bibir bibik terbit dengan tulus, teriring doa untuk pasangan baru yang akan menikah sebentar lagi.
****
Sepulang dari rumah nenek, Brian mengajak Sandra membeli gaun pengantin.
Gadis itu sebenarnya kurang berminat, namun Brian tetap memaksa dan akhir nya dia menjatuhkan pilihan pada sebuah kebaya putih dengan taburan berlian yang cukup mewah.
Sandra sengaja melakukannya agar Brian marah, namun sepertinya dia salah karena Brian langsung membayarnya tanpa mengatakan apapun.
Selepas membeli kebaya, Brian juga mengajak Sandra untuk membeli keperluan lainnya termasuk mahar pernikahan mereka.
Brian berniat membelikan cincin berlian untuk mahar pernikahan nya namun Sandra menolak dan memilih seperangkat alat sholat dan kitab suci Al Qur'an.
"Cuma ini?"
"Iya,"
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja,"
Brian menggeleng, dan Sandra menoleh, "Apa ada yang aneh? kita nikahnya juga cuma bohongan kan? jadi akan keterlaluan jika aku meminta mahar yang mahal," ucapnya lagi
"Tapi aku mampu membelikannya, kau tinggal pilih saja." ucap Brian tak suka
"Tidak, ini sudah cukup. Aku tidak meminta lebih, terima kasih."
Setelah itu Brian mengantar Sandra kembali ke apartemennya, dan dia sendiri pulang ke rumah nenek.
"Brian, bisa nenek bicara sebentar?" panggil nenek saat Brian memasuki rumah.
__ADS_1