Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 31


__ADS_3

Acara pemakaman Oma Mila sudah selesai, semua yang hadir satu persatu meninggalkan pemakaman. Begitupun Susan dan Lio yang langsung tancap gas menuju ke rumah sakit. Tertinggal Papi Daniel, mami Erika, Papa Kevin dan mama Sintya di sana.


Mama Sintya nampak berjongkok di samping makam Oma Mila. Mama Sintya menangis sejadi-jadinya di samping pusara ibunya, meratapi semua kesalahan dan juga penyesalannya.


"Sudah Sin, ayo kita pulang. Matahari sudah terik." Bujuk mami Erika kepada Mama Sintya yang masih nampak betah di sana.


"Ayo ma kita pulang, kita bersihkan diri dulu lalu kembali ke rumah sakit." Papa Kevin mencoba membujuk istrinya. Mendengar kata rumah sakit Mama Sintya pun akhirnya tersadar kalau saat ini Adel masih ada di rumah sakit dan mungkin sedang menunggu kedatangannya. Akhirnya Mama Sintya bangkit kemudian mereka berempat melangkah meninggalkan pemakaman. Mereka memutuskan pulang terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan makan siang sekalian, baru setelah itu kembali lagi ke rumah sakit.


*****


Susan dan Lio akhirnya tiba di rumah sakit setelah dari pemakaman. Mereka langsung menuju ke bagian resepsionis untuk menanyakan ruang di mana Adel dirawat saat ini. Setelah mendapatkan informasi tentang keberadaan Adel, mereka pun segera menuju ke bangsal perawatan Adel.


Ceklek!


Adel dan Reyhan menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu di buka. Susan menyembulkan kepalanya ke dalam untuk memastikan mereka salah ruangan atau tidak. Setelah dirasa benar, ia segera masuk diikuti Lio di belakangnya. Susan nampak meringis menampilkan deretan gigi putihnya layaknya sponsor Pepsodent.


"Kok tahu aku ada di sini?" Tanya Adel keheranan.


"Tadi kita ketemu Om Kevin di pemakaman Oma Mila." Susan mendekat ke arah Adel yang nampak berusaha untuk duduk. Reyhan pun langsung sigap membantunya. Setelah dirasa Adel sudah duduk dengan nyaman, Reyhan beralih ke sofa yang ada di ruangan tersebut untuk memberi ruang kepada istri dan sahabatnya. Lio juga langsung mendudukkan dirinya di samping Reyhan.


"Kenapa nggak ngabarin aku? Kenapa chat aku nggak dibalas?" Susan langsung melancarkan pertanyaan beruntun kepada Adel. Belum sempat Adel menjawabnya, dokter dan perawat memasuki ruangan untuk mengecek kondisi Adel siang ini.


"Permisi!" Sapa dokter Lusi ramah, dokter yang menangani Adel saat pertama kali periksa dulu. Dokter Lusi baru masuk siang ini setelah mengambil cuti selama dua hari karena ada urusan keluarga.

__ADS_1


"Saya periksa dulu ya Pak istrinya." Ucapan dokter Lusi barusan sontak membuat Susan dan Lio terkejut.


"Istri?" Beo Susan dan Leo bersamaan kemudian menatap tajam ke arah Reyhan. Reyhan yang ditatapnya hanya acuh seolah-olah mengabaikan keterkejutan sahabatnya itu.


"Masih mual Bu Adel?" Pertanyaan kedua sang dokter sontak membuat Susan dan Lio kembali terkejut hingga tanpa sadar Susan menjatuhkan ponsel yang sejak tadi ada di genggamannya.


Klotak!


Susan buru-buru mengambil ponselnya yang terjatuh, beruntung tidak sampe pecah. Kemudian ia kembali menatap Reyhan tajam seolah meminta penjelasan, namun lagi-lagi Reyhan hanya acuh.


"Masih mual Bu?" Tanya dokter Lusi sekali lagi karena belum mendapat jawaban dari Adel.


"Enggak dok, hanya waktu pagi saja. Itu pun tidak terlalu parah." Jelas Adel.


"Baik kalau begitu. Pak Rey, nanti tolong bantu bu Adel ke ruangan saya untuk periksa kandungan. Nanti suster akan mengantarkan kursi rodanya." Ucap dokter Lusi kepada Reyhan.


"Baik dok!" Balas Reyhan sopan.


"Kalau begitu kami permisi dulu, mari." Dokter Lusi dan seorang perawat segera keluar dari ruang perawatan Adel.


Setelah kepergian dokter Lusi, Susan segera mencecar Reyhan. Sedari tadi otaknya sudah ingin meledak karena dipenuhi berbagai prasangka yang belum tentu kebenarannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Susan kepada Reyhan, kemudian beralih menatap Adel. Reyhan pun menjelaskan singkat ceritanya, yaitu Adel hamil dan Omanya meminta mereka berdua segera menikah. Susan nampak manggut-manggut mendengar penjelasan dari Reyhan.

__ADS_1


"Kenapa nggak bilang ke aku waktu itu?" Susan menghampiri Adel kemudian memeluk sahabatnya itu.


"Maaf!" Adel sudah terisak di pelukan Susan.


"Ssssstt! Ya udah, jangan banyak pikiran." Susan mencoba menenangkan Adel. "Terus bagaimana, apa kamu akan tetap lanjut kuliah?"


"Tidak!" Seru Reyhan menyahut pertanyaan Susan. "Biar Adel cuti dulu, nanti setelah anak kami lahir baru ia boleh melanjutkan kuliahnya lagi." Putus Reyhan.


"Ya, sebaiknya memang begitu. Dilihat dari kondisi Adel yang lemah, takutnya nanti Adel kecapean terus bisa membahayakan bayi yang ada di dalam kandungannya." Susan manggut-manggut setuju dengan keputusan yang diambil Reyhan.


Tak berselang lama seorang perawat memasuki ruangan perawatan Adel sambil mendorong kursi roda. Reyhan segera mengangkat tubuh Adel dan mendudukkannya ke atas kursi roda tersebut kemudian mendorongnya menuju ke ruangan dokter Lusi diikuti Susan dan Lio yang mengekor di belakangnya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2