Bukanlah Apa-apa

Bukanlah Apa-apa
# Dalam


__ADS_3

Nafsunya kini berpindah menjadi nafsu amarah yang penuh dengan dendam.


“ Diriku! Walaupun demikian, tetaplah engkau mengendalikan dirimu ” ucap dirinya yang lain.


“ Maafkan aku, mungkin sekarang aku sudah menyatu dengan amarahku. Maka janganlah engkau menasihati diriku sekarang ”


Aura yang dipancarkan oleh dirinya adalah api yang menggebu-gebu “ Pak tua! Bisa kau berikan busur dan juga anak panah mu?! Aku yang akan menyerang dari jauh dan juga dekat ”


“ Eh...? Apa kau yakin ingin membunuhnya? ” tanya Pak tua.


“ Aku sudah tidak peduli lagi! ”


Lelaki itu dengan cepat langsung mengambil tombak yang telah dipegang olehnya.


“ Hai nak! Jangan gegabah ”


Sahut Pak tua.


Dia berlari dengan cukup cepat dan hawa membunuh menuju perempuan yang sedang berdiri.


“ Apakah kau benar ingin membunuh diriku? ”


Sahut perempuan itu da...


Slasssh


Lehernya terobek sebab tebasan yang diberikan oleh pemuda tersebut.


Perempuan itu pun langsung melompat terhempas jauh spontan karena serangannya, tapi usahanya sia-sia karena ia sudah tergorok hingga darahnya keluar dari leher dan mulutnya.


Hebat


Pria tua itu berdecak kagum dalam hatinya berkata Aku seperti melihat masa mudaku ketika melawan mahkluk buas di pulau ini


“ Ohok, ohok ”


Kini, dia telah tertunduk tumbang dan terlihatlah bahwa darah yang jatuh bercucuran ke atas tanah.


“ Heh, hehehe ”


Seketika setelahnya, dia tertawa histeris.


Ke, kenapa dengan dia? Mengapa dia tertawa


Batin pemuda berkata.


“ Hoi, hoi. Mengapa engkau tertawa?! Memangnya ada yang lucu hah! ”


Perempuan itu terus-menerus tertawa yang kian semakin menyeramkan, menggemakan ruangan di dalam itu hingga dia memulai angkat bicara “ Hah, hah, hah. Kenapa aku tertawa?! Kau tahu, kalo aku itu suka yang namanya pria tampan lagi masih berisi ”


Tiba-tiba saja dia mampu berdiri dengan tegak.


“ Masih berisi...?! ”


“ Yah benar, masih berisi. Sebenarnya akulah yang telah membunuh beberapa orang yang telah memasuki pula ini! Dan ketahuilah! Bahwa dia! Dialah yang telah memberikan lelaki yang datang lalu dijebloskan ke dalam tempat ini. Kau tahu siapa? Itu Pak tua itu! ”


Pemuda itu pun sedikit terkejut menundukan kepalanya “ Apakah yang dia omongi itu benar? ”


“ Kau tahu sesuatu nak, dia memang benar tapi. Ada yang lebih benar dari pada cerita tersebut ” ucap Pak tua.


“ Yang, lebih benar...?! ”


“ Ingatlah nak, di atas langit masih ada langit. Setiap cerita yang benar pastilah juga ada yang lebih benar, terserah percaya atau tidaknya. Akan aku jelaskan bila kita telah menghabisinya ”


Perempuan itu pun langsung berceloteh “ Ara, ara. Rupanya si tua bangka itu banyak omongnya yah ” dia menyapu bibirnya dengan lidah “ Dan mungkin inilah waktunya ” dan seketika robekan yang berada pada lehernya hilang tampa sebab “ Baiklah, kita mulai yah ”

__ADS_1


Dengan cepat perempuan itu menghilang dihadapan mereka.


Apa! Kemana dia?!


Batin pemuda yang sontak terkejut.


Slasssh,


.


.


... Bukk**


Sontak pemuda itu langsung memalingkan dirinya kebelakang dan...


terlihat bahwa Pak tua kini perutnya terobek dan mengecurukan darah dari pakaian yang robeknya pula.


“ Pak, PAK TUA!!! ”


Teriak si pemuda.


“ Ara, ara. Indahnya, sebuah karya seni yang baru kubuat pertama kali. Perut yang sobek, disertai bajunya pula yang compang-camping juga, darah yang mengucur dari perutnya membuat diriku tergairahkan ” ujar si perempuan sambil mendesah.


Pria itu pun langsung jatuh tengkurap mati, dan tak hidup kembali.


“ Sial! Ke, kenapa ini bisa terjadi! ”


Pria itu pun jatuh tertunduk dan menangis.


“ Ara, ara. Padahal aku sudah bilang agar tetap bersamaku, ralat. Kini sekarang kita tinggal berdua lagi ” dia cekikikan di balik belati miliknya. Dia pun datang menghampiri pemuda dengan tatapan tajam dan menaikan dagu si pemuda, sempat menyapu bibir dengan lidahnya sebelum berkata “ Hadeh, hadeh. Pemuda yang putus asa memang yang paling terbaik. Jadi, apakah kamu ingin melakukan itu lagi sampai habis ”


“ Sial! Bodoh! ****! ” gumam si pemuda.


Pemuda itu tertunduk, amarahnya kini makin menjadi. Dia merasakan pertama kali kehilangan seseorang.


“ JANGAN BERCANDA KAU! AKU TIDAK AKAN MENJADI MAINANMU! ” sahutnya dan dengan segera dia langsung memukul perutnya dengan kepalan tangannya.


“ Ara, ara. Rupanya itu jawabanmu yah, baik aku ti–dak–maks–A kok ♥ ”


Namun serangan kejutannya dapat dia hindari dengan mudah.


“ Sial! ”


Pemuda itu pun langsung mengambil tombak yang telah tergeletak akibat syoknya yang sudah terjadi, dia langsung berdiri tegak dan mulai menyerang.


“ Kita mulai yah, Sa~yang~ku♥ ”


“ Jangan panggil aku sayang dasar jal**g! ”


Pemuda itu pun langsung berlari mencoba untuk membunuh-nya


“ Hah... Rasanya sakit sekali bila engkau berkata seperti itu... Tapi, aku memang seperti itu ”


Saat si pemuda memcoba menusuk bagian perutnya, wanita itu berhasil menghindar dari serangannya “ Das~ar lam–ban ”


“ Berisik kau! ”


Tampa henti pemuda itu terus-terusan menyerangnya namun, tampa sedikit pun dia mampu mengores wanita itu hingga dia mulai kelelahan.


“ Hosh, hosh ”


“ Ara, ara. Ternyata hanya begitu saja kemampuanmu ”


“ Berisik lah! ”

__ADS_1


Pemuda itu pun langsung menyerangnya lagi tampa aba-aba.


Wanita itu hanya diam tersenyum sinis


“ Sudahlah kita main-mainnya yah ”


Slashh


Pemuda itu berhasil terkoyak oleh belatinya, darah dari perutnya muncrat sampai kewajah si perempuan “ Hahhh, indahnya. Karya keduaku yang baru telah tiba di hari yang indah ini ” ujarnya seraya mendesah sambil menancap perut si pemuda.


Slapp


.


.


...Bukk


Pemuda itu jatuh sama halnya seperti Pak tua yang tengah terbaring tak bernyawa di atas danau merah setelah wanita tersebut melepaskan belatinya.


“ Wah, wah. Sekarang belati milik daku menjadi lebih berwarna ” ucapnya dengan bergairah.


Perempuan itu pun membungkukan tubuhnya dan berkata tepat dihadapan wajah si pemuda “ Ara, ara. Ternyata kamu masih belum mati yah, tak salah aku melakukan itu pada mu. Karena dirimu yang pertama kali menantangku, ahhh andai saja kamu tidak mentang diriku... Mungkin, aku akan melepaskan mu dan melakukan itu terus-menerus ”


Dia menyapu mulut dengan lidahnya lagi kemudian “ Mungkin... Aku akan memberikan hadiah untuk sayangku yang telah menantang ku ♥ ” dia sempat mencium pemuda itu dan menghisap darah dari mulut tersebut “ Memang darahmu dari ciuman lah yang terbaik, ahhhh... Sayang.... engkau mengairahkan diriku dan kini dikau telah mati ”


“ Tidak, mungkin aku harus menikmati dirimu lebih dari ini ”


Dia mencium pemuda kembali menghisap energinya hingga...


Apakah aku akan mati disini? Oh, Tuhan. Bila ada kesempatan hidup, daku ingin bisa mengenal engkau


Mati. Dia pun mati olehNya.


_____


Wahai hambaku! Aku lah Tuhan mu, yang telah menciptakan mu. Aku jawab permintaan mu karena kematian mu ini, bukanlah bisa disebut keinginanKu Walaupun itu kehendakKu. Dan engkau akan mencariKu, sampai aku memberi tahu mu siapa diriMu agar engkau dapat mengenalKu. Atas kekuasaanKu maka bagunlah!


______


Di, dimana aku


Pria itu terbangun dari tidurnya dan terlihatlah tidak jauh pria tua yang membawa beberapa ikan dan seikat pisang.


“ Oh, nak. Kau sudah bangun rupanya ”


Tunggu, sepertinya. Aku pernah bertemu dengannya


Batin si pemuda


“ Nak, apa kau baik-baik saja? ”


“ Pak tua...?! ”


“ Hai nak, dari mana kau tahu nama panggilanku? Dan... ”


Pemuda itu pun langsung berlari kepadanya sambil menangis memeluk pak tua itu.


“ Hu, hu, hu. Syukurlah, engkau masih hidup. Syukurlah ”


“ Woi, woi, bisakah engkau berhenti memeluk diriku dan coba jelaskan apa yang terjadi?! ”


Pemuda itu pun melepaskannya walau masih menangis terharu.


“ Sudahlah nak, janganlah engkau menangis. Bisakah kau jelaskan apa yang telah terjadi pada dirimu...?! ”

__ADS_1


__ADS_2