Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 38


__ADS_3

Sepasang anak manusia yang nampak masih bergumul dalam satu selimut yang sama enggan untuk mengurai pelukannya. Udara dingin terasa menusuk ke dalam tulang pagi ini. Padahal pendingin ruangan sudah dimatikan sejak tadi, tapi hawa dingin masih saja merajai. Pantas saja! Semalam penuh hujan mengguyur kota Jakarta tanpa henti, dan pagi ini masih menyisakan gerimisnya. Beruntung hari ini hari libur, jadi para penghuni rumah bebas untuk tetap stay di bawah selimut tebalnya.


Adel beberapa kali mengerjapkan matanya, kemudian berusaha mengurai pelukan suaminya yang terasa menyesakkan dadanya.


"Abang lepas! Aku nggak bisa nafas ini." Kesal Adel, namun bukannya melepaskan Reyhan malah semakin erat memeluknya.


"Iiiiihh Abang, engap tau!" Adel mendorong tubuh suaminya agar terlepas dari jeratan sang suami, membuat Reyhan terkekeh namun masih memejamkan matanya.


"Jam berapa?" Tanya Reyhan yang masih enggan membuka mata. Reyhan kemudian mengurai pelukannya.


"Jam tujuh!" Jawab Adel ketus karena kesal.


"Cup! Morning kiss!" Reyhan mengecup bibir istrinya kemudian beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Adel memegangi bibirnya yang tadi dikecup sekilas oleh suaminya, lalu menyembunyikan tubuhnya ke dalam selimut. Ia merasa saat ini pipinya sudah semerah udang rebus karena perlakuan manis suaminya pagi ini.


Setelah Reyhan keluar dari kamar mandi, sekarang giliran Adel yang masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Reyhan menunggu istrinya selesai mandi, mereka akan bersama-sama turun untuk sarapan. Mungkin yang lain sudah sarapan terlebih dahulu. Biarkan saja, namanya juga pengantin baru. Jadi harap maklum, padahal pengantin barunya tidak melakukan apapun selain saling berpelukan.


Adel dan Reyhan nampak menuruni tangga. Reyhan menggandeng tangan istrinya menuruni tangga dengan hati-hati. Padahal Adel bisa jalan sendiri, namun Reyhan takut kalau tiba-tiba Adel terpleset atau tersandung di tangga. Reyhan akan memastikan bahwa istrinya akan baik-baik saja saat ia bersamanya.


Suasana rumah nampak sepi, entah pada ke mana penghuninya. Begitupun ruang makan, mungkin orang-orang sudah pada sarapan. Reyhan menarik kursi untuk diduduki istrinya.

__ADS_1


"Kok sepi, pada ke mana orang-orang?" Adel celingukan memperhatikan setiap sudut rumah.


"Entahlah, biarkan saja! Mau makan sama apa?" Tanya Reyhan kepada sang istri.


"Aku bisa sendiri bang." Adel menolak saat Reyhan ingin mengambilkan lauk untuknya. Seharusnya kan dia yang melayani suaminya, kenapa jadi kebalik begini?


"Harusnya tuh aku yang melayani Abang, bukan malah sebaliknya."


"Nggak masalah, toh kamu bisa melayani aku yang lain." Ucap Reyhan dengan senyum semirknya.


"Apa maksudnya?" Adel sudah melotot horor mendengar ucapan ambigu suaminya, membuat Reyhan tergelak.


"Heeemm!"


"Nanti kita ke makam Oma ya? Aku sudah sehat, udah kuat juga." Ucap Adel memohon.


"Baiklah, sore nanti kita ke makam Oma." Putus Reyhan mengacak pelan rambut istrinya.


Setelah menyelesaikan sarapannya yang sedikit kesiangan itu, mereka segera kembali ke kamarnya lagi karena hari ini mereka tidak ada jadwal kegiatan apapun.

__ADS_1


*****


Suasana pemakaman sore itu nampak sedikit ramai, maklum saja ini hari libur. Orang-orang pasti menyempatkan dirinya untuk berkunjung ke makam keluarganya di sela-sela kesibukannya. Biasanya banyak orang berziarah pada waktu Minggu pagi dan sore, atau Jumat pagi atau bahkan Kamis sore paling banyak, karena bagi sebagian orang menganggap malam Jumat adalah malam yang paling tepat untuk mendoakan keluarga mereka yang sudah berpulang.


Adel dan Reyhan berjongkok di samping makam sang Oma yang masih nampak basah itu. Dilantunkannya doa-doa di dalam hati untuk sang Oma tersayang. Setelah dirasa cukup, mereka segera meninggalkan pemakaman untuk kembali pulang ke rumah.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2