Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 34


__ADS_3

Acara tahlilan telah usai, tinggal para pelayan yang berlalu lalang membereskan sisa-sisa acara tadi. Susan dan Lio pun juga sudah pulang sejak tadi. Mereka semua saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga. Mama Sintya ingin pamit karena rencananya besok mereka akan kembali ke kotanya. Sudah lama Mama Sintya dan papa Kevin meninggalkan toko bakerynya. Meskipun sudah ada orang kepercayaan mereka yang mengurusnya, tapi tetap saja mereka harus segera kembali.


"Besok kami akan membawa Adel pulang bersama kami." Ucap Mama Sintya datar yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


"Nggak bisa begitu dong Sin, Adel kan sekarang sudah menjadi istrinya Reyhan. Jadi ia harus ikut kemanapun suaminya tinggal." Sergah mami Erika cepat. Rupanya mami Erika keberatan dengan keputusan sepihak yang diambil oleh Mama Sintya. Bukan hanya mami Erika saja yang keberatan, tapi Reyhan dan Adel pun sepertinya juga tidak setuju dengan keputusan mama Sintya, namun ia tak berani membantah mamanya.


"Reyhan bisa mengunjungi Adel sesekali nanti, jangan khawatir!" Mama Sintya masih kekeh dengan keputusannya.


"Ma, Rey mohan biarkan Adel di sini dulu. Rey janji setelah lulus kuliah nanti Rey akan langsung membawa Adel untuk tinggal bersama mama." Ucap Rey memohon kepada Mama Sintya.


"Sa-"


"Ma!" Seru papa Kevin sebelum mama Sintya melanjutkan ucapannya. "Biarkan Adel yang menentukannya karena Adel yang akan menjalaninya." Papa Kevin mencoba menengahi perdebatan di antara mereka.


"Adel sayang!" Mami Erika segera bangkit dan duduk di sebelah Adel kemudian menggenggam tangan Adel. Adel yang sejak tadi hanya menundukkan kepalanya segera mengangkat kepalanya. Dipandanginya orang-orang yang ada di sana satu persatu, kemudian pandangannya tertuju ke arah Mama Sintya.

__ADS_1


"Ma," Adel mulai membuka suaranya. "Adel mohon ma, Adel nggak mau jauh-jauh dari Reyhan." Mohon Adel kepada Mama Sintya dengan sudah berlinang air mata.


"Sin, kamu dengar sendiri kan? Mungkin itu bawaan bayi yang nggak mau jauh-jauh dari ayahnya." Mami Erika langsung menatap Mama Sintya.


"Huuuft! Baiklah, terserah!" Mama Sintya langsung beranjak meninggalkan ruang keluarga, kemudian masuk ke dalam kamarnya diikuti Papa Kevin yang mengekor di belakangnya. Mungkin papa Kevin ingin membujuk Mama Sintya agar Mama Sintya sedikit melembutkan hatinya.


"Hiks.. hiks.." Pecah sudah tangisan Adel. Reyhan segera merengkuh Adel ke dalam pelukannya.


"Sudah Jangan dipikirkan." Reyhan mengusap punggung istrinya lembut.


"Sudah sayang, biar besok mami bicara sekali lagi sama mama kamu. Sekarang istirahat dulu ya."


Reyhan segera membimbing istrinya masuk ke dalam kamar. Huuuft, sepertinya ia butuh usaha yang lebih keras untuk meluluhkan hati Mama Sintya yang sekeras batu karang itu. Sudahlah, biar itu dipikirkannya nanti saja. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan istrinya dan juga kandungan istrinya. Ia tidak ingin istrinya kembali mengalami pendarahan karena terlalu stress memikirkan masalah ini. Toh Mama Sintya juga sudah mengizinkan Adel untuk tetap tinggal disini meskipun dengan berat hati.


Reyhan ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya kemudian membawa Adel ke dalam pelukannya. Dikecupinya puncak kepala Adel berulang-ulang kemudian beralih menuju ke bibir istrinya yang nampak pucat karena tanpa sapuan make-up sedikitpun. Dis3s@pnya lembut bibir istrinya, Adel pun tanpa malu-malu lagi langsung membalasnya. Awalnya hanya lum@t@n-lum@t@n kecil, namun akhirnya semakin dalam dan menuntut. Namun Adel segera melepas pagutannya saat ia mulai kehabisan nafas. Didorongnya pelan dada suaminya itu untuk memberi jarak.

__ADS_1


"Stop bang! Nanti abang bisa kebablasan, ingat apa kata dokter. Tunggu usia kandunganku empat bulan." Adel mengingatkan pesan dokter Lusi yang mungkin dilupakan oleh suaminya itu.


"Huuuft!" Reyhan menghela nafasnya kasar mencoba meredam h@sr@t yang tadi sempat melambung tinggi dan sekarang harus terhempas ke dasar bumi.


"Ya sudah, peluk aja sini." Reyhan langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya. Dan mereka bersama-sama menuju ke alam mimpi.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2