Bukanlah Apa-apa

Bukanlah Apa-apa
# Titik


__ADS_3

Atas nama Tuhan yang maha Berkuasa aku memulai ini.


Melihat ke-langit yang yang sangat tinggi aku berfikir untuk beberapa pertanyaan.


Ada Apakah di sana? Apakah ada mahkluk hidup seperti manusia? Atau apakah ada planet lain seperti bumi?


Angin yang berhembus kencang, daun-daun yang terbang.


Suasana yang amat tenang, di sertai burung-burung yang berkicau senang.


Di atas rumput hijau yang segar, aku tidur sambil rebahan.


“ Sedang apa kau di sini? ”


Terdengar suara gadis muda dengan rambut tergerai sampai pundak datang dan duduk di sampingku.


“ Apa yang kau mau? ” ujarku.


“ Aku bertanya kau nanya balik ”


“ Baiklah kalau itu mau mu. Aku di sini lagi santai kaya di pantai, nah. Sekarang apa yang kau mau? ”


“ Lah, kan udah dijawab ”


“ Terserah mu ”


Angin sejuk yang berjalan, membuat rumput-rumput yang hijau bergoyang.


Kurasakan itu seperti isyarah lagu yang berdendang.


“ Andai saja, aku bisa terbang ” ujarnya.


“ Memang kenapa kalau kamu bisa terbang? ”


“ Aku pengen ketemu sama Tuhan ”


“ Tuhan...? Memang Dia ada di mana? ”


“ Entahlah, aku tidak tahu kalau Dia itu di mana. Tapi aku pengen banget ketemu denganNya ”


“ Kamu yakin...? ”


“ Ya pastilah ”


Dia tersenyum manis menghadap ke wajahku. Aku pun tersenyum pula.


“ Kalau menurut mu, kamu mau gak ketemu sama tuhan? ” tanyanya.


“ Aku...? Yah jangankan kamu, semua orang. Bukan, semuanya pasti maulah ketemu tuhan ”


Dia terkikik “ Benar juga yah, tapi. Menurutku gak semuanya itu pengen kenal banget sama tuhan ”


“ Maksud...? ”


“ Menurutku sih, mereka tidak terlau "ingin" mengenal-Nya, dan hanyalah "sebatas" saja ”


“ Oooh, begitu ”


Dia berdiri dan berkata lagi “ Eh, ngomongin tentang Tuhan. Dia itu siapa dan kaya gimana ya? ”


Aku terkejut atas pertanyaannya, ini baru pertama kali aku mendengarnya.


“ Kenapa kau berkata demikian? ”


“ Toh, namanya juga penasaran. Jadi aku pengen tahu, apakah Dia punya Bentuk? ”


“ Jadi, kamu beneran pengen mencari-Nya? ”


Dia menganggukan kepala. Aku berdiri dan berucap “ Yah, walau permintaan mu itu aneh, tapi itu terserah dirimu kan? ”


“ Bagaimanapun juga kan, namanya manusia punya sifat "rasa" juga "penasaran" kan? ”


Aku setuju dengan-nya. “ Eh, kamu pengen kemana...? ”


“ Pengen mencari Tuhan, ikut gak? ”


Dia beranjak pergi dan terhenti.


Aku menggaruk kepala “ Ah, kamu ini. Kamulah duluan, nanti aku nyusul ”


“ Udah, gak ada kata nyusul-nyusul. Kalau pengen ketemu denganNya, haruslah buru-buru ”


Sontak dia menarik tangan kananku, hingga aku tertarik dan mengikuti-nya.


“ Eh, eh. Pelan-pelan ” ujarku.


Tapi dia melemparkan senyumannya.


Hingga aku berlari terus-menerus entah ke mana sampai aku melihat suatu cahaya yang sangat terang.


Apakah itu? Cahaya tuhan kah?


______


Desa kami tiba-tiba terbakar, entah sebab apa.


Ketika kami telah tiba semuanya sudah seperti "LautanApi"

__ADS_1


Kami hanya bisa diam bergeming menelan ludah, menyaksikan apa yang sedang terjadi.


“ Lari! Lari! ”


Aku melihat seorang pemuda tertusuk oleh beberapa panah di punggung-nya, memerintahkan untuk lari.


“ Cepatlah nak! Larilah! kami sudah tidak punya waktu lagi! ”


Namun aku hanya berdiam memaku, karena ini pertama kalinya aku melihat darah bercucuran ke bawah tanah.


Aku bergidik ngeri karena setelah ia mengucapkannya, ia terjatuh mati karena senapan api.


Aku bingung ingin berbuat apa, ku lihat temanku berlari menuju rumah yang berkobaran api.


“ Ti, TIDAK! Jangan kesana! ”


Sontak saja aku berlari mengejarnya namun.


Srakk


Aku tertusuk oleh tombak,


ke, kenapa?


Aku melihat ujung tombak menembus perutku. Darahku terjatuh mengalir ke bawah dari pakaianku.


Aku menengok ke belakang “ Si, siapakah...? ”


terlihat sesosok pria gagah bertopeng memulai menarik senjatanya.


Srass


Aku pun terjatuh dan melihat dia sedang terkepung, kemudian mati terbunuh oleh orang yang serupa.


Apakah aku akan mati?


________


Di, di mana aku?


Aku tak dapat melihat apapun kecuali...


Gelap.


Aduhh,


Aku nencoba bangun dari pada tidurku dan ku raba tubuhku. Apa yang telah terjadi padaku?


Aku pun mencoba berdiri dan aku mampu, aku berjalan ke depan dan kulihat secercah cahaya.


Halo! Apakah ada orang?


Akhirnya aku sampai


Ku lihat ketika diriku keluar, cahaya terang menembus diriku. Ku coba buka mata dan terlihatlah seorang lelaki paruh baya yang berdiri sambil memegang tongkat.


“ Rupanya kau sudah sadar ya? ”


Dia berkata sambil memandangi air terjun.


“ Kemarilah nak, aku ingin memberi tahu mu sesuatu ”


Aku berjalan menuju ke arahnya dengan tertatih-tatih.


Aku pun sampai di sisinya.


“ Kemari ikutlah aku ”


Dia mengajak diriku entah kemana. Dan aku menurutinya.


Langkah per langkah mengikutinya sampai diriku tiba di suatu tempat.


“ Kemari, masuklah kedalamnya ”


Ku lihat suatu Gua besar seperti kepala naga,


“ Siapa an... ” ketika ku menghadap kepadanya, ia sudah lenyap dari pandanganku.


Tampa panjang pikir, aku langsung memasuki Gua tersebut. Dan saat aku masuk kedalamnya, semua berubah menjadi gelap kembali.


Halo... Apakah ada seseorang?


Aku bertanya kembali seperti pertama aku bangun.


Pikirku mungkin aku harus melaju ke jalan yang lurus, aku pun berjalan lurus terus tampa arah entah kemana.


Semakin gelap


Aku sekarang mulai merasa ketakutan, tapi tubuhku masih tetap terus berjalan ke dalam dan semakin dalam.


Sampai akhirnya, aku menemukan cahaya lagi.


Sontak aku berlari dan terus berlari menuju kepadanya.


Tetapi, seketika saja aku jatuh ke sesuatu yang tak mampu ku lihat.


Cahanya menghilang lagi

__ADS_1


Aku serasa melayang di atas udara, tidak tahu nantinya bagaimana. Aku hanya bisa pasrah pada tuhan.


Tuhan...?


Aku teringat pada tuhan, dan aku mulai mengingat sesuatu.


O... Tuhan, bila kau ada. Mengapa engkau mengarahkanku ke sini?


Kenapa engkau menjatuhkanku ke jurang?


Dan siapakah engkau...?


Mengapa ada engaku?


Dan siapakah aku?


Mengapa ada aku...?


Aku menutup mataku, dan tiba-tiba...


Bluuurrr


Aku kecebur ke dalam air yang dalam, ku lihat gelembung-gelembung yang keluar dari mulutku.


Apakah aku akan mati?


Sepintas pertanyaan itu pernah ku ucapkan sebelumnya.


Pasti, semua pasti akan mati. Tapi...


Aku berfikir tentangNya.


O... Tuhan, apakah kau bisa mati? Kalau tidak pastilah engkau bisa menghidupkanku kembali


Aku menutup mata kembali, aku sudah tidak mampu benafas lagi. Sekarang yang aku punya hanyalah...


Apa yang aku punya?


_______


Di, di mana aku...?


dan siapakah aku?


Aku membuka mataku dan kulihat diriku sedang....


Apa...?! Mengapa aku di gantung seperti ini...?!


Aku melihat tangan kakiku diikat, dan kulihat pula seseorang wanita cantik dengan pakaian kurang bahan menggoda, memegang pedang yang amat tajam.


Ada juga mereka yang bersorak-sorak kepadanya dan aku tidak mengerti perkataan mereka sama sekali.


Wanita itu berteriak kepada mereka yang entah dari mana datangnya, juga entah suku apakah mereka, yang pasti. Aku hanya bisa melihat-lihat dan pasrah lagi kepada...


Kepada siapakah aku harus berserah diri?


Pertanyaan tersebut terngiang kembali ke dalam pikiranku. Saat aku berfikir lagi dan lagi tidaklah ada yang mampu ku temukan.


Terlihatlah wanita tadi mengacung-acungkan pedangnya yang sudah bersiap untuk memenggal-ku.


Apalah diriku ini, ternyata aku bukanlah apa-apa


Pedang itu mulai mendarat kepada leherku dan...


Eh, kok gak mempan ya...?


Jasadku terdiam tetapi batinku terkejut, dan mereka pun juga terkejut sampai suasana hening seketika.


Aku dengar dan aku lihat perempuan yang telah memenggalku terdiam terkejut, pedangnya terjatuh dan menghasilkan bunyi.


Prangg


Tapi itu belumlah berakhir, aku melihat lagi sesosok lelaki besar datang menghampiri-ku.


Dia memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Kemudian dia berbalik dan berteriak kepada mereka.


Mereka pun berteriak setelanya dan terlihatlah sorak-sorai gembira.


Bukk


Aku bebas dari ikatan...?


Aku dibantu bangun olehnya dengan mengulurkan tangannya. Aku mendengarnya berkata “ Raugrt, wawaWau! ”


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka katakan, aku hanya bisa berdiam membungkam saja.


Dia membawaku jauh dari pada mereka, hingga sampailah aku di sebuah perkampungan sederhana. Terlihat bahwa ada sekumpulan orang-orang yang tunduk membungkuk.


Siapakah mereka?


Kami pun terdiam dan dia menunduk pula seperti mereka, entah mengapa aku juga ikut-ikutan. Maka terlihat seseorang pria tua dengan tongkat berlian di ujungnya dan kepala bermahkota seperti raja muncul dari suatu tirai yang baru aku sadari.


Ada beberapa perbincangan diantara keduanya dan aku tidaklah mengerti sama sekali.


Sang raja menaruh ujung tongkatnya ke atas pundak-ku, dan kulihat dia seperti sedang merapalkan mantra dari mulutnya.

__ADS_1


Saat ia merapalkannya, ujung tongkatnya bersinar terang berwarna biru bagai cahaya dari lautan. Semakin terang ia hingga akhirnya...


Bufff


__ADS_2