Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 45


__ADS_3

Tepat pukul empat sore, Mama Sintya dan papa Kevin tiba di Jakarta. Papa Kevin langsung melesatkan mobilnya menuju rumah sakit tempat Oma Mila dulu dirawat.


Setelah bertanya terlebih dahulu kepada petugas resepsionis letak ruang perawatan anaknya, Mama Sintya dan papa Kevin langsung melesat menuju ruang perawatan anaknya.


Ceklek!


Mama Sintya langsung mendorong pintu tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Nampak mami Erika, Papi Daniel, Reyhan dan juga Adel menoleh ke arahnya.


"Sayang!" Mama Sintya berhambur menghampiri brankar dan langsung memeluk anaknya.


"Hiks.. hiks.. anak ku ma." Isak Adel di pelukan mamanya.


"Mana cucu mama nak? Kalian baik-baik saja kan?" Mami Erika, Papi Daniel Dan Reyhan saling pandang.


"Sin-Sintya, tenang dulu ya." Mami Erika mencoba menenangkan mama Sintya. Mama Sintya kemudian mengurai pelukannya.


"Apa yang terjadi kak? Bukannya usia kandungan Adel baru menginjak tujuh bulan, kenapa harus dioperasi? Apa terjadi sesuatu dengan cucu ku?"

__ADS_1


"Hiks.. hiks.." Adel semakin terisak.


"Ma, tenanglah dulu." Papa Kevin mengelus punggung istrinya untuk menenangkan Mama Sintya.


"Sayang, katakan sama mama nak, apa yang terjadi?"


"Anak ku meninggal ma, hiks.. hiks.."


"APA!" Teriak mama Sintya dan papa Kevin bersamaan karena syok.


"Me-meninggal?" Beo mama Sintya.


"Ayo Sin, kita duduk dulu biar aku jelaskan." Mami Erika menuntun mama Sintya ke arah sofa yang ada di ruangan tersebut. Papa Kevin pun mengekor dan mendudukkan dirinya di samping sang istri.


Setelah di rasa mama Sintya sudah tenang, mami Erika mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya. Berawal dari Reyhan dan Adel yang berpamitan saat sarapan tadi untuk pergi berkunjung ke rumah kedua orang tua Adel. Kemudian mereka terlebih dahulu pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kesehatan Adel dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Namun, saat dokter Lusi mengecek kandungan Adel, bayi yang ada di dalam kandungan Adel dinyatakan sudah meninggal karena terlilit tali pusat. Dan saat itu juga Adel harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalam kandungan. Jika bayi tersebut tidak segera dikeluarkan maka akan membahayakan sang ibu.


"Hiks.. hiks.." Isak tangis mama Sintya mengiringi sepanjang mami Erika bercerita. Perlahan mama Sintya mengangkat kepalanya. Pandangannya beralih menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Sekarang kalian tau kan, kenapa aku melarang mereka menikah!" Teriak mama Sintya menggema di dalam ruang perawatan anaknya yang membuat Adel semakin terisak dalam pelukan suaminya. "Ini akibatnya kalau kalian tidak mau mendengarkan perkataan ku!"


"Ma, kontrol emosi mama. Ini di rumah sakit ma, lihat Adel." Papa Kevin menunjuk anaknya yang tergugu dalam pelukan suaminya. "Adel ketakutan mendengar teriakan mama." Mama Sintya beranjak dari duduknya kemudian menghampiri sang anak. Reyhan segera mengurai pelukannya kemudian mundur untuk memberi ruang Mama Sintya.


"Sayang, setelah ini kita pulang ya? Dengarkan perkataan mama kali ini saja." Mama Sintya merengkuh Adel ke dalam pelukannya. Untuk sesaat Adel bingung harus menjawab apa. Namun sedetik kemudian ia menganggukkan kepala dalam pelukan sang mama. Mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh mamanya. Tak seharusnya mereka memaksa untuk menikah, karena mereka adalah saudara sepupu yang mana masih memiliki ikatan darah.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ


__ADS_2