Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 46


__ADS_3

Lima hari Adel dirawat di rumah sakit dan akhirnya hari ini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Lusi. Mama Sintya terlihat sedang mengemasi barang-barang anaknya membuat Reyhan seketika panik.


"Sayang plis, jangan tinggalkan aku." Reyhan memeluk tubuh istrinya yang masih terduduk di atas brankar. Air mata Adel perlahan mengalir membasahi pipinya.


"Ayo sayang kita pulang." Ucap mama Sintya selesai mengemas barang-barang anaknya kemudian menghampiri sang anak.


"Ma plis, jangan pisahkan kami." Mohon Reyhan dengan mata memerah menahan tangisnya.


"Sudah cukup! Biarkan Adel bahagia kalau kamu memang benar-benar mencintainya."


"Tapi ma, aku gak mau pisah sama Adel ma. Kami saling mencintai!"


"Diam!" Teriak Mama Sintya membuat Adel terkejut dan semakin sesenggukan.


"Ma!" Seru papa Kevin yang sedari tadi hanya diam saja. "Jangan teriak-teriak, ini di rumah sakit. Kan bisa dibicarakan baik-baik."


"Ayo sayang, kita pulang." Mama Sintya membantu Adel turun dari ranjang. Namun Reyhan kekeh menggenggam tangan istrinya.


"Ma, oke, Rey bakal ikut ke rumah mama." Putus Reyhan.


"Siapa yang mengijinkan mu ikut bersama kami!" Mama Sintya menyalak marah ke arah Reyhan.


"Tap-tapi ma, aku suaminya ma. Aku tidak akan pernah meninggalkan istri ku sendirian."

__ADS_1


"Ya, sekarang mungkin kamu masih suaminya." Mama Sintya mengangkat kepalanya menatap tajam menantunya.


"Ap-apa maksud mama?" Reyhan tak mengerti maksud ucapan mertuanya barusan.


"CERAIKAN ANAK KU SEKARANG!" Teriak mama Sintya sekali lagi menggema di ruang perawatan Adel.


"Ma!" Seru papa Kevin sekali lagi.


"Ada apa ini?" Mami Erika dan papi Daniel yang baru saja tiba di depan ruang perawatan menantunya langsung masuk ke dalam saat mendengar teriakan dari dalam ruangan. "Sintya, ada apa?" Mami Erika bertanya selembut mungkin.


"Aku minta anak kakak untuk menceraikan anak ku!"


"SINTYA!" Kali ini gantian papi Daniel yang berteriak murka. "Jangan keterlaluan!"


Deg!


Semua orang yang ada di sana merasa tertampar mendengar ucapan Mama Sintya. Adel berusaha menahan isak tangisnya, namun sialnya air matanya tidak berhenti mengalir hingga membuat tubuhnya bergetar.


"Ayo sayang, kita pergi!" Mama Sintya langsung menggandeng tangan anaknya keluar dari ruang perawatan diikuti oleh Papa Kevin yang mengekor di belakang mereka.


Reyhan yang tersadar langsung berlari mengejar istrinya. mami Erika dan Papi Daniel pun ikut berlari mengejar anaknya.


"Ma, plis jangan seperti ini." Reyhan meraih tangan istrinya yang hampir saja masuk ke dalam mobil. Saat ini mereka sedang berada di parkiran rumah sakit.

__ADS_1


"Lepaskan tangan anak ku!" Sentak mama Sintya menepis tangan Reyhan hingga membuat tangan Adel terlepas dari genggaman suaminya.


"Jika kalian masih menganggap kami sebagai keluarga, maka ceraikan Adel sekarang juga!"


Braakk!!!


Mama Sintya langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras hingga membuat Adel terlonjak kaget. Papa Kevin segera melesatkan mobilnya meninggalkan parkiran rumah sakit.


"Pa! Berhenti pa! Adel sayang!" Reyhan berlari, berusaha mengejar mobil papa Kevin. Namun ia tak bisa mengejarnya karena mobil Papa Kevin sudah melesat dengan cepat. Mami Erika dan papi Daniel pun ikut berlari mengejar anaknya.


"Sudah Rey, biarkan mereka menenangkan diri dulu. Nanti kita akan ke sana kalau kondisi sudah benar-benar tenang." Hibur mami Erika. Reyhan pun mengangguk. Akhirnya mereka bertiga kembali ke tempat parkir dan meminta Pak Ran mengantarkan mereka untuk pulang terlebih dahulu sebelum mengantar Papi Daniel ke kantor.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ


__ADS_2