
Pak Ran dan suster Lili segera pulang terlebih dahulu untuk mengurus pemakaman dan segala sesuatunya di rumah duka kediaman Pranata. Cellin pun juga ikut bersama mereka untuk membantu suster Lili di rumah. Sedangkan Papi Daniel, mami Erika, Mama Sintya dan papa Kevin akan pulang bersama jenazah Oma Mila nanti.
Reyhan rencananya akan tinggal di rumah sakit karena harus menjaga Adel istrinya yang masih nampak syok. Dokter sudah berpesan untuk tidak meninggalkan Adel sendirian di rumah sakit karena kondisi Adel yang nampak lemah.
"Abang!" Lirih Adel memanggil Reyhan yang ada di sampingnya, saat ini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan tersebut.
"Heemm, kamu mau apa?" Reyhan mengelus lembut kepala istrinya.
"Aku mau pulang, aku mau ikut nganterin Oma ke peristirahatan terakhirnya." Adel mencoba bernego dengan suaminya.
"No! Nanti, setelah kesehatan kamu membaik dan sudah diperbolehkan pulang baru kita akan mengunjungi makam Oma." Tegas Reyhan.
"Tapi bang?" Adel masih kekeh membujuk Reyhan.
"Tidak sekarang sayang!" Reyhan langsung mengecup bibir istrinya saat Adel akan berucap lagi.
"Iiiiihh Abang!" Adel memukul pelan bahu Reyhan setelah mendapat serangan dadakan dari suaminya.
__ADS_1
Reyhan dan Adel spontan menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar suara pintu dibuka dari luar. Nampak Mama Sintya menyembulkan kepalanya.
"Sayang, Mama mau ngurus jenazah Oma dulu. Nanti mama balik ke sini lagi." Ucap mama Sintya kemudian beralih menatap Reyhan.
"Mama titip Adel Rey!" Mama Sintya berucap dengan suara datarnya kemudian menutup pintu kembali. Reyhan hanya bisa mengangguk dan menghela nafasnya pelan mencoba memahami Mama Sintya yang mungkin masih setengah hati menerimanya.
*****
Suasana pemakaman Oma Mila siang itu nampak terlihat ramai. Banyak sanak saudara, tetangga dan juga kolega bisnis Papi Daniel yang datang ikut mendoakan serta mengantarkan Oma Mila ke peristirahatan terakhirnya. Susan, Aprilio dan beberapa teman dekat Reyhan juga nampak ada di sana. Entah siapa yang memberitahu mereka, tapi yang namanya berita duka pasti akan cepat menyebar ke orang-orang terdekat.
Mami Erika nampak masih sesenggukan di dalam pelukan papi Daniel. Begitupun Mama Sintya yang masih nampak terpukul juga ada di pelukan Papa Kevin. Susan yang sejak tadi celingak-celinguk mencari keberadaan Reyhan dan Adel pun merasa heran karena tak menemukan batang hidung orang yang dicarinya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk menghampiri Papa Kevin karena hanya papa Kevin dan mama Sintya yang dikenalnya selain kedua orang tua Reyhan. Susan memang Sudah beberapa kali ikut Adel pulang kampung begitupun sebaliknya.
"Om, Adel nggak ikut?" Cicit Susan hati-hati.
"Adel ada di rumah sakit." Jawab Papa Kevin dengan suara yang pelan juga. Nampak bola mata Susan yang membulat karena terkejut. Selama ini Adel tak pernah mengabarinya sama sekali. Terakhir Susan mengirim pesan kepada Adel saat di kampus, tapi sampai sekarang nggak ada balasan dari Adel. Jangankan balasan, dilihat saja tidak. Dan sekarang ujug-ujug ia mendengar kabar Adel masuk rumah sakit. Emang sungguh terlalu Adel takodel-kodel sahabatnya itu.
"Adel kenapa Om?" Susan memberanikan diri untuk bertanya lagi.
__ADS_1
"Sakit!" Jawab Papa Kevin singkat. Susan pun sudah tidak berani lagi bertanya kepada Papa Kevin. Ia segera mundur teratur lagi ke belakang untuk menghampiri Lio.
"Gimana?" Tanya Lio berbisik di telinga Susan.
"Kata Om Kevin, Adel ada di rumah sakit mungkin Reyhan saat ini sedang menjaga Adel." Bisik Susan kembali.
"Oke! Setelah ini kita langsung ke rumah sakit." Putus Lio. Susan langsung mengangguk pasrah karena memang dia tadi datang bersama Lio.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð