
Waktu seminggu yang diberikan oleh Reyhan kepada Adel dan kedua orang tuanya sudah cukup rasanya. Reyhan sudah tidak dapat lagi membendung kerinduannya kepada sang istri. Pagi ini ia memutuskan untuk berangkat ke kota asal istrinya itu sendirian tanpa kedua orang tuanya karena Papi Daniel akhir-akhir ini sangat sibuk, jadi mami Erika pun tidak bisa menemaninya.
Lima jam lamanya perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Reyhan sendiri tiba di depan pagar rumah kediaman Mahesa. Reyhan segera turun dari mobilnya lalu mendekati pagar yang ternyata digembok dari luar. Rumah pun terlihat sepi tanpa penghuni.
"Kemana istri dan kedua mertuanya itu?"
Bahkan seminggu ini Reyhan tidak dapat menghubungi nomor istrinya dan kedua mertuanya. Nomor Adel dan juga nomor kedua mertuanya itu sama sekali tidak aktif.
"Apa mungkin ketiga orang itu berganti nomor bersamaan untuk menghindarinya?" Berbagai pikiran buruk berkecamuk di dalam kepala Reyhan.
"Adel sayang! Aku datang sayang!" Teriak Reyhan seraya menggoyang-goyangkan pagar rumah dengan kuat, berharap gembok yang menempel di pagar bisa terlepas. Namun nihil, bahkan sampai tangannya terasa kebas gembok itu masih menempel erat di pagar. Dan juga sama sekali tidak ada sahutan dari dalam rumah.
"Permisi mas, cari siapa?" Sapa seorang ibu-ibu berkerudung merah yang sedang melintas di depan rumah Adel.
"Maaf Bu, apa ibu tau dimana istri saya dan kedua orang tuanya?"
"Istri?" Beo orang tersebut nampak terkejut.
"Iya, maksud saya Adel dan kedua orang tuanya."
"Owh, saya kurang tahu mas. Kalau gak salah rumah ini sudah kosong sejak dua minggu yang lalu."
"Sejak dua Minggu yang lalu?" Sekarang gantian Reyhan yang terkejut. "Bukannya mereka sudah pulang sejak seminggu yang lalu? Terus kenapa ibu-ibu ini bilang rumah ini sudah kosong sejak dua minggu yang lalu? Apa mungkin mereka tidak pulang ke rumah ini? Terus mereka ke mana?" Batin Reyhan mulai kalut membayangkan bahwa dirinya benar-benar telah dipisahkan dari istrinya.
__ADS_1
"Iya mas, dan setahu saya mereka belum kembali lagi. Ya sudah Saya permisi dulu Mas, mari."
"I-iya bu, terima kasih!" Reyhan segera masuk kembali ke dalam mobil dan langsung melesatkan mobilnya menuju ke toko bakery milik mama Sintya yang berada tidak jauh dari kediaman Mahesa.
"Permisi mbak!" Sapa Reyhan saat masuk ke dalam toko bakery dan langsung menghampiri penjaga toko yang berada di balik etalase.
"Iya mas, mas Reyhan ya?" Tanya penjaga toko tersebut yang tak lain adalah Nadia orang kepercayaan mama Sintya dan papa Kevin.
"Iya mbak Nadia!"
"Sendirian mas? Adel gak ikut?"
Deg!
"Apa mbak Nadia juga tidak tahu?"
"Tau apa mas?" Nadia mengernyit bingung.
"Memangnya mama gak pernah telfon?"
"Owh, iya mas, sudah seminggu ini Bu Sintya tidak menghubungi saya."
"Mereka gak ada mbak!" Reyhan menyugar rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Maksudnya mas?" Raut kebingungan nampak jelas di wajah Nadia.
"Seminggu yang lalu mereka sudah kembali, tapi tadi saya habis dari rumah ternyata pagar rumahnya digembok. Dan tadi juga ada tetangga yang bilang kalau rumah sudah kosong sejak dua minggu yang lalu. Terus mereka kemana?"
"Saya juga nggak tahu Mas, soalnya seminggu yang lalu saya masih berkabar dengan Bu Sintya dan katanya masih di Jakarta."
"Aaaaaaarrrgh!" Teriak Reyhan frustasi kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di toko tersebut. Dirogohnya ponsel dalam sakunya kemudian mencoba untuk menghubungi Adel lagi. Namun masih tetap sama, hanya suara operator yang menjawabnya. Reyhan kemudian bangkit dan menghampiri Nadia lagi.
"Apa mbak tau rumah sanak saudara Papa Kevin?"
"Gak tau mas, selama ini saya juga nggak pernah lihat keluarga Pak Kevin berkunjung ke sini."
"Ya sudah terimakasih mbak." Reyhan segera keluar dari toko bakery mama Sintya kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung melesatkan mobilnya menyusuri jalanan kota A tak tentu arah tujuan.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ