Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 42


__ADS_3

"Sayang." Reyhan mengelus-elus kepala istrinya dengan sayang. Saat ini mereka sedang rebahan di atas tempat tidur bersiap untuk tidur.


"Heeemm." Sahut Adel tanpa membuka matanya menikmati elusan tangan suaminya di kepalanya.


"Gimana kalau kita pergi ke rumah papa mamanya bulan depan saja? Papi minta aku untuk segera belajar mengelola perusahaan. Aku janji, satu bulan ini akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengelola perusahaan. Setelah itu aku akan meminta izin pada Papi untuk pergi ke rumah Papa dan Mama."


"Iya, terserah Abang saja." Adel membuka matanya kemudian mengelus rahang tegas suaminya. Reyhan langsung membenamkan kecupan sayang di kening sang istri. "Sekarang kita tidur, biar besok Abang semangat kerjanya." Adel kembali memejamkan matanya. Reyhan langsung menelusupkan tangannya ke dalam piyama istrinya untuk mengelus-elus perut buncit sang istri. Inilah kebiasaan Adel saat akan tidur. Ia akan selalu meminta suaminya untuk mengusap perutnya hingga ia terlelap.


Perlahan tangan Reyhan naik ke atas menuju bukit kembar istrinya yang tanpa penghalang di balik piyama. Ya, ketika usia kehamilan Adel menginjak enam bulan, Adel sering merasa sesak saat tidur, jadi ia akan tidur tanpa menggunakan bra. Namun ia masih menggunakan pakaian dalam bagian bawahnya. Adel yang saat itu hampir terlelap seketika berjingkat kaget.


"Abang ih, bisa gak tangannya dikondisikan." Adel memukul pelan bahu suaminya.


"Boleh aku mengunjunginya?" Tanya Reyhan seraya m3r3m@$-r3m@$ kedua bukit kembar istrinya secara bergantian, membuat Adel tanpa sadar mengeluarkan d3$@h@n pelan.


"Aaaaaahh!" Reyhan pun seketika langsung terbakar api 9@ir@hnya. Ia langsung mengungkung tubuh istrinya, kemudian segera melepas kancing piyama sang istri satu persatu.


Skip!


*****


Hari-hari Reyhan selama sebulan ini disibukkan dengan pekerjaan kantor, hingga tiba waktunya Reyhan dan Adel akan pergi berkunjung ke rumah kedua orang tua Adel yang ada di kota A. Seperti biasa, Reyhan dan Adel akan pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mengecek kesehatan istri dan calon anaknya terlebih dahulu sebelum melakukan perjalanan jauh.


Setelah mengantri selama kurang lebih setengah jam, akhirnya kini tiba giliran Adel. Adel dan Reyhan segera masuk ke dalam ruangan dokter Lusi dokter yang selama ini menangani Adel.

__ADS_1


"Pagi Bu Adel, pak Reyhan." Sapa dokter Lusi ramah seraya mempersilahkan Adel dan juga Reyhan untuk duduk.


"Pagi dok!" Balas Adel dan Reyhan bersamaan seraya mengulas senyum, kemudian mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depan dokter Lusi.


"Apa ada keluhan bu Adel?"


"Tidak dok!" Jawab Adel lugas karena memang ia tidak merasakan apapun.


"Sebenarnya kami hanya ingin mengecek kesehatan istri dan anak saya dok, soalnya kami akan melakukan perjalanan jauh." Jelas Reyhan mengutarakan maksud kedatangannya.


"Owh, sepertinya kalau dilihat dari kondisi Bu Adel sehat-sehat saja. Sekarang usianya sudah menginjak tujuh bulan ya Bu." Ucap dokter Lusi melihat catatan kehamilan Adel. Adel dan Reyhan pun mengangguk.


"Mari Bu, langsung kita cek saja. Tolong Bu Adel-nya dibantu sus." Seorang perawat yang sejak tadi berdiri di samping meja dokter Lusi langsung sigap membimbing Adel untuk naik ke atas bed. Dokter Lusi langsung menggerakkan alat USG nya perlahan ke atas permukaan perut Adel yang tadi sudah diolesi gel oleh perawat.


"Kapan terakhir Bu Adel merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam kandungan Bu Adel? Misalnya menendang atau menyikut?"


Deg!


Wajah Adel langsung pias dan jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. Adel pun langsung mengalihkan pandangannya yang semula menatap dokter Lusi beralih menatap suaminya. Reyhan yang sejak tadi diam memperhatikan langsung m3r3m@$ tangan istrinya yang ada dalam genggamannya.


"Bu Adel?" Dokter Lusi memanggil Adel yang terlihat kebingungan. "Apa Bu Adel masih ingat, kapan terakhir kali merasakan pergerakan bayi yang ada di dalam kandungan Bu Adel?" Tanya dokter Lusi sekali lagi.


"Ka-kalau gak salah, satu bulan yang lalu dok. Saat kami makan siang bersama setelah suami saya di wisuda." Jawab Adel terbata karena tenggorokannya serasa tercekat.

__ADS_1


"Maaf Bu, pak, dengan berat hati saya sampaikan, bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Bu Adel sudah meninggal."


Jedeeeeeeeerrrrrrr!


Ucapan dokter Lusi barusan layaknya sebuah sambaran petir bagi Adel dan Reyhan. Tanpa dikomando air mata Adel langsung merembes membasahi kedua pipinya, begitupun Reyhan yang tanpa sadar juga menitikkan air matanya.


"Bapak dan ibu bisa lihat sendiri di layar monitor sudah tidak ada pergerakan dari bayi tersebut. Bapak lihat bagian leher bayi tersebut dililit oleh tali pusatnya. Kemungkinan bayi bapak dan ibu meninggal karena terlilit tali pusat." Seketika itu Adel langsung meraba perutnya yang masih membuncit.


"Anak ku, hiks.. hiks.." Isak tangis Adel begitu pilu saat mengetahui kalau anaknya saat ini sudah meninggal. Reyhan langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2