
Satu bulan sudah Reyhan berada di kota tempat asal istrinya ini. Setiap hari yang dilakukan Reyhan adalah memantau rumah kediaman Mahesa yang hingga saat ini masih kosong karena sang pemilik rumah tidak pernah kembali lagi ke rumahnya.
Reyhan selalu bolak-balik antara kediaman Mahesa dan juga toko bakery milik Mama Sintya yang sampai sekarang masih tetap beroperasi di bawah kendali Nadia, orang kepercayaan mama Sintya dan papa Kevin. Reyhan hanya akan kembali ke hotel setelah larut malam untuk beristirahat sejenak, setelah itu pagi-pagi sekali selepas subuh ia sudah kembali memantau kediaman Mahesa lagi. Namun semua itu nihil, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali di dalam rumah tersebut.
Entah itu benar atau memang Nadia diminta oleh Mama Sintya untuk menutupinya dari Reyhan. Selama ini Nadia selalu mengatakan kalau majikannya itu tidak pernah sekalipun menghubunginya. Dan Reyhan sama sekali tidak percaya dengan pengakuan Nadia itu. Reyhan selalu memantau gerak-gerik Nadia, bahkan saat wanita itu menerima telepon. Namun sampai sekarang Nadia masih bungkam dan tidak mau memberitahukan keberadaan Adel dan kedua orang tuanya.
"Kita pulang saja Rey." Mami Erika yang khawatir dengan anaknya, menyusul Reyhan dengan diantar oleh Pak Ran sopir keluarga Pranata. Papi Daniel tidak bisa ikut bersama mereka karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal begitu saja. Sudah dua hari ini mami Erika ikut bersama anaknya memantau rumah kediaman Mahesa dan juga toko bakery milik mama Sintya. Dan jangan lupakan Pak Ran yang menjadi sopir mereka.
"Tapi mi, bagaimana kalau nanti Adel pulang?" Reyhan nampak bimbang.
"Percaya sama mami, kalau kalian memang berjodoh, sejauh apapun Adel berlari, pasti akan kembali ke pelukan mu." Mami Erika menepuk pundak anaknya yang duduk di sampingnya. Saat ini mereka sedang berada di depan pintu gerbang kediaman Mahesa yang masih digembok dari luar.
Hari sudah semakin sore, dan mendung nampak menghiasi langit sore itu. Mau tidak mau setelah berperang melawan hatinya, akhirnya Reyhan pun menurut ucapan maminya.
__ADS_1
Mereka tiba di hotel tepat saat hujan mulai mengguyur kota A. Dengan langkah gontai Reyhan memasuki kamarnya. Reyhan mendudukkan tubuhnya bersandar pada sofa yang ada di dalam kamar hotelnya sambil memikirkan bagaimana caranya untuk menemukan Adel istrinya.
Reyhan merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celananya untuk menghubungi seseorang.
"Reyhan besok akan pulang Pi, tapi kirimkan seseorang untuk memantau disini." Ucap Reyhan saat sambungan teleponnya terhubung dengan Papinya.
"Ya, pulanglah. Papi akan menyuruh seseorang untuk memantau sekaligus mencari keberadaan Adel."
Reyhan segera menutup sambungan teleponnya setelah permintaannya disetujui oleh Papinya. Meskipun berat, tapi Reyhan akan mencoba menurut dengan kedua orang tuanya. Reyhan beranjak dari duduknya kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
*****
"Aaaaaaarrrgh!" Reyhan memukul stir seraya berteriak frustasi saat lagi-lagi dihadapkan dengan kenyataan bahwa rumah Adel masih tetap sama, Gelap gulita! Akhirnya Reyhan memilih kembali lagi ke hotel.
__ADS_1
Reyhan benar-benar meninggalkan kota A dan kembali ke ibukota Jakarta dengan harapan orang suruhan papinya akan segera menemukan istrinya. Mami Erika memilih ikut bersama anaknya, sedangkan Pak Ran mengendarai mobil seorang diri.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ