
"Sssssttt!" Suara desis tertahan terdengar dari arah brankar. Reyhan yang duduk di sebelah brankar istrinya segera menoleh dan mendapati istrinya tersebut yang sudah membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Reyhan mengusap kepala istrinya kemudian mencium keningnya. Mami Erika yang sejak tadi duduk di sofa segera beranjak menghampiri menantu sekaligus keponakannya itu.
"Sayang, kamu sudah sadar? Panggil dokter Rey?" Reyhan segera beranjak dari duduknya. "Mau kemana kamu?" Tanya mami Erika saat melihat anaknya itu hampir mencapai pintu.
"Katanya suruh panggil dokter mi?"
"Kamu gak lihat ada tombol di sana?" Mami Erika menunjuk tombol khusus untuk memanggil petugas yang ada di atas kepala menantunya.
"Astagaaaa!" Reyhan menepuk jidatnya sendiri kemudian segera berbalik lalu memencet tombol tersebut.
Sesaat kemudian, nampak dokter Lusi dan juga seorang perawat memasuki ruang perawatan Adel. Papi Daniel pun ikut masuk ketika melihat dokter dan perawat memasuki ruang perawatan menantunya. Papi Daniel takut terjadi sesuatu dengan menantunya itu.
"Selamat sore?" Sapa dokter Lusi ramah.
"Sore dok!" Balas mami Erika.
"Sebentar ya, kami periksa dulu Bu Adel nya." Reyhan dan mami Erika segera mundur untuk memberi ruang kepada dokter Lusi dan perawat tersebut.
Setelah memastikan keadaan pasiennya baik-baik saja, dokter Lusi beserta perawat segera meninggalkan ruang perawatan Adel.
__ADS_1
"Anak ku mana bang?" Tanya Adel yang baru menyadari perutnya telah kembali kempes. Reyhan mengunci mulutnya rapat karena bingung harus mengatakan apa kepada istrinya.
"Hey sayang, sudah ya." Mami Erika mendekat, Reyhan segera berdiri dari duduknya untuk memberikan tempat kepada maminya. Reyhan berpindah ke sisi sebelah dan kembali menggenggam tangan istrinya.
"Anak ku mi, hiks.. hiks.." Isak Adel seraya mengelus perutnya.
"Sudah ya, mungkin ini belum rezeki kalian." Mami Erika yang duduk di samping Adel pun tak kuasa menahan tangisnya.
"Sudah sayang." Reyhan yang berdiri di samping istrinya itu hanya bisa mengelus kepala sang istri. Digenggamnya erat tangan Adel untuk menyalurkan kekuatan.
"Anak ku mana bang, aku ingin melihatnya?" Kekeh Adel. Reyhan, mami Erika dan papi Daniel pun saling pandang sebelum akhirnya mami Erika yang menjelaskan kepada Adel bahwa anak mereka telah dimakamkan siang tadi setelah operasi selesai. Tepatnya di sebelah kiri makam Oma Mila, karena di sebelah kanan makam Oma Mila ada makam opa Willi.
"Hiks.. hiks.. kenapa nggak nunggu aku sadar dulu? Aku juga ingin melihat bagaimana wajah anak ku. Aku ingin menggendongnya, memeluknya, serta menciumnya."
"Hiks.. hiks.. maafin Mama Nak, Mama nggak bisa menjaga kamu dengan baik hingga kamu memilih untuk pergi."
"Hey, ini bukan salah kamu sayang." Reyhan mengecupi puncak kepala istrinya. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri, aku pun juga salah karena sebulan ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku sampai aku melupakan kalian." Reyhan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Tapi, seandainya saja aku lebih peka, mungkin kejadiannya nggak akan seperti ini bang."
"Sudah sayang, jangan menyalahkan dirimu lagi. Kita ikhlaskan saja biar Arka tenang di sana."
__ADS_1
"Arka?" Beo Adel.
"Ya, aku memberikannya nama Arkana Pranata."
Ceklek!
Mendengar suara pintu dibuka, mereka berempat serempak menoleh ke arah pintu.
*****
*****
*****
*****
*****
Udan-udan, cepet angkat jemurannya ðĪðð
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ