Bukan Pernikahan Sedarah

Bukan Pernikahan Sedarah
Part 32


__ADS_3

"Usianya sudah memasuki tujuh minggu ya Pak, Bu, tolong jangan banyak pikiran karena kandungannya lemah." Dokter Lusi menghela nafas pelan.


"Kapan saya boleh pulang dok?" Tanya Adel Yang sepertinya sudah tidak betah berada di rumah sakit ini.


"Maaf Bu, dengan berat hati saya katakan kalau Bu Adel harus dirawat di sini untuk sementara waktu sampai kandungan ibu kembali kuat." Dokter Lusi menjelaskan tentang keadaan kandungan Adel dengan hati-hati agar Adel bisa memahami keadaannya saat ini. Adel hanya bisa mengangguk pasrah karena ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Memohon kepada Reyhan pun juga percuma. Reyhan pasti akan menolaknya keras. Padahal ia tadi hanya ingin mengantarkan dan menyaksikan Omanya dikebumikan, itu saja. Tapi ya sudahlah, toh sekarang acara pemakaman juga sudah selesai.


Adel dan Reyhan kembali ke ruang perawatan lagi setelah selesai melakukan pemeriksaan kandungan. Susan dan Lio pun masih setia mengikuti mereka kembali, setelah tadi mereka menunggu di depan ruangan dokter Lusi.


"Bagaimana?" Tanya Susan yang kelihatan khawatir karena melihat wajah murung Adel.


"Kandungannya lemah!" Jawab Reyhan lesu.


"Jangan banyak pikiran, oke! Bumil harus bahagia!" Susan mencoba menyemangati Adel.


"Sekarang kamu istirahat, aku balik dulu, besok setelah kuliah aku ke sini lagi buat temenin kamu." Susan mengelus bahu Adel kemudian pamit kepada Reyhan. Lio juga langsung berdiri dan pamit kepada mereka.


Selang beberapa menit, kedua orang tua mereka datang bersamaan karena mereka satu mobil. Papi Daniel lah yang mengemudikan mobilnya sendiri.


"Sudah makan?" Mama Sintya mendekat ke arah Adel, lalu membelai rambut anaknya. Adel hanya menggeleng karena ia baru saja dari ruangan dokter Lusi.


"Baru selesai periksa kandungan Ma." Reyhan sigap menjawab pertanyaan Mama Sintya.

__ADS_1


"Oh ya? Apa kata dokter?" Mami Erika nampak berbinar.


"Kata dokter, kandungan Adel lemah. Jadi harus dirawat di sini sampai kandungannya kembali kuat." Mami Erika hanya manggut-manggut.


"Udah berapa bulan?" Tanya mami Erika lagi.


"Masuk tujuh Minggu mi." Lagi-lagi Reyhan yang menjawabnya.


"Ya sudah, sekarang makan dulu. Tadi mami bawakan makanan dari rumah, takutnya Adel nggak suka dengan makanan rumah sakit yang gak ada rasanya."


Menjelang sore, semua orang tua kembali ke kediaman Pranata karena harus mempersiapkan tahlilan Oma Mila yang rencananya akan diadakan selama tujuh hari kedepan. Tinggallah Adel dan Reyhan berdua di dalam ruang perawatan tersebut.


"Sayang!" Panggil Reyhan lembut seraya membelai kepala istrinya.


"Nanti setelah keluar dari rumah sakit kamu akan tetap di sini kan?" Reyhan menggenggam tangan Adel lalu mengecupnya berulang-ulang.


"Aku gak tau?" Adel menggeleng lemah.


"Aku Mohon sayang, aku nggak bisa jauh dari kalian." Mohon Reyhan memelas.


"Hanya sampai aku lulus kuliah, tinggal empat bulan lagi. Setelah lulus nanti terserah kamu mau tinggal di mana Aku ikut."

__ADS_1


"Entahlah, Tapi kan kamu bisa menyusul setelah lulus kuliah nanti kalau aku balik sama mama dan papa."


"Tidak-tidak, aku nggak mau jauh-jauh dari kalian." Reyhan semakin menunjukkan keposesifannya.


"Mama pasti nggak akan ngebolehin Aku tinggal di sini. Kamu tahu sendiri kan mama ku sekeras apa? Apalagi sekarang sudah tidak ada oma. Aku takut Mama akan memisahkan kita kembali, hiks.. hiks.." Reyhan langsung merengkuh Adel ke dalam pelukannya.


"Tidak-tidak, aku nggak akan biarkan itu terjadi. Kalau perlu aku akan bersujud di kaki Mama, memohon untuk tak lagi memisahkan kita." Reyhan semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudah, Jangan berpikir yang macam-macam. Ayo aku bantu membersihkan diri." Reyhan segera menggendong Adel membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2